Sedikit menambahkan pendapat...

 

Memang masalah ini sangat pelik, selain peraturan yg belum bisa
mengakomodasi, juga kebutuhan pemerintah daerah utk mendapatkan "dana",
dana yg didapat bisa jadi untuk kepentingan rakyatnya tapi bisa jadi
juga untuk kepentingan pribadi atau persiapan utk pemilihan Bupati
selanjut nya atau bisa juga krn merasa pesimis bisa terpilih lagi
berusaha memanfaatkan kesempatan di waktu yg tersisa utk mencari
keuntungan maksimal. Dalam pimilihan ada tim sukses yg tentunya harus
dapat jatah posisi di pemerintahan, celakanya kalo orang yg diangkat
jadi Kadis Pertambangan tidak mengerti tambang. Bahkan saya dengar ada
seorang guru SD diangkat jadi Kadis Pertambangan krn jatah tim sukses.
Sistem koordinat saja mungkin tidak ngerti...gimana mau bicara
geologi/tambang...

 

Di daerah Sulawesi Tengah sdg terjadi masalah serius yg dihadapi PT Inco
dan Rio Tinto karena banyak sekali KP yg diberikan oleh Pemda berada
dalam area konsesi kedua perusahaan. Mungkin harus lbh banyak
Geologist/Mine Engineer yg terjun ke dunia politik agar setidaknya bisa
mengurangi kemungkinan terjadinya masalah spt ini walaupun kemungkinan
tetap sulit kalo "uang milyaran" yg bicara...mungkin segelintir orang yg
bisa tahan thd godaan ini...

 

Masalah mendasar di tanah air kita ini adalah masalah moral dan
penegakan hukum. Dengan moral yg mengutamakan kepentingan rakyat dan
anti suap/korupsi serta penegakan hukum yg tidak pandang bulu dan
hakim/jaksa yg anti suap, mungkin baru bisa kita harapkan masalah2 spt
ini tidak terjadi. Tentunya harapan ini sekarang masih sekedar
impian....karena akar moral spt sekarang ini sangat kuat...masih susah
dilawan.

 

Sebagai sebuah lembaga professional yg cukup kuat, IAGI maupun Perhapi
memang harus berani bersuara utk mencoba mengingatkan para pengambil
keputusan.

 

Salam dari Sorowako,

Agus

 

 

________________________________

From: Ismail Zaini [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Saturday, July 28, 2007 12:05 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Eforia Eksplorasi; PP-IAGI kumpul dong..

 

Kalau dirunut ke belakang ternyata kondisi saat ini tsb tidak lepas dari
adanya UU 22/1999 tentang otda yang dijabarkan dg PP 25 /2000 dimana PP
tsb ditandangani oleh "orang IAGI" yaitu mas Bondan Gunawan yg waktu itu
sebagai Menteri sekretaris Negara. Mungkin yang perlu dibenahi adalah
bagaimana penjabarannya dilapangan , mengingat untuk hal hal yang
beginian diperlukan pemahaman masalah pergeologian , disisi lain mungkin
banyak Pemda yang belum punya geologi makanya sering terjadi berbagai
penafsiran/penjabaran thd kedua Regulasi tsb , oleh karena itu disamping
Petisi - petisi tsb juga diperlukan sosialisasi untuk memberikan
kesadaran thd pemda pemda betapa pentingnya "ngopeni" orang geologi
didaerahnya, hal ini juga akan mendorong 'terserapnya' geolog geolog
disektor ini yang ujung ujungnya memberikan lapangan kerja baru , kalau
diperhatikan di kedua regulasi tsb kewenangan pemda thd permasalahan
geologi didaerahnya cukup besar dari masalah SDA sampai Bencana alamnya
,coba kalau setiap pemda "ngopeni' 3 orang geolog , maka sudah ada
penyerapan ratusan geolog . apalagi para geolog tsb sebelum diterjunkan
ke pemda dibekali dulu ( digodog ) di kawah condrodimukonya IAGI siiip
deh. saya yakin APBD pemda pemda tidak ada apa apanya kalau hanya untuk
ngopeni para geolog tsb , dibanding karo gajine DPRD bukan apa apanya.

