Apa pernah mempelajari Buddhisme ? Dari mana disimpulkan Buddhisme tidak ber Tuhan ? Ini tulisan eman dari milis lain: Banyak orang berpikir bahwa agama Buddha tidak mengenal Tuhan alias atheis. Benarkah begitu? Dalam "Wairocana" Buddhazine ada artikel yang menjelaskan hal itu lebih lanjut.
Memang Buddha tidak pernah menjelaskan secara detail tentang Tuhan apalagi mempersonifikasi Tuhan seperti agama lain, tapi bukan berarti tidak ada Tuhan dalam agama Buddha. Dalam Udana disebutkan bahwa Buddha membahas tentang Tuhan, yaitu: Ketahuilah para Bhikku bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikku, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Dicpitakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikku, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, dan pemunculan dari sebab yang lalu menjadi mungkin. Ungkapan diatas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII:3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Bahasa Pali adalah Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam yang artinya “Sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta}, yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak terkondisi (asankhata} maka manusia yang berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi. Kaum Mahayana zaman dulu di Jawa (ada dalam Kitab Sanghyangkamahayanikan) dan juga Kaum Tantra menyebut Tuhan sebagai Sanghyang Adi Buddha. Ada juga yang menggambarkan Tuhan sebagai Dharmakaya, yaitu perwujudan Dharma (Kebenaran) yang absolut, esa, ada dengan sendirinya, kekal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, senantiasa ada di mana saja. Tubuh kebenaran ini berada dalam segala sesuatu karena tubuh ini melampaui bentuk dan ruang. Kadang-kadang kita menangkap sekilas realitas yang menakjubkan ini ketika kita ada dalam damai dan menyatu dengan segala sesuatu. Dharmakaya bukan realtas personifikasi, sekalipun sebagian orang mencoba mengungkapkannya dalam bentuk simbol-simbol dan mengimajinasikan atau memvisualisasikannya. Setelah merealisasi Pencerahan Sempurna, Buddha menyadari Kebenaran Absolut (Asankhata Dhamma), dan disamakan dengan Kebenaran. Walaupun ada banyak Buddha, semua Buddha adalah satu dan sama, tidak berbeda satu dengan yang lain dalam Dharmakaya, yang merupakan kemanunggalan Kebenaran. Banyak yang sudah tahu bahwa salah satu kisah terbaik untuk menjelaskan konsep keTuhanan Jawa, yaitu “manunggaling kawula gusti”, menyatunya manusia (kawula) dan Tuhan (Gusti) ada dalam pewayangan Dewa Ruci. Uniknya dalam naskah aslinya, Sri Wairocana (Werocana) adalah tokoh penting, mewujud dalam diri Dewa Ruci yang sedang berdiskusi falsafah ajaran spiritual dengan Bhima. Tidak hanya itu, susastra Kunjarakarna dan Angling Dharma (Aridharma) juga menceriterakan bahwa Wairocana bertindak layaknya “Tuhan” yang membimbing umatNya. Kita dapat menyaksikan bahwa Buddha Wairocana menjadi figure personal yang mengintervensi langsung para lakon utama kisah-kisah di negeri Nusantara ini. Di Tiongkok, Jepang dan Korea, Dharmakaya Wairocana adalah pusat keyakinan sekaligus realisasi yang ingin dicapai, meskipun mereka tidak membuat kisah-kisah interaktif antara Wairocana dan para umatNya. Agaknya di negara-negara Asia Timur ini, porsi impersonal Wairocana lebih banyak ditekankan. Jika anda bingung bagaimana bisa Nirwana atau Dhrmakaya diajarkan dalam wujud personal. Thich Nhat Hahn mungkin bisa menjawabnya untuk Anda: “Mengapa membuang waktu Anda untuk berdiskusi tentang apakah Tuhan itu seorang manusia atau bukan, atau apakah Nirwana itu sesuatu yang personal atau impersonal? Apakah Tuhan itu sesosok pribadi atau bukan pribadi, merupakan pertanyaan dari banyak orang. Mengapa kita harus memenjarakan Tuhan ke dalam satu atau dua idee? Dalam pandangan Buddhis tidak ada garis pemisah antara keduanya. “Manusia/pribadi mengandung unsur bukan manusia/pribadi dan bukan manusia/pribadi mengandung unsur manusia/pribadi. Nirwana adalah hakekat kita yang sejati seperti air adalah hakekat sejati dari ombak. Kita berlatih untuk menyadari bahwa Nirwana adalah hakekat kita. Tuhan adalah fondasi keberadaan”. Nibbana atau Nirwana dalam Bahasa Sanskerta adalah kebahagiaan tertinggi (Dhammapada 203): bebas dari perubahan, bebas dari kematian, bebas dari segala keterbatasan. Itu sebabnya Buddha mengajarkan jalan supaya orang dapat menemukan kebahagiaan tanpa syarat. Pada tanggal Jum, 2 Agu 2019 pukul 20.32 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > Ada agama2 yang tidak bertuhan (nontheism) diantaranya Buddhism, Jainisme, > dan kepercayaan lokal. > Apakah