Lumpur Sidoarjo: Evolusi Rekayasa Penanggulangan – Pengabaian
Ketidakpastian Bawah Permukaan
Andang Bachtiar
Arema – Geologist Merdeka
Bekasi, 12 Mei 2007
Berita di berbagai media hari ini (Sabtu 12 Mei 2007) menyebutkan bahwa
berdasarkan ekspose di hadapan Presiden oleh Tim Jepang yang diendorse
oleh para pejabat pengarah BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo)
maka akan dicoba terapkan teknologi ‘double cover dam” untuk
mengurangi dan -kalau bisa- mematikan semburan Lumpur Sidoarjo yang sudah
berlangsung hampir setahun lamanya. Jadi, setelah para ahli pemboran gagal
(belum selesai) dengan snubbing unit, side-tracking, relief well 1 dan 2,
kemudian para ahli fisika gagal (belum selesai) dengan bola-bola
beton-nya, maka tibalah saatnya para ahli sipil-konstruksi dan geoteknik
mencoba dengan rekayasa penanggulangannya. Prinsip dasar rekayasanya
sebenarnya persis sama dengan ide yang pernah dikemukakan oleh ahli
geologi Arif Budiman di milis IAGINET Juli-Agustus 2006 yang lalu, dimana
semburan lumpur akan diisolasi di luasan diameter semburannya dengan
“pipa” berdiameter 50-meter (asumsi diameter semburan) yang
mempunyai panjang (tinggi) lebih tinggi dari tinggi maksimum semburan yang
pernah tercatat (25 meter?). Note: dalam detik.com disebutkan bahwa
diameter dam (atau “pipa” dalam tulisan ini) adalah 120 meter
dan tinggi dam (atau “pipa”) 40 meter. Diharapkan lumpur yang
terkonsentrasi di kolom pipa tersebut akan dengan sendirinya menekan
(“counter weight”: istilah Tim Jepang-nya) tenaga semburan
dari bawah, sehingga mengurangi volume semburan dan kalau bisa bahkan
mematikannya. Sementara itu dengan menerapkan rekayasa separasi gravitasi
maka lumpur yang sudah ter”contain” di dalam pipa diameter 50
meter tersebut akan dengan mudah dialirkan ke Kali Porong, dimana
diharapkan hanya airnya yang mengalir (dengan beda relief tinggi
pipa-ke-kali-porong 20 meter plus), sementara lumpur/padatannya akan
tertinggal menekan tenaga semburan dari bawah. Mengapa perlu menunggu
sampai Tim Jepang alias orang asing yang menceritakannya ke Presiden,
sementara ide-ide dan konsep rekayasa serupa sudah beredar lama di
kalangan para ahli Indonesia? Hal ini tidak terlepas dari tidak efektif
dan tidak efisien-nya networking antara para professional, saintist,
periset dan asosiasi profesi dengan para birokrat dan teknokrat pengambil
kebijakan di Indonesia. Untuk membahas masalah tersebut diperlukan tulisan
lain yang lebih panjang lebar dan menggugah, yang nampaknya bukan domain
utama dari tulisan ini.