 

 

 

ISM

 

        ----- Original Message ----- 

        From: Sukmandaru Prihatmoko <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  

        To: [email protected] 

        Cc: [EMAIL PROTECTED] 

        Sent: Friday, July 27, 2007 5:16 AM

        Subject: RE: [iagi-net-l] Tanah Air for sale vs Eforia
Eksplorasi; PP-IAGI kumpul dong..

         

        Pak Andri dan rekan yang lain......

         

        Prihatin sekali mendengarnya ........ walau hal ini sudah
berlangsung bbrp tahun tapi makin parah belakangan ini. Jual beli KP (yg
sudah ditangan) atau jualan KP yg belum dikeluarkan .... wah.... ngeri
mengikutinya karena melibatkan banyak sekali sector, institusi, atau
perorangan. 

         

        Pengalaman pribadi: untuk mendapatkan KP Penyelidikan Umum/
Eksplorasi (gak perlu sebut nama daerah...) diisyaratkan oleh pihak
berwenang kita harus merogoh kocek Rp 3M - terang-terangan via sms lagi
mintanya. Padahal boleh di bilang sukses ratio -nya mungkin hanya 1%
atau lebih kecil. Padahal lagi ini gak ada aturan UU, PP, atau
sejenisnya - jadi kalau kita bayar ya masuklah ke kantong pribadi ybs.
Buat investor serius - hal ini menjadikan kesulitan besar, karena mesti
bersaing dengan PT-PT "Gak Jelas" yg mau bayar kontan utk dapat KP. Dan
saya yakin masih banyak cerita2 serem spt ini....... 

         

        Dan yang lebih negative tentunya ini men-down grade posisi
Indonesia sebagai tujuan eksplorasi (yg "serius").

         

        Kayaknya ini buah dari semangat otoda yg kelewatan ya......
sehingga gak ada lagi yg bisa ngontrol lagi. 

         

        Petisi IAGI - boleh juga tuh ...... paling tidak BERSUARA KERAS
DULU, perkara didengar atau tidak - kita lihat saja.

         

        Salam - daru 

         

        
________________________________


        From: Agus Hendratno [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
        Sent: Friday, July 27, 2007 4:44 PM
        To: [email protected]
        Subject: Re: [iagi-net-l] Tanah Air for sale vs Eforia
Eksplorasi; PP-IAGI kumpul dong..

         

        Dalam rangka mengkritisi hal ini, beberapa hari yang lalu
PERHAPI langsung merapatkan barisan di Jakarta, diundang pelaku bisnis
tambang yang mapan, komisi 7 DPR-RI juga diminta ngomong (termasuk ketua
Komisi 7). Kebetulan saya hadir, khusus untuk mendengarkan keresahan
ini. 
        Nah, ada baiknya PP-IAGI kumpul, undang kawan-kawan dari migas,
mining, regulator, komisi-7, birokrat pemda. PP-IAGI bisa minta sponsor
dari kawan-kawan di migas dan mining. Lalu buat pernyataan yang mengarah
pembenahan kegiatan eksplorasi mining, termasuk yang mendirikan PT. Telo
Pendhem...dll; juga mas komisi 7; komisi bidang perindustrian dan
perdagangan di DPR-RI, juga komandan armada TNI-AL 
        Yaach..., minimal pemanasan sebelum JCB di Balai nanti. Ada
semacam masukan atau petisi atau pernyataan sikap. 
        Kasus Lumpur saja, IAGI bisa lantang, bagaimana dengan
eksplorasi yang kebablasan tanpa kaidah bisnis dan kajian yang matang.
Saya kira ada baiknya PP-IAGI bersikap....; tidak jelek..koq; malah
beramal. Insya Allah merindhoi langkah IAGI untuk ini. Baca Al-Fatihah
3x.....; aman...
        
        Barusan...saya ditelpon dari PT ANU untuk membuat FS Penambangan
Bijih besi di Kalteng (hanya diberi waktu 2 minggu, instan; busyet....);
karena bupati sudah ngebet dengan investor untuk segera dikeluarkan KP
Eksploitasi. Maklum, bupati pasti dapat "royalti".....
        Maka, saya tolak....; dan institusi kami tidak mengajarkan yang
demikian... Dengan mengkritisi pola kajian yang dilakukannya, saya
tembak langsung tadi....si pimpro-nya; ternyata dia take over dari PT
Anu-Anu yang lain. Lah...blok KP Eksplorasi sudah dilego (pasti gak
prospek), koq dijual. Nekad kalee..., gilaa...ternyata kayak gitu juga
ada brokernya....
        
        piye jal...,mas Andri...dunia geologi eksplorasi, koq begini...;
apa kita salah mendidik dan mengajarkan konsep geologi eksplorasi di
kampus.........??????
        
        salam tanah air geologi......
        agus hend
        
        nyoto - ke-el <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

        Mari kita dukung rame2 kepedulian IAGI sebagai organisasi
profesi untuk memberikan sumbangsih kepada Tanah Air kita, yang mungkin
bisa berupa petisi resmi ataupun Himbauan ke Pemerintah agar melakukan
langkah2 nyata untuk menghindari kerugian2 negara yang lebih besar lagi
terutama dengan ber-macam2 penambangan bahan2 tambang & galian di
Indonesia yang lebih bertanggungjawab & ramah lingkungan, serta yang
paling penting seperti kata Pak Parlaungan yaitu harus ada nilai tambah
bagi perkembangan kesejahteraan rakyat setempat & bukan sebaliknya ! 

         

        Mari pak Ketua & Para Pengurus2nya untuk menggalang pendapat
dari para anggota profesi yang saya percaya banyak & piawai dalam hal
menyusun petisi semacam ini.  Kalau bisa lebih proaktif kan lebih baik,
tidak harus hanya menunggu "diundang" DPR/MPR ataupun Lembaga
Pemerintahan untuk dimintai pendapat  maupun masukan ilmiahnya. 

         

        Wass,

        nyoto

         

         

        
        
         

        On 7/27/07, Parlaungan Dalimunthe <[EMAIL PROTECTED]>
wrote: 

        Sebagai organisasi profesi yang berbasis ilmu kebumian, IAGI
tentu mempunyai tanggung jawab moral untuk mengatasi masalah jual Tanah
Air. Suarakan keprihatinanmu tentang maraknya penambangan yang dilakukan
secara instan, tanpa perencanaan dan studi yang matang, mengekspor bijih
dengan tanpa ada nilai tambah bagi dalam negeri, dan yang utama juga
tanpa ada melakukan kegiatan reklamasi dan rehabilitasi wilayah bekas
tambang.   Hayo IAGI tunjukkan kepedulianmu. Buat petisi yang ditujukan
ke RI-1, DPR dll tentang larangan jual Tanah Air. 

        
         

        On 7/27/07, Andri Subandrio <[EMAIL PROTECTED] > wrote: 

        Terimakasih Bung Agus! Kenyataannya Tanah Air kita hanya bisa
ekspor Tanah Air ...dan TKW..tentunya! Ekspor pisang sama cabe rawit aja
tidak bisa...! Pisang keburu jadi Selai di Pabean atau di
pelabuhan...maklum mesti lewat ratusan meja...seng okeh tikusss..se! 

