Pak Rovicky, Untuk gempa-gempa berlokasi di darat yang ternyata menimbulkan tsunami harus dicek dulu seberapa luas rupture zone-nya (data ini saat ini tak/belum tersedia di USGS), kalau rupture zonenya memanjang sampai ke laut maka tsunami bisa saja akibat dislokasi batuan, bukan karena longsoran. Dua gempa kemarin, yang pertama (7,6 Mw) belokasi sekitar 20 km dari pantai, sedangkan yang kedua (7,4 Mw) berlokasi di pantai. Yang kedua kemungkinan besar punya rupture zone yang meluas ke laut. Besar sudut thrust gempa pertama 36 deg, besar sudut thrust gempa kedua 29 deg. Terima kasih telah meneruskan ulasan Pak Ma'rufin. Memang asal tsunami sering menjadi perdebatan antara karena patahan di dasar laut atau karena longsoran bawahlaut yang dipicu gempa. Saya pikir kuncinya bukan hanya di analisis kuantitatif, analisis tektonik pun patut dipertimbangkan. Di wilayah ini terjadi interplay pada focal mechanism gempa antara thrusting akibat subduction dengan strike-slip faulting akibat Sesar Sorong, tak mengherankan walaupun lokasinya dekat Sesar Sorong tetapi mekanisme-nya thrusting, itu berarti subduction-related thrusting-nya yang dominan, tetapi gempa 6,1 Mw pagi tadi berasal dari reaktivasi Sesar Sorong dengan mekanisme strike-slip faulting. Salam, awang -----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, January 07, 2009 3:06 C++ To: [email protected] Cc: Forum HAGI; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS Subject: Re: [iagi-net-l] Re : [iagi-net-l] Papua Bergoyang 7.6 MW - 4 Jan 2009 Pak Awang, Kalau yang bergetar itu thrust-nya, apakah ada dislokasi di offshore ? Bagaimana dengan tsunami (kecil) yang terbentuk ini. Apakah akibat longsoran atau akibat dislokasi thrustnya ? Btw, ada informasi berapa besar sudut thrust di utara papua ini ? dibawah itu tulisan kawan lain yang mencoba menganalisa tsunami berdasarkan perhitungan kuantitatif Salam RDP On Wed, Jan 7, 2009 at 9:15 AM, Ma'rufin Sudibyo <[email protected]> wrote: > Saya berpendapat tsunami itu murni produk dislokasi patahan. Indikasinya > sederhana saja. Dari data tinggi gelombang yang ada (Manokwari = 0,8 meter, > Biak = 0,35 meter dan Jayapura = 0,2 meter) dan kemudian dikomparasikan > dengan data tinggi gelombang di Jepang yang sebesar 15 cm itu, dan setelah > dimasukkan data-data jarak episentral tiap titik di atas, maka dengan > menggunakan rumus Katsuyuki Abe (Abe, 1981) tentang tsunami magnitude (Mt), > diperoleh nilai rata-rata Mt = 7,95 +/- 0,10. Hitung2an sederhana ini > (karena saya hanya menggunakan MS Excell) ternyata memberikan hasil yang tak > berbeda dengan prediksi GDACS 2009. Jika kita bandingkan dengan nilai > magnitude gempa yang besarnya Mw = 7,6 maka jelaslah bahwa nilai Mt tidak > berbeda jauh dengan Mw. Dari kedekatan nilai ini bisa ditarik kesimpulan > bahwa mekanisme pembangkitan tsunami lebih didominasi oleh dislokasi > vertikal dasar laut di lokasi sumber gempa. > > Sementara tsunami produk longsoran gigantik di dasar laut akan terbaca > dengan jelas lewat perbedaan nilai Mt dan Mw yang signifikan (melebihi 1). > Kasus terakhir tentang tsunami macam gini bisa ditemui misalnya pada Gempa > Samudera Hindia 17 Juli 2006 yang tsunaminya menghantam pantai selatan Jawa > itu. USGS menyebut gempa ini mempunyai magnitude Mw = 7,7. Sementara > data-data ketinggian gelombang dan jarak episentral yang dikumpulkan dari > beragam titik di sepanjang pantai