Dari dalam ke permukaan
Dari keseluruhan rangkaian evolusi rekayasa pemboran – fisika
– konstruksi sipil untuk penanggulan semburan terlihat bahwa
pendekatan saintifik-teknis berkembang (atau malah ter-reduksi) dari
pendekatan bawah permukaan dalam (deep sub-surface), ke pendekatan bawah
permukaan dangkal (shallow sub-surface), dan akhirnya (hanya) menggunakan
pendekatan permukaan (surface). Apakah ribuan ahli rekayasa kebumian
Indonesia sudah menyerah kepada “monster” di dalam bumi sana
yang terus menerus menyemburkan lumpur, sehingga sekarang hanya berusaha
coba-coba (trial-and-error) mengatasi efek permukaan dari semburannya itu
saja? Saya amati dari berbagai pembicaraan di forum-forum ilmiah resmi
maupun tidak resmi dan di milis-milis kaum professional kebumian bahwa
sebenarnyalah ribuan orang pandai di negeri ini masih sangat-sangat
perhatin (concern) dan berharap bisa berkontribusi dalam usaha
penanggulangan semburan tersebut. Termasuk sebagian diantaranya yang
menganalisis bahwa karena penyebab semburan tersebut adalah proses geologi
(gempa, gerakan tektonik lateral yang sudah matang memicu mud diapir
menjadi mud-volcano dan juga karena proses hidrotermal) dan karena
sekarang semburan lumpur sudah menjadi mud-volcano, maka tak ada lagi yang
bisa dilakukan untuk mematikannya. Sayangnya informasi teknis-saintifik
tentang data awal, data monitoring, dan operasi penanggulangan semburan
tidak tersedia untuk diakses secara public seperti pada umumnya di
kasus-kasus bencana gempa, tsunami, dan banjir. Mungkin karena Lumpur
Sidoarjo ini sejak awalnya sudah menjadi masalah bisnis-hukum-politik,
maka bagi beberapa pihak pengungkapan data teknis-saintifik tersebut
menjadi sangat riskan dan membahayakan kepentingan bisnis-hukum-politik
mereka. Tapi satu hal yang pasti: dari waktu ke waktu korban dan kerugian
terus bertambah; genangan makin meluas, infrastruktur makin banyak rusak
dan terancam, dan jumlah jiwa manusia yang terdampak makin besar. Seberapa
bijaksana kita mengambil hikmah dari kegagalan-kegagalan penanggulangan
semburan sebelumnya untuk memperbaiki strategi penanggulangan kita
berikutnya? Tulisan ini mencoba mengungkapkan - berdasarkan informasi yang
tersedia secara publik - kelebihan dan kekurangan metode/pendekatan
penanggulangan semburan dalam sudut pandang orang yang sedikit lebih
mengerti tentang bumi daripada orang kebanyakan, untuk dapat kita ambil
manfaatnya dalam merencanakan penanganan (bukan hanya mematikan) semburan
Lumpur Sidoarjo.
Ketidakpastian bawah permukaan
Asumsi dasar dari Tim Pemboran yang melaksanakan program snubbing,
side-tracking dan relief well adalah bahwa semburan Lumpur Sidoarjo
diakibatkan oleh fluida bertekanan tinggi dari kedalaman 6000-9000 kaki di
lubang bor Banjar Panji - 1 yang bergerak vertikal menggerus lempung di
kedalaman 3000-6000 kaki membentuk lumpur. Lolosnya fluida tersebut
dikarenakan adanya underground blow-out pada proses operasi pemboran.
Lumpur dari gerusan tersebut kemudian keluar lewat rekahan di sekitar kaki
selubung (casing shoe) di 3580 kaki, dimana rekahan tersebut terhubung ke
bidang lemah yang terbentuk sebelumnya karena efek tektonik regional dari
dalam bumi sampai ke permukaan. Asumsi tersebut didasarkan pada analisis
data teknis pemboran dan data geologi. Sejauh menyangkut data geologi
bawah permukaan, Tim Pemboran dibantu oleh analisis para ahli geologi yang
menghitung porositas dan tekanan batuan di kedalaman 6000-9000 kaki untuk
bisa layak dianggap sebagai “reservoir” pemasok fluida pada
bencana semburan ini. Beberapa analisis lainnya juga dilakukan oleh para
ahli geologi di Tim Pemboran ini, tetapi implikasi-nya pada perencanaan
dan operasi pemboran tidak terlalu signifikan; seperti misalnya: temuan
bahwa ternyata posisi sumur BJP-1 berada di jalur zona Sesar Watukosek dan
penamaan formasi geologi lokal yang ditembus oleh sumur BJP-1. Analisis
geologi maupun data pemboran dari Tim Pemboran yang menunjang asumsi untuk
dilakukannya operasi snubbing, sidetracking dan relief well tidak pernah
bisa menampilkan image bawah-permukaan secara meyakinkan dan langsung;
paling jauh hanya berupa model, sketch, dan logika-logika perhitungan.
