Pernyataan dari Pak Wamen ini harus ditinjau dr skup lebih luas, yaitu 
pernyataan dari Pemerintah RI. Beliau hanya "juru bicara" dari kasus ini. Jadi 
kurang proporsional kalau menyalahkan Pak Wamen secara personal.
Kasus nasionalisasi migas di Venezuela juga efek dari kepemimpinan yg sangat 
nasionalis dan berani, seperti Bung Karno. Tapi entah apa efek dari 
nasionalisasi beberapa tahun lalu itu terhadap produksi migas Venezuela, apakah 
menurun? Revenue bagaimana? Ada data?

Pertanyaan saya sbg orang awam di migas, apa blok Mahakam itu masih 100 persen 
dimiliki Total nantinya atau persentasenya sudah berkurang, misal 50-50 dgn 
Pertamina (tp operator masih Total)? Apa tidak dipikirkan alternatif semisal 
menawarkan blok lain di luar Mahakam tp masih di Indonesia, jadi bahasanya 
"memindahkan" bukan "mengusir" seperti Chavez?
Btw, masalah Blok Mahakam ini tidak seramai Blok Cepu dulu di media massa main 
stream dan kalangan DPR ya, apa karena Perancis bukan AS?




Gayuh Putranto
IAGI - 3583


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Agung Adi Susanto" <[email protected]>
Date: Sun, 21 Oct 2012 01:42:35 
To: <[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Ini Bahayanya Kalau Pemerintah Usir Total Cs
Semakin "Wow" aja nih berita.... :) 

--------------------------
Jumat, 19/10/2012 15:42 WIB

Ini Bahayanya Kalau Pemerintah Usir Total Cs

Rista Rama Dhany - detikFinance 

Jakarta - Kontrak Total E&P Indonesie dalam pengelolaan Blok Mahakam di 
Kalimantan Timur akan segera berakhir pada 2017. Ada wacana keinginan 
'mengusir' Total dan menyerahkan pengelolaannya kepada Pertamina, tetapi jika 
sampai itu terjadi dampaknya akan berbahaya khususnya buat anak cucu rakyat 
Indonesia, Loh kok bisa?

Hal tersebut seperti diungkapkan Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral 
(ESDM) Rudi Rubiandini, kalau Indonesia meniru gaya Venezuela mengusir para 
investor asingnya justru berbahaya, pasalnya negara-negara seperti itu memang 
siap untuk dikucilkan dunia Internasional.

"Tapi apakah Indonesia mau dikucilkan tentunya tidak, kalau kita mengusir para 
investor asing yang telah menanamkan investasinya di Indonesia yang membantu 
Indonesia hingga kita bisa memakai pakaian bagus, bisa gaji guru, gaji polisi, 
TNI, bangun sekolah, jangan sampai itu terjadi," kata Rudi dalam diskusi Solusi 
di Bidang Energi dan Pertambangan di Kantor Pusat Nahdatul Ulama, Jumat 
(19/10/2012)

Dikatakan Rudi, Indonesia memang sengaja mengundang para investor tersebut 
sejak tahun 1945, kalau tidak Indonesia tidak akan mampu mengelola sumber daya 
Alamnya disektor Migas dimana pendapatan dari sektor Migas mencapai Rp 300 
triliun.

"Indonesia tidak akan mampu kelola sendiri sektor Migasnya, makanya kita dulu 
mengundang mereka, jadi kita bisa nikmati pendapatan di sektor Migas yang 
mencapai Rp 300 triliun itu. Jadi kalau saat ini ada eforia kita mampu kelola 
sendiri, ya jangan untuk mengusir mereka," kata Rudi.

Asal tahu saja kata Rudi, produksi minyak Indonesia pernah sampai menyentuh 1,6 
juta barel per hari, itu karena Chevron, Total, BP dan perusahaan migas Asing 
berhasil menemukan cadangan minyak sangat besar.

"Tangguh, Minas, Duri dan lainnya yang menemukan ya mereka juga (perusahaan 
asing), kita? tidak ada, makanya sampai saat ini produksi minyak kita terus 
turun. Kenapa tidak mencari sendiri, itu tidak mudah, biaya eksplorasi satu 
sumur minyak saja mencapai US$ 400 juta, itu harus kas tidak bisa pinjam 
uangnya, dan belum tentu dapat bahkan lebih sering tidak dapatnya, makanya itu 
kita undang perusahaan asing," tutur Rudi.

Jadi, kalau sekarang Indonesia main usir-usir investor asing disektor Migas, 
akan menjadi kesan buruk bagi investor.

"Kalau sampai investor enggan masuk lagi di Indonesia,bahaya,kasihan anak cucu 
kita, tidak bisa menikmati hasil pengelolaan sumber daya alamnya. Jadi konsep 
usir mengusir itu merupakan kesalahan fatal, akan sebabkananak cucu kita 
merana," tandas Rudi.

http://m.detik.com/finance/read/2012/10/19/154223/2067296/1034/ini-bahayanya-kalau-pemerintah-usir-total-cs

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kirim email ke