Sent from my BlackBerry® wireless device

-----Original Message-----
From: "nyoto - ke-el" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Sat, 9 Jun 2007 21:21:31 
To:[email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] IAGI Diminta Pendapat Soal LUSI oleh DPD-MPR RI

<div>Jangan kaget pak Bat Simandjuntak, IAGI kita ini sekarang kan sudah lebih 
boleh dibilang bukan pengurus professional, tapi lebih boleh dibilang 
politician&nbsp; selebritis ....</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Polemik mengenai sebab2 terjadinya LUSI / LULA (ketua IAGI kita lebih 
senang pakai istilah ini, LULA = Lumpur Lapindo, lumpur yang keluarya / 
lahirnya&nbsp;disebabkan oleh LAPINDO, secara naluri sebetulnya dia sudah 
&quot;mengakui&quot; penyebeb lumpur tsb adalah LAPINDO, tapi kesimpulan yang 
dia &quot;percaya&quot;, justru sebaliknya)&quot;, sudah pernah didiskusikan 
sampai detail didalam milis ini beberapa bulan lalu, yang ditrigger oleh Surat 
&quot;Protes&quot;nya pak 
Dr.Koesoema ITB yang merasa kurang &quot;SREG&quot;&nbsp; dengan 
hasil&nbsp;kesimpulan team LUSI IAGI pada pertemuan internasional beberapa 
bulan lalu.&nbsp;Saat itupun juga sudah banyak yang protes dengan kesimpulan 
tsb, yang lebih banyak bermuatan politiknya (ada semacem pesan sponsor) 
dibanding ilmiahnya.
</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Tapi sekarang ternyata justru kesimpulan yang tidak populer tsblah yang 
disampaikan kepada anggota&nbsp;DPD - MPR, opo ora huebat IAGI kita sekarang 
ini, sudah berani memberikan kesimpulan &quot;resmi&quot; IAGI yang lebih 
bermuatan &quot;business&quot; dibanding ilmiah, didepan institusi resmi 
DPD-MPR ... saluut deh buat pak ketua IAGI kita ... sekarang memang saatnya 
tidak perlu lagi ilmiah2an .... yang penting &quot;mereka&quot; hepi ...
</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Jadi memang jangan kaget lagi kepada pak Simandjuntak &amp; pak Kabul 
&amp; kepada bapak2 ahli geologi Indonesia yang lainnya &nbsp;.....itulah 
kenyataannya dihari ini, IAGI kita sudah bukan lagi layak dipercaya sebagai 
wakil resmi asosiasi profesi geologi Indonesia kita &nbsp;....
</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Saya yakin, pak Awang (yang biasanya sangat ilmiah, tapi untuk yang satu 
ini saya terpaksa meragukan ke-ilmiah-an pak Awang) mesti akan mencak2 dengan 
komentar ini&nbsp;, monggo pak ...</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Wass,</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>(sorry saya baru sempat berkomentar sekarang karena kesibukan kerjaan 
ngejar setoran, setelah beberapa hari terakhir ini saya hanya sempat membaca 
laporannya pak Awang mengenai dengar pendapat dengan DPD-MPR)</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><br><br>&nbsp;</div>
<div><span class="gmail_quote">On 6/8/07, <b class="gmail_sendername"><a 
href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</a></b> &lt;<a 
href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</a>&gt; wrote:
</span>
<blockquote class="gmail_quote" style="PADDING-LEFT: 1ex; MARGIN: 0px 0px 0px 
0.8ex; BORDER-LEFT: #ccc 1px solid"><br>Saya mengurut dada dengan apa yang 
disebut sebagai &quot;Kesimpulan Tim resmi<br>IAGI&quot; bahwa penyebab LUSI 
adalah TEKTONIK. Apakah organisasi profesi tidak
<br>bisa mengaku bahwa sebenarnya dirinya mempunyai beberapa jawaban 
untuk<br>masalah tersebut, dan memberitahu seluruh jawaban tsb secara 
sama<br>beratnya. Apakah sederet doktor otomatis bisa memberikan jawaban 
yang<br>paling benar sehingga dijadikan jawaban resmi organisasi 
profesi.Jawaban<br>&quot;resmi&quot; kepada lembaga publik non profesi teknis 
seperti DPD dapat segera<br>menjadi &quot;acuan&quot; yang dianggap sebagai 
jawaban benar, lalu menjadi jawaban<br>satu-satunya.<br><br>Berdasarkan 
pengetahuan kita sekarang, boleh saja lumpurnya diperkirakan
<br>terakumulasi karena gerakan tektonik; tapi ia baru menjadi bencana 
ketika<br>tiba dipermukaan. Untuk tiba dipermukaan tsb, mesti ada jalannya. 
