BHM memang piawai. Tulisan anda mencerahkan, memberikan khasanah pengetahuan baru bagi saya. Memang di usia kita yang sudah kepala lima ini, salah satu yang bisa kita saksikan kepada adik2 yang lebih muda adalah betapa nikmatnya orang yang kaya pengetahuan sebab kemana dia pergi kemana dia bicara akan mencerahkan banyak orang lain. Memang ada dikatakan bahwa hanya yang berlebih yang bisa memberi. Ada masa masa kami dulu ketika masih muda memang cepat terbangun emosinya, tapi ya itulah kehidupan. Emosi kaum muda itu juga yang membawa kemerdekaan bagi bangsa ini jadi tidak buruk. Yang penting ada interaksi antara berbagai pandangan, hasilnya pasti baik.

Salam, BW

[EMAIL PROTECTED] wrote:
Salah satu fondasi mengapa Barat sekarang lebih maju secara teknologi
adalah karena mengembangkan budaya keterbukaan, seperti freedom of
_expression_ dsb. Dalam suasana itulah berbagai ide baru yang pada awalnya
oleh mainstream dianggap "sesat" dapat tumbuh dan berkembang menjadi
"mainstream" yang baru sebelum digantikan yang lebih baru lagi. Dalam
teori filsafat hal ini sering disebut sebagai teori dialetika. Jika ada
tesa selalu akan muncul reaksi anti tesa dan melalui dialog diantara
keduanya akan muncul sintesa.
Saya ingat pengalaman berkunjung ke Turki, mengunjungi peninggalan Sultan
Mehmet II, penguasa di zaman keemasan kesultanan Ottoman yang sempat
menjadi super power dunia saat itu, menguasai asia dan sebagian Eropa dan
hanya tertahan di gerbang kota Wina.
Menurut cerita teman Turki saya, saat itu Sultan mempunyai dua penasehat
agama yang bertengkar karena yang satu konservatif dan yang lainnya
liberal. Pertengkaran mereka adalah soal menafsirkan Islam. Yang liberal
mengatakan Al Quran harus selalu diinterpretasi ulang sesuai kemajuan
zaman sedangkan yang konservatif menentang hal itu dengan alasan Ottoman
menjadi paling maju karena mengikuti kitab suci apa adanya. Rupanya yang
konservatif menang dan yang liberal tersingkirkan. Akibatnya begitu
penemuan mesin cetak oleh Guttenberg mulai merebak langsung diharamkan
oleh penguasa Turki sementara di Eropa justru membuat monopoli agamawan
dalam penerbitan buku terbongkar oleh para satrawan dan ilmuwan yang
bergabung dengan pengusaha penerbitan baru untuk menyebarluaskan temuan
dan gagasan mereka ke khalayak luas. Sebaliknya Turki semakin konservatif,
Madrasah yang semula juga mengajarkan science dilarang dan hanya boleh
mengajarkan Al Qur'an. Observatori paling modern di dunia saat itu dibakar
karena dianggap menerbitkan ajaran sesat. Itulah awal kemunduran Turki dan
awal kemajuan teknologi Barat. Ironis. Barat keluar dari zaman gelap dan
menjalani rennaissance (pencerahan) dengan belajar dari dunia Islam saat
dunia Islam malah masuk era kegelapan. Indonesia harus belajar dari
pengalaman Turki. Mari kembangkan budaya terbuka. Toleran pada pikiran
yang berbeda. Mengembangkan dialog untuk memunculkan sintesa. Menyuburkan
lahan untuk tesa baru dan memupuknya dengan anti tesa yang baru pula.
Dorongan untuk menerbitkan SKB yang melarang "ajaran sesat" kalau
dibiarkan akan membuat Indonesia masuk ke alam kegelapan. Mari bangun
Indonesia yang terbuka, toleran dan technology friendly.

bhm



  
At 18:15 10/06/2008, Adi Indrayanto wrote:
    
Ooo ... jadi targetnya rame2 di milis itu keluar SKB 3 Menteri itu ya
mas ;-)  Jadi sudah tercapai ya targetnya ...
      
SKB 3 Menteri itu sarananya...ibarat seperti keputusan Pengadilan :-D
sehingga perasaan tegang sekarang telah menjadi lebih relax :-)

Salam,
Zaenal



    
salam,

-ai-


On Tue, Jun 10, 2008 at 5:54 PM, Achmad Zaenal Abidin
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      
Temans,

Setelah ancaman bentrokan horizontal antar
        
ummat Islam reda dengan keluarnya
      
SKB 3 Menteri, maka tolong posting
tentang kelanjutan dan atau opini yang berkembang setelah SKB 3
        
Menteri
      
tidak usah di posting di milist Indonesia.
Jadi untuk posting ini mohon tidak usah ditanggapi, apalagi kita tidak
        
tahu
      
latar belakang/trendensi politik penulisnya apa.

Untuk selanjutnya kita focus kembali ke missi
        
awal bagaimana Indonesia lebih
      
banyak mandiri dalam produk dan teknologi supaya lebih maju.

