Saya pikir, kita harus menghormati semua kontrak (PSC dll) berjalan yang
sudah ditandatangani kedua belah pihak. Bila tiba-tiba kontrak berjalan
ditinjau lagi bahkan diputuskan secara sepihak, tentu ini akan menyalahi
hukum bisnis. Nasionalisasi di Indonesia seperti yang ditulis Yangkung
terjadi sebelum era PSC yang digulirkan tahun 1966.
 
Nasionalisasi bisa saja dilakukan, tetapi bukan untuk kontrak-kontrak
sedang berjalan, tetapi pada saat kontrak mau diperpanjang. Tak ada
ketentuan yang mengharuskan Negara memperpanjang kontrak dengan para
Kontraktor. Saya pernah terlibat di dalam proses-proses perpanjangan
kontrak dari beberapa Kontraktor/ blok produksi di Indonesia, dan bila
ada indikasi bahwa kontraknya tak akan diperpanjang, maka urusannya
langsung G to G (Presiden negara anu bertemu dengan Presiden RI). Nah,
kalau kita merasa diri berdaulat, berani, dan mampu, memutus kontrak
mestinya bukan hal sulit dan melakukan nasionalisasi. Tetapi, tetap
sehabis kontrak itu selesai.
 
Hanya pengalaman menunjukkan, kita selalu memperpanjang kontrak
blok-blok produksi bukan, selain Blok CPP ex Caltex yang sekarang
dioperasikan BOB Pertamina dan BSP.
 
Mengelola kawasan Orinoco pun gak gampang. Walaupun Pemerintah Venezuela
menyebutnya extra-heavy oil, kita tahu bahwa itu sebenarnya deposit tar
sands-bitumen seperti yang di Athabasca, Alaska (jadi ditambang dengan
cara strip mined), hanya yang di Venezuela tak seberat yang di Athabasca
karena yang di Orinoco tak separah athabasca biodegradasinya. Lagipula,
yang Orinoco lebih gampang diekstrak dibandingkan yang di Athabasca
karena Venezuela ada di wilayah tropis sementara Athabasca dikelilingi
padang es. Yah, semoga yang dilakukan Chavez dan Moralez tak akan
menurunkan produksi lapangan extra-heavy oil terbesar di dunia ini.
 
Mestinya kita memang berdaulat di negeri sendiri, tetapi kalau sudah
terlanjur mengundang investor, ya harus menghormati perjanjian kontrak
dong.
 
Salam,
awang
 
 
 
-----Original Message-----
From: Agus Hendratno [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, May 11, 2007 9:25 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Venezuela Nasionalisasi Ladang Minyak Onorico
 
Yangkung..dkk, 
seyogyanya Pertamina dan BPMIGAS saat ini harus berani begitu, karena
komitment yang ada di BPMIGAS dan Pertamina sudah OK, namun semua ini
harus ada dukungan politik yang KUAT. Posisi tawar kita sangat tinggi
masalah migas, tapi dukung politik ini yang masih setengah-setengah. 
Semoga IPA yang akan berlangsung minggu depan dapat mengambil moment ini
dengan baik untuk merapatkan barisan makmum dalam kegiatan bisnis migas
yang sungguh-sungguh membumi untuk bumi Indonesia. Sekalipun yang
bermain asing, namun yang dapat memperoleh "manfaat secara
sungguh-sungguh" mestinya juga masyarakat indonesia. walaah dalah..
 
agus 

basuki puspoputro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Anak-cucu eyang banyak yang terkagum-kagum oleh tindakan Venezuela dalam
menasionalisasi prusahaan minyak internasional. Seingat eyang tindakan
seperti itu sudah dilakukan oleh Indonesia hampir 50 tahun yang lalu.
Bahwa sesudah nasionalisasi lalu amburadul ya namanya kurang pengalaman.
Dan bahwa keadaan sekarang begini, ya itu soal lain. Maaf yankung cuma
mengenang masa lalu saja kok...
 