Apakah<br>tektonik juga pembuat jalan tol bagi lumpur untuk menebar bencana ?.
<br>Bagaimana pula orang mengijinkan dirinya membuat jalan tol lumpur 
persis<br>disebelah jalan tol Porong yang membelah perkampungan ?.<br><br>Saya 
belum bisa paham ada jawaban &quot;resmi dan tunggal&quot; dari lembaga profesi.
<br><br>bat<br><br>&gt; Bagi saya menyambut gembira undangan DPD RI.<br>&gt; 
Yang mengejutkan bagi saya adalah kesimpulannya itu : Apa penyebab LUSI 
:<br>&gt; erupsi gununglumpur akibat gerak tektonik dan dapat berhubungan dengan
<br>&gt; gejala geothermal dari kompleks gunungapi Anjasmoro-Welirang-Arjuno 
di<br>&gt; sebelah selatan Sidoarjo.<br>&gt;<br>&gt; Gerak tektonik ?? Apa ada 
bukti gerak tektonik yang menyebabkan semburan<br>&gt; lumpur itu ? Jika lorong 
semburan itu merupakan &quot;sesar baru&quot; yang
<br>&gt; merupakan jalannya lumpur keatas..yang mana dari kedalam 9000 kaki 
hingga<br>&gt; permukaan, lha kok kota Sidorajo dan Porong kok nggak diguncang 
gempa<br>&gt; hebat ? Kok nggak porak poranda ? bayangkan tektonik 
&quot;memecah&quot; lapisan
<br>&gt; tanah dari kedalam itu apa bukannya ada gempa super dahsyat ? Tak ada 
khan<br>&gt; ? kecuali dua hari sebelumnya di Yogya...wong kota Madiun, 
Mojokerto,<br>&gt; bahkan Sragen aja nggak terganggu akibat gempa Bantul itu. 
Juga gunung api
<br>&gt; yang disebutkan itu waktu ada &quot;gerak tektonik&quot; yang 
&quot;memecah&quot; tembus<br>&gt; keatas Lusi kok nggak ada laporan 
reaksi&nbsp;&nbsp;??&nbsp;&nbsp;Erupsi kecil kek...atau<br>&gt; tanda-tanda 
aktifitas g.api yang meninggi kek..
<br>&gt; Kalau sekarang sudah menyembur dan berhubungan dengan fenomena 
geothermal<br>&gt; memang benar ( geothermal drive mechanism ), lha wong 
panasnya sampai<br>&gt; lebih 200 derajat dipermukaan.<br>&gt;<br>&gt; Lha 
hubungan dengan histori sumur Banjarpanji-1 apa tidak masuk hitungan ?
