Kang Yudi memang orang Indonesia jago konsep. Lihat cerita wayang ada konsep "Gatot Kaca" yang gagah bisa terbang, dalam realisasinya dibikin Tetuko di Nurtanio Bandung. Koq terbang sebentar saja kemudian nyaris tak terdengar. Ada konsep "Antareja" yang bisa ambles bumi sampai dalam. Perminyakan hiruk pikuk dengan pemboran, sampai sekarang tak satupun lahir pabrik Rig di negeri kita. Ada konsep "Togog (Ponokawan)", akhirnya banyak yang jadi Togog, sehingga menjadi Republik Togog. Sampai konsep sistim penggajian yg tetap jadi konsep saja.
Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: "Yudie Iskandar" <[email protected]> Sender: <[email protected]> Date: Wed, 3 Apr 2013 07:04:34 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL Ini emang masalah klasik, tapi tidak semerdu Beethoven. Pada zaman p Kardaya jadi bos Patrajasa, dia sampai roadshow ke amrik sana, belum di Indonesia omong disana sini, menyatakan bahwa sistem penggajian bumiputera akan diubah (saat itu lagi gencarnya braindrain ahli perminyakan). Sampai dia turun dan penggantinya memperkenalkan konsep "Indonesian Incorporated". Intinya BPMIGAS adalah holding co utk HR national kan logonya dah nempel diseluruh badge KKKS, jadi bisa mindahin employee dari satu KKKS ke KKKS lainnya. Saking semangatnya, waktu itu saya undang petinggi HR nya utk bicara di suatu forum regular para operator migas.. Ternyata paparan dia g begitu nyambung dengan slide presentasi pak kepala di forum HR sebulan sebelumnya di Bali.. Jadi pantes kalo konsep yg bagus inipun kandas, wong di internal mereka saja g ada kesepahaman. Jadi memang kita masih ☺kέ☑..:D sebatas konsep doang. Salam, “_^ -----Original Message----- From: Andang Bachtiar <[email protected]> Sender: <[email protected]> Date: Wed, 03 Apr 2013 11:37:28 To: iagi-net<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [iagi-net] MASALAH KLASIK: EXPAT vs NATIONAL (Perolehan keahliannya dibiayai Migas "rakyat" Indonesia, ee,..Orang Asing yg memanfaatkannya) - krn kita tdk menghargai bangsa senDiri (?) ADB, geologist merdeka! Saya muLai dg fwd-an curhatan temen saya, seorang CEO sebuah perusahaan minyak di Jkt: "Minggu lalu saya sempat diskusi dg bbrp teman yg saya anggap punya otoritas di urusan per-migas-an kita tentang expat bangsa asing. Saya menanyakan apakah saya boleh memakai tenaga expat nasional (berkewarganegaraan Indonesia), dg tarif sama dg expat asing, daripada uangnya utk orang asing, kan lebih baik buat WNI. Yg saya maksud expat nasional adalah tenaga ahli WNI tapi kerja di luar negeri dg pengaLaman internasional di mana2. Tapi ya begitulah .. diskusinya gak ada kesimpulan.... Karena untuk urusan kayak begini, mentogh2nya: Masih beLum ada mekanismenya dlm aturan2 di permigasan kita u/menggaji tenaga ahLi Indonesia menyamai atau Lebih besar dr penggaJian tenaga ahli asing." (Pertanyaan saya: Memangnya mekanisme yg ada itu spt apa koq sampai tdk bisa mengakomodasi sistim penggajian berdasarkan fungsi, keaHLian dan prestasi, malahan koq berdasarkan ras "indonesia" vs asing :) Memang masaLah penggajian expat vs nasionaL-indonesia ini lucu sekaLigus bebaL tp nyata: sejak dulu sampai Skrg. Gak waras2 ae awak dewe iki. Contoh waktu ada reorganisasi suatu kumpeni PSC/KKkS asing duLu, seorang rising star nationaL diangkat jadi VP dan akan digaji sama dengan VP yg expat tapi ditolak oleh otoritas migas karena berpaspor Indonesia berdasar aturan BAPENAS tidak boleh. Lalu kawan ini dipindah ke headquarternya di Calgary dan tetap bekerja untuk blok yg di Indonesia itu, digaji standard Expat menggunakan anggaran PSC Blok tsb dalam "head quarter overhead". Setelah itu kawan ini ditranfer lagi ke Indonesia dibayar pake dolar amrik standard expat, gajinya tetap dari Calgary pake duit PSC (head quarter overhead) dan tidak ditolak oleh otoritas kita. Wkwkwkwk. Padahal dananya berasal dari sumber yang sama produksi migas di Blok tsb. Nah, masihkah kita akan mengulangi kebebaLan yg sama skrg ini dg mereka-reKa-yasa Lagi spy bisa menghargai bangsa sendiri? ApaLagi kaLo kita ingat bhw skrg ini banyak tenaga ahli migas WNI yg kerja di LN, mereka jadi pinter krn sdh dididik dg biaya Indonesia melalui cost recovery semasa mereka kerja di PSC ind. Sangat sayangkan, mereka jadi pinter di Indonesia tapi yg menikmati malah Petronas, Arab dll. Seharusnya keahlLian mrk itu bisaLah dinikmati Pertamina, Medco atau PSC Ind dg tarif yg sama dg expat sesuai keahliannya. Ayo dong, yang punya kuasa bikin2 aturan. Berhentilah bermain2 dg mendiskriminasi bangsa sendiri. Itu juga mungkin saLah satu penyebab knp gak kunjung bergerak maJu penemuan cadangan2 baru kita! SaLam ADB