Yangkung

OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Venezuela Nasionalisasi Ladang Minyak Onorico 



JOSE -- Gerakan nasionalisasi yang digaungkan Venezuela akhirnya mulai
membuahkan hasil. Selasa (1/5) waktu setempat, pemerintah Hugo Chavez
akhirnya resmi menguasai ladang minyak Oniroco sebuah ladang minyak yang
memiliki cadangan terbesar di dunia.
"Ini adalah nasionalisasi sejati dari sumber alam yang kita miliki,''
teriak Chavez dalam orasinya saat merayakan kemenangan nasionalisasi
industri minyak terbesar kelima yang telah ditiupkan sejak Februari
lalu. Sebagai simbol kemenangan, ribuan pekerja Venezuela menyerbu
ladang-ladang minyak yang dioperasikan pihak asing di negara itu.
Chavez pun terus membakar semangat nasionalisme rakyatnya. " Hari ini
adalah berakhirnya era di mana kekayaan alam kita tidak lagi dikuasai
siapapun tapi oleh rakyat Venezuela," ujar Chavez. Menurut dia,
nasionalisasi minyak Venezuela kini telah menjadi kenyataan."
Perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela (PDVSA)
kini menguasai 60 persen saham di ladang minyak Orinoco yang memiliki
areal panjang 600 km dan lebar 70 km, membentang di sepanjang Sungai
Orinoco di Venezuela timur. Ladang minyak itu akan memproduksi minyak
sebanyak 600 ribu barel per hari.
Produksi minyak ladang itu setara dengan satu per lima total produksi
minyak harian Venezuela. Nilainya mencapai 25 miliar dolar AS. Cadangan
minyak yang terkandung di ladang itu mencapai 370 miliar barel.
Untuk merayakan kemenangan nasionalisasi itu, militer Venezuela dikirim
ke ladang-ladang minyak di Orinoco Basin. Sedangkan, para pekerja tampak
mengenakan kaos oblong bertuliskan ''Ya untuk Nasionalisasi" kemudian
datang berbondong-bondong ke ladang-ladang minyak itu, Selasa (1/5)
tengah malam.
Perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di daerah itu terpaksa
menyerahkan kekuasaan atas ladang-ladang minyak itu kepada PDVSA milik
negara. Mereka hanya memiliki saham minoritas dalam bentuk joint
venture. Sekitar 20 perusahaan asing menyetujui tawaran usaha bersama
pemerintah, serta tidak satupun memiliki saham mayoritas. Lebih dari
separuh ekspor minyak Venezuela mengalir kepada musuh politik Chavez,
AS.
Ketika memulai masa jabatan keduanya tahun ini, Chavez segera berusaha
menasionalisasi industri-industri minyak, gas dan telekomuniasi negara
itu. Ia mendapat hak yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan dekrit,
membangun satu mandat pemilihan yang kuat untuk melaksanakan Sosialisme
Abad ke-21 gayanya sendiri.
Rencana nasionalisasi minyak Venezuela beriringan dengan kebijakan yang
diputuskan Bolivia tahun lalu. Bolivia bertekad untuk lebih memperketat
penguasaan atas sumber-sumber gas alamnya. Pada 1 Mei tahun lalu,
Presiden Bolivia Evo Morales-- sekutu dekat dan sahabat Chavez--membuat
satu tindakan yang mengejutkan, dengan mengumumkan nasionalisasi
cadangan gas alam negara itu di Andean, terbesar kedua di Amerika
Selatan setelah Venezuela.
Pemerintah Bolivia merundingkan kembali kontrak-kontrak yang telah
dibuat dengan perusahaan-perusahaan asing. Sekutu Chavez lainnya,
Presiden Ekuador Rafael Correa, memperingatkan rencana-rencana negara
kaya minyaknya akan meninjau ulang semua kontrak untuk semua eksplorasi
di wilayahnya dan mungkin membatalkan beberapa perjanjian.
afp/ap/ant/hri 



------------------------------------------------------------------------
---- 
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition, 
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id <http://iagi.or.id/> 
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------



-- 
OK TAUFIK
 
Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com 
 
  
  _____  

No need to miss a message. Get
<http://us.rd.yahoo.com/evt=43910/*http:/mobile.yahoo.com/mail%0d%0a>
email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get
<http://us.rd.yahoo.com/evt=43910/*http:/mobile.yahoo.com/mail%0d%0a>
started.

Kirim email ke