Beng, ma broer, yang saya kagumi,.

 

Saya juga tergelitik atas persepsi bahwa tidak bisa hadir dan memprotes itu
dianggap tidak akrab dan tidak biasa2 saja. Minimal, Awang, dirimu, dan mas
Pras BPLS yang dalam mengomentari berita2 seputar perbedaan konsep itu
mencoba memberikan ilustrasi betapa rukunnya pihak2 bule yang berseberangan
pendapat dalam sarapan pagi minum kopi dan situasi sehari-hari, seolah-olah
kita-kita yang orang Indonesia ini tidak bisa minum2 kopi sama2 dan
berdiskusi dengan ramah tamah. Memang akan sangat berbeda kalau dibandingkan
dengan suasana sidang PSSI atau (mungkin) di DPR yang dari mulut2 mereka
keluar kata2 tidak pantas dsb, tapi sejauh perasaan dan pengetahuan saya
aku, dirimu, Soffian, Agus Guntoro, Edy Sunardi, Prof Sukendar, dll pihak
yang berseberangan pendapat: kita semua tidak pernah punya masalah pribadi
apapun juga. Ingat: ditahun 2006-2007 kita selalu mengadakan pertemuan
informal membahas Lumpur Lapindo ini berkalikali dalam suasana yang saling
membangun. Bahkan sampai sekarang. Ungkapan protes itu bukan ke pribdai dan
sama sekali tidak menyinggung integritas keilmuan masing2, tapi ke panitia
pelaksana. Jangan salah tangkap, broer. Juga isitilah kadal mengkadali (saya
menyambut celetukan Prof RPK soal kadal mengkadal-i),..itu semua sama sekali
tidak terkait dengan pribadi-pribadi saintis yang menghadiri atau tidak
menghadiri symposium. Itu merujuk pada strategi media dan korporasi yang
tingkatannya sudah diatas tingkatan pembahasan saintifik. Bagaimana media
dan korporasi tertentu mencoba untuk mengkooptasi pemikiran dan
memotong-motong komentar pihak2 saintis yang saling berbeda pendapat untuk
kepentingan kampanye media dan korporasi tsb: itulah yang dimaksud dengan
istilah kadal-mengkadal-I oleh Prof RPK. Istilah itu tidak ditujukan ke
saintis yang bersama2 kita masih bisa minum kopi dan sarapan dan gowes
bersama. Mudah2an klarifikasi ini bukan malah dianggap bagian dari aleniasi
perkawanan kita semua selama ini.

 

Salam

ADB

 

Arema, geologist juga! temennya bambang bpi, tapi sebrangan pendapat soal
Lumpur lapindo! 

 

  _____  

From: Bambang P. Istadi [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, May 30, 2011 9:24 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Rekan2 sekalian yang saya hormati,.. 

 

Ada pertanyaan mengelitik dari salah satu wartawan pada sesi tanya jawab
symposium kepada Richard Davies,. Kenapa anda terlihat begitu akrab dan
biasa2 aja dengan Adriano Mazzini, padahal pendapat kalian bersebrangan,..
begitu kira2 pertanyaan wartawan,..  saya jadi berfikir, mungkin  orang
asing lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Disisi lain kita org Indonesia
sekalipun yg kita anggap kaum intelektual belum bisa menyikapi perbedaan
sebagai Anugerah, yang tidak sependapat, berseberangan dan berpendapat lain
dianggap sebagai kadal dan mengkadali. Kalau saja datang pada simposium yang
heboh itu mungkin akan berpandangan lain. Dengan berbagai kekurangan pada
symposium tsb, yang saya lihat Richard Davies yang selama ini diangap
sebagai "suhu" mewakili kelompok Drilling blowout, walaupun para
pendukungnya tidak datang, tapi tetap jadi bintang tamu symposium, jadi
pembicara pertama, sama halnya dengan keynote speaker, yang pertama dan
selalu dikerubungi oleh wartawan. 

 

Pada pertanyaan wartawan lain soal penyebab, dia menjawab sudah dipaparkan
dalam paper pertamanya, lalu karena dikritik ada yang salah, diperbaiki
dengan data2 drilling dan dipublish dipaper kedua. Mungkin motto-nya Gak
masalah ada kesalahan, yang penting jadi orang pertama yang publish soal
Lusi. Saya jadi teringat AAPG Cape Town Afsel, dimana Davies menghadirkan
Lusiaga salah seorang pendukungnya yang dengan antusias mengungkapkan Fakta
'terbaru' adanya "sudden pressure drop" penurunan tekanan secara tiba2 di
drill pipe dan diartikan terjadi bocornya sumur dan breach kepermukaan
(lihat paper Davies et al 2010).  Namun asumsi tsb tidak di support oleh
data lain. Dari drilling report terlihat bahwa sengaja dilakukan 'bleed off'
ini karena operasi berikutnya adalah pemompaan 'soaking fluid' (lihat paper
Sawolo et al 2010). Terlihat disini Davies dan Lusiaga membuat hypothesa
berdasarkan 'cherry picked' data sangat berbahaya dan interpretasi
misleading, tidak pakai semua data yang ada dan tebang pilih data yang kira2
mendukung hipotesanya.