Disinilah ketidak-pastian itu muncul. Berdasarkan data pemboran dan data
geologi yang sama ditambah dengan re-analisis data seismik, say lebih
cenderung menyimpulkan bahwa sumber asal lumpur Sidoarjo (air dan
padatannya) berasal dari lapisan lempung di kedalaman 3000-6000 kaki. Tapi
karena memang saya tidak terlibat langsung dengan keseluruhan operasi
penaggulangan (hanya sebagai pengamat independent dari luar), maka tentu
saja analisis semacam kepunyaan saya tersebut tidak perlu banget
dipertimbangkan oleh Tim Pemboran. Pada saat itu (dari Juni s/d Agustus
2007) sebenarnya ada pula tim geologi/geofisik yang berbeda yang dibentuk
oleh Lapindo sedang aktif mengakuisisi data tambahan bawah permukaan
berupa VLF-EM (very low frequency electro magnetic), gravity dan
micro-gravity data, VES (vertical electric survey alias geolistrik), dan
data penurunan tanah memakai GPS station. Peta yang dihasilkan dari
interpretasi berbagai data baru tersebut dimanfaatkan oleh Tim Pemboran
untuk menentukan dan mendisain lokasi tapak pemboran (terutama relief
well). Sayang sekali bahwa survey-survei geofisik di atas tidak pernah
bisa menampilkan image bawah permukaan tepat di areal seluasan diameter
pusat semburan, karena tentu saja akuisisi datanya sulit dilakukan karena
harus berhadapan dengan semburan lumpur panas langsung. Interpretasi data
VLF-EM-pun sampai sekarang tidak pernah bisa menampilkan geometri dan
hubungan semburan dengan lubang bor BJP-1, padahal sampai saat ini hanya
VLF-EM-lah yang punya tingkat keterincian dan akurasi image sampai skala
operasional trayektori pemboran maupun trayektori insersi bola-bola beton
maupun (terutama) kondisi tapak di dalam area semburan untuk konstruksi
“double cover dam”. Tim Pemboran menghentikan rangkaian
kegiatannya sampai di Relief Well - 2 karena faktor keamanan tapak
permukaan yang terus menerus bergerak. Selain itu hasil sementara dari
RW-1 dan RW-2 mengindikasikan bahwa pemboran masih belum mampu mengatasi
masalah di “combat-zone” kedalaman 3000-an kaki. Mereka masih
belum bisa menembus zona ini karena ternyata setiap kali turunkan pipa
setelah penyambungan, rangkaian pipa seolah-olah ditendang kembali oleh
tekanan yang ada di zona ini sehingga hasil akhirnya kedalaman menjadi
makin lama makin dangkal. Sayangnya data pemboran, tekanan, rheology
lumpur, cuttings, dan log-log yang dihasilkan dari proses pemboran relief
well juga belum sepenuhnya dibuka untuk bisa direview oleh kalangan para
ahli, sehingga ketidak-pastian bawah permukaan di daerah sekitar semburan
tersebut makin menjadi-jadi.
Riset (survey): tabu
Ketidak-pastian pemahaman tentang kondisi bawah permukaan di daerah
bencana lumpur Sidoarjo lebih diperparah lagi dengan tidak dilakukannya
survei-survei lebih lanjut. Diantara survei-survei tersebut adalah:
akuisisi berkala micro-gravity, akuisisi ulang VLF-EM dengan modifikasi
strategi lapangan untuk mendapatkan data memotong pusat semburan, akusisi
data GPR (ground penetrating radar) untuk mengetahui geometri dangkal
pusat semburan, echo sounder survey, dan juga monitoring perubahan air
tanah di sekitar daerah bencana serta monitoring munculnya
semburan-semburan baru yang lebih minor sifatnya (jumlahnya s/d data
terakhir Pebruari 2007 berjumlah 40 titik). Pada tataran geologi
permukaan, survei-survei kita yang terkait dengan pemahaman fenomena
mud-volcano juga sepi-sepi saja. Padahal sampling berkala lumpur dan
sediment yang keluar dari semburan harus selalu dilakukan; pengukuran
temperature, salinitas, komposisi lumpur/air juga harus rutin.Yang
dimaksudkan dengan “kita” tersebut diatas seharusnya adalah
TimNas (yang sekarang jadi BPLS), Lapindo sendiri, lembaga-lembaga
pemerintah terkait (BPMigas, BG-ESDM, Lemigas, KLH, LIPI, BPPT dll), dan
juga Perguruan Tinggi. Malahan lebih sering terdengar (dan sebagian dari
kita merasa bangga mengungkapkannya) bahwa Tim dari Rusia, dari Jepang,
dari Italia, dari Amerika, dll berdatangan ke lokasi satu-satunya di
dunia tersebut untuk mempelajari fenomena lahirnya gunung lumpur
(mud-volcano) baru, tentunya dengan melakukan survey-survei, sampling dll
yang terkait dengan data geologi permukaannya. Ketika saya kemukakan
keprihatinan saya pada langkanya survei-survei tersebut jawaban sebagian
kalangan yang berwenang pada umumnya hampir bernuansa seragam: “
yang kita butuhkan adalah real & direct action untuk mematikan semburan,
bukan survei-survei atau riset….”. Atau jawaban yang punya
dimensi masalah lain lagi adalah: “ waduh, gimana urusan dananya?
lha wong untuk keperluan real-direct action dan operasional sehari-hari
saja flow dananya tidak jelas,.. dsb..” Dengan tulisan ini saya
ingin menyadarkan para pengambil kebijakan di level manapun dalam urusan
Lumpur Sidoarjo ini bahwa: tanpa riset/survei geologi-geofisik yang benar
(yang biayanya sangat jauh lebih kecil dari usaha langsung
penanggulannya), maka rekayasa penanggulangannya akan sia-sia dan
buang-buang duit saja.
Geometri Corong?
Program insersi bola-bola beton di bulan Maret 2007 yang lalu dilakukan
bukan untuk mematikan semburan, tapi lebih ke rekayasa untuk menghambat
laju alir lumpur dengan menggunakan prinsip hukum Darcy. Meskipun banyak
cemoohan dan ketidaksetujuan terhadap program ini (terutama dari kalangan
pemboran dan penganut paham tektonik regional pemicu semburan), tetapi
aspek positif-nya juga perlu kita lihat. Mereka berhasil menurunkan bola
sampai kedalaman minimum 1000 meter (3000an kaki), yang termonitor lewat 2
independent measurement (pressure gauge dan benang). Mereka juga berhasil
meng-image separoh dari geometri dangkal semburan (menggunakan echo
sounder yang dimodifikasi khusus), dimana interpretasinya mengindikasikan
geometri corong dengan lebar corong di permukaan +/- 50 meter. Peningkatan
kadar gas H2S yang dilepaskan oleh semburan bersamaan dengan penambahan
jumlah bola-bola beton yang di-insersikan diinterpretasikan sebagai
indikasi positif penurunan tekanan di bawah permukaan, meskipun alur pikir
dan argumentasi-nya masih perlu untuk dichallenge lebih lanjut. Saat ini
program insersi bola-bola beton juga bernasib sama dengan program Tim
Pemboran, tidak (belum) dilanjutkan (lagi) karena kondisi permukaan tempat
bekerja tidak lagi memungkinkan. Secara pribadi, saya lebih melihat
program insersi bola-bola beton yang maksimum perencanaan dananya 4 Miliar
Rupiah tersebut (mungkin baru keluar dana sekitar 1 Miliar Rupiah karena
berhenti di tengah jalan) sebagai program riset untuk mengetahui kondisi
bawah permukaan paling tidak s/d kedalaman 1000 meter (3000-an kaki).
Dibandingkan dengan rencana “program real action” Relief Well
-3 yang 490 Miliar Rupiah alias 50 Juta Dollar dan juga rencana Double
Cover Dam yang s/d 400 Miliar Rupiah, maka wajar saja kalau dari segi
pendanaan program insersi bola-bola beton yang dilakukan oleh para pakar
Fisika ITB tersebut tidak ada apa-apanya. Kalaulah kawan-kawan dari Fisika
ITB dan BPLS dan Lapindo (yang buntut-buntutnya juga membiayai
program-program tersebut) mau membuka diri berbagi dengan berbagai
kalangan yang terkait dengan keahlian kebumian dan rekayasa untuk membahas
hasil-hasil sementara “riset” bola-bola beton, maka saya yakin
akan banyak yang dapat dikontribusikan untuk langkah-langkah selanjutnya
penanggulan semburan tersebut.
Double Cover Dam
Dalam pesannya ke BPLS Presiden SBY menyatakan pentingnya Tim Jepang dan
BPLS mengkonsultasikan metode double cover dam tersebut ke para ahli
geologi. Repotnya, dalam berita media disebutkan bahwa mereka diberi
kesempatan untuk konsultasi hanya dalam 2 hari ini sebelum mem-finalkan
disain operasional lewat presentasi ke Tim Pengarah BPLS Senin 14 Mei.
Tentunya kita semua juga tahu bahwa pada Sabtu-Minggu seperti ini akan
sangat sulit meminta kerelaan para professional volunteer untuk
bersama-sama berkumpul membahas aspek geologi dari metode double cover dam
tersebut. Tetapi kita juga tahu bahwa ada otoritas geologi di Indonesia,
yaitu Badan Geologi ESDM (BG-ESDM) yang mustinya punya legacy untuk
membahas aspek geologi-nya. Dan karena mereka adalah bagian dari birokrasi
pemerintahan, maka mudah-mudahan dalam 2 hari ini pemberian konsultasi-nya
kepada BPLS dan Tim Jepang bisa mereka lakukan, tentunya dengan ijin
lembur khusus kerja diluar jam normal kerja, demi kepentingan besar
penanggulangan semburan lumpur Sidoarjo. Untuk itu pulalah saya tuliskan
artikel ini, dengan harapan dapat dibaca dan dijadikan masukan oleh
kawan-kawan di BG-ESDM dan tentunya di BPLS, selain juga untuk
disebar-luaskan ke masyarakat sehingga mereka jadi lebih mengerti dengan
apa yang terjadi di Porong Sidoarjo sana.
Dalam pekerjaan konstruksi bangunan sipil di permukaan tanah dikenal
istilah geoteknik: soil test, sondir, atau soil penetration test, dan
bahkan seismik dangkal untuk mengetahui kondisi struktur dangkal dan
kekuatan “tanah” untuk kestabilan pondasi. Untuk membangun
“dam’ (atau pipa) setinggi 40 meter paling tidak diperlukan
informasi bawah permukaan sampai kedalaman minimum 40 meter. Apakah
informasi teknis tentang hal ini sudah tersedia? Balitbang Dep-Kimpraswil
mungkin memiliki beberapa data awal geoteknik daerah Porong, terutama
ketika mereka membangun (dan harus memelihara) jalan tol Surabaya-Gempol
melewati Porong. Atau bahkan BG-ESDM-pun memiliki data serupa, terutama
berkaitan dengan proyek-proyek geologi teknik yang pernah mereka lakukan
di daerah tersebut. Namun, perlu diperhatikan dengan sangat bahwa lokasi
tempat konstruksi dam (atau “pipa”) yang direncanakan saat ini
berada pada kondisi dinamis yang sangat berbeda dengan saat data untuk
pembangunan jalan toll diambil (atau saat proyek-proyek geoteknik BG-ESDM
dilakukan), yaitu: 1) tergenang lumpur, 2) terus menerus mengalami
penurunan yang bukan dikarenakan faktor kompaksi belaka, 3) memiliki
rekahan-rekahan / bidang-bidang lemah baru yang diakibatkan oleh penurunan
maupun effek heaving dari tubuh bendung lumpur selama 1 tahun terakhir
ini, dan 4) kemungkinan mempunyai conduit terhubung dengan sumber lumpur,
air, ataupun gas di bawah permukaan akibat dari proses deteriorasi
lapisan-lapisan dangkal (kwarter) selama bencana setahun ini. Oleh karena
itu, maka sangat disarankan kepada otoritas BPLS untuk terlebih dulu
melakukan riset geoteknik tapak sebelum memutuskan pembuatan disain double
cover dam tersebut. Tentunya dalam kondisi seperti yang tertulis diatas
tidak mungkin dilakukan pekerjaan geoteknik seperti umumnya dilakukan di
tanah kering. Berbagai pendekatan dan modifikasi operasional riset harus
dilakukan. Ground Penetrating Radar (GPR) sangat ideal dipakai untuk
mendeteksi konfigurasi struktur perlapisan geologi dangkal s/d kedalaman
50 meter. Kalau perlu dalam akuisisi datanya digunakan perahu/hoover-craft
yang dipayung-i bahan tahan panas (seperti bahan baju para volcanologist
yang riset di atas leleran lava panas yang baru membeku).