                ----- Original Message ----- 

                From: Agus Hendratno <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 

                To: [email protected] 

                Sent: Friday, July 27, 2007 12:00 PM

                Subject: Re: [iagi-net-l] Tanah Air for sale vs Eforia
Eksplorasi

                
                 

                Apiikkk tenan..., memang pemain bisnis yang menjual
"tanah air' lagi genjar-genjarnya. Kemarin, ada PT Telo Pendhem, PT
Minyak-Minyakan, PT Mangan-manganan, dst; yang semula core bisnis-nya
memang bukan bidang migas atau mining, tapi masuk ke wilayah migas dan
mining, yang high risk, hightech, tapi potong kompas saja, sedikit
kerja.., untung besar. Karena regulasi memungkinkan............; 
                Yaa..sah-sah saja, karena punya uang. Tetapi yang kita
keluhkan dan juga dikeluhkan pemerintah, lewat PERHAPI dan
dirjend.Minerba Pabum, yang kemarin saya mendengar bahwa, mestinya ada
nilai tambah dari bahan tambang logam yang ditambang di indonesia,
dengan mengembangkan industri pertambangan hilir (pengolahan endapan
logam menjadi barang jadi, besi, baja, yang pabriknya ada di indonesia).
Selama ini yang terjadi pemain-pemain kecil bidang mining endapan logam,
itu benar-benar menjual "tanah air' ke buyer-buyer di China. Tapi di
Pemda juga demikian senangnya, karena dapat jatah dari pengusaha,
endapan logam dimuat di tongkang berlayar ke China dan di olah jadi
barang jadi. lalu indonesia import barang tersebut. blaiiiiiiikk....;
Pemdanya dapat royalti yang tidak tercatat dalam kas Daerah..........;
hik...hik.... 
                Modus kayak menjual pasir darat dan pasir laut dari
kep.Riau. Selain dijadikan bahan baku reklamasi di Singapura, ternyata
titanium dan zirkonia-nya jadikan barang jadi yang bermutu tinggi untuk
infrastruktur teknologi informasi. Lagi-lagi...kita import IT dari
Singapura. 
                Apa yang diceritakan mas Andri.., itu memang riil di
lapangan.
                
                Ada regulasi bidang perindustrian dan perdagangan yang
tidak macth dengan regulasi bidang pertambangan, juga urusan moneter
yang tidak pernah pas. Apalagi diminta transparansi. Menteri-nya ok-ok
juga..., tapi eselon dibawahnya nanti-nanti dulu...njuk opo rek... 
                Kalau demikian tunggulah kedatangan perlawanan dari ibu
pertiwi yang sudah kehabisan air mata...maka hadirlah....geohazard yang
kemudian menjadi bencana alam kebumian...sudah ada di sekitar kita...;
pontang panting........ 
                
                salam tanah air juga ..
                agus hend
                
                Ismail Zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

                
                Saking eforianya untuk mengobral pemberian KP/WKP ini
jangan jangan setelah 
                semua KP/WKP sijumlah dan diplotkan lagi ke Peta ,
wilayahnya sudah melebihi 
                luas wilayah Indonesia itu sendiri...
                
