Pak Andri dan rekan yang lain..

 

Prihatin sekali mendengarnya .... walau hal ini sudah berlangsung bbrp tahun
tapi makin parah belakangan ini. Jual beli KP (yg sudah ditangan) atau
jualan KP yg belum dikeluarkan .. wah.. ngeri mengikutinya karena melibatkan
banyak sekali sector, institusi, atau perorangan. 

 

Pengalaman pribadi: untuk mendapatkan KP Penyelidikan Umum/ Eksplorasi (gak
perlu sebut nama daerah.) diisyaratkan oleh pihak berwenang kita harus
merogoh kocek Rp 3M - terang-terangan via sms lagi mintanya. Padahal boleh
di bilang sukses ratio -nya mungkin hanya 1% atau lebih kecil. Padahal lagi
ini gak ada aturan UU, PP, atau sejenisnya - jadi kalau kita bayar ya
masuklah ke kantong pribadi ybs. Buat investor serius - hal ini menjadikan
kesulitan besar, karena mesti bersaing dengan PT-PT "Gak Jelas" yg mau bayar
kontan utk dapat KP. Dan saya yakin masih banyak cerita2 serem spt ini... 

 

Dan yang lebih negative tentunya ini men-down grade posisi Indonesia sebagai
tujuan eksplorasi (yg "serius").

 

Kayaknya ini buah dari semangat otoda yg kelewatan ya.. sehingga gak ada
lagi yg bisa ngontrol lagi. 

 

Petisi IAGI - boleh juga tuh .. paling tidak BERSUARA KERAS DULU, perkara
didengar atau tidak - kita lihat saja.

 

Salam - daru 

 

  _____  

From: Agus Hendratno [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, July 27, 2007 4:44 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Tanah Air for sale vs Eforia Eksplorasi; PP-IAGI
kumpul dong..

 

Dalam rangka mengkritisi hal ini, beberapa hari yang lalu PERHAPI langsung
merapatkan barisan di Jakarta, diundang pelaku bisnis tambang yang mapan,
komisi 7 DPR-RI juga diminta ngomong (termasuk ketua Komisi 7). Kebetulan
saya hadir, khusus untuk mendengarkan keresahan ini. 
Nah, ada baiknya PP-IAGI kumpul, undang kawan-kawan dari migas, mining,
regulator, komisi-7, birokrat pemda. PP-IAGI bisa minta sponsor dari
kawan-kawan di migas dan mining. Lalu buat pernyataan yang mengarah
pembenahan kegiatan eksplorasi mining, termasuk yang mendirikan PT. Telo
Pendhem...dll; juga mas komisi 7; komisi bidang perindustrian dan
perdagangan di DPR-RI, juga komandan armada TNI-AL 
Yaach..., minimal pemanasan sebelum JCB di Balai nanti. Ada semacam masukan
atau petisi atau pernyataan sikap. 
Kasus Lumpur saja, IAGI bisa lantang, bagaimana dengan eksplorasi yang
kebablasan tanpa kaidah bisnis dan kajian yang matang. Saya kira ada baiknya
PP-IAGI bersikap....; tidak jelek..koq; malah beramal. Insya Allah merindhoi
langkah IAGI untuk ini. Baca Al-Fatihah 3x.....; aman...

Barusan...saya ditelpon dari PT ANU untuk membuat FS Penambangan Bijih besi
di Kalteng (hanya diberi waktu 2 minggu, instan; busyet....); karena bupati
sudah ngebet dengan investor untuk segera dikeluarkan KP Eksploitasi.
Maklum, bupati pasti dapat "royalti".....
Maka, saya tolak....; dan institusi kami tidak mengajarkan yang demikian...
Dengan mengkritisi pola kajian yang dilakukannya, saya tembak langsung
tadi....si pimpro-nya; ternyata dia take over dari PT Anu-Anu yang lain.
Lah...blok KP Eksplorasi sudah dilego (pasti gak prospek), koq dijual. Nekad
kalee..., gilaa...ternyata kayak gitu juga ada brokernya....

piye jal...,mas Andri...dunia geologi eksplorasi, koq begini...; apa kita
salah mendidik dan mengajarkan konsep geologi eksplorasi di
kampus.........??????

salam tanah air geologi......
agus hend

nyoto - ke-el <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Mari kita dukung rame2 kepedulian IAGI sebagai organisasi profesi untuk
memberikan sumbangsih kepada Tanah Air kita, yang mungkin bisa berupa petisi
resmi ataupun Himbauan ke Pemerintah agar melakukan langkah2 nyata untuk
menghindari kerugian2 negara yang lebih besar lagi terutama dengan
ber-macam2 penambangan bahan2 tambang & galian di Indonesia yang lebih
bertanggungjawab & ramah lingkungan, serta yang paling penting seperti kata
Pak Parlaungan yaitu harus ada nilai tambah bagi perkembangan kesejahteraan
rakyat setempat & bukan sebaliknya ! 

 

Mari pak Ketua & Para Pengurus2nya untuk menggalang pendapat dari para
anggota profesi yang saya percaya banyak & piawai dalam hal menyusun petisi
semacam ini.  Kalau bisa lebih proaktif kan lebih baik, tidak harus hanya
menunggu "diundang" DPR/MPR ataupun Lembaga Pemerintahan untuk dimintai
pendapat  maupun masukan ilmiahnya. 

 

Wass,

nyoto

 

 

 

 

On 7/27/07, Parlaungan Dalimunthe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

Sebagai organisasi profesi yang berbasis ilmu kebumian, IAGI tentu mempunyai
tanggung jawab moral untuk mengatasi masalah jual Tanah Air. Suarakan
keprihatinanmu tentang maraknya penambangan yang dilakukan secara instan,
tanpa perencanaan dan studi yang matang, mengekspor bijih dengan tanpa ada
nilai tambah bagi dalam negeri, dan yang utama juga tanpa ada melakukan
kegiatan reklamasi dan rehabilitasi wilayah bekas tambang.   Hayo IAGI
tunjukkan kepedulianmu. Buat petisi yang ditujukan ke RI-1, DPR dll tentang
larangan jual Tanah Air. 


 

On 7/27/07, Andri Subandrio <[EMAIL PROTECTED] > wrote: 

Terimakasih Bung Agus! Kenyataannya Tanah Air kita hanya bisa ekspor Tanah
Air ...dan TKW..tentunya! Ekspor pisang sama cabe rawit aja tidak bisa...!
Pisang keburu jadi Selai di Pabean atau di pelabuhan...maklum mesti lewat
ratusan meja...seng okeh tikusss..se! 

----- Original Message ----- 

From: Agus Hendratno  <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 

To: [email protected] 

Sent: Friday, July 27, 2007 12:00 PM

Subject: Re: [iagi-net-l] Tanah Air for sale vs Eforia Eksplorasi


 

Apiikkk tenan..., memang pemain bisnis yang menjual "tanah air' lagi
genjar-genjarnya. Kemarin, ada PT Telo Pendhem, PT Minyak-Minyakan, PT
Mangan-manganan, dst; yang semula core bisnis-nya memang bukan bidang migas
atau mining, tapi masuk ke wilayah migas dan mining, yang high risk,
hightech, tapi potong kompas saja, sedikit kerja.., untung besar. Karena
regulasi memungkinkan............; 
Yaa..sah-sah saja, karena punya uang. Tetapi yang kita keluhkan dan juga
dikeluhkan pemerintah, lewat PERHAPI dan dirjend.Minerba Pabum, yang kemarin
saya mendengar bahwa, mestinya ada nilai tambah dari bahan tambang logam
yang ditambang di indonesia, dengan mengembangkan industri pertambangan
hilir (pengolahan endapan logam menjadi barang jadi, besi, baja, yang
pabriknya ada di indonesia). Selama ini yang terjadi pemain-pemain kecil
bidang mining endapan logam, itu benar-benar menjual "tanah air' ke
buyer-buyer di China. Tapi di Pemda juga demikian senangnya, karena dapat
jatah dari pengusaha, endapan logam dimuat di tongkang berlayar ke China dan
di olah jadi barang jadi. lalu indonesia import barang tersebut.
blaiiiiiiikk....; Pemdanya dapat royalti yang tidak tercatat dalam kas
Daerah..........; hik...hik.... 
Modus kayak menjual pasir darat dan pasir laut dari kep.Riau. Selain
dijadikan bahan baku reklamasi di Singapura, ternyata titanium dan
zirkonia-nya jadikan barang jadi yang bermutu tinggi untuk infrastruktur
teknologi informasi. Lagi-lagi...kita import IT dari Singapura. 
Apa yang diceritakan mas Andri.., itu memang riil di lapangan.

Ada regulasi bidang perindustrian dan perdagangan yang tidak macth dengan
regulasi bidang pertambangan, juga urusan moneter yang tidak pernah pas.
Apalagi diminta transparansi. Menteri-nya ok-ok juga..., tapi eselon
dibawahnya nanti-nanti dulu...njuk opo rek... 
Kalau demikian tunggulah kedatangan perlawanan dari ibu pertiwi yang sudah
kehabisan air mata...maka hadirlah....geohazard yang kemudian menjadi
bencana alam kebumian...sudah ada di sekitar kita...; pontang
panting........ 

salam tanah air juga ..
agus hend

Ismail Zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 


Saking eforianya untuk mengobral pemberian KP/WKP ini jangan jangan setelah 
semua KP/WKP sijumlah dan diplotkan lagi ke Peta , wilayahnya sudah melebihi

luas wilayah Indonesia itu sendiri...