kemudian tidak boleh jadi pejabat? atau bahkan bukan orang > Indonesia? > > Kenapa kok yg muslim bersumpah sedang non muslim berjanji? Apakah tuhannya > non muslim dianggap bukan tuhan? > > > ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : > > Mestinya boleh selama si calon pejabat bertuhan (Sila Ketuhanan). Beragama > adalah cara termudah untuk menunjukkan bertuhan. > > Di Indonesia calon pejabat yang muslim bersumpah, yang non-muslim berjanji. > > --- djiekh@... wrote: > > Di Nederland, pejabat yang diangkat yang beragama bersumpah. > Yang tidak beragama, berjanji. > Kalau di Indonesia apa boleh pejabat tidak beragama? > > Pada tanggal Jum, 2 Agu 2019 pukul 17.06 Jonathan Goeij menulis: > > Kesimpulannya mereka yang naturalisasi tidak perlu diragukan kesetiaannya > pada NKRI, Pancasila, Konstitusi dll karena sudah bersumpah, sedangkan yang > native born citizen perlu diragukan kesetiaannya karena tidak pernah > bersumpah setia. > > Eh... apakah pejabat waktu dilantik jadi presiden, menteri, dlsb tidak ada > sumpah? > > > --- ajegilelu@... wrote : > > Tudingan Jokowi cs soal anti-Pancasila dan anti-UUD'45 jadi bumerang > ketika masyarakat menanyakan kapan Jokowi cs pernah mengucapkan sumpah > setianya kepada Pancasila, UUD'45, dan NKRI, dengan lantang di ruang > publik. Cepatnya bumerang berbalik membuat mendagri buru-buru mengelak, > kelompoknya bukan mau membubarkan ormas yang dituding. > > Warganegara biasa tidak harus mengucapkan sumpah, apalagi kalau tidak > dituding 'anti'. Lain cerita untuk warga naturalisasi. Setiap negara tentu > punya aturan sendiri-sendiri soal ini. > > --- jonathangoeij@... wrote: > > > Tidak jadi dibubarkan toh???? > Ealah!!!!!! > > Pertanyaan ini menarik "kapan Jokowi pernah melantangkan sumpah setia > kepada NKRI, Pancasila, dan UUD'45?" > > Saya rasa yang mengucapkan sumpah itu mereka yang naturalisasi atau > dipaksa naturalisasi walaupun sudah beberapa keturunan ada disini. > > --- ajegilelu@... wrote : > > Selain mengundang kecaman dari Kontras, YLBHI dll. kekacauan berpikir > Jokowi tentang ideologi dan keamanan negara saat wawancara dengan AP juga > menggugah orang untuk bertanya, "kapan Jokowi pernah melantangkan sumpah > setia kepada NKRI, Pancasila, dan UUD'45?" > > Pertanyaan sederhana ini rupanya sangat sulit dijawab. Apabolehbuat, > mendagri pun buru-buru menyelamatkan Jokowi dan kelompoknya bahwa mereka > bukan mau membubarkan FPI tapi hanya memperingatkan. > > sumpah dan janji setia > <https://www.youtube.com/embed/L11IOdZzsHk> > > setia kepada pancasila,riziq,somad - YouTube > > <https://www.youtube.com/embed/L11IOdZzsHk> > > > > setia kepada pancasila,riziq,somad - YouTube > <https://www.youtube.com/embed/L11IOdZzsHk> > > > Kapan giliran Jokowi? > > > - > > *Bukan Mau Membubarkan, Presiden Jokowi Hanya Memperingatkan FPI* > > Selasa, 30 Juli 2019, 18:50 WIB | *Laporan: *Aprilia Rahapit > > RMOL.ID <http://rmol.id/> - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan > Presiden Joko Widodo hanya memperingatkan Front Pembela Islam (FPI) untuk > taat pada ideologi negara. > > "Pak Jokowi memberikan warning saja, menyangkut ideologi negara itu sudah > final dan sudah mengikat seluruh ormas yang ada," kata Tjahjo di Gedung > Ombudsman Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (30/7). > > Menurut Tjahjo, Presiden mempersilakan keberadaan ormas, termasuk FPI > namun tetap sesuai dan taat pada ideologi negara. Hal itu tidak bisa > ditawar. > > "Silakan ormas, mau ormas keagamaan, mau sifatnya sosial, apapun juga > harus menerima ideologi negara secara konsisten," ujarnya. > > Soal izin perpanjangan FPI yang hingga kini belum disetujui, Mendagri > Tjahjo menjelaskan, pihaknya masih menunggu hasil evaluasi pihak Direktorat > Jenderal Politik dan Pemerintahan Umun Kemendagri terkait pengajuan surat > keterangan terdaftar (SKT) baru maupun perpanjangan. > > Sebelumnya, Presiden Jokowi membuka kemungkinan tidak memperpanjang izin > SKT untuk FPI jika tidak tunduk pada Pancasila. Hal itu diungkapkan Jokowi > dalam wawancaranya dengan Associated Press (AP) pada Jumat (27/7). > > Menurut Jokowi, pemerintah mungkin saja tidak memperpanjang SKT FPI bila > ormas pimpinan Habib Rizieq Shihab tersebut dinilai tidak sejalan dengan > ideologi bangsa dan mengancam keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia > (NKRI). > > > "Jika pemerintah meninjau dari sudut pandang keamanan dan ideologis > menunjukkan bahwa mereka (FPI) tidak sejalan dengan bangsa," kata Jokowi > kala itu, Minggu (28/7). > > Editor: Azairus Adlu > > > > >
