Hallo mbak Ningsih, hallo Mbak Nita, & IBP lainnya Seru juga kalau udah ngobroling pendidikan dan pengalaman. Kalau pengalaman saya sendiri sih, saya selalu berpikir agar anak itu bisa seimbang dari pengalaman & pendidikannya. Setuju dengan Mbak ningsih, dimana saja disekolahkan, tentunya kita akan sekolahkan anak kita di tempat yang sesuai dengan selera & isi kantong kita. Tetapi tetap kita pantau perkembangannya secara keseluruhan. Wah jadi buka buku harian 10 tahun yl. saat anak-anak umur 13 - 11 & 5 tahun. Kebetulan anak-anak saya sekolah di sekolah swasta, satu yayasan. Dulu saya pikir praktis aja, bisa libur bareng. Sebulan menjelang libur, ajak mereka ber3 untuk merencanakan perjalanan, dengan syarat rapor gak ada merah. Bagi tugas, si Kakak hobi baca peta & koran, akan menyerahkan kliping daerah tujuan wisata. No 2 tugas pegang kas kecil. Si bungsu (anak bawang, kata kakak-kakaknya) praktis bantu-bantu packing, sesuai daftar yang kami kemas bersama. Back packing ke mana ? Anak-anak pilih Yogya. Dari Bali kami naik bis malam & tiba di kantor bis malam di depan Ambarrukmo Palace, pagi hari jam 6. Kebetulan bau gudeg & ayam goreng menyambut kami sekelg begitu turun dari bis. Sarapan dulu sebelum ke hotel di Sartika di Prawiro Taman. Selanjutnya eksplorasi Borobudur, Prambanan sampai Solo, naik bis & KA Yogya - Solo pp. (Becak & andong nggak ketinggalan juga) Ternyata ini perjalanan yang paling mengesankan anak-anak, dan menjadi kunci pembuka kesenangan mereka untuk bertualang. Saat akhir ujian SMP, si Kakak & seorang temannya main ke Biak, Papua (mengunjungi ortu temannya yang berdinas di sana) naik kapal Pelni, tanpa kami dampingi. Si bungsu yang sekarang sudah 15 tahun, mulai punya hobby jalan juga.Dan selalu menuliskan rencana perjalannya, segera setelah menerima jadwal liburan dari sekolahnya. Pernah dia mengajak untuk booking tiket AA, untuk 6 bulan kedepan, karena AA jadi murah, terutama untuk perjalanan dalam negeri. Tapi sayang sekali, kalau kita tanya maskapai penerbangan domestik lainnya, mereka pasti jawab : adanya kelas ekonomi biasa, yang promo belum di buka. Jadi pengalaman & pendidikan, bisa berjalan seiring.................khan, tentunya sesuai kemampuan anak itu sendiri (karena yang no 2 nggak senang backpacking). Salam IBP E_P
--- On Mon, 9/8/08, Ningsih <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Ningsih <[EMAIL PROTECTED]> Subject: RE: [indobackpacker] (Pilih mana?) Pengalaman atau pendidikan To: "'Nita Sellya'" <[EMAIL PROTECTED]>, [email protected] Date: Monday, September 8, 2008, 3:28 AM Halo Nita, Memang kita sebagai orang tua pingin anak kita punya pengetahuan dan pengalaman yang banyak. Kalau saya mungkin masih konvensional. Pendidikan formal itu perlu. Pilihannya mau di sekolah internasional, nasional plus, negeri,swasta, itu tergantung kemampuan orang tua dan kemampuan anak. Kalau materi sekolah kurang, bisa tambah kursus bahasa yang dirasa perlu. Karena kan ngga ngejamin sekolah internasional itu akan berjiwa backpacking. Tapi kalau Nita merasa perlu menyekolahkan di international school , ya monggo. Di sisi lain, pengetahuan dan pengalaman yang didapat dalam perjalanan mungkin akan memperkaya jiwa anak-anak. Dia akan ingat apa saja yang sudah dia dapat di jalan. Tapi, apa sih yang didapat di jalan ? Contohnya begini, kalau dia punya pengetahuan formal mengenai sejarah proklamasi Indonesia, tentu dia akan bisa mengembangkan daya pikirnya kalau diajak ke Tugu Proklamasi, dibanding jika tidak ada background sama sekali. Begitu juga di tempat lain. Mas Agustinus Wibowo pun biar backpacking ke mana-mana dia tetep menyelesaikan sekolahnya. Ah tapi pada intinya, dua-duanya bisa dijalankan secara bersamaan karena dua-duanya saling melengkapi. Tapi kalau disuruh milih mana yang utama, ya pendidikan formal lah , kalau saya, ya. Salam, Ningsih From: indobackpacker@ yahoogroups. com [mailto:indobackpacker@ yahoogroups. com] On Behalf Of Nita Sellya Sent: Monday, September 08, 2008 12:32 PM To: indobackpacker@ yahoogroups. com Subject: [indobackpacker] (Pilih mana?) Pengalaman atau pendidikan Dear temans, Barusan saya chat dengan sahabat saya. Saya bilang ke dia, bahwa saya mau ngajarin anak saya untuk mulai jadi backpacker kecil. Saya sudah punya plan untuk bawa dia ke sini tahun ini, ke sana tahun itu, ke situ tahun nanti. Saya punya pendapat bahwa apa yang dia lihat, lakukan dan rasakan, akan semakin menambah pengetahuan dan pengalaman. Sementara teman saya tidak setuju. Dia menyarankan agar saya lebih baik menyekolahkan anak saya ke sekolah Internasional yang bertaburan di Jakarta. Menurutnya yang penting anak saya jago dulu bahasa asingnya dan culture sekolah internasional, ke sananya pasti ada kesempatan. Kalau menurut teman-teman sendiri, mana yang lebih menjadi pilihan: Mengajarkan pendidikan "on the road", atau memajukan pendidikan formal ke anak? Salam, Nita Sellya www.BackpackingTale s.com [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
