Kabinet Jokowi itu gaduh sudah sejak awal, 2015. Apa maksudnya kok Anda sampai 
kaget begitu? 
Ke mana saja Anda selama ini? 


--- SADAR@... wrote:

       
 

Begini saja kok sudah diangkat menjadi kabinet GADUH??? Lalu apa itu maksudnya 
srimulnomics?
 
Tapi, bung Ajeg, menurut saya yang LEBIH PENTING, setiap dana yang dikucurkan 
APBN itu bisa betul-betul bermanfaat dan efektif dalam menjalankan program 
pembangunan, jadi betul-betul rakyat banyak bisa diuntungkan! BUKAN dan jangan 
sampai jatuh ketangan koruptor saja, lalu hilang menguap begitu saja!
 
Mungkin saja saat menelusuri kucuran dana-desa Sri Mulyani menemukan keanehan, 
... yg dikatakan ada 34 desa bermasalah dan 3 diantaranya desa fiktif itu. Itu 
masukan yg dia terima. Bagaimana sesungguhnya, yaa, Mendes itulah yg harus 
menindak lanjuti, jangan biarkan kucuran dana-desa itu entah kemana larinya! 
 
 
Apanya yang GADUH???
 
 

 
 On 11/12/2019 9:44 AM, ajeg wrote:
  
     Kabinet gaduh jilid II. Untuk menutupi kegagalan Srimulnomics?  
  - 
    
Bantah pernyataan Menkeu Sri Mulyani, Mendes PDTT sebut tak ada desa fiktif
 
Jumat, 8 November 2019 15:36 WIB
  
Pewarta: Desca Lidya Natalia
  Jakarta (ANTARA) - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan 
Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengatakan tidak ada desa 
fiktif seperti yang disebutkan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
 
 "Sejauh ini belum ada desa fiktif," kata Abdul Halim di lingkungan Istana 
Kepresidenan Jakarta, Jumat.
 
 Sebelumnya pada Senin (4/11) Menkeu Sri Mulyani di hadapan Komisi XI DPR 
mengatakan muncul desa baru yang tidak berpenduduk hanya untuk mendapatkan dana 
desa.
  
  "Harus kita samakan dulu persepsi, pemahaman fiktif itu apa karena kalau yang 
dimaksud fiktif itu sesuatu yang tidak ada kemudian dikucuri dana dan dana 
tidak bisa dipertanggungjawabkan, itu tidak ada. Karena desanya ada, 
penduduknya ada, pemerintahan ada, dana dikucurkan iya, pertanggungjawaban ada, 
pencairan juga ada, sehingga saya bingung yang namanya fiktif namanya 
bagaimana," tambah Abdul Halim.
 
 Alokasi dana desa diketahui terus meningkat, yakni Rp20,67 triliun pada 2015, 
Rp46,98 triliun pada 2016, Rp60 triliun pada 2017, Rp60 triliun pada 2018, Rp70 
triliun pada 2019 hingga Rp72 triliun pada 2020 untuk sekitar 74.900 desa di 
Indonesia.
 
 "Sudah kita telusuri semua sesuai dengan tupoksinya Kemendes sudah kita telaah 
dan memang kita temukan laporannya ada tahapan satu, dua, tiga. Dana desa 
setahun itu dievaluasi dua kali. Pertama 20 persen, setelah selesai laporan 40  
persen, tidak akan turun itu kalau laporan tidak selesai," ungkap Abdul Halim.
 
 Menurut Halim, ia pun sudah melaporkannya kepada Menkeu Sri Mulyani.
  
  "Sudah kita laporkan," tamba h Halim.
  
  Sebelumnya Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyampaikan diduga ada 34 desa 
yang bermasalah, tiga desa di antaranya fiktif, sementara 31 desa meski 
keberadaannya nyata, surat keputusan pembentukan desanya dibuat dengan tanggal 
mundur (back date).
 
 Saat desa tersebut dibentuk, sudah ada moratorium dari Kementerian Dalam 
Negeri sehingga, untuk mendapatkan dana desa, tanggal pembentukannya harus 
dibuat mundur.
 
 Desa yang terus mendapat kucuran dana, meski diketahui bermasalah, ialah Desa 
Ulu Mer aka di Lambuya, Desa Uepai dan Desa Moorehe di Uepai. Meski demikian, 
Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Konawe menjamin anggaran dana desa 
yang  telah disalurkan Pemerintah Pusat ke daerah tidak disalurkan ke ketiga 
desa itu.
 
 Desa-desa tersebut diidentifikasi tidak sesuai prosedur karena menggunakan 
dokumen yang tidak sah sehingga mengakibatkan kerugian keuangan negara atau 
daerah atas dana desa dan alokasi dana desa yang dikelola beberapa desa di 
Kabupaten Konawe  tahun anggaran 2016 sampai 2018.
  
  Pada 24 Juni 2019, Febri menjelaskan, penyidik Polda Sulawesi Tenggara 
bersama KPK telah melakukan gelar perkara di tahap penyelidikan di Markas Polda 
Sulawesi Tenggara, selanjutnya dilakukan pertemuan antara pimpinan KPK dan 
Kapolda Sulawesi  Tenggara Brigadir Jenderal (Pol) Merdisyam.
 
 Sedangkan berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa 
Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa ada empat desa yang diduga fiktif di 
Sulawesi Tenggara berdasarkan pemeriksaan tim pada 15-17 Oktober 2019 di 
provinsi tersebut.
 
 Berdasarkan hasil komunikasi dengan Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa, 
keempat desa yang diduga fiktif tersebut sudah tidak menerima alokasi dana 
desa. Dana desa tidak digelontorkan lagi sejak 2017.
 
 Namun terkait hasil pemeriksaan KPK dan Kemendagri tersebut, Halim 
membantahnya.
 
 "(Tidak ada desa fiktif), termasuk di Konawe, (dana desa) di sana ada 
pertanggungjawabannya," ungkap Hakim.  
    
  _
#yiv0356766109 -- #yiv0356766109ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-mkp #yiv0356766109hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-mkp #yiv0356766109ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-mkp .yiv0356766109ad 
{padding:0 0;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-mkp .yiv0356766109ad p 
{margin:0;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-mkp .yiv0356766109ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-sponsor 
#yiv0356766109ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-sponsor #yiv0356766109ygrp-lc #yiv0356766109hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-sponsor #yiv0356766109ygrp-lc .yiv0356766109ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0356766109 #yiv0356766109actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0356766109
 #yiv0356766109activity span {font-weight:700;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv0356766109  #yiv0356766109activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0356766109 #yiv0356766109activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv0356766109 #yiv0356766109activity span 
.yiv0356766109underline {text-decoration:underline;}#yiv0356766109 
.yiv0356766109attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv0356766109 .yiv0356766109attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv0356766109 .yiv0356766109attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0356766109 .yiv0356766109attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0356766109 .yiv0356766109attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv0356766109 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv0356766109 .yiv0356766109bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0356766109 
.yiv0356766109bold a {text-decoration:none;}#yiv0356766109 dd.yiv0356766109last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0356766109 dd.yiv0356766109last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0356766109 
dd.yiv0356766109last p span.yiv0356766109yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv0356766109 div.yiv0356766109attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv0356766109 div.yiv0356766109attach-table 
{width:400px;}#yiv0356766109 div.yiv0356766109file-title a, #yiv0356766109 
div.yiv0356766109file-title a:active, #yiv0356766109 
div.yiv0356766109file-title a:hover, #yiv0356766109 div.yiv0356766109file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0356766109 div.yiv0356766109photo-title a, 
#yiv0356766109 div.yiv0356766109photo-title a:active, #yiv0356766109 
div.yiv0356766109photo-title a:hover, #yiv0356766109 
div.yiv0356766109photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0356766109 
div#yiv0356766109ygrp-mlmsg #yiv0356766109ygrp-msg p a 
span.yiv0356766109yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0356766109 
.yiv0356766109green {color:#628c2a;}#yiv0356766109 .yiv0356766109MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv0356766109 o {font-size:0;}#yiv0356766109  
#yiv0356766109photos div {float:left;width:72px;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0356766109
 #yiv0356766109reco-category {font-size:77%;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109reco-desc {font-size:77%;}#yiv0356766109 .yiv0356766109replbq 
{margin:4px;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-mlmsg select, #yiv0356766109 input, #yiv0356766109  textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-mlmsg pre, #yiv0356766109 code {font:115% 
monospace;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-mlmsg #yiv0356766109logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-msg 
p#yiv0356766109attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-reco #yiv0356766109reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-sponsor 
#yiv0356766109ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-sponsor #yiv0356766109ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-sponsor #yiv0356766109ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv0356766109 #yiv0356766109ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0356766109 
#yiv0356766109ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv0356766109   

Kirim email ke