Hmm ada yang memebrikan cukup "nyamleng" idenya :)
sepertinya Kang ADB akan stuju neeh ?

" .... Anand lebih setuju jika uang bantuan dalam jumlah puluhan
trilyun rupiah tidak diberi ke Indonesia untuk menjaga hutannya. Tapi
lebih baik uang itu diberikan ke masyarakat Negara Maju untuk
mengganti kendaraannya lebih kecil sehingga lebih hemat energi...."

Menjaga dunia, bukan menerima satu negara tetap boros :)

RDP

On Dec 4, 2007 1:54 PM, Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Broer ISM, ..
> angin sorga tentang "jualan CO2" lewat mekanisme CDM sudah sejak 5 tahun
> yang lalu berhembus di Indonesia, tapi sampai detik ini tidak pernah ada
> cerita yang VALID tentang success-story business di Indonesia yang
> mendapatkannya (yang ada hanya "mau", "akan", "sedang membahas" dsb....).
>
> Jangan - jangan......
>
> adb

 Anand Krishna Tolak Perdagangan Karbon           PDF

By E Haryadi, on 04-12-2007 12:42

Published in : COP 13, Artikel
Tokoh spiritualis Anand Krisna, secara tegas menolak perdagangan
karbon (carbon trading). Anand lebih memilih konsep berdiri di atas
kaki sendiri ketimbang mengharap sedekah dari negara maju untuk
Indonesia agar melindungi hutannya.

"Lagi pula bila itu dana itu diterima, apakah ada jaminan dana itu
benar-benar diperuntukkan bagi pelestarian hutan?," tanya Anand, saat
mengunjungi stand pameran Yayasan Anand Ashram di Kampung CSF, BTDC,
Nusa Dua, Bali, Selasa (4/12) siang.

Karena tidak ada jaminan, kata Anand, apalagi mengingat Indonesia
merupakan negara terkorup sedunia, maka ia secara tegas menolak
bantuan dana dari Negara Maju (G-8).

Apalagi, tegas Anand, bantuan itu  kemudian membuat Negara Maju merasa
tidak perlu mengurangi emisi karbondioksida (C02) sebagai penyebab
pemanasan global sehingga memicu perubahan iklim. Dengan demikian,
laju komsumsi di negara maju tak perlu dikurangi.

Alasan lainnya, Anand merasa setiap sedekah dari G-8 memiliki jebakan.
Pasalnya, setiap sedekah atau bantuan, pasti punya kepentingan. Dan,
karenanya, mengandung sebuah obligasi.

Komsumsi
Menurut Anand, salah satu kunci dari pengurangan efek rumah kaca
akibat emisi CO2, adalah menekan nafsu komsumsi. Celakanya, laju
komsumsi di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), begitu tinggi.

Misalkan saja, kata Anand, di AS penduduk negara itu didorong untuk
mengkomsumsi mobil berukuran besar yang boros energi. Akibatnya emisi
yang dilepaskan Negara Maju seperti AS begitu tinggi.

"Saya pernah membaca hasil sebuah penelitian, kota Manhattan merupakan
kota penghasil emisi terbesar di planet ini," ujarnya.

Karena itu, Anand lebih setuju jika uang bantuan dalam jumlah puluhan
trilyun rupiah tidak diberi ke Indonesia untuk menjaga hutannya. Tapi
lebih baik uang itu diberikan ke masyarakat Negara Maju untuk
mengganti kendaraannya lebih kecil sehingga lebih hemat energi.

"Dengan menekan laju komsumsi, barangkali industri akan ambruk. Namun
inilah satu-satunya harga untuk menyelamatkan bumi," tegasnya.

Pesimis
Anand sendiri mengaku pesimis akan hasil Konfrensi PBB tentang
Perubahan Iklim tanggal 3-14 Desember di Nusa Dua, Bali.

Menurut dia, bila pertemuan ini masih didominasi kepentingan bisnis
dan dunia industri, maka pertemuan yang memakan ongkos jutaan dolar AS
ini hanya akan jadi sebuah komedi sekaligus tragedi.

Padahal ancaman perubahan iklim akibat efek rumah kaca sudah ada di
depan mata. "Bila pertemuan ini masih didominasi dan kompromi antara
dunia bisnis dan politik, maka tenggelamnya pulau-pulau akan terjadi.
Tak terkecuali Bali," tegasnya.

Untuk itulah, Anand merasa perlu menyatukan diri dengan Civil Society
Organization Forum (CSF) Indonesia. Terutama untuk mendorong para
pebisnis dan politisi untuk serius menyelamatkan Bumi sebelum akhirnya
Bumi menjadi planet terpanas model Mars.A

Last update : 04-12-2007 14:55

----------------------------------------------------------------------------
JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI be 
liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or 
damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, 
arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI 
mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke