Urun rembug pak . . . 

Satu hal yang mungkin bisa dilakukan PIAGI melalui
divisinya mas Ketut;

adalah menghubungi pihak "forum komunikasinya bupati
seluruh Indonesia" (maaf saya lupa namanya) tapi yang
jelas mereka punya wadah tersebut. Wadah tersebut
cukup sering melakukan kegiatan promosi di Jakarta
jadi untuk 'nebeng' menggolkan agenda tersebut
sepertinya tidak begitu sulit. sasaran langsung kepada
para Bupati moga-moga bisa lebih 'mengena', selain
bebarapa hal positif yang akan/sedang/telah dilakukan
pihak PERHAPI terhadap para 'petinggi di Jakarta' yang
kadang 'abunya' tak sampai dan dianggap sepi oleh para
pejabat di daerah . . 

Agendanya:
memberikan masukan yang proporsional tentang seluk
beluk dunia/bisnis pertambangan yang sesungguhnya
(dari jenis komoditi, sukses rasio, tren dunia,
pengalaman dari belahan dunia lain atau bahkan
kabupaten lain) kepada para Bupati tersebut. 

Yang pernah kami alami adalah:

Ketika kami  berkunjung ke salah satu bupati di
Kalimantan dan menyampaikan maksud kami untuk
mengajukan aplikasi sebuah KP di kabupaten tersebut,
Begitu beliau tahu bahwa komoditasnya adalah tembaga
dan emas yang muncul di benak beliau dan para stafnya
adalah "logika sederhana; emas, tembaga  harganya
lebih mahal daripada batubara, aluminium, besi maupun
nikel = harga ijinnya juga harus lebih besar". 

Mungkin karena ketidak tahuan mereka maka hal seperti
ini sering terjadi, mungkin beliau-beliau ini
tidak/belum paham dengan apa yang dikatakan mas Daru
tentang sukses ratio untuk komoditas tertentu yang
yang hanya 1% itu dan seluk beluk lain berkaitan
dengan bisnis pertambanagn secara umum baik teknis
maupun non teknis 

IAGI melalui divisinya mas Ketut bisa membantu
beliau-beliau ini untuk lebih mamahami atau mengerti
tentang betapa tidak sederhananya proses eksplorasi
bahan tambang yang tidak bisa langsung 'dijual'
seperti emas atau tembaga dibandingkan bahan tambang
yang lain dan betapa kontra produktifnya bagi daerah
jika praktik-praktik 'liar' itu tetap atau bahkan
semakin giat dilakukan oleh para pejabat di daerah.

Hal ini tidak berarti bahwa tindakan 'memeras' rekan
lain yang bergerak di komoditas besi, batubara, nikel
atau bauksit 'boleh diperas' dengan alasan
komoditasnya relatif mudah dijual tetapi mestinya ada
pemahaman yang cukup dari pihak eksekutif (di daerah)
tentang hal ini. Yang pada akhirnya diharapkan mereka
bisa mampu melihat peluang menarik investor (yang
"serius" bahasanya mas Daru) untuk berinvestasi di
daerah mereka dan bukan sebaliknya; siapapun calon
investornya "digebyah uyah" (disamaratakan) dengan
para broker KP yang mengejar untung sesaat dan relatif
tidak seberapa . . . 

