Pak, 

 

Saya tahu ada kesimpangsiuran, tetapi saya kurang menguasai hingga maaf tidak 
bisa menjawab.

 

Salam,

 

HL Ong

 

 

 

From: o - musakti [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, May 17, 2012 9:30 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] HARGA GAS !!! tURUN ???

 


Terimakasih atas ulasannya, Pak Ong yang saya kagumi....

 

Kalau boleh mengajukan pertanyaan lanjutan, bagaimana pendapat pak Ong, atau 
teman-teman yang lain tentang tatakelola gas di Indonesia khususnya interaksi 
antara produser (BP Migas dan KPS2nya termasuk Pertamina), distributor/trader 
(PGN) dan konsumen (industri dalam negeri dan masyarakat).

 

Maksud saya at least dua dari dari tiga komponen diatas yaitu BPMigas atau 
KPSnya  dan PGN adalah milik negara, tetapi masing-masing entitas mempunyai KPI 
sendiri-sendiri hingga tentunya akan ada persaingan yang entah sehat atau tidak 
sehat diantara mereka.

 

Misalnya Pertamina menemukan cadangan gas baru di selat Madura. Apakah PGN akan 
'membiarkan' Pertamina membangun pipa sendiri ke surabaya atau gresik alias 
langsung mengakses konsumen atau apakah mereka akan memaksa Pertamina untuk 
menjual ke mereka ? 

 

Karena PGN juga adalah satu entitas yang mencari untung, tentunya dia ingin 
beli semurah dia bisa (5-6 US$ per MMBTU) dan menjual dengan harga setinggi 
mungkin (11-12 $ ?). Tentunya muncul pertanyaan, apakah spread keuntungan PGN 
yang 100% an itu wajar mengingat yang berkeringat paling banyak adalah produsen 
dengan segala resiko eksplorasinya dan konsumen yang memproduksi barang riil. 

 

Dari  kacamata PGN, tentu hal ini sah-sah saja karena KPI mereka terpenuhi, 
harga saham moncer dan pendapatan sebagai BUMN masuk ke kas negara. Tapi 
bukankah Pertamina kehilangan potensi keuntungan karena tidak bisa menjual 
produk gasnya dengan harga tinggi dan konsumen industri terkena getah karena 
biaya produksi meningkat karena harga gas tinggi....ujung-ujungnya berimbas 
pula ke penerimaan pajak negara dan ekonomi riil rakyat. Jadi ibarat terima 
banyak uang di kantong kiri, tapi hilang banyak uang di kantong kanan

 

Note: Berita Jakarta Pos hari ini, konsumen industri di Jawa Barat teriak 
gara-gara PGN menaikkan harga gas 50% secara tiba-tiba akibat harga beli mereka 
dari produser juga naik ....  
<http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/15/pgn-raises-gas-prices-almost-50-percent-west-java.html>
 
http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/15/pgn-raises-gas-prices-almost-50-percent-west-java.html

 

Lantas saya baca berita lain yang yang menyebutkan bahwa PGN malah sekarang 
main di hilir dengan membeli satu KPS. Lha bukannya malah berpotensi conflict 
of interest nantiny...a ?

 

Tidakkah lebih baik kalau PGN dan Pertamina digabungkan saja supaya terjadi 
sinergy yang mantap dalam pengelolaan gas di tanah air? 

 

Eniwe  Ini hanya omongan punuk yang sok mikir negara......he he he

 

Salam

Oki

(Bangga pernah jadi anak didik pak Ong)

 

 



--- On Thu, 17/5/12, Ong Han Ling <[email protected]> wrote:


From: Ong Han Ling <[email protected]>
Subject: RE: [iagi-net-l] HARGA GAS !!! tURUN ???
To: [email protected]
Received: Thursday, 17 May, 2012, 1:26 AM

Harga gas yang disinggung oleh Pak Yanto adalah real. Sekarang di US harga gas 
berkisar antara $1.90-2.50/mmbtu untuk tahun 2012 turun dari tahun harga 
$12/mmbtu tahun 2008. US kebanjiran gas. Presiden Obama merencanakan penggunaan 
gas untuk transpor bus  antar kota besar dalam kurun waktu dua tahun kedepan.  
Pak Yanto juga menanyakan bagaiman efek ke pasaran Indonesia. Karena gas adalah 
commodity dunia dan bisa diangkut dengan LNG, maka harga pasar internasional 
berlaku. 

