On 5/11/05, Sri Tomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sebabnya mengapa banyak kumpeni migas di negri Ngastino ini kok produksinya
> malah semangkin manurung adalah probably karena para ahli G&G-nya malahan
> banyak yang mencangkul di ladang negara lain...... :-(

Thats what I believe too, Pak Dhe.

Kalau anda baca JPT (kalo ga salah edisi jan/feb th 2005), disitu
dituliskan bahwa kelangkaan minyak di dunia kali ini bukan akibat
embargo, bukan menurunnya produksi akibat lapangan yg rusak oleh
perang tetapi memang minyak dipasaran sudah ludes diembat oleh
pemakai, atau demand meningkat. Sedangkan lapangannya sendiri sudah
mengalami penurunan akibat usianya. Apakah berarti minyaknya habis ?
ternyata tidak, Kalau dilihat dari resources yg ada (cadangan
ditemukan) sebenernya masih cukup lumayan, namun untuk meningkatkan
produksi diperlukan orang-orang yg mampu untuk bekerja yaitu para GGE
(Geologist-Geophysicist-Engineer).

Lah kok ndilalahnya sudah banyak GGE yang kemaren berbalik haluan
untuk tidak berprofesi di industri migas ketika harga anjlok hingga
dibawah 20US$/bbl tiga tahun lalu. Sehingga banyak GGE fresh yang
tidak tertampung pada tahun itu. JUga banyak perusahaan yg me lay-off
orang2nya, dengan Mutual Agreement Termination atau pensiun dini.
Sedangkan saat ini yg dibutuhkan adalah mereka2 yg berpengalaman
antara 5-15 tahun kerja.

Beberapa bulan lalu Petronas sangat konsen dngan hengkangnya hingga 15
Geoscientisnya keluar dari Malaysia dalam waktu satu tahun. Kebanyakan
dari mereka "lari" ke Middle East. (dibawah sana salah satu komentar
warga Malaysia yg dipost di koran lokal StarDaily, juga ada di
webnya). Disitu ditulis yg menggantikan org britain dan us, padahal
sebenernya org Indonesia.

Berita hengkangnya profesional ini sudah menjadi berita cukup hangat
di Malesa. Berkurangnya tenaga kerja profesional ini sempet menjadi
issue menasional di Malesa.

Bagaimana dengan Indonesia ?
Walopun saya saat ini menjadi salah satu anggota GGE-Indonesian yg
"desersi", tetapi aku konsen banget dengan fenomena ini. Apalagi
dengan cita-cita MESDM beberapa bulan lalu yg menginginkan kembalinya
ke produksi minyak Indonesia diatas sejuta barel sehari.
Nah siapa yg akan mengerjakannya ?.
Dalam waktu kurang dari sebulan kemaren saja sudah lebih dari 10 GGE
Indonesia masuk ke Malesa.

Tentusaja saya tidak menyatakan bahwa yg pergi keluar dari Indonesia
ini saja yg bisa mewujutkan impian pak MESDM beebrpa bulan lalu itu.
Namun saya hanya ragu2 saja apa iya Indonesia kita tidak konsen dengan
hengkangnya GGE ini ?
Malesa saja sudah kebakaran jenggot dan menjadi issue santer di
Petronas ketika kehilangan 15 GGE-nya selama setahun (2004/2005).
Sedang Indonesia yg kehilangan 10 orang dalam sebulan apa masih bisa
santai mengejar impian sejuta barel sehari ?

Perlu kerja keras.

RDP
============================================================
Find a solution to the exodus of professionals
(source: Malaysian daily star online)

RECENT comments by the deputy prime minister to encourage more
scientists and professionals to return to the country are most
welcomed.

However, before we encourage those living abroad to come back, we
should also make an effort to stop those in the country from leaving.

One of the industries that has seen an exodus at an alarming rate is
the oil and gas sector. This trend will continue with the high oil
price.

The professionals, especially geoscientists and technologists, have
gone to the Middle East. They are accepted as they have the necessary
experience and are on par with, or are even better than, other
expatriates.

Most of these professionals are those with 10 to 20 years of
experience, who are trained by our oil companies, including Petronas.

I believe millions must have been spent to train them and this is a
loss to the country when they leave.

It cannot be denied that one reason these professionals leave is that
they get better offers.

However, at the same time, it is sad to note that most of their
replacements are expatriates, especially from Britain and the United
States. These expatriates do not come cheap and normally, their pay
packages are at least four to five times more than that of the locals.

When we hire expatriates, foreign exchange is lost as money will be
repatriated back to their country.

To prevent further exodus and loss of foreign exchange, I suggest the
Government investigates why these professionals are leaving and what
can be done to stop the exodus. If we have to offer competitive and
better pay packages, then we should do so.

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke