Saya tidak akan memilih. Tapi menggunakan dua2nya. Tanpa pengalaman, seseorang seperti duduk di singgasana, tidak ada interaksi dengan lingkungan dan dunia nyata. Bukankah backpacking itu adalah bagian dari pembelajaran hidup yang ngga bisa diperoleh di bangku sekolah?
Nah 'pendidikan' itu bisa non formal (seperti terjun dalam kemasyarakatan) atau formal (kursus, sekolah dll). Saya mengkatagorikan backpacker sebagai pendidikan NON formal seperti kursus tapi ndak ada gurunya. Learning by doing. Urusan backpacker dengan anak sebenarnya hanya memberikan dasar2 pengenalan terhadap dunia itu sendiri, masalah travellingnya si anak ya ngga dilibatkan. Mosok disuruh bantuin ibuknya pesen tiket pesawat? he he he.. Tugas ortu sih seperti Deedee bilang menyampaikan informasi (atau isi atau konten) dari backpacking. Kalau si anak dibawa nonton penyu bertelur, pesan apa yang mau diberikan padanya. Oh si penyu lucu ya, atau si penyu ternyata bisa bikin telur sampai ratusan loh. Level informasi yang disampaikan ke anak itu juga terbatas sekali. Disesuaikan dengan umur dan kemampuannya. Apakah lantas dicekoki dengan pesan2 menjaga lingkungan yang sangat kompleks? jargon2 enviromentalist ala greenpeace? Menurut saya pengalaman dan pendidikan itu sejalan. Yang diperlukan adalah PROSES. Tidak ada yang bisa dihasilkan dengan INSTAN. Maksudnya backpacking 3 bulan apakah terus jadi jagoan. Nups...yang terpenting adalah apa yang kita dapat dari perjalanan itu sendiri. Backpacking ataupun sekolah itu adalah proses yang terus berjalan. Apakah kalau lulus lantas selesai belajar? Nups... Belajar adalah proses yang tanpa henti. *note : belajar tidak selalu sekolah --- In [email protected], deedee <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Dan kalo mau punya/sharing pengalaman awal sebagai backpackers ke anak2, sebaiknya dari jarak2 yang dekat dulu, > ambil lesson learnt yang di dapat di setiap perjalanan, baru kemudian melakukan travelling ke tempat yang lebih jauh atau yang "medan" nya lebih sulit > > > salam, > deedee >