 

Saya pikir perdebatan soal drilling blowout sebagai pemicu Lusi sangat
professional, berdebat secara ilmiah pula. Simak cara diskusi ilmiah antara
Davies dan Sawolo sbb:

1. Paper Davies et al (2008) disangkal oleh Sawolo (2009) 

2. Davies et al (2010) melakukan diskusi dan dijawab didalam Sawolo et al
(2010) secara ilmiah pula.

3. Didalam paper2 tsb jelas apa yang diperdebatkan, data serta analisanya.
Sumber datanya pun jelas dan bisa di trace back Perlu diketahui bahwa
keempat paper tsb bisa di download dari Elsevier.

 

Saya persilahkan rekan2 untuk menganalisa data2 drilling yg sudah dipublish
semua, atau datang ke Lapindo, akan saya coba bantu minta pada teman2 di
Lapindo supaya bisa analisa data sampai puas. Kalau ada kesalahan dalam
drilling disilahkan tunjuk kesalahannya dan gugat Lapindo. Jadi jangan
percaya begitu saja, tapi periksa datanya dan analisa kebenarannya, kecuali
mazhab rekan2 iaginet sudah berubah menjadi tendensius dan memojokkan
"Pokok-e Lapindo bersalah" sudah tidak berbasis pada science.

 

Wass.w.w

Bambang Istadi 

 

 

 

From: nyoto - ke-el [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, May 27, 2011 9:36 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Hebat sekali, sampai 2 top geologists Indonesia bisa dikadalin (paling tidak
itu menurut pengakuan langsung dari mereka sendiri, yaitu guru besar Teknik
Geologi ITB & juga bekas ketua IAGI pak Koesoemadinata & pak Andang
Bachtiar, bekas ketua IAGI, keduanya dedengkot geologi Indonesia yg paling
top sampai saat ini), sangat2 memprihatinkan, ya Allah tunjukkanlah
Kebesaran & KeadilanMU kepada kita bangsa Indonesia, khususnya masyarakat
korban Lusi ...aameeen YRA.

 

 

Wass,

nyoto

 



 

2011/5/27 R.P.Koesoemadinata <[email protected]>

Ya maksud saya seolah-olah usulannya "diperhatikan" dengan menambahnya
pembicara dari dalam negeri/universitas di Indonesia. Tapi yang diajukan
jelas kemana arahnya.

Saya pun juga dikadalin. Saya sebenarnya juga diundang menghadiri simposium,
bahkan ditelepon beberapa kali. Namun setelah saya baca flyer-nya, saya
lihat jelas ke mana arahnya dan maksudnya. Sayapun menyatakan tidak bisa
hadlir karena saya kebetulan ada acara presentasi/rapat di Jakarta.

Waktu saya di Jambi minggu yang lalu untuk menjadi panelist dalam suatu
diskusi mengenai bagihasil minyak bagi Jambi (katanya direkomendasikan oleh
Pak Andang juga) saya terus menerus ditelepon oleh seorang wartawati dari
TVOne, katanya dia ditugaskan mewawancara saya, mengenai dunia perminyakan
Indonesia. Akhirnya saya setuju dan wawancara berlangsung di kamar hotel di
Jakarta. Wawancara berlangsung mungkin lebih dari 30 menit dan juga muncul
pertanyaan mengenai Lumpur Lapindo. Off the record saya katakan, "kalian itu
bagaimana, kan saya tahu siapa yang punya TVOne dan pendapat saya mengenai
masalah itu kan jelas saya utarakan pada wawancara". Saya katakan pasti
kalau sudah sampai di editor, hasil wawancara ini bakal kena editing berat,
bahkan mungkin juga tidak akan ditayangkan."

Mereka sih senyum-senyum saja.

Ternyata benar sekali, pada acara Tahukah Anda kemarin sore saya hanya
muncul beberapa detik saja membicarakan mengenai 'Indonesia sebagai
net-importer oil dan sudah keluar dari OPEC' (hal yang kurang relevant),
sedangkan yang muncul lainnya Prof Sukendar dan Ir Sunu (dari Lapindo) yang
berbicara mengenai Lusi cukup panjang lebar. Saya sendiri tidak nonton acara
itu karena masih dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung.

Wah jadi dikadalin juga, walaupun sudah tahu apa yang akan terjadi.

Wassalam

RPK

----- Original Message ----- 

From: Andang <mailto:[email protected]>  Bachtiar 

To: [email protected] 

Sent: Friday, May 27, 2011 8:50 AM

Subject: RE: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Koreksi Prof, saya tidak ikut datang di Symposium. Jadi, luput dijadikan
kadal.