<br>&gt; Catatan ada lost dan kick, ada over ppressure, sumur tanpa selubung 
(<br>&gt; casing ) - dari 3580 ft - 9297 ft alias 5717 feet tanpa casing, ada 
plug (<br>&gt; whipstock ) di intermediate casing dll, adanya kick yang besar -
<br>&gt; underground blowout,&nbsp;&nbsp;apa tidak diungkap ? awal semburan di 
sumur yang<br>&gt; berupa air asin panas sekali juga tidak diungkap ? Lalu 
lapisan shale-clay<br>&gt; yang &quot;telanjang&quot; - alias open hole setebal 
750 meteran yang diketahui saat
<br>&gt; drilling juga tidak diungkap ? Lalu lagi, drill pipe yang kejepit saat 
di<br>&gt; pull out di daerah shale-clay saat kick itu juga tidak diungkap di 
depan<br>&gt; DPD-RI ?<br>&gt; Lalu lagi, kick yang tersumbat drill pipe dan 
tidak tersalurkan lama-lama
<br>&gt; tekanannya merekahkan lapisan atau membuat channel keatas itu juga 
sempat<br>&gt; dibicarakan dengan DPD-RI ?<br>&gt; Secara langsung disini IAGI 
mengatakan bahwa Lusi murni akibat Bencana<br>&gt; Alam ?? Lalu kenapa selama 
ini &quot;hanya&quot; Lapindo Brantas yang bertanggung
<br>&gt; jawab ?..ya karena pihak Lapindo sendiri secara hati nuraninya 
juga<br>&gt; menyadari sepenuhnya bahwa BJP-1 ada &quot;kecelakaan 
pemboran&quot;. Terbukti<br>&gt; dengan pembiayaannya selama ini, sampai melego 
saham dan membuat
<br>&gt; perusahaan baru menangani ganti rugi dsb. Andaikata tidak ada BJP-1 
yang<br>&gt; &quot;celaka&quot; itu, apa iya akan muncul Lusi disitu 
?<br>&gt;<br>&gt; Perkara finansial nya yang tidak mampu lagi membiayai 
penanggulangan itu
<br>&gt; soal lain...bukan soal pemboran dan geologi.<br>&gt;<br>&gt; Wah akan 
menjadi perdebatan lebih panjang lagi....Mohon dengar pendapat<br>&gt; ini bisa 
dikutip secara lengkap sehinga tidak sepotong sepotong<br>&gt; nangkapnya. 
Termasuk tanya jawabnya....
<br>&gt; Sorry, jadi buanyak banget pertanyaan yang nganeh-anehi...Hati Nurani 
ini<br>&gt; perlu saluran juga..<br>&gt;<br>&gt; KA<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; 
----- Original Message -----<br>&gt;&nbsp;&nbsp; From: Awang Harun 
Satyana<br>&gt;&nbsp;&nbsp; To: 
<a 
href="mailto:[email protected]";>[email protected]</a><br>&gt;&nbsp;&nbsp; 
Sent: Thursday, June 07, 2007 3:16 PM<br>&gt;&nbsp;&nbsp; Subject: [iagi-net-l] 
IAGI Diminta Pendapat Soal LUSI oleh DPD-MPR 
RI<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan 
Daerah (DPD) - MPR RI melayangkan
<br>&gt; undangan bernomor DN860/141/DPD/V/2007 tanggal 30 Mei 2007 kepada 
Ketua<br>&gt; IAGI untuk permintaan RDPU (Rapat Dengar Pendapat Umum) soal 
bencana<br>&gt; LUSI (Lumpur Sidoarjo). DPD RI telah membentuk Panitia Khusus 
(Pansus)
<br>&gt; soal LUSI dan telah mengadakan studi/kunjungan lapangan ke 
