Mbak Ambar & temans, 

Pertanyaan standar dari orang2 ketika mereka tau saya suka traveling - bahkan 
pertanyaan standar di pertemuan2 travelers - adalah : "Udah pernah kemana aja?"

Jawab dalam hati : "Emang penting?" 

Jawab biar cepet : "Belum pernah kemana-mana"

Bukankah pertanyaan yg lebih penting : apa yg sudah didapat dari explorasi2 via 
traveling selama ini? 

Makin lama saya semakin heran begitu banyak travelers di berbagai tempat, 
bergerombol2 dengan baju dan ransel funky, tapi tampak begitu terasing dari 
tempat dan penduduk yg dikunjunginya. Mereka mengingatkan saya seperti para 
penonton yang memandang ikan2 dari balik kaca aquarium, dan bukan terjun 
merasakan, menjadi dan memahami ikan di destinasi2 yg dikunjungi. Pada saat yg 
sama, maka para penduduklah yang kemudian menjadi penonton para travelers 
seolah2 ikan2 di balik kaca aquarium, karena para travelers itu terasa begitu 
jauh dan asing menjaga jarak. Apalagi saat travelers/tourists2 ini sibuk foto2 
dengan gaya dan kostum yg aneh2 untuk ditunjukkan ke teman2nya demi mengangkat 
"harkat dan martabat biar eksis" karena sudah pernah kesana kesini. Yang paling 
parah dari semua tingkah polah para "travelers for envy" itu adalah travelers 
yg tidak peduli : membuang sampah plastik, coret2 dan vandalisme lainnya. 

Ketika suatu saat disco menjadi trend, maka saat ini trend itu adalah 
traveling. 

Seluruh respon saya atas topik mbak ambar dirangkum dgn sangat tepat oleh 
jawaban mas Puguh dibawah ini. 

Salam, 

Tari

YM ID : [email protected]
http://kuntarini.multiply.com
http://profiles.friendster.com/kuntarini


--- On Sun, 7/25/10, Puguh <[email protected]> wrote:

> From: Puguh <[email protected]>
> Subject: [indobackpacker] Re: Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas
> To: [email protected]
> Date: Sunday, July 25, 2010, 2:20 PM
> 
> Mbak Ambar;
> 
> Beberapa minggu lalu saya menemukan istilah yang buat saya
> merangkum observasi saya: Conspicuous 
> consumption(http://en.wikipedia.org/wiki/Conspicuous_consumption)...
> apa bahasa ngapak-nya??
> 
> Travelling salah salah satu cara mudah menjadi wahana
> "Conspicuous consumption". 
> 
> Di dunia hobby lain juga saya perhatikan sering ada garis
> tipis antara mereka yang memang menekuni hobby sebagai
> 'panggilan jiwa', atau hanya karena hobby tersebut membantu
> menjelaskan status sosial.
> 
> Sisi baiknya; envy sells; rasa iri itu menjual. 
> 
> Dan Decartes harus merevisi pernyataan 'I think therefore I
> am', menjadi 'I buy therefore I am'.
> 
> Tabik;
> Puguh
> 
> 
> --- In [email protected],
> Ambar Briastuti <ambar.briast...@...> wrote:
> >
> 
> > 
> > Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan
> rasa penasaran. Tetapi
> > yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya
> destinasi. Proses untuk
> > melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah
> diukur dengan kemauan
> > kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita
> akrabi. Kalau membilang
> > travel adalah proses mengenali diri orang lain dan
> lingkungan, mungkin itu
> > lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak
> langsung.
> > 
> > Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle.
> Jadi jumlah uang yang
> > kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat
> sosial kita. "Jika
> > udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya
> banyak" begitu alasan
> > seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan
> pekerjaan saya. Gaji,
> > uang, spending power adalah ukuran life style
> seseorang, termasuk traveling
> > itu sendiri.
> > 
> > Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang
> traveling ke banyak
> > negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi
> benarkah itu juga
> > mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang
> ke China tapi tidak
> > tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati
> traveling sebagai vakansi
> > atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan
> tetek bengek proses
> > traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah
> sebuah 'show time'. Kita
> > tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang
> penampil ataupun membuat
> > undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan
> menikmati
> > pertunjukkan.
> > 
> 
> 
> 
> 
> ------------------------------------
> 
> Kunjungi website IBP:
> http://www.indobackpacker.com 
> 
> Silakan membuka arsip milis 
> http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   untuk
> melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.
> 
> SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan.
> Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 
> 
> Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak
> perlu dan kutip bagian yang perlu saja. 
> 
> Cara mengatur keanggotaan di milis ini:
> 
> Mengirim email ke grup: [email protected]
> (moderasi penuh)
> Mengirim email kepada para Moderator/Owner: 
> [email protected]
> Satu email perhari: [email protected]
> No-email/web only: [email protected]
> Berhenti dari milist kirim email kosong: 
> [email protected]
> Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: 
> [email protected]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
>     [email protected]
> 
> 
> 


      

Kirim email ke