                
                ISM
                
                
                >> --- Andri Subandrio wrote:
                >>
                >>> IAGI netter yang budiman,
                >>>
                >>> Akhir-akhir ini di masmedia hingga jejaring IAGI 
                >>> memang marak dibahas mengenai eksplorasi bahan
                >>> galian migas hingga mineral di tanah air ini. Saking
                >>> eforianya terhadap bijih mangan, bahkan pialang
                >>> bisnis sarang burung walet di Lampung rogoh kocek 
                >>> untuk beli KP ribuan hektar untuk "nggolek mangan"
                >>> di mangan! Ribuan sarang burung waletnya di barter
                >>> dengan KP! Di Kalbar ada pialang hotmix dan
                >>> konstruksi mulai melebarkan sayap bisnisnya untuk 
                >>> tambang bijih besi, juga barter dari aspal hotmix
                >>> dengan ribuan Ha KP! Modal eksplorasi mereka ini
                >>> hanya semangat dan beberapa ekskavator untuk gali
                >>> sana-gali sini! Tidak ada ahli geologi! Akibatnya 
                >>> bebatuan yang berwana hitam kusam digasak semua
                >>> dengan buldoser! Disangkanya mangan! Eh..tibake
                >>> nduduk mangan! (ternyata bukan mangan)! Dipinggir
                >>> jalan pedalaman Pringsewu Tanggamus tengonggok 
                >>> bongkah-bongkah besar hasul garukan buldoser yang
                >>> tadinya disangka mangan! Setelah saya coba
                >>> konfirmasi pada "toke"nya, tenyata bongkah-bongkah
                >>> ini di reject, karena memang batu tapi berselimut 
                >>> mangan nan tipis! Konon pembelinya dari negri Cina!
                >>> Di Kalbar masih lebih beruntung, sejak 2 tahun yang
                >>> lalu investor penambang dari Pontianak telah
                >>> mengekspor ribuan ton bijih besi kadar tinggi! Kini 
                >>> penambangan ini megap-megap kehabisan zat besi!
                >>> Lagi-lagi tidak ada geologist!
                >>>
                >>> Dari Babel, Kalbar, Halmehera, Sultra, Obi juga
                >>> Pulau-pulau di utara Papua sudah jutaan ton bijih 
                >>> timah, aluminium, besi, nikel dsb telah dikapalkan,
                >>> terutama ke Cina! Dari Sumbawa dan sekitar Cartenz
                >>> juga jutaan ton konsentrat tembaga dikirim ke Jepang
                >>> dan mancanegara! Uniknya ada berita di koran, 
                >>> "pemotong dan pencuri kabel telepon ditangkap
                >>> polisi". Usut-usut punya usut "sangpencuri" adalah
                >>> penyalur logam tembaga untuk pengrajin "dandang" 
                >>> kuali dan ukiran wayang tembaga! Paradox! Salah satu
                >>> penghasil tembaga terbesar didunia, tapi masih
                >>> banyak yang tidak kebagian tembaga! Kemanakah
                >>> tembaga kita ? Selain itu Sendok garpu stainless 
                >>> steel semuanya import! Padahal basisnya
                >>> besi-nikel-krom yang saat ini jutaan ton mengalir
                >>> dari tanah air ke negara industri! Coba tanya Pak
                >>> Polisi dan Tentara kita! Timah panas dan kuningan 
                >>> pelurunya dari mana pak! Pasti import! Bijih nikel
                >>> misalnya, cukup digali dari laterit yang tidak lain
                >>> berupa tanah yang masih mengandung air. Kemudian
                >>> "Tanah Air" ini diangkut dan masuk tongkang! 
                >>>
                >>> Negara Industri seperti Jerman, Jepang, Amrik dsb.
                >>> ternyata pada awalnya maju karena industri berbasis
                >>> pengolahan material, terutama baja, keramik, dan
                >>> logam dasar! Info dari majalah material industry, 
                >>> ternyata raw material atau bahan baku hanya 10
                >>> hingga 20% bila dibandingkan diberi sentuhan
                >>> industri dan teknologi! Selain lapangan pekerjaan
                >>> 80% belong to upstream industry! dan juga akan 
                >>> bertambah selaras dengan rantai industri material!
                >>> Pernahkah terbayang bila ada pabrik stainless steel
                >>> di tanah air yang bahan besi dan nikel dari Kalbar,
                >>> Soroako, Pulau Obi, Waigeo ? Sampai kapan Tanah Air 
                >>> menjual Tanah Air ? Jeruk makan Jeruk kan sudah
                >>> verboten! Kita tunggu political will dari
                >>> pemerintah! Masih mau mempertahankan konsep "Ada
                >>> BULOG", Ada SAWAH" tapi Ada BERAS...di Vietnam!..he 
                >>> he
                >>>
                >>> Salam Tanah Air
                >>> Andri Subandrio
                >>
                >>
                >>

Kirim email ke