Bang Fajar, umumnya deuterium digunakan sebagai petunjuk lokasi resapan (walaupun O18 jg bisa) jika dikorelasikan dgn deuterium air hujan. Semakin kecil jumlah deuterium airtanah, semakin jauh lokasi resapan air hujannya. Dan mengacu pada model Toth (1963) atau Freeze (1967) yg membagi aliran airtanah menjadi lokal - intermediate - regional, mungkin saja kedalaman bisa dikorelasikan dengan penurunan deuterium. Maksudnya airtanah yang dalam, berasal dari lokasi resapan yang jauh. Btw, harus dilihat dulu kondisi geologinya. Karena asumsinya khan medianya homogen isotropik, yah. Kalau heterogen, bisa jadi berbeda kesimpulannya alias tidak ada korelasi. Semoga mencerahkan...
salam On 10/31/07, Fajar Lubis <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Terimakasih untuk informasinya Pak Hendri, > > Adakah kemungkinan pengkayaan deutrium ini berasosiasi dengan faktor > kedalaman? > Mohon pencerahannya, > > > Salam, > Fajar (1141) > *Butuh lebih dari sekedar overburden, untuk menekan fluida dari > kedalaman 8.000 meter untuk mencapai permukaan tanah secara alami* > > > Hendri silaen <[EMAIL PROTECTED]> sudah menulis: > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com