lokasi<br>&gt; bencana. Pansus ini dibentuk untuk mencermati perkembangan 
dampak<br>&gt; bencana LUSI pada masyarakat sekitar dan perkembangan 
penanganannya
<br>&gt; serta perspektif solusi/rekomendasi pada konteks upaya 
penanggulangan<br>&gt; semburan lumpur dan penanganan luapan 
lumpur.<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; Rapat diadakan pada hari 
Rabu 6 Juni 2007 di Ruang Rapat Badan
<br>&gt; Kehormatan Lantai 3 Gedung B DPD RI di Kompleks Gedung MPR, 
Jalan<br>&gt; Jenderal Gatot Subroto, Jakarta. Rapat berlangsung dari 
pukul<br>&gt; 13.00-16.00. IAGI diwakili oleh : Achmad Luthfi (Presiden IAGI), 
Ridwan
<br>&gt; Djamaluddin (SekJen IAGI), Edy Sunardi (Ketua Bidang Keilmuan 
IAGI<br>&gt; sekaligus Ketua Tim LUSI IAGI), Slamet Riadhi (Ketua Bidang Migas 
IAGI),<br>&gt; Elan Biantoro (PP IAGI), Kodir (Sekretariat IAGI), Awang Satyana 
(PP
<br>&gt; IAGI).<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; Rapat dibuka, 
domoderatori, dan diberi pengantar oleh Set Jen DPD-RI.<br>&gt; Dikatakan bahwa 
Pansus LUSI DPD-RI baru saja kembali dari kunjungan ke<br>&gt; wilayah Sidoarjo 
untuk melihat dampak sosial LUSI. &quot;Rakyat sudah marah&quot;,
<br>&gt; katanya. &quot;Bayangkan, dari 13.000 bidang tanah dan 9000 bidang 
bangunan<br>&gt; yang terendam LUSI, baru bisa diverifikasi 522 bidang di 
antaranya<br>&gt; (verifikasi = mengecek kelengkapan administrasi bidang tanah 
dan
<br>&gt; bangunan), dan dari 522 bidang ter-verifikasi, baru 219 bidang 
yang<br>&gt; sudah dilakukan penggantiannya oleh PT Minara, sebuah PT yang 
ditunjuk<br>&gt; PT Lapindo untuk keperluan ganti rugi. PT Lapindo Brantas tak 
mampu
<br>&gt; melakukan urusan ganti rugi ini. Melihat skalanya yang begitu 
luas,&nbsp;&nbsp;di<br>&gt; mana enam desa telah tenggelam dan mengorbankan 
10.800 keluarga, kami<br>&gt; sependapat bahwa ini adalah bencana alam, dan 
sebuah bencana alam tentu
<br>&gt; menuntut Pemerintah untuk menanganinya secara serius, apalagi 
di<br>&gt; lapangan kami melihat bahwa PT Lapindo tak mampu 
menyelesaikannya&quot; ,<br>&gt; begitu&nbsp;&nbsp;dikatakan ketua rapat dari 
DPD-RI. &quot;Juga, kami melihat bahwa
<br>&gt; TimNas bentukan Pemerintah telah gagal dalam menangani LUSI&quot;, 
begitu<br>&gt; ditambahkannya. Di Sidoarjo, Pansus LUSI DPD-RI juga bertemu 
dengan BPLS<br>&gt; (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo), yang menurut 
kesimpulan Pansus
<br>&gt; belum jelas program-program penanggulangan yang akan 
dilakukannya.<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; Untuk itu, Pansus 
LUSI DPD-RI memutuskan membuka kembali kasus LUSI<br>&gt; sejak awal, yaitu 
sejak hari-hari pertama mulai terjadinya bencana.
<br>&gt; IAGI, yang diyakini DPD-RI adalah organisasi yang paling 
mengetahui<br>&gt; duduk perkara bawah permukaan LUSI, kemudian dibidik untuk 
memberikan<br>&gt; keterangan. Pak Luthfi membuka keterangan IAGI dengan 
mengatakan bahwa
<br>&gt; IAGI mendapatkan kehormatan yang tinggi diundang untuk 
memberikan<br>&gt; keterangan sebab inilah kali pertama IAGI secara resmi 
dimintai<br>&gt; keterangan oleh badan legislatif negeri ini. Sangat lucu 
sebenarnya,
<br>&gt; mengapa IAGI selama ini tidak diprioritaskan untuk dimintai 
keterangan,<br>&gt; dan baru dimintai keterangan setelah bencana berlangsung 
hampir 13<br>&gt; bulan. Dan, Pemerintah kelihatan sangat ragu untuk meminta 
keterangan
<br>&gt; resmi dari IAGI seputar kasus LUSI. Pemerintah (Pusat dan Daerah) 
lebih<br>&gt; memilih mengakomodasi keterangan-keterangan dari pihak lain di 
luar IAGI<br>&gt; bahkan &quot;paranormal&quot; sekalipun. Kalau saja IAGI 
sudah diakomodasi dari
<br>&gt; awal, barangkali penanganan LUSI tidak perlu berlarur-larut, trial 
and<br>&gt; error dengan berbagai metode yang sudah menghabiskan biaya puluhan 
juta<br>&gt; US dollar, dll. Semuanya bermula dari bawah permukaan sebab kasus 
LUSI
<br>&gt; adalah kasus bawah permukaan, maka sangat lucu dan percuma 
kalau<br>&gt; mengatasi LUSI tidak mengindahkan kondisi-kondisi bawah 
permukaaan.<br>&gt; Begitu pembukaan dari Pak Luthfi. Pak Luthfi pun mengakui 
bahwa ada
<br>&gt; perbedaan pendapat seputar kasus penyebab LUSI. Ada yang bilang 
:<br>&gt; &quot;underground blow out&quot;, &quot;mud volcano eruption yang 
dipicu gejala<br>&gt; tektonik&quot; dan &quot;fenomena geothermal&quot;. 
Sampai sekarang pun perbedaan
<br>&gt; pendapat masih terjadi.<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; 
Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan detail Pak Edy Sunardi<br>&gt; 
tentang hasil studi geologi dan geofisika soal LUSI. Presentasi ini<br>&gt; 
pernah disampaikan di beberapa kesempatan, tetapi diperbaharui dengan
<br>&gt; data terakhir yang berhasil dikumpulkan. Seperti yang disampaikan 
dalam<br>&gt; beberapa publikasi di media massa dan forum-forum seminar 
LUSI,<br>&gt; kesimpulan resmi tim LUSI IAGi yang beranggotakan : Dr. Edy 
Sunardi
<br>&gt; (geologist), Dr. Syamsu Alam (geophysicist), Dr. Agus Guntoro<br>&gt; 
(structural geologist), Dr. Arief Rachmansyah (geologist), Arief 
Budiman<br>&gt; (operation geologist), Soffian Hadi (geologist), dan Mipi 
Ananta Kusuma
<br>&gt; (geodetic engineer) adalah tetap sama, yaitu : (1) semburan LUSI 
hampir<br>&gt; tidak bisa dimatikan dan akan berlangsung dalam waktu relatif 
lama ,<br>&gt; bila bisa dimatikan di tempat semburan sekarang akan muncul di 
tempat
<br>&gt; lain sekitarnya, (2) lumpur agar dialirkan ke laut daripada 
ditanggul<br>&gt; sebab lumpur ini bukan limbah bukan barang berbahaya 
berdasarkan<br>&gt; analisis kimiawi, (3) agar dilakukan re-lokasi penduduk 
secara permanen.
<br>&gt; Apa penyebab LUSI : erupsi gununglumpur akibat gerak tektonik dan 
dapat<br>&gt; berhubungan dengan gejala geothermal dari kompleks 
gunungapi<br>&gt; Anjasmoro-Welirang-Arjuno di sebelah selatan Sidoarjo. Tentu 
jalannya
<br>&gt; panjang untuk sampai ke kesimpulan ini, dan telah banyak sekali 
diskusi<br>&gt; tentang ini. Saya tahu bahwa ada&nbsp;&nbsp;kelompok anggota 
IAGI yang&nbsp;&nbsp;tidak<br>&gt; sependapat tentang penyebab bencana ini 
seperti kesimpulan tim LUSI IAGI
<br>&gt; - tetapi inilah kesimpulan tim resmi IAGI untuk kasus LUSI. 