ISM


>> --- Andri Subandrio wrote:
>>
>>> IAGI netter yang budiman,
>>>
>>> Akhir-akhir ini di masmedia hingga jejaring IAGI 
>>> memang marak dibahas mengenai eksplorasi bahan
>>> galian migas hingga mineral di tanah air ini. Saking
>>> eforianya terhadap bijih mangan, bahkan pialang
>>> bisnis sarang burung walet di Lampung rogoh kocek 
>>> untuk beli KP ribuan hektar untuk "nggolek mangan"
>>> di mangan! Ribuan sarang burung waletnya di barter
>>> dengan KP! Di Kalbar ada pialang hotmix dan
>>> konstruksi mulai melebarkan sayap bisnisnya untuk 
>>> tambang bijih besi, juga barter dari aspal hotmix
>>> dengan ribuan Ha KP! Modal eksplorasi mereka ini
>>> hanya semangat dan beberapa ekskavator untuk gali
>>> sana-gali sini! Tidak ada ahli geologi! Akibatnya 
>>> bebatuan yang berwana hitam kusam digasak semua
>>> dengan buldoser! Disangkanya mangan! Eh..tibake
>>> nduduk mangan! (ternyata bukan mangan)! Dipinggir
>>> jalan pedalaman Pringsewu Tanggamus tengonggok 
>>> bongkah-bongkah besar hasul garukan buldoser yang
>>> tadinya disangka mangan! Setelah saya coba
>>> konfirmasi pada "toke"nya, tenyata bongkah-bongkah
>>> ini di reject, karena memang batu tapi berselimut 
>>> mangan nan tipis! Konon pembelinya dari negri Cina!
>>> Di Kalbar masih lebih beruntung, sejak 2 tahun yang
>>> lalu investor penambang dari Pontianak telah
>>> mengekspor ribuan ton bijih besi kadar tinggi! Kini 
>>> penambangan ini megap-megap kehabisan zat besi!
>>> Lagi-lagi tidak ada geologist!
>>>
>>> Dari Babel, Kalbar, Halmehera, Sultra, Obi juga
>>> Pulau-pulau di utara Papua sudah jutaan ton bijih 
>>> timah, aluminium, besi, nikel dsb telah dikapalkan,
>>> terutama ke Cina! Dari Sumbawa dan sekitar Cartenz
>>> juga jutaan ton konsentrat tembaga dikirim ke Jepang
>>> dan mancanegara! Uniknya ada berita di koran, 
>>> "pemotong dan pencuri kabel telepon ditangkap
>>> polisi". Usut-usut punya usut "sangpencuri" adalah
>>> penyalur logam tembaga untuk pengrajin "dandang" 
>>> kuali dan ukiran wayang tembaga! Paradox! Salah satu
>>> penghasil tembaga terbesar didunia, tapi masih
>>> banyak yang tidak kebagian tembaga! Kemanakah
>>> tembaga kita ? Selain itu Sendok garpu stainless 
>>> steel semuanya import! Padahal basisnya
>>> besi-nikel-krom yang saat ini jutaan ton mengalir
>>> dari tanah air ke negara industri! Coba tanya Pak
>>> Polisi dan Tentara kita! Timah panas dan kuningan 
>>> pelurunya dari mana pak! Pasti import! Bijih nikel
>>> misalnya, cukup digali dari laterit yang tidak lain
>>> berupa tanah yang masih mengandung air. Kemudian
>>> "Tanah Air" ini diangkut dan masuk tongkang! 
>>>
>>> Negara Industri seperti Jerman, Jepang, Amrik dsb.
>>> ternyata pada awalnya maju karena industri berbasis
>>> pengolahan material, terutama baja, keramik, dan
>>> logam dasar! Info dari majalah material industry, 
>>> ternyata raw material atau bahan baku hanya 10
>>> hingga 20% bila dibandingkan diberi sentuhan
>>> industri dan teknologi! Selain lapangan pekerjaan
>>> 80% belong to upstream industry! dan juga akan 
>>> bertambah selaras dengan rantai industri material!
>>> Pernahkah terbayang bila ada pabrik stainless steel
>>> di tanah air yang bahan besi dan nikel dari Kalbar,
>>> Soroako, Pulau Obi, Waigeo ? Sampai kapan Tanah Air 
>>> menjual Tanah Air ? Jeruk makan Jeruk kan sudah
>>> verboten! Kita tunggu political will dari
>>> pemerintah! Masih mau mempertahankan konsep "Ada
>>> BULOG", Ada SAWAH" tapi Ada BERAS...di Vietnam!..he 
>>> he
>>>
>>> Salam Tanah Air
>>> Andri Subandrio
>>
>>
>>



Kirim email ke