 

Note (lagi):

 

1.      Kalau memang benar mau berorientasi pada penyelesaian ke depan, akan
lebih logis, elegan, dan bermanfaat simposiumnya membahas bagaimana disain
3D/4D seismic, disain MT, disain subsidence GPS survey-nya dikaitkan dengan
modeling subsidence, perluasan area terdampak, dan kemungkinan pengaruhnya
pada infrastruktur yang ada maupun yg direncanakan dibangun (jalan tol,
jalan kereta, jalan biasa, lapangan2 migas, jalur2 pipa, dsb) 
2.      Dan akan lebih klop kalau kawan2 dari Badan Geologi sebagai lembaga
geologi resmi pemerintah juga diundang  2-3 orang untuk mempresentasikan
berbagai hasil riset mereka dalam 3 tahun terakhir ini (geokimia, amblesan,
struktur dangkal, air tanah, dsb), termasuk rencana akuisisi seismic 3D yang
sekarang sedang dalam proses tender dsb. 
3.      Format workshop lebih cocok dari pada symposium: spy hasilnya
kongkrit ke depan. 

 

Salam

 

ADB

 


  _____  


From: R.P.Koesoemadinata [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, May 27, 2011 8:17 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Wah sebetulnya saya sudah tidak ingin berkomentar lagi mengenai Lumpur
Lapindo ini

Tapi, maaf saja, Pak Andang. Anda kelihatannya akhirnya dikadalin juga

Hehe
Wassalam

RPK

----- Original Message ----- 

From: [email protected] 

To: [email protected] 

Sent: Friday, May 27, 2011 5:53 AM

Subject: Re: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Saya menuliskannya sebagai catatan (note) di facebook saya SEMINGGU yg lalu,
bukan tiba2 kemarin. Mungkin untuk menjadikannya berita wartawan lebih
cocoknya memuatnya pas kemarin pelaksanaan acara.

Note fb itu saya tulis setelah saya komunikasikan concern ke panitianya ttg
TIDAK ADANYA PEMBICARA DR PERISET PERGURUAN TINGGI INDONESIA dan dominannya
periset asing (10 orang) dlm info undangan ke saya maupun dlm website
Humanitus sampai 2 hari yg lalu. Waktu itu di website masih dipampangkan
foto 2 pembicara dr Indonesia yaitu Awang BPMigas dan Sawolo EMP (Lapindo).

Alhamdulillah, rupanya panitia sadar akan pincangnya acara tsb (a-nasionalis
dan berat ke satu sisi pendapat), maka kemudian pd acara sebenarnya
diseimbangkanlah kesan itu dg mencoret Sawolo EMP/Lapindo dr daftar dan
menambahkan Prof Sukendar, Agus Guntoro, dan Sayogi Sudarman dlm daftar
pembicara. Suatu move yg pintar, tp agak kedodoran kalau diberi tambahan
argumen bhw: yg diundang adalah yg gencar menulis di jurnal2 (internasional)
ttg Lumpur Lapindo tsb.

Usulan saya untuk memasukkan pembicara dr Perg Tinggi paling dekat dg
Sidoarjo yg banyak menulispun (Dr Amin Widodo) tidak dikabulkan. Selain itu
saya menyinggung nama Prof Hasanudin ITB yg pernah menulis bersama Davies
(yg kemudian diancam dituntut oleh Lapindo krn menggunakan data Lapindo
tanpa ijin untuk ikut menulis paper dg Davies), juga kawan2 Badan Geologi yg
sangat aktif riset dan menulis ttg Lumpur Lapindo. Tapi nampaknya panitia
lebih suka memilih mrk dr Indonesia yg punya kecenderungan expertise di
tektonik regional, geotermal, dan yg mrk kenal ikut bersama Lapindo
mengkampanyekan penyebab gempa.

Waktu itu surat saya dijawab panitia dg : "akan dipertimbangkan" meskipun
sulit untuk mengubah acara krn hrs memilih diantara 40 ahli yg diundang.
Saya sendiri tetap mrk harapkan datang untuk meramaikan acara diskusi.
Karena saya ada komitmen full 3 hari kmrn di Jakarta, maka agak sulit untuk
ikutan hadir, terutama kalau hanya untuk tanya jawab 2-5 menit dan bukan
sessi trbuka brainstorming smua pihak membeberkan usulan rencana ke depan.

Sampai saat ini, saya masih juga pada pendapat: semua penyelesaian teknis
harus jadi 1 paket dg penyelesaian masalah sosial, tdk bisa dipisahkan. Kami
dr IAGI dan HAGI masih dalam posisi terus membantu Badan Geologi dlm rangka
akuisisi data 3D seismik di area lumpur dan sekitarnya untuk digunakan dalam
evaluasi perencanaan teknis - sosial kedepan.

Salam
ADB 

Powered by Telkomsel BlackBerryR


  _____  


From: "R.P.Koesoemadinata" <[email protected]> 

Date: Thu, 26 May 2011 20:55:29 +0700

To: <[email protected]>

ReplyTo: <[email protected]> 

Subject: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Apakah betul mengirimkan surat protes atas terselenggaranya Symposium on
Indonesia's mud volcano yang berlangsung pada 25-26 Mei 2011 di Sidoarjo
sebagai mana dikutip Wartawan Tempo di Tempo Online hari ini?
http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2011/05/26/brk,20110526-336947,id.ht
ml

 

Wassalam

RPK

 

__________ NOD32 5559 (20101024) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com <http://www.eset.com/> 

 

Kirim email ke