> Yangkung
Emang si OOM itu rada dableg
juga , tapi inget nggak waktu itu Armada VII kan sudah sampai di Lautu
China Selatan ?
Itu jaman dulu , masih ada USSR , BK juga mikir
apalagi sekarang cuma ada USA dan yang ada juga cuma SBY , jangan mikir
nasionalisasi aaakh.
Si-Abah.
______________________________________________________________________
Pak Awang betul atawa tidak salah. Kalau
tentang nasionalisasi itu jelas
> bernafaskan politik dimana
konsekwensinya tidak main-main. Dulu sewaktu
> nasionalisasi oleh
Indonesia, yang dinasionalisasi adalah BPM, Shell yang
> milik
Belanda. Sedang Caltex dan Stanvac yang miliknya si Om tidak
>
nasionalisasi. Mungkin karena kita (baca Bung Karno) berani sama
Belanda
> tapi ngeper sama si Om. Nggak usah lama-lama, yang
kemarin itu soal Cepu,
> emangnya anu-nya si Om enggak turut
campur? Gimana Abah? Kita disini enak
> saja ngomong tapi
teman-teman kita banyak yang baru akan mengemukakan
> pendapat
saja sudah ragu, karena konsekwensi nya, either masuk kotak, kaki
> di-injak, atau dapur nggak ngasap, tapi ini ngomongan di warung
kopi
> lhooo. Buntutnya ya itu tadi, segala kebijakan di migas
adalah untuk
> kepentingan nusa dan bangsa sesuai dengan versi
pemerintah saat itu atau
> ini. Kalau bahasa geofisika-nya
kebijakan migas merupakan fungsi integral
> 1945-2008 dari UUD,
Presiden, Menteri, Dirjen,
> Direktur, dt dimana t adalah waktu,
he .. he... he... Silahkan anak cucu,
> eyang punggungnya sudah
sakit jalan aja nggak tegak.. hef e nais wik n
>
>
Salam,
> Yangkung
>
>
>
>
Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:*
{behavior:url(#default#VML);}
> w\:*
{behavior:url(#default#VML);} .shape
>
{behavior:url(#default#VML);}
>
st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) } Saya pikir, kita
> harus menghormati semua kontrak (PSC dll) berjalan yang sudah
> ditandatangani kedua belah pihak. Bila tiba-tiba kontrak
berjalan
> ditinjau lagi bahkan diputuskan secara sepihak, tentu
ini akan
> menyalahi hukum bisnis. Nasionalisasi di Indonesia
seperti yang
> ditulis Yangkung terjadi sebelum era PSC yang
digulirkan tahun 1966.
>
> Nasionalisasi bisa saja
dilakukan, tetapi bukan untuk kontrak-kontrak
> sedang berjalan,
tetapi pada saat kontrak mau diperpanjang. Tak ada
> ketentuan
yang mengharuskan Negara memperpanjang kontrak dengan para
>
Kontraktor. Saya pernah terlibat di dalam proses-proses perpanjangan
> kontrak dari beberapa Kontraktor/ blok produksi di Indonesia, dan
bila
> ada indikasi bahwa kontraknya tak akan diperpanjang, maka
urusannya
> langsung G to G (Presiden negara anu bertemu dengan
Presiden RI). Nah,
> kalau kita merasa diri berdaulat, berani, dan
mampu, memutus kontrak
> mestinya bukan hal sulit dan melakukan
nasionalisasi. Tetapi, tetap
> sehabis kontrak itu selesai.
>
> Hanya pengalaman menunjukkan, kita selalu
memperpanjang kontrak
> blok-blok produksi bukan, selain Blok CPP
ex Caltex yang sekarang
> dioperasikan BOB Pertamina dan BSP.
>
> Mengelola kawasan Orinoco pun gak gampang. Walaupun
Pemerintah Venezuela
> menyebutnya extra-heavy oil, kita tahu
bahwa itu sebenarnya deposit tar
> sands-bitumen seperti yang di
Athabasca, Alaska (jadi ditambang dengan
> cara strip mined),
hanya yang di Venezuela tak seberat yang di Athabasca
> karena
yang di Orinoco tak separah athabasca biodegradasinya. Lagipula,
>
yang Orinoco lebih gampang diekstrak dibandingkan yang di Athabasca
> karena Venezuela ada di wilayah tropis sementara Athabasca
dikelilingi
> padang es. Yah, semoga yang dilakukan Chavez dan
Moralez tak akan
> menurunkan produksi lapangan extra-heavy oil
terbesar di dunia ini.
>
> Mestinya kita memang
berdaulat di negeri sendiri, tetapi kalau sudah
> terlanjur
mengundang investor, ya harus menghormati perjanjian kontrak
>
dong.
>
> Salam,
> awang
>
>
>
> -----Original Message-----
>
From:
Agus Hendratno [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, May
11, 2007 9:25 C++
> To: [email protected]
> Subject: Re:
[iagi-net-l] Venezuela Nasionalisasi Ladang Minyak Onorico
>
> Yangkung..dkk,
>
> seyogyanya Pertamina
dan BPMIGAS saat ini harus berani begitu, karena
> komitment yang
ada di BPMIGAS dan Pertamina sudah OK, namun semua ini
> harus ada
dukungan politik yang KUAT. Posisi tawar kita sangat tinggi
>
masalah migas, tapi dukung politik ini yang masih setengah-setengah.
>
> Semoga IPA yang akan berlangsung minggu depan dapat
mengambil moment
> ini dengan baik untuk merapatkan barisan makmum
dalam kegiatan bisnis
> migas yang sungguh-sungguh membumi untuk
bumi Indonesia. Sekalipun
> yang bermain asing, namun yang dapat
memperoleh "manfaat secara
> sungguh-sungguh" mestinya
juga masyarakat indonesia. walaah dalah..
>
>
>
> agus
>
> basuki puspoputro
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Anak-cucu
eyang banyak yang terkagum-kagum oleh tindakan Venezuela
> dalam
menasionalisasi prusahaan minyak internasional. Seingat eyang
>
tindakan seperti itu sudah dilakukan oleh Indonesia hampir 50 tahun
> yang lalu. Bahwa sesudah nasionalisasi lalu amburadul ya namanya
> kurang pengalaman. Dan bahwa keadaan sekarang begini, ya itu
soal
> lain. Maaf yankung cuma mengenang masa lalu saja kok...
>
>
>
> Yangkung
>
>
OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
Venezuela Nasionalisasi Ladang Minyak Onorico
>
>
>
> JOSE -- Gerakan nasionalisasi yang digaungkan Venezuela
akhirnya mulai
> membuahkan hasil. Selasa (1/5) waktu setempat,
pemerintah Hugo Chavez
> akhirnya resmi menguasai ladang minyak
Oniroco sebuah ladang minyak yang
> memiliki cadangan terbesar di
dunia.
> "Ini adalah nasionalisasi sejati dari sumber alam
yang kita miliki,''
> teriak Chavez dalam orasinya saat merayakan
kemenangan nasionalisasi
> industri minyak terbesar kelima yang
telah ditiupkan sejak Februari lalu.
> Sebagai simbol kemenangan,
ribuan pekerja Venezuela menyerbu ladang-ladang
> minyak yang
dioperasikan pihak asing di negara itu.
> Chavez pun terus
membakar semangat nasionalisme rakyatnya. " Hari ini
> adalah
berakhirnya era di mana kekayaan alam kita tidak lagi dikuasai
>
siapapun tapi oleh rakyat Venezuela," ujar Chavez. Menurut dia,
> nasionalisasi minyak Venezuela kini telah menjadi
kenyataan."
> Perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos
de Venezuela (PDVSA) kini
> menguasai 60 persen saham di ladang
minyak Orinoco yang memiliki areal
> panjang 600 km dan lebar 70
km, membentang di sepanjang Sungai Orinoco di
> Venezuela timur.
Ladang minyak itu akan memproduksi minyak sebanyak 600
> ribu
barel per hari.
> Produksi minyak ladang itu setara dengan satu
per lima total produksi
> minyak harian Venezuela. Nilainya
mencapai 25 miliar dolar AS. Cadangan
> minyak yang terkandung di
ladang itu mencapai 370 miliar barel.
> Untuk merayakan kemenangan
nasionalisasi itu, militer Venezuela dikirim ke
> ladang-ladang
minyak di Orinoco Basin. Sedangkan, para pekerja tampak
>
mengenakan kaos oblong bertuliskan ''Ya untuk Nasionalisasi"
kemudian
> datang berbondong-bondong ke ladang-ladang minyak itu,
Selasa (1/5) tengah
> malam.
> Perusahaan-perusahaan asing
yang beroperasi di daerah itu terpaksa
> menyerahkan kekuasaan
atas ladang-ladang minyak itu kepada PDVSA milik
> negara. Mereka
hanya memiliki saham minoritas dalam bentuk joint venture.
>
Sekitar 20 perusahaan asing menyetujui tawaran usaha bersama
pemerintah,
> serta tidak satupun memiliki saham mayoritas. Lebih
dari separuh ekspor
> minyak Venezuela mengalir kepada musuh
politik Chavez, AS.
> Ketika memulai masa jabatan keduanya tahun
ini, Chavez segera berusaha
> menasionalisasi industri-industri
minyak, gas dan telekomuniasi negara
> itu. Ia mendapat hak yang
belum pernah terjadi sebelumnya dengan dekrit,
> membangun satu
mandat pemilihan yang kuat untuk melaksanakan Sosialisme
> Abad
ke-21 gayanya sendiri.
> Rencana nasionalisasi minyak Venezuela
beriringan dengan kebijakan yang
> diputuskan Bolivia tahun lalu.
Bolivia bertekad untuk lebih memperketat
> penguasaan atas
sumber-sumber gas alamnya. Pada 1 Mei tahun lalu, Presiden
>
Bolivia Evo Morales-- sekutu dekat dan sahabat Chavez--membuat satu
> tindakan yang mengejutkan, dengan mengumumkan nasionalisasi
cadangan gas
> alam negara itu di Andean, terbesar kedua di
Amerika Selatan setelah
> Venezuela.
> Pemerintah Bolivia
merundingkan kembali kontrak-kontrak yang telah dibuat
> dengan
perusahaan-perusahaan asing. Sekutu Chavez lainnya, Presiden
>
Ekuador Rafael Correa, memperingatkan rencana-rencana negara kaya
> minyaknya akan meninjau ulang semua kontrak untuk semua eksplorasi
di
> wilayahnya dan mungkin membatalkan beberapa perjanjian.
afp/ap/ant/hri
>
>
>
>
----------------------------------------------------------------------------
> Hot News!!!
> CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30
March 2007 to
> [EMAIL PROTECTED]
> Joint Convention
Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
> 29th IATMI
Annual Convention and Exhibition,
> Bali Convention Center, 13-16
November 2007
>
----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123
0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>
> --
> OK
TAUFIK
>
> Send instant messages to your online
friends
> http://uk.messenger.yahoo.com
>
>
>
>
> ---------------------------------
>
> No need to miss a message. Get email on-the-go
> with
Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
>
>
>
> Send instant messages to your online friends
>
http://uk.messenger.yahoo.com