 

Turunnya harga gas terutama adalah karena penemuan shale gas. Yang disebut 
unncoventional gas adalah  CBM, tight gas, dan shale gas. Tight gas adalah 
konsep geologi lama, yaitu terdapat di antiklinal, sperti minyak. Sedangkan 
shale gas bisa terdapat dimana-man termasuk di sinklin, yaitu yang dulu disebut 
sebagai “dapurnya” atau batu induk/source rock. Ini merupakan revolusi dalam 
geologi (lih. slides). Karena terdapat di shale dengan permeabilitas milidarcy, 
maka gas tight sekali. Untuk mengeluarkan gas, shale perlu di-fracture dan 
pemboran horizontal dangan mengunakan coil tubing adalah yang efektif. 
Kombinasi revolusi dalam teknologi horizontal drilling, hydraullic fracturing, 
dan konsep geologi,menyebabkan produksi gas di US turun dari $12/mmbtu tahun 
2008 menjadi sekitar $2-2.50/mmbtu tahun 2012. 

 

Karena harga gas turun demikian drastisnya, maka produsen LNG akan memasuki 
pasaran Asia yang sangat lucrative. Indonesia yang dulunya monopoli LNG di 
Pacific akan mendapat persaingan. Di US yang tadinya membangun degassing plant 
untuk menerima LNG import sekarang berlomba membangun LNG plant untuk ekspor. 
Alaska sekarang kelebihan gas karena harga gas murah sekali hingga untuk 
disalurkan ke continental US, perlu harga sekitar $2/mmbtu. Gas di continental 
US hanya $2.50. Jadi gas Alaska tidak laku dan direncanakan untuk membangun LNG 
untuk pasaran Jepang, Korea, and Jepang. British Columbia (BC) akan membangun 
LNG dari shale gas dan sudah dapat izin ekspor dengan tujuan pasaran Asia. 
Petronas akan membangun LNG di BC.  Bahkan Lousiana akan dibangun beberapa LNG 
plant untuk ekspor. Sabine, Lousiana, akan ekspor LNG tiga tahun lagi dengan 
tujuan Asia dengan diperlebarnya Panama Canal. Ongkos angkut dari Lousiana ke 
Asia, paling-paling berbeda $1/mmbtu. Bahkan Sempra, pembeli LNG Tangguh, akan 
membangun LNG di Lousiana tanpa punya gas dan hanya akan memproses LNG dari gas 
siapa saja dengan harga $3,50/mmbtu. 

 

Australia akan membangun delapan pabrik LNG yang sudah disetujui Foreign Direct 
Investment (FDI). Ada 5 LNG plant dalam perencanaan dan 4 dalam ekspansi.  Gas 
di Western Austrlia berupa associated gas, proven reserve 160 TCF dan dari CBM 
di Queensland 50 TCF.  

 

Bagaimana dengan Indonesia. Sebetulnya menyedihkan. Proven reserve Masela 
sekitar 6-14 TCF. Dongi hanya 1-3TCF. Persetujuan FID Masela paling cepat 2015. 
Artinya baru pada tahun 2015 kita mengetahui apakah Masela akan diproduksi atau 
tidak. Kita terlalu lama mengambil keputusan. Kita tidak pernah belajar dari 
kesalahan sebelumnya. Sebetulnya waktu zaman Suharto peluang besar untuk 
produksi Exxon Natuna. Peluang tsb. telah hilang. Gas Natuna tidak akan bisa 
diproduksi lagi secara ekonomis dengan kompetisi yang demikian banyaknya. 
Mungkin ada baiknya kita simpan untuk anak cucu kita, yaitu 20-40 tahun lagi. 