selatan dari Pangandaran hingga > Parangtritis menunjukkan tsunaminya memiliki Mt = 8,9. Perbedaannya sangat > signifikan, dan itulah yang disebut kasus "tsunami earthquake", yang > sekaligus menjawab kegelisahan banyak orang mengapa gempa yang 'kecil' dan > tidak terasakan itu justru menimbulkan tsunami yang magnitudenya setara > dengan tsunami dahsyat yang dilepaskan gempa megathrust Sumatra Andaman 26 > Desember 2004 silam. > > Tsunami 1998 yang menghantam Papua Nugini itu, menurut Abe, juga bisa > dikategorikan sebagai tsunami longsoran atau tsunami earthquake, karena > mekanismenya juga mirip dengan tsunami Samudera Hindia 17 Juli 2006. > > Btw, masih ada yang 'aneh' dari gempa ini. Plotting posisi sumber gempa > (dari gempa utama dan gempa2 susulannya) menunjukkan ia berlokasi di > lintasan patahan Sorong atau didekatnya. Namun mekanisme pematahannya koq > naik ya ? > > Salam, > > > Ma'rufin On Wed, Jan 7, 2009 at 3:01 PM, Awang Satyana <[email protected]> wrote: > Melihat focal mechanism dan tectonic setting-nya, ini mungkin bukan gempa > akibat Sesar Sorong yang strike-slip, tetapi thrust akibat konvergensi > oblique lempeng samudra Pasifik ke bawah kerak akresi di utara Sesar Sorong > di ujung utara Kepala Burung. > > Sesar Sorong seperti Sesar San-Andreas yang terdapat di tepi lempeng yang > dulunya konvergensi frontal kemudian berubah menjadi konvergensi oblique oleh > perubahan gerak lempeng dan perubahan aktivitas pemekaran dasar samudra. > > Gempa besar bersusulan ini (7,6 Mw dan 7,4 Mw - yang 7,4 Mw bukan gempa > susulan yang pertama karena sesudah gempa utama terjadi tiga kali gempa > susulan 5,0-5,6 Mw, baru kemudian gempa besar kedua 7,4 Mw terjadi) membentuk > earthquake doublet dengan focal mechanism yang persis sama. > > Strike thrust pada kedua gempa (masing-masing 112 deg NE dan 104 deg NE) > sejajar dengan arah jalur subduksi kerak samudra Pasifik di utara Kepala > Burung. Dengan kedalaman fokus gempa sekitar 35 km bisa diperkirakan bahwa > asal pematahan di overriding plate kerak akresi yang di permukaan diduduki > Pegunungan Tamrau dengan litologi berupa basic volcanics. > > Data dari USGS menunjukkan plotting hiposentrum gempa pada Zone > Wadati-Benioff yang tidak jelas, tentu saja akan begitu sebab makin ke > selatan zone ini terpotong oleh gempa-gempa yang berhubungan dengan Sesar > Sorong. Ini mirip gambaran gempa-gempa di Sumatra yang tak punya kejelasan > Zone Wadati-Benioff-nya, semuanya diakibatkan suatu oblique subduction. > > Sampai saat ini, 17 x gempa susulan telah terjadi dengan magnitude sekitar > 5,0-5,7 Mw, lokasinya berpindah2 lebih ke barat, ke timur sampai ke offshore, > ke utara sampai ke offshore, dan selatan mendekati Sesar Sorong. Data > historical moment tensor-nya menunjukkan bahwa interplay antara > subduction-thrust dan Sesar Sorong merupakan penyebab utama gempa2 di wilayah > utara Kepala Burung ini. > > Tadi pagi, gempa membesar lagi menjadi 6.1 Mw setelah beberapa gempa susulan > bermagnitude 5,0-5,3 Mw, mungkin saja ini gempa baru yang terpicu gempa pada > hari Minggu. Pusat gempa mendekati Sesar Sorong dan kota Manokwari > dibandingkan gempa pertama dengan focal mechanism menjadi strike-slip. > Mungkin ini gempa ketiga yang telah mengaktifkan Sesar Sorong. Strike > pematahan arah 126 deg NE dan kemiringan yang curam (75 deg) menguatkan > mekanisme strike-slip pada fokus gempa. > > salam, > awang

