Whaddduh !!! Pasti seru neeh ...
Walaupun memang ada kemungkinan faktor alamiah yang mempengaruhi rumah kaca.
Namun *kebersamaan* dalam menghadapi perubahan iklim menuntut semua komponen
dunia ikut serta. Walaupun menurut saya, *kesiapan *dunia beradaptasi
menghadapi perubahan iklim ini lebih penting ketimbang mencoba
menguranginya. Alam bisa menjadi tidak teratur tak terkontrol ketika manusia
mencoba mempengaruhi gerakan tarian "mother nature".
Yang perlu difikirkan adalah efek pemanasan global selain fluktuasi naiknya
muka air laut, juga harus waspada terhadap munculnya atau merebaknya wabah
penyakit tertentu (misal dengue), perubahan perilaku manusia. Kegerahan
sering membuat tingkat stress berubah, mudah marah dsb. Dunia dahulu pernah
mengalami hal yang sama. Proses pemanasan memang berulang. Tetapi manusia
juga sudah berubah, sehingga mengantisipasi perubahan iklim harus dengan
teknologi dan segala upaya yang saat ini ada.

Salam
rdp

[image: The image
"http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c0/Sea_level_temp_140ky.gif";
cannot be displayed, because it contains errors.]
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c0/Sea_level_temp_140ky.gif

rdp

Sekarang Amerika Serikat Versus Dunia

3 December 2007 - 23:10

Delegasi Australia kemarin pagi mendapatkan tepuk tangan meriah dari seluruh
delegasi di sidang plenari ketika Howard Bamsey menyatakan Australia akan
meratifikasi Protokol Kyoto dan Perdana Menteri Kevin Rudd akan datang ke
Bali."Sebuah keputusan politik yang signifikan," komentar Yvo de Boer dalam
pidato di acara pembukaan. Sambutan meriah tepuk tangan panjang itu, kata de
Boer, mencerminkan penghargaan atas keberanian yang ditunjukkan oleh
Australia yaitu pergeseran posisi yang dramatis dan bergabung denan
komunitas internasional, sesuatu yang petanda baik bagi peran Australia
dalam negosiasi ini.

Pernyataan Australia itu telah mengubah peta negosiasi bagaimana 180 negara
mengatasi perubahan iklim. Jika Australia, yang sebelumnya adalah "pengekor"
Amerika Serikat, sungguh-sungguh meratifikasi Protkol Kyoto, maka Amerika
Serikat menjadi sendirian. Uni Eropa sebelumnya menyatakan komitmennya
mengurangi 20% emisi gas rumah kacanya tahun 2020 dan 30% jika negara
industri lainnya bersedia mengupayakan penurunan gas rumah kaca dalam jumlah
yang sama.

Apakah negosiasi penetapan pengurangan emisi gas rumah kaca kemudian menjadi
lebih mudah?

Tidak! Batu ganjalannya adalah AS, negara pengemisi gas rumah kaca terbesar
di dunia itu. Dalam jumpa pers hari ini ketua delegasi AS, dengan
diplomatis, menyatakan bukannya AS tidak peduli akan perubahan iklim. Ketua
delegasi AS HarlanWatson menyatakan mendukung "Bali Road-map" dan pendekatan
dua jalur. Meskipun AS tetap ingin mendorong negara berkembang menetapkan
target pengurangan emisi gas rumah kacanya.

Negara maju mencoba mengambil target dalam pengurangan emisi gas rumah kaca
dan ingin mengubah UNFCCC menjadi konvensi energi, bukan konvensi perubahan
iklim, kritik delegasi dari Saudi Arabia.

Negosiasi di Bali sekarang akan tetap membentuk dua kubu yaitu kubu AS
dengan kubu non-AS. Kubu siapa yang akan "menang" sepertinya lebih baik
menunggu presiden AS diganti tahun 2008. Harap-harap setelah presiden AS
berganti kebijakannya berganti juga seperti Austalia.

Tetapi jangan sampai nasib manusia sedunia harus ditentukan oleh seorang
presiden AS.
http://cop13news.com/?p=68&langswitch_lang=id

-- 
http://tempe.wordpress.com/
None one right solution !
No one can monopolize the truth !

Kirim email ke