Taman Majapahit (TM) diputuskan oleh Menbudpar (kala itu Jero Wacik) untuk dibangun di Trowulan. Lokasi TM diputuskan di sebelah selatan Segaran/Sogoro/Laut (berupa kolam besar yang dibangun era kejayaan Majapahit). Prof (emiritus) Mundarjito (sekarang berusia 77 th) kala itu masih aktip di Jurusan Arkeologi UI yang banyak meneliti Situs Majapahit di Trowulan, menentang pembangunan Taman Majapahit (TM) di lokasi itu. Menurut Mundardjito di lokasi itu dulu merupakan komplek perumahan pejabat tinggi Kerajaan Majapahit yang belum dilakukan penggalian/eskavasi arkeologi. Pada saat pembangunan TM dimulai dengan gedung/museum Pisat Informasi Majapahit (PIM), penggalian fondasi dilakukan. Prof Poppy dari jurusan Arkeologi UGM juga protes keras dengan berdemo bersama mahasiswanya jalan kaki dari Tugu ke Benteng Vredeburg. Melihat perkembangan situasi, Menbudpar menelpon Prof Mundardjito, Prof membacakan di telfon ke Menbudpar bunyi UU no. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya Prof Mundardjito bersama para arkeolog melakukan dengar pendapat dengan DPD yg telah membentuk Panitia Adhoc DPD. Hasil pengawasan oleh Panitia Adhoc III DPD menemukan bahwa pemerintah melanggar pasal 15 dan pasal 36 UU No. 5/1992 tentang benda cagar budaya. Setelah mendapat banyak kritik dari berbagai kalangan, akhirnya Menteri Jero Wacik mengumumkan penghentian pembangunan Taman Majapahit itu. Sekarang bangunan PIM mangkrak/tak bisa diselesaikan karena melanggar UU (Disarikan dari MBM Tempo minggu lalu).
Pak Wacik sewaktu menjadi Menbudpar kurang cermat terhadap Undang-Undang dibidangnya dalam membuat kebijakan/keputusan. Tidak heran kalau sekarang menjadi MESDM juga kurang peduli terhadap Revisi UU Migas yang menjadi domainnya. Sehingga Karut-Marut industri Migas belum terlihat arah solusinya. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: "Yanto R. Sumantri" <[email protected]> Sender: <[email protected]> Date: Mon, 8 Apr 2013 06:49:04 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->: [iagi-net] New Discovery - Malaysia Noor Dengan harga 6- 7 dollar , pelaku industri sudah menjerit lho. Lihat koran koran minggu lalu. si Abah ________________________________ From: noor syarifuddin <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, April 8, 2013 2:38 PM Subject: Re: [iagi-net] Siap-siap Net Import -->: [iagi-net] New Discovery - Malaysia Rekans, Saya kira import gas akan menjadi solusi pragmatis yang paling mudah dan sederhana (tinggal beli aja kok... :-) Tapi dengan mulai ditandatanganinya kontrak LNG ke Jepang oleh produsen shale gas untuk delivery tahun 2015/2016 dengan harga yang cukup tinggi dibanding harga HH (16$/mmbtu), maka sebaiknya kita mawas diri.... kalau pasar internasional nantinya jenuh karena ekspor shale gas ini, maka "berkah"nya adalah gas Indonesia harus masuk pasar lokal/domestik.... tapi kalau harganya masih di bawah 7-8 $/mmbtu apakah akan menjadi ekonomis untuk proyek-proyek di daerah forntier?... kalau tidak, maka sudah pasti proyeknya akan tertunda atau terhenti ibarat sakit jantung, ini adalah "pembunuh senyap" eksplorasi dan eksploitasi migas kita..... silakan diterka akan berapa banyak aktifitas eksplorasi dan pengembangan yang akan tertunda atau ditunda karenanya... salam, On 4/8/13, H Herwin <[email protected]> wrote: > Hallo Pak Rovicky, > Saya rasa fokus ke shale business di Amerika lebih di dorong oleh > kepentingan bisnis dibanding dengan sekadar nasionalisme. Keberhasilan > shale gas memang membuat harga gas di sana (Henry Hub) menjadi sangat > rendah, ini yang membuat industri di sana berpindah ke shale "wet gas" dan > shale oil. Produksi liquid yang membuat shale industry di Amerika masih > menarik walaupun harga gasnya sangat rendah. > > Iseng2 saya lihat draft corporate meeting HESS May ini di internet. > http://www.transforminghess.com/ > > HESS mempunyai asset Shale Oil yang bagus di Bakken (17% prod, 23% reserves > Hess group ada di sana) dan di emerging Utica Shale. Di Indonesia sendiri > asset mereka relatif kurang baik dibanding asset2 HESS yang lain dan hasil > ekplorasi mereka di tahun2 belakangan ini juga negative. > Saya tidak punyak akses ke www.ogj.com. Apakah Pak Rovicky bisa kirim > artikelnya. Export gas dari Amerika memang patut dicermati karena akan > mempengaruhi harga jual gas di Asia ................... Well, seperti bapak > bilang, bila harga gas sangat murah, tidak ada salahnya kita beli gas kan > ?? :) > > Salam hangat, > Henky > 2013/4/5 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > >> On Fri, Apr 5, 2013 at 2:24 AM, H Herwin >> <[email protected]>wrote: >> >>> Abah, >>> Kebetulan Newfield sedang berencana menjual portfolio mereka di Asia (Di >>> Cina dan di Malaysia), walaupun mereka mungkin berubah pikiran setelah >>> discovery ini :) Atau malah mengambil keuntungan karena nilainya jadi >>> lebih >>> tinggi .......... Strategi mereka ingin focul dgn shale asset mereka di >>> USA. >>> >> >> Wah kok strateginya mirip HESS juga ya. >> Shale gas/oil di Amerika ini banyak menyedot perhatian investor lokal >> untuk menanamkan di negerinya sendiri. Walau harga gas disananya jatuh >> tetep saja mereka ingin mengembangkan negaranya sendiri dengan dana >> sendiri >> dan dipakai sendiri (setahu saya debat ijin ekspor masih berlangsung >> seru). >> Intinya Amerika sedang berusaha untuk mencari pasokan "energi" untuk >> negerinya sendiri. >> http://www.ogj.com/articles/print/volume-111/issue-4/special-report-lng-update/us-debate-on-lng-exports-centered.html >> >> Sementara saya sedang berpikir realis (walau sebagai explorer tetap harus >> optimis), sedang concern kemungkinan Indonesia menjadi net importir LNG >> (2016) dan menjadi net import energi (setelah 2025). Padahal kita >> memiliki >> insentive demografi atau Demography Bonus tahun 2020-2030 dimana akan ada >> 180 juta tenaga kerja siap menjadi mesin yang perlu bahan bakar dan bahan >> baku. >> >> Kalau pembangunan FSRU, Electric Plant, pipelines, jaringan kabel >> distribusi dan infrastruktur lainnya tidak disiapkan maka akan terjadi >> braindrain tenaga kerja Indonesia ke negara-negara yang mampu memberikan >> "kerja". >> >> Doh piye iki ? >> >> RDP >> >> >