sTJ

--- Sukmandaru Prihatmoko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Pak Andri dan rekan yang lain..
> 
>  
> 
> Prihatin sekali mendengarnya .... walau hal ini
> sudah berlangsung bbrp tahun
> tapi makin parah belakangan ini. Jual beli KP (yg
> sudah ditangan) atau
> jualan KP yg belum dikeluarkan .. wah.. ngeri
> mengikutinya karena melibatkan
> banyak sekali sector, institusi, atau perorangan. 
> 
>  
> 
> Pengalaman pribadi: untuk mendapatkan KP
> Penyelidikan Umum/ Eksplorasi (gak
> perlu sebut nama daerah.) diisyaratkan oleh pihak
> berwenang kita harus
> merogoh kocek Rp 3M - terang-terangan via sms lagi
> mintanya. Padahal boleh
> di bilang sukses ratio -nya mungkin hanya 1% atau
> lebih kecil. Padahal lagi
> ini gak ada aturan UU, PP, atau sejenisnya - jadi
> kalau kita bayar ya
> masuklah ke kantong pribadi ybs. Buat investor
> serius - hal ini menjadikan
> kesulitan besar, karena mesti bersaing dengan PT-PT
> "Gak Jelas" yg mau bayar
> kontan utk dapat KP. Dan saya yakin masih banyak
> cerita2 serem spt ini... 
> 
>  
> 
> Dan yang lebih negative tentunya ini men-down grade
> posisi Indonesia sebagai
> tujuan eksplorasi (yg "serius").
> 
>  
> 
> Kayaknya ini buah dari semangat otoda yg kelewatan
> ya.. sehingga gak ada
> lagi yg bisa ngontrol lagi. 
> 
>  
> 
> Petisi IAGI - boleh juga tuh .. paling tidak
> BERSUARA KERAS DULU, perkara
> didengar atau tidak - kita lihat saja.
> 
>  
> 
> Salam - daru 
> 
>  
> 
>   _____  
> 
> From: Agus Hendratno [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> 
> Sent: Friday, July 27, 2007 4:44 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Tanah Air for sale vs
> Eforia Eksplorasi; PP-IAGI
> kumpul dong..
> 
>  
> 
> Dalam rangka mengkritisi hal ini, beberapa hari yang
> lalu PERHAPI langsung
> merapatkan barisan di Jakarta, diundang pelaku
> bisnis tambang yang mapan,
> komisi 7 DPR-RI juga diminta ngomong (termasuk ketua
> Komisi 7). Kebetulan
> saya hadir, khusus untuk mendengarkan keresahan ini.
> 
> Nah, ada baiknya PP-IAGI kumpul, undang kawan-kawan
> dari migas, mining,
> regulator, komisi-7, birokrat pemda. PP-IAGI bisa
> minta sponsor dari
> kawan-kawan di migas dan mining. Lalu buat
> pernyataan yang mengarah
> pembenahan kegiatan eksplorasi mining, termasuk yang
> mendirikan PT. Telo
> Pendhem...dll; juga mas komisi 7; komisi bidang
> perindustrian dan
> perdagangan di DPR-RI, juga komandan armada TNI-AL 
> Yaach..., minimal pemanasan sebelum JCB di Balai
> nanti. Ada semacam masukan
> atau petisi atau pernyataan sikap. 
> Kasus Lumpur saja, IAGI bisa lantang, bagaimana
> dengan eksplorasi yang
> kebablasan tanpa kaidah bisnis dan kajian yang
> matang. Saya kira ada baiknya
> PP-IAGI bersikap....; tidak jelek..koq; malah
> beramal. Insya Allah merindhoi
> langkah IAGI untuk ini. Baca Al-Fatihah 3x.....;
> aman...
> 
> Barusan...saya ditelpon dari PT ANU untuk membuat FS
> Penambangan Bijih besi
> di Kalteng (hanya diberi waktu 2 minggu, instan;
> busyet....); karena bupati
> sudah ngebet dengan investor untuk segera
> dikeluarkan KP Eksploitasi.
> Maklum, bupati pasti dapat "royalti".....
> Maka, saya tolak....; dan institusi kami tidak
> mengajarkan yang demikian...
> Dengan mengkritisi pola kajian yang dilakukannya,
> saya tembak langsung
> tadi....si pimpro-nya; ternyata dia take over dari
> PT Anu-Anu yang lain.
> Lah...blok KP Eksplorasi sudah dilego (pasti gak
> prospek), koq dijual. Nekad
> kalee..., gilaa...ternyata kayak gitu juga ada
> brokernya....
> 
> piye jal...,mas Andri...dunia geologi eksplorasi,
> koq begini...; apa kita
> salah mendidik dan mengajarkan konsep geologi
> eksplorasi di
> kampus.........??????
> 
> salam tanah air geologi......
> agus hend
> 
> nyoto - ke-el <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Mari kita dukung rame2 kepedulian IAGI sebagai
> organisasi profesi untuk
> memberikan sumbangsih kepada Tanah Air kita, yang
> mungkin bisa berupa petisi
> resmi ataupun Himbauan ke Pemerintah agar melakukan
> langkah2 nyata untuk
> menghindari kerugian2 negara yang lebih besar lagi
> terutama dengan
> ber-macam2 penambangan bahan2 tambang & galian di
> Indonesia yang lebih
> bertanggungjawab & ramah lingkungan, serta yang
> paling penting seperti kata
> Pak Parlaungan yaitu harus ada nilai tambah bagi
> perkembangan kesejahteraan
> rakyat setempat & bukan sebaliknya ! 
> 
>  
> 
> Mari pak Ketua & Para Pengurus2nya untuk menggalang
> pendapat dari para
> anggota profesi yang saya percaya banyak & piawai
> dalam hal menyusun petisi
> semacam ini.  Kalau bisa lebih proaktif kan lebih
> baik, tidak harus hanya
> menunggu "diundang" DPR/MPR ataupun Lembaga
> Pemerintahan untuk dimintai
> pendapat  maupun masukan ilmiahnya. 
> 
>  
> 
> Wass,
> 
> nyoto
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
> On 7/27/07, Parlaungan Dalimunthe
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
> 
> Sebagai organisasi profesi yang berbasis ilmu
> kebumian, IAGI tentu mempunyai
> tanggung jawab moral untuk mengatasi masalah jual
> Tanah Air. Suarakan
> keprihatinanmu tentang maraknya penambangan yang
> dilakukan secara instan,
> tanpa perencanaan dan studi yang matang, mengekspor
> bijih dengan tanpa ada
> nilai tambah bagi dalam negeri, dan yang utama juga
> tanpa ada melakukan
> kegiatan reklamasi dan rehabilitasi wilayah bekas
> tambang.   Hayo IAGI
> tunjukkan kepedulianmu. Buat petisi yang ditujukan
> ke RI-1, DPR dll tentang
> larangan jual Tanah Air. 
> 
> 
>  
> 
> On 7/27/07, Andri Subandrio <[EMAIL PROTECTED] >
> wrote: 
> 
> Terimakasih Bung Agus! Kenyataannya Tanah Air kita
> hanya bisa ekspor Tanah
> Air ...dan TKW..tentunya! Ekspor pisang sama cabe
> rawit aja tidak bisa...!
> Pisang keburu jadi Selai di Pabean atau di
> pelabuhan...maklum mesti lewat
> ratusan meja...seng okeh tikusss..se! 
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________Ready
 for the edge of your seat? 
Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 
http://tv.yahoo.com/

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION:
228 papers have been accepted to be presented;
send the extended-abstract or full paper
by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke