Ini emang masalah klasik, tapi tidak semerdu Beethoven.
Pada zaman p Kardaya jadi bos Patrajasa, dia sampai roadshow ke amrik sana, 
belum di Indonesia omong disana sini, menyatakan bahwa sistem penggajian 
bumiputera akan diubah (saat itu lagi gencarnya braindrain ahli perminyakan).
Sampai dia turun dan penggantinya memperkenalkan konsep "Indonesian 
Incorporated". Intinya BPMIGAS adalah holding co utk HR national kan logonya 
dah nempel diseluruh badge KKKS, jadi bisa mindahin  employee dari satu KKKS ke 
KKKS lainnya.
Saking semangatnya, waktu itu saya undang petinggi HR nya utk bicara di suatu 
forum regular para operator migas.. Ternyata paparan dia g begitu nyambung 
dengan slide presentasi pak kepala di forum HR sebulan sebelumnya di Bali.. 
Jadi pantes kalo konsep yg bagus inipun kandas, wong di internal mereka saja g 
ada kesepahaman. 
Jadi memang kita masih ☺kέ☑..:D sebatas konsep doang.

Salam,

“_^

-----Original Message-----
From: Andang Bachtiar <[email protected]>
Sender: <[email protected]>
Date: Wed, 03 Apr 2013 11:37:28 
To: iagi-net<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL
(Perolehan keahliannya dibiayai Migas "rakyat" Indonesia, ee,..Orang  
Asing yg memanfaatkannya) - krn kita tdk menghargai bangsa senDiri (?)

ADB, geologist merdeka!

Saya muLai dg fwd-an curhatan temen saya, seorang CEO sebuah  
perusahaan minyak di Jkt:

"Minggu lalu saya sempat diskusi dg bbrp teman yg saya anggap punya  
otoritas di urusan per-migas-an kita tentang expat bangsa asing. Saya  
menanyakan apakah saya boleh memakai tenaga expat nasional  
(berkewarganegaraan Indonesia), dg tarif sama dg expat asing, daripada  
uangnya utk orang asing, kan lebih baik buat WNI. Yg saya maksud expat  
nasional adalah tenaga ahli WNI tapi kerja di luar negeri dg  
pengaLaman internasional di mana2. Tapi ya begitulah .. diskusinya gak  
ada kesimpulan.... Karena untuk urusan kayak begini, mentogh2nya:  
Masih beLum ada mekanismenya dlm aturan2 di permigasan kita u/menggaji  
tenaga ahLi Indonesia menyamai atau Lebih besar dr penggaJian tenaga  
ahli asing."

(Pertanyaan saya: Memangnya mekanisme yg ada itu spt apa koq sampai  
tdk bisa mengakomodasi sistim penggajian berdasarkan fungsi, keaHLian  
dan prestasi, malahan koq berdasarkan ras "indonesia" vs asing :)

Memang masaLah penggajian expat vs nasionaL-indonesia ini lucu  
sekaLigus bebaL tp nyata: sejak dulu sampai Skrg. Gak waras2 ae awak  
dewe iki. Contoh waktu ada reorganisasi suatu kumpeni PSC/KKkS asing  
duLu, seorang rising star nationaL diangkat jadi VP dan akan digaji  
sama dengan VP yg expat tapi ditolak oleh otoritas migas karena  
berpaspor Indonesia berdasar aturan BAPENAS tidak boleh. Lalu kawan  
ini dipindah ke headquarternya di Calgary dan tetap bekerja untuk blok  
yg di Indonesia itu, digaji standard Expat menggunakan anggaran PSC  
Blok tsb dalam "head quarter overhead". Setelah itu kawan ini  
ditranfer lagi ke Indonesia dibayar pake dolar amrik standard expat,  
gajinya tetap dari Calgary pake duit PSC (head quarter overhead) dan  
tidak ditolak oleh otoritas kita. Wkwkwkwk. Padahal dananya berasal  
dari sumber yang sama produksi migas di Blok tsb.

Nah, masihkah kita akan mengulangi kebebaLan yg sama skrg ini dg  
mereka-reKa-yasa Lagi spy bisa menghargai bangsa sendiri? ApaLagi kaLo  
kita ingat bhw skrg ini banyak tenaga ahli migas WNI yg kerja di LN,  
mereka jadi pinter krn sdh dididik dg biaya Indonesia melalui cost  
recovery semasa mereka kerja di PSC ind. Sangat sayangkan, mereka jadi  
pinter di Indonesia tapi yg menikmati malah Petronas, Arab dll.  
Seharusnya keahlLian mrk itu bisaLah dinikmati Pertamina, Medco atau  
PSC Ind dg tarif yg sama dg expat sesuai keahliannya.

Ayo dong, yang punya kuasa bikin2 aturan. Berhentilah bermain2 dg  
mendiskriminasi bangsa sendiri. Itu juga mungkin saLah satu penyebab  
knp gak kunjung bergerak maJu penemuan cadangan2 baru kita!

SaLam
ADB


Kirim email ke