 

Dengan impor gas LNG dari Bontang ke Jakarta lewat terminal degassing di teluk 
Jakarta, terjadi perubahan paradigma gas di Indonesia. LNG ke Jakarta harganya 
sekitar $11/mmbtu. Kita jual ke Taiwan, Korea, dan Jepang sekitar $16/mmbtu. 
Berarti kita secara terselubung melakukan subsidi gas sebesar $5/mmbtu. LNG 
dari Wiryagar dijual ke Fujian, China dan Korea sekitar $3.40/mmbtu. Ini 
berarti kita subsidi gas ke China dan Korea sebesar $12.60/mmbtu (16-3.40). 
Artinya LNG yang kita impor ke Jakarta maupun yang kita ekspor ke luar negeri, 
keduanya kita berikan subsidi terselubung. Artinya subsidi minyak akan terulang 
lagi. Minyak sudah mulai habis, dan kita sekarang melakukan subsidi gas yang 
relatip masih berlimpah. Apakah ini yang kita kehendaki?  

 

Beberapa minggu yang lalu produsen gas K3S di Jawa dan Sumatra senang karena 
Pemerintah menyetujui kenaikan harga gas sampai dua kali karena sudah beberapa 
tahun tidak  dapat kenaikan. Harga baru berkisar antara $5-6/mmbtu. Pemerintah 
juga senang karena penambahan pendapatan Negara yang cukup significant. 

 

Pemerintah telah berani membayar harga LNG sampai $11/mmbtu ditambah regassing 
$1/mmbtu, atau gas pipa $12/mmbtu. Sebagai konsekwensi impor LNG dari Bontang, 
maka Pemerintah sebaiknya juga berani memberikan harga $12/mmbtu untuk delivery 
Jawa untuk penemuan gas baru. Dengan demikian ini akan mengiatkan eksplorasi 
pencarian gas termasuk CBM, tight gas, dan shale gas. Di geologi ada kaidah, 
kalau dicari pasti dapat. Dengan penemuan-penemuan gas baru, maka gas dari 
Bontang bisa dijual kembali ke Taiwan/Jepang/Korea dengan harga $16/mmbtu.

 

Bersama ini saya sampaikan beberapa slides tentang Unconventional gas:  
eksplorasi, produksi, dan harga LNG pasaran Asia Pacific yang saya ambil dari 
kuliah S2 ITB.

 

Moga-moga ketrerangan singkat ini berguna.

 

Salam,

 

HL Ong   

  

 

From: Mufarazi [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, May 16, 2012 10:02 AM
To: <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] HARGA GAS !!! tURUN ???

 

Betul juga ya pak, dulu saya juga mengira seperti minyak, gas akan terpengaruh 
isu global, tapi ternyata di mid-east, gas berlimpah dari qatar dan Iran, tetap 
aja Oman meringis mencari yg mau jual gas gak dapat-dapat. Sampai2 tight gas 
production (horizontal + hydraulic fract) jadi ekonomis

Razi 

2708


On May 15, 2012, at 10:37 AM, rakhmadi avianto <[email protected]> 
wrote:

Saya kira ngga Abah, karena gas itu melimpah di US, kalo di bawa rebet, jadi 
ngga mungkin ngaruh ke pasaran di luar US.
Contoh gas dari Rusia bisa di pipa ke Eropa, maka harganya bagus

Demikian Abah, gimana kemarin apa bagus maen Golfnya

Avi

2012/5/15 Yanto R. Sumantri <[email protected]>

Rekan anggota IAGI

 

Katanya harga narural gas di USA sudah berada dibawah kisran US 2.00 per MBtu,

apakah ini akan berdampak kepada harga natural gas dunia ?

Sampai dimana hal ini akan berdampak pada harga gas domestik ?

 

Mohon pecerahannya . Terima kasih.

 

si Abah

 

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman 
abstrak 28 Februari 2012.
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

 

Kirim email ke