Selain khawatir dengan ketidakpastian struktur dangkal, saya juga ingin
membawa perhatian anda semua untuk terus menerus mengusahakan pencarian
informasi tentang apa yang terjadi di kedalaman yang lebih dalam (150
– 3000 kaki, 3000-6000 kaki, dan ultimately 6000-9000 kaki) melalui
survei-survei geosains yang menerus maupun berkala, sebelum secara
benar-benar mengimplementasikan disain double cover dam di lapangan.
Tentunya disain itu sendiri juga harus disesuaikan dengan kondisi bawah
permukaan dangkal dari survei-survei yang sudah saya usulkan di atas.
Pengabaian ketidakpastian bawah permukaan akan membawa bencana yang lebih
besar lagi apabila dipaksakan untuk menanggulangi semburan hanya
berdasarkan rekayasa permukaan.
Kalah cacak – menang cacak
Sejak Juli-Agustus 2006, ketika keterlambatan penanganan semburan mulai
serius dan semburan makin membesar menjadi proses pembentukan mud-volcano,
saya sudah pesimistis dan mengatakan bahwa ini semua tidak akan bisa
ditanggulangi lagi dengan “existing technology available in the
market”, lemparkan handuk, dan kita musti bersiap-siap dengan
“worst-case scenario”. Skenario terburuk itu saat ini sudah
kita jalani, lumpur tak kunjung berhenti menyembur, yang namanya TimNas
sudah digantikan dengan Badan (BPLS) yang punya masa kerja jauh lebih
panjang, bencana merembet mengimbas ke banyak aspek, tanah sudah mulai
diganti-rugi/dibeli, dsb, dsb. Terus, untuk apa kita terus ngotot dengan
usaha-usaha penangggulangan semburan langsung kalau kita yakin bahwa ini
semua tidak akan bisa ditanggulangi dengan “existing
technology”? Poin saya ketika mengusulkan pemberlakuan worst-case
scenario dulu itu adalah ingin menciptakan prasyarat dasar
safety/keselamatan dimana yang kita pentingkan terlebih dulu adalah jiwa
dan penghidupan manusia melalui scenario tersebut. Ketika jiwa dan
penghidupan manusia mulai pelan-pelan ada titik cerah untuk diselamatkan,
ketika infra-struktur juga sudah mulai dipindahkan (meskipun ada yang
telat, kemudian rusak, dan menimbulkan korban waktu pecah: yaitu pipa
gas), daerah mulai dikosongkan, maka instink kita sebagai manusia survival
harus kita implementasikan. Teknologi yang tersedia di pasaran memang
mungkin belum pernah ada yang dapat mematikan gunung-lumpur, tetapi siapa
tahu: teknologi yang sedang dan akan diciptakan anak bangsa Indonesia
sendiri mampu untuk menanggulangi-nya. Siapa tahu? Lumpur Sidoardjo akan
menjadi wahana laboratorium besar dimana konsep-konsep teknologi,
rekayasa, dan geologi akan mendapatkan tempat implementasi, tentunya
dengan syarat: jiwa, penghidupan, dan hal-hal dasar lainnya sudah bisa
diselesaikan. Siapa tahu? Wallahualam
ADB/070512
----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------