Salam,
Zaenal

At 17:18 10/06/2008, YADI supriadi wendy wrote:

fyi.............


Telah dimuat pada Harian Sinar Harapan, 9 Juni 2008



Rizieq, Munarman, dan Negara Kalah

Oleh Victor Silaen



     Pascainsiden Monas, Minggu siang 1 Juni lalu, Presiden Yudhoyono
mengecam aksi kekerasan dan pelaku kekerasan
        
yang membuat jatuhnya korban di
      
negara berlandaskan hukum ini. Karena itu, Presiden minta hukum
        
ditegakkan
      
dengan memberi sanksi secara tepat. "Negara tidak boleh kalah dengan
perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku untuk
kepentingan seluruh rakyat Indonesia," ujarnya dalam jumpa pers di
        
Kantor
      
Presiden (2/6/2008). Untuk itu Yudhoyono juga meminta agar dicari
        
solusi
      
damai dengan mengedepankan aturan hukum dan bukan dengan aksi
        
kekerasan.
      
Presiden juga minta pihak kepolisian meningkatkan kinerja agar lebih
        
siap,
      
cepat dan profesional.



     Sementara itu, Menteri Koordinasi
        
Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS
      
dalam jumpa pers usai rapat koordinasi yang dipimpin Presiden
        
mengatakan,
      
pemerintah akan mengambil langkah tegas terhadap siapa pun dan
        
organisasi
      
kemasyarakatan mana pun yang dinilai terlibat dan bertanggung jawab
        
atas
      
kejadian itu. Terkait kemungkinan pembubaran ormas, pemerintah
        
beranggapan,
      
langkah pembubaran hanya bisa dilakukan lewat proses pengkajian secara
hukum. "Saya kira terkait konteks pembubaran
        
ormas seperti itu akan terlebih
      
dahulu dilakukan dengan melakukan pengkajian oleh Departemen Dalam
        
Negeri,
      
terutama sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Ormas. Namun dipastikan
        
tetap
      
akan ada langkah hukum tegas bagi siapa pun pelakunya," ujar Widodo.



     Seakan meresponi pernyataan pihak
        
pemerintah, Ketua Mahkamah Konstitusi
      
Jimly Asshiddiqie meminta agar pemerintah bertindak tegas dan
        
menunjukkan
      
bahwa negara mampu melindungi setiap warga
        
negaranya. Jimly mengaku prihatin
      
dengan penyerangan oleh massa, yang sebagian mengenakan atribut Front
Pembela Islam (FPI), terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk
        
Kebebasan
      
Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Akan halnya Ketua Badan Pengurus
        
Setara
      
Institute Hendardi mengatakan, Presiden Yudhoyono harus bisa
        
membuktikan
      
pernyataannya bahwa negara tidak boleh kalah dengan perilaku
        
kekerasan.
      
Sebab, pernyataan itu sudah beberapa kali disampaikan, tetapi
        
kekerasan
      
seperti yang terjadi di Monas Minggu siang itu berulang kali terjadi.
"Jangan sampai pernyataan Presiden menjadi rutinitas tanpa substansi,"
katanya.



     Sore harinya, saya menyaksikan wawancara langsung antara TVOne
        
dengan
      
Habib Rizieq Shihab (Ketua Umum FPI) dan Maman Imanulhaq, anggota
        
Dewan
      
Syuro Partai Kebangkitan Bangsa dan pengasuh Pondok Pesantren Al
        
Mizan,
      
Cirebon, Jawa Barat. Maman adalah salah seorang korban penyerangan
        
massa
      
beratribut FPI di Monas Minggu siang yang naas itu. Sore itu, Rizieq
        
yang
      
berada di kantor pusat FPI di bilangan Petamburan, Jakarta, nyerocos
        
terus
      
dan nampak sangat garang (sementara Maman yang berada di sebuah tempat
        
yang
      
dijadikan studio TVOne nampak berupaya menahan diri).



    Namun, bukan itu yang patut dipersoalkan. Melainkan, ucapan-ucapan
Rizieq yang sangat melukai hati kita sebagai warga negara Indonesia.
        
Saat
      
itu Rizieq, antara lain, mengatakan: "Gus Dur itu tahu apa? Dia kan
        
buta...
      
buta matanya, buta hatinya." Lalu, di bagian lain dia juga berkata:
"Jangankan satu Gus Dur, satu juta Gus Dur pun akan saya hadapi."



     Bukankah ucapan Rizieq tersebut jelas-jelas sudah melecehkan Gus
        
Dur?
      
Relakah kita melihat seorang mantan presiden dilecehkan seperti itu?
        
Bahkan
      
(almarhum) Soeharto pun, yang diduga kuat sebagai koruptor dan
        
dianggap
      
sebagai salah satu penyebab kebangkrutan Indonesia, tidak pernah
        
dilecehkan
      
seperti itu setelah ia mengundurkan diri dari
        
jabatannya sebagai presiden 21
      
Mei 1998. Kemungkinannya, pertama, karena negara memang berkewajiban
melindungi setiap mantan presiden. Kedua, inilah yang patut kita
        
syukuri,
      
karena tidak seorang pun yang menyikapi Soeharto secara tidak santun.
Memang, jutaan orang tak pernah henti
        
mengkritiknya, namun tak satu pun yang
      
melecehkannya  seperti Rizieq melecehkan mantan presiden Gus Dur.



