Pak Ok...
 
- kalau penerimaan sektor MIGAS dihilangkan, maka dana alokasi daerah juga akan 
hilang....maka daerah penghasil yang umumnya konsumsi BBMnya lebih sedikit, 
akan semakin menderita: nggak dapat bagian dana alokasi dan harus mensubsidi 
daerah non penghasil yang konsumsinya jauh lebih boros (i.e Jakarta)....
maukah Kaltim, Riau dll menerima kenyataan ini..?
 
- kalaupun mereka dipaksakan untuk menerima, dengan bagian pemerintah yang 
sekitar 600-700 ribu bph (50% dari konsumsi harian kita), maka mungkinkah kita 
dipaksa untuk mengurangi konsumsi kita hanya menjadi separohnya...? sudah pasti 
diperlukan aturan yang sangat drastis untuk hal ini: jumlah kendaraan harus 
dikurangi menjadi separohnya (paling tidak pemakaiannya), mungkin listrik akan 
padam di sebagain area atau pada periode tertentu dll.
 
 
salam,


--- On Fri, 5/11/12, Ok Taufik <[email protected]> wrote:


From: Ok Taufik <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] 87 Ribu Mobil Terjual di April 2012
To: [email protected]
Date: Friday, May 11, 2012, 3:23 AM



Kalau mikir-mikir keuangan dari orang non keuangan, kenapa kenaikan BBM harus 
dikaitkan dengan APBN, sumbangan migas untuk APBN hanya  15% (berupa penjualan 
crude oil dan gas), kalau yg 15% ini ditarik dari APBN apa jadinya?..paling 
anggaran belanja dan pembangunan mengecil dan terhenti untuk sampai bisa hidup 
dari APBN yang ada. kemudia kenapa harus beli BBM keluar dengan uang APBN, 
kalau tak beli minyak dari luar yg terjadi adalah, pasokan BBM berkurang dan 
akan stabil sampai masyarakat (industri/konsumen pribadi dll) dapat hidup dari 
BBM produk DN yg tersedia, ada penghematan uang membeli BBM import yang bisa 
dialokasikan untuk hal lain.
 
APBN bisa bertambah dari macam2 ekspor dan sektor pajak, dari ekspor jengkol 
sampai emas. Kenyataannya India dan Cina yang tak mencukupi produksi migasnya 
untuk DN malah lebih besar subsidinya dari RI, kekuatan mereka adalah barang 
produksi ekspor mereka sangat besar menyumbang keuangan negara. 
2012/5/11 Franciscus B Sinartio <[email protected]>











From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>



Sebenernya kalau dicermati seksama, beratnya tugas menteri ESDM dalam persoalan 
subsidi ini bukan soal tehnis. Soal keputusan bukan soal hitungan. Ini lebih 
pada hal politis ketimbang tehnis. 
Jadi keperluan ahli tehnis (Wamen) dalam hal ini mungkin bukan hal yang 
krusial. Mungkin malah perlu seorang yang memiliki daya lobby kuat ketimbang 
kemampuan tehnis yang kuat. Seorang yang dapat diterima oleh semua partai dan 
elit politis.

Just my 2 cent

Have a nice week end. 
Be safe !

RDP




=================


Loh itukan tugas nya menteri,  ntar menterinya ngak kerja..


fbs--



-- 
Sent from my Computer®
 

Kirim email ke