Presentasi<br>&gt; Pak Edy juga memuat usulan cara membuang lumpur ke laut, 
yaitu<br>&gt; menggunakan usulan BPPT yang disebut &quot;Slufter Porong&quot;. 
Dengan sistem
<br>&gt; ini, akan dapat ditampung sebanyak 41.5 juta m3 lumpur dalam waktu 
15.5<br>&gt; tahun menggunakan beberapa asumsi. Sistem ini nantinya akan 
membentuk<br>&gt; delta Porong seluas sekitar 2500 ha sampai kedalaman laut 2 
meter.
<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; Pada sesi pertanyaan, para anggota 
DPD-RI bertanya hal2 yang dapat<br>&gt; dikelompokkan menjadi pertanyaan2 : (1) 
mengapa selama ini Pemerintah<br>&gt; tak mau mendengarkan IAGI padahal IAGI 
lah yang paling mengetahui soal
<br>&gt; bawah permukaan kasus LUSI, (2) apakah LUSI ini bencana alam 
atau<br>&gt; bencana buatan manusia, (3) bagaimana hubungan gempa di Yogya 27 
Mei<br>&gt; 2008 dengan semburan LUSI yang dimulai 29 Mei 2006, (4) bagaimana
<br>&gt; peluang bahwa PT Lapindo/Minara akan menguasai tanah negara yang 
kaya<br>&gt; minyak sebab merekalah yang selama ini dimintai Pemerintah 
mengganti<br>&gt; rugi kepada masyarakat, kelak bila kasus LUSI telah selesai 
dan
<br>&gt; eksplorasi migas positif, maka daerah tidak akan mendapatkan sedikit 
pun<br>&gt; bagian migas sebab tanahnya telah menjadi hak milik PT 
Lapindo/Minara,<br>&gt; (5) Bagaimana mendapatkan kesepakatan para ahli tentang 
penyebab kasus
<br>&gt; LUSI, (6) apakah memang semburan LUSI tidak bisa dihentikan. 
Pertanyaan2<br>&gt; dapat dijawab dengan baik oleh perwakilan IAGI yang hadir 
di rapat.<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; Rapat ditutup oleh SetJen 
DPD-MPR RI dengan kesimpulan bahwa DPD-RI puas
<br>&gt; dengan penjelasan teknis IAGI atas kasus LUSI dan akan meneruskannya 
ke<br>&gt; pihak2 terkait di lembaga legislatif maupun eksekutif 
(Pemerintah).<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; Demikian yang bisa 
saya sampaikan untuk info rekan2 IAGI netter .
<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; Salam,<br>&gt;<br>&gt;&nbsp;&nbsp; 
awang<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br>&gt;<br><br><br>----------------------------------------------------------------------------<br>Hot
 News!!!<br>CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to 
<a href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</a><br>Joint Convention 
Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the<br>29th IATMI Annual 
Convention and Exhibition,<br>Bali Convention Center, 13-16 November 2007
<br>----------------------------------------------------------------------------<br>To
 unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id<br>To 
subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id<br>Visit IAGI 
Website: 
<a href="http://iagi.or.id";>http://iagi.or.id</a><br>Pembayaran iuran anggota 
ditujukan ke:<br>Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta<br>No. Rek: 123 
0085005314<br>Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)<br>Bank BCA KCP. 
Manara Mulia
<br>No. Rekening: 255-1088580<br>A/n: Shinta Damayanti<br>IAGI-net Archive 1: 
<a 
href="http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/";>http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/</a><br>IAGI-net
 Archive 2: <a href="http://groups.yahoo.com/group/iagi";>
http://groups.yahoo.com/group/iagi</a><br>---------------------------------------------------------------------<br><br></blockquote></div><br>

Kirim email ke