Ferdi,
   
  Pertanyaan bagus, itu juga yang menjadi keraguan saya. GPR punya resolusi  
kedalaman beberapa meter sampai beberapa ratus meter. Dalam banyak kasus, ia 
dipakai untuk kedalaman tak lebih dari 200 meter. Resolusi kedalamannya (depth 
limit) terutama lebih ditentukan oleh materi bawah permukaan yang akan dilalui 
gelombang elektromagnetiknya. Kalau semuanya granit, depth limit bisa sampai 
200 meter. Materi lain punya depth limit yang lebih dangkal. Depth limit bisa 
diatur dengan pemakaian frekuensinya : lower frequency = greater depth = low 
resolution, higher frequency = less penetration = high resolution. Frekuensi 
yang dipakai biasanya 10-1000 MHz.
   
  Rule of thumb mengukur kedalaman penetrasi GPR biasanya menggunakan rumus RRE 
(radar range equation) : Depth = 35/sigma (meter) ; sigma adalah konduktivitas 
materi di subsurface dalam mS/m. Dengan rumus ini, paling akan didapat 
kedalaman penetrasi puluhan-ratusan meter. 
   
  Saya punya hasil rekaman2 GPR untuk beberapa puluh meter di bawah semburan 
LUSI, memang bagus untuk melihat pola2 retakan dekat permukaan tanah, baik 
sesar lama maupun baru. Tetapi, saya belum melihat rekaman2 GPR yang dibilang 
Pak Soffian BPLS dari kedalaman 8000 meter (dalam sekali penetrasinya ?). APa 
ada jenis GPR baru yang bisa merekam sampai ribuan meter ? Silakan rekan2 
geophysicist barangkali punya info.
   
  GPR jelas lebih murah dan praktis dibandingkan seismik. Untuk menggantikan 
seismik ? Saya pikir tidak. Untuk high-res seismik dangkal boleh juga bisa 
dipikirkan GPR sebagai alternatif.
   
  salam,
  awang

kartiko samodro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Awang,
Apakah dengan GPR memang bisa memetakan struktur sampai kedalaman 8000 m,
dan apakah biayanya lebih murah untuk bisa menggantikan seismic ?


On 10/15/07, Awang Satyana wrote:
>
> Pak Soffian Hadi (ahli geologi anggota BPLS) kemarin kirim sms sbb.:
> "Perilaku Lusi makin jelas seperti geyser, dalam 2 hari terakhir ini
> kejadian quiet selama 20 menit-150 menit dengan interval 5-8 jam, meskipun
> (seperti geyser) diawali semburan yang cukup kuat 3-5 meter mud kick"
>
> Pak Soffian pun membagi info bahwa terdapat kehadiran deuterium yang
> signifikan, dan berdasarkan rekaman GPR (ground penetrating radar) terbaru
> terdapat sesar2 baru yang memotong sampai kedalaman 8000-an meter. Sumber
> air pembawa deuterium diperkirakan berasal dari kedalaman 8000-an meter itu
> yang terpanasi oleh magma yang statik. Kalau air formasinya habis, maka Lusi
> akan seperti bledug Kuwu.
>
> Info2 di atas menunjukkan perkembangan baru Lusi yang tak pernah menjadi
> diskusi selama ini. Pendapat sumber air dari 8 km itu masih menjadi diskusi
> kami. Harus dilakukan analisis air selama ini yang keluar saat diperkirakan
> berasal dari kedalaman 2 km, dan yang sekarang diperkirakan dari kedalaman 8
> km. Kedalaman 8 km di wilayah ini mestinya sudah masuk ke basement;
> bagaimana ia bisa mengandung air - diferensiasi magmatik ?
>
> salam,
> awang
>
> Rovicky Dwi Putrohari wrote:
> Senin, 15 Okt 2007
> * BPLS: Semburan Berhenti Empat Kali
> *
> SIDOARJO - Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) mencatat aktivitas
> semburan lumpur panas di Porong berhenti beberapa kali. Fenomena itu masih
> diselidiki sebagai tanda-tanda atau gejala apa, mengingat terjadi empat
> kali
> dalam tiga hari.
>
> Menurut Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Achmad
> Zulkarnain,
> sejak Kamis (11/10), semburan lumpur berhenti empat kali. Kali pertama
> terjadi pada Kamis pukul 16.25 WIB sampai 17.50 atau sekitar 85 menit.
> Semburan berhenti untuk kali kedua pada hari yang sama pukul 22.30 hingga
> 23.30 atau sekitar 60 menit.
>
> Keesokan hari, Jumat (12/10), kata Zulkarnain, semburan juga sempat
> berhenti
> pada pukul 10.30 hingga pukul 11.00. "Semburan berhenti sampai menjelang
> salat Jumat. Setelah itu, lumpur menyembur lagi," ujarnya. Kejadian
> keempat
> berlangsung pada Sabtu (13/10). Semburan berhenti sekitar pukul 11.05 WIB
> dan menyembur lagi pukul 11.20 atau sekitar 15 menit.
>
> Dia menambahkan, berhentinya aktivitas semburan lumpur panas tersebut
> diikuti kenaikan kadar gas hydrogen sulfide (H2S) yang mencapai 22 PPM
> dari
> batas normal 20 PPM. Selain itu, 71 gelembung (bubble) yang ditemui di
> berbagai tempat menunjukkan penurunan aktivitas. "Mungkin, ada kaitan
> dengan
> berhentinya semburan sebanyak beberapa kali itu," ucapnya.
>
> Berhentinya aktivitas semburan juga ditandai ritme semburan lumpur yang
> berbeda. Di pusat semburan, sempat tidak tampak asap yang tinggi maupun
> gelembung air.
>
> Zulkarnain mengatakan, BPLS berencana mendatangkan ahli untuk meneliti
> lebih
> lanjut fenomena tersebut. Berhentinya aktivitas semburan itu juga pernah
> terjadi pada masa Tim Nasional Penanggulangan Lumpur sekitar Februari
> 2007.
> "Namun, kali ini kejadiannya berulang. Waktu terjadinya pun berdekatan,"
> paparnya. (riq)
>
>
> --
> http://rovicky.wordpress.com/
>
>
>
> ---------------------------------
> Catch up on fall's hot new shows on Yahoo! TV. Watch previews, get
> listings, and more!


       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke