Pak Awang betul atawa tidak salah. Kalau tentang nasionalisasi itu jelas
bernafaskan politik dimana konsekwensinya tidak main-main. Dulu sewaktu
nasionalisasi oleh Indonesia, yang dinasionalisasi adalah BPM, Shell yang milik
Belanda. Sedang Caltex dan Stanvac yang miliknya si Om tidak nasionalisasi.
Mungkin karena kita (baca Bung Karno) berani sama Belanda tapi ngeper sama si
Om. Nggak usah lama-lama, yang kemarin itu soal Cepu, emangnya anu-nya si Om
enggak turut campur? Gimana Abah? Kita disini enak saja ngomong tapi
teman-teman kita banyak yang baru akan mengemukakan pendapat saja sudah ragu,
karena konsekwensi nya, either masuk kotak, kaki di-injak, atau dapur nggak
ngasap, tapi ini ngomongan di warung kopi lhooo. Buntutnya ya itu tadi, segala
kebijakan di migas adalah untuk kepentingan nusa dan bangsa sesuai dengan versi
pemerintah saat itu atau ini. Kalau bahasa geofisika-nya kebijakan migas
merupakan fungsi integral 1945-2008 dari UUD, Presiden, Menteri, Dirjen,
Direktur, dt dimana t adalah waktu, he .. he... he... Silahkan anak cucu,
eyang punggungnya sudah sakit jalan aja nggak tegak.. hef e nais wik n
Salam,
Yangkung
Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);}
st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) } Saya pikir, kita harus
menghormati semua kontrak (PSC dll) berjalan yang sudah ditandatangani kedua
belah pihak. Bila tiba-tiba kontrak berjalan ditinjau lagi bahkan diputuskan
secara sepihak, tentu ini akan menyalahi hukum bisnis. Nasionalisasi di
Indonesia seperti yang ditulis Yangkung terjadi sebelum era PSC yang digulirkan
tahun 1966.
Nasionalisasi bisa saja dilakukan, tetapi bukan untuk kontrak-kontrak sedang
berjalan, tetapi pada saat kontrak mau diperpanjang. Tak ada ketentuan yang
mengharuskan Negara memperpanjang kontrak dengan para Kontraktor. Saya pernah
terlibat di dalam proses-proses perpanjangan kontrak dari beberapa Kontraktor/
blok produksi di Indonesia, dan bila ada indikasi bahwa kontraknya tak akan
diperpanjang, maka urusannya langsung G to G (Presiden negara anu bertemu
dengan Presiden RI). Nah, kalau kita merasa diri berdaulat, berani, dan mampu,
memutus kontrak mestinya bukan hal sulit dan melakukan nasionalisasi. Tetapi,
tetap sehabis kontrak itu selesai.
Hanya pengalaman menunjukkan, kita selalu memperpanjang kontrak blok-blok
produksi bukan, selain Blok CPP ex Caltex yang sekarang dioperasikan BOB
Pertamina dan BSP.
Mengelola kawasan Orinoco pun gak gampang. Walaupun Pemerintah Venezuela
menyebutnya extra-heavy oil, kita tahu bahwa itu sebenarnya deposit tar
sands-bitumen seperti yang di Athabasca, Alaska (jadi ditambang dengan cara
strip mined), hanya yang di Venezuela tak seberat yang di Athabasca karena yang
di Orinoco tak separah athabasca biodegradasinya. Lagipula, yang Orinoco lebih
gampang diekstrak dibandingkan yang di Athabasca karena Venezuela ada di
wilayah tropis sementara Athabasca dikelilingi padang es. Yah, semoga yang
dilakukan Chavez dan Moralez tak akan menurunkan produksi lapangan extra-heavy
oil terbesar di dunia ini.
Mestinya kita memang berdaulat di negeri sendiri, tetapi kalau sudah
terlanjur mengundang investor, ya harus menghormati perjanjian kontrak dong.
Salam,
awang
-----Original Message-----
From: Agus Hendratno [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, May 11, 2007 9:25 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Venezuela Nasionalisasi Ladang Minyak Onorico
Yangkung..dkk,
seyogyanya Pertamina dan BPMIGAS saat ini harus berani begitu, karena
komitment yang ada di BPMIGAS dan Pertamina sudah OK, namun semua ini harus ada
dukungan politik yang KUAT. Posisi tawar kita sangat tinggi masalah migas, tapi
dukung politik ini yang masih setengah-setengah.
Semoga IPA yang akan berlangsung minggu depan dapat mengambil moment ini
dengan baik untuk merapatkan barisan makmum dalam kegiatan bisnis migas yang
sungguh-sungguh membumi untuk bumi Indonesia. Sekalipun yang bermain asing,
namun yang dapat memperoleh "manfaat secara sungguh-sungguh" mestinya juga
masyarakat indonesia. walaah dalah..
agus
basuki puspoputro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Anak-cucu eyang banyak yang terkagum-kagum oleh tindakan Venezuela dalam
menasionalisasi prusahaan minyak internasional. Seingat eyang tindakan seperti
itu sudah dilakukan oleh Indonesia hampir 50 tahun yang lalu. Bahwa sesudah
nasionalisasi lalu amburadul ya namanya kurang pengalaman. Dan bahwa keadaan
sekarang begini, ya itu soal lain. Maaf yankung cuma mengenang masa lalu saja
kok...
Yangkung
OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Venezuela Nasionalisasi Ladang Minyak Onorico
JOSE -- Gerakan nasionalisasi yang digaungkan Venezuela akhirnya mulai
membuahkan hasil. Selasa (1/5) waktu setempat, pemerintah Hugo Chavez akhirnya
resmi menguasai ladang minyak Oniroco sebuah ladang minyak yang memiliki
cadangan terbesar di dunia.
"Ini adalah nasionalisasi sejati dari sumber alam yang kita miliki,'' teriak
Chavez dalam orasinya saat merayakan kemenangan nasionalisasi industri minyak
terbesar kelima yang telah ditiupkan sejak Februari lalu. Sebagai simbol
kemenangan, ribuan pekerja Venezuela menyerbu ladang-ladang minyak yang
dioperasikan pihak asing di negara itu.
Chavez pun terus membakar semangat nasionalisme rakyatnya. " Hari ini adalah
berakhirnya era di mana kekayaan alam kita tidak lagi dikuasai siapapun tapi
oleh rakyat Venezuela," ujar Chavez. Menurut dia, nasionalisasi minyak
Venezuela kini telah menjadi kenyataan."
Perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela (PDVSA) kini
menguasai 60 persen saham di ladang minyak Orinoco yang memiliki areal panjang
600 km dan lebar 70 km, membentang di sepanjang Sungai Orinoco di Venezuela
timur. Ladang minyak itu akan memproduksi minyak sebanyak 600 ribu barel per
hari.
Produksi minyak ladang itu setara dengan satu per lima total produksi minyak
harian Venezuela. Nilainya mencapai 25 miliar dolar AS. Cadangan minyak yang
terkandung di ladang itu mencapai 370 miliar barel.
Untuk merayakan kemenangan nasionalisasi itu, militer Venezuela dikirim ke
ladang-ladang minyak di Orinoco Basin. Sedangkan, para pekerja tampak
mengenakan kaos oblong bertuliskan ''Ya untuk Nasionalisasi" kemudian datang
berbondong-bondong ke ladang-ladang minyak itu, Selasa (1/5) tengah malam.
Perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di daerah itu terpaksa menyerahkan
kekuasaan atas ladang-ladang minyak itu kepada PDVSA milik negara. Mereka hanya
memiliki saham minoritas dalam bentuk joint venture. Sekitar 20 perusahaan
asing menyetujui tawaran usaha bersama pemerintah, serta tidak satupun memiliki
saham mayoritas. Lebih dari separuh ekspor minyak Venezuela mengalir kepada
musuh politik Chavez, AS.
Ketika memulai masa jabatan keduanya tahun ini, Chavez segera berusaha
menasionalisasi industri-industri minyak, gas dan telekomuniasi negara itu. Ia
mendapat hak yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan dekrit, membangun satu
mandat pemilihan yang kuat untuk melaksanakan Sosialisme Abad ke-21 gayanya
sendiri.
Rencana nasionalisasi minyak Venezuela beriringan dengan kebijakan yang
diputuskan Bolivia tahun lalu. Bolivia bertekad untuk lebih memperketat
penguasaan atas sumber-sumber gas alamnya. Pada 1 Mei tahun lalu, Presiden
Bolivia Evo Morales-- sekutu dekat dan sahabat Chavez--membuat satu tindakan
yang mengejutkan, dengan mengumumkan nasionalisasi cadangan gas alam negara itu
di Andean, terbesar kedua di Amerika Selatan setelah Venezuela.
Pemerintah Bolivia merundingkan kembali kontrak-kontrak yang telah dibuat
dengan perusahaan-perusahaan asing. Sekutu Chavez lainnya, Presiden Ekuador
Rafael Correa, memperingatkan rencana-rencana negara kaya minyaknya akan
meninjau ulang semua kontrak untuk semua eksplorasi di wilayahnya dan mungkin
membatalkan beberapa perjanjian. afp/ap/ant/hri
----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
--
OK TAUFIK
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com