Menarik sekali ulasannya Pak Bambang. Sepertinya sejarah sedang berulang di
tempat yang berbeda. Berdasarkan situasi nasional akhir2 ini, jadi gampang
membayangkan bagaimana dulu penasehat Sultan Mehmet II yang liberal kena
gebug, cekik, dan dipaksa "kembali ke jalan yang benar" hehehe

IS


2008/6/10 <[EMAIL PROTECTED]>:

> Salah satu fondasi mengapa Barat sekarang lebih maju secara teknologi
> adalah karena mengembangkan budaya keterbukaan, seperti freedom of
> expression