     Sementara Munarman, dalam tayangan di stasiun televisi swasta
        
MetroTV
      
pascainsiden Monas, antara lain mengatakan: "Kalau dalam satu dua hari
        
ini
      
Keppres untuk pembubaran Ahmadiyah sudah dikeluarkan, saya akan
        
menyerahkan
      
diri. Silakan tangkap saya, Munarman, sarjana hukum." Apa yang dapat
        
kita
      
komentari dari ucapan Munarman itu? Pertama, Munarman telah
        
memosisikan
      
negara sebagai pihak yang harus mengikuti
        
keinginannya. Tentu saja ia salah,
      
karena negara -- yang dalam konteks ini diwakili oleh pemerintah ­
        
hanya
      
boleh mengeluarkan atau tidak mengeluarkan sebuah keputusan
        
berdasarkan
      
pertimbangan-pertimbangan konstitusional dan rasional, dan bukan
        
karena
      
desakan pihak-pihak tertentu.



     Kedua, Munarman juga salah, karena secara tidak langsung ia
        
hendak
      
mengatakan bahwa aksinya di Monas dapat "dimaklumi" karena Ahmadiyah
        
belum
      
dibubarkan oleh pemerintah. Bagi dia, Ahmadiyah itu "sesat", sehingga
organisasi keumatannya tidak boleh dibiarkan hidup di Indonesia.
        
Karena
      
pemerintah belum juga membubarkan Ahmadiyah hingga Insiden Monas itu,
        
maka
      
dialah selaku Panglima Komando Laskar Islam
        
yang akan bertindak. Inilah yang
      
patut disesalkan. Sebagai seorang mantan
        
ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
      
Indonesia, mestinya Munarman paham bahwa aksinya di Monas 1 Juni itu
merupakan tindak pidana. Dan tindak pidana tetaplah sebuah kesalahan,
        
meski
      
di balik itu ia memiliki alasan atau motif tertentu.



     Ketiga, mestinya Munarman juga paham bahwa pemerintah secara
konstitusional tidaklah dibenarkan untuk
        
mengintervensi domain keagamaan dan
      
keberagamaan umat manapun di negara republik dan negara hukum ini. Itu
sebabnya, pihak-pihak yang mendesak agar pemerintah segera
        
mengeluarkan SKB
      
tentang Ahmadiyah sebenarnya secara tidak langsung berkeinginan
menjerumuskan negara ke jurang pelanggaran konstitusional.



     Berdasarkan itulah maka Presiden Yudhoyono bersama para
        
pembantunya di
      
kabinet serta aparat hukum dan keamanannya harus bersikap dan
        
bertindak
      
tegas terhadap FPI sebagai institusi, juga terhadap Rizieq dan
        
Munarman
      
sebagai warga negara. Jika Yudhoyono mengatakan negara tidak boleh
        
kalah,
      
itu berarti wibawa pemerintah harus ditegakkan. Para mantan presiden,
seperti halnya (amarhum) mantan presiden Soeharto, harus dilindungi
        
dan
      
dijaga kehormatannya. Karena itulah maka orang-orang yang bersalah
        
dalam
      
Insiden Monas harus dihukum, termasuk juga yang telah melecehkan
        
mantan
      
presiden Gus Dur.



     Presiden Yudhoyono juga perlu memperhatikan bahwa pelbagai
        
liputan
      
media elektronik hari-hari ini secara gamblang memperlihatkan bahwa
        
jutaan
      
rakyat Indonesia berada di kubu yang sama dengan Jimly Asshiddiqie dan
Hendardi. Bahwa kita semua membutuhkan bukti dan bukan sekadar janji
        
maupun
      
pernyataan tanpa tindak-lanjut yang konkret. Untuk itulah ke depan
        
Presiden
      
Yudhoyono harus terus memantau tindak lanjut penuntasan Insiden Monas
        
ini.
      
Indonesia adalah negara hukum, itu sebabnya negara harus menegakkan
        
semua
      
peraturan yang berlaku secara konsisten. Jika tidak, kita patut
        
meragukan
      
kalau-kalau para pemimpin negara ini cenderung mendukung pelanggaran
        
hukum
      
seperti halnya FPI.



     Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang tidak
        
berdaya
      
ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok massa berlabel agama yang
        
telah
      
berulangkali membuat negeri ini seakan
        
wilayah yang hampa-hukum (lawlessness
      
situation). Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang
        
tidak
      
mampu menghalau rasa cemas masyarakat di saat kelompok-kelompok massa
berlabel agama itu beraksi. Kita tidak ingin
        
Indonesia menjadi negara kalah,
      
yang tidak mampu melaksanakan fungsinya melindungi dan memberi rasa
        
aman
      
kepada masyarakat.



* Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol.




-- Berlombalah dalam karya, bersinergi,
        
terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
      
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
        
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
      
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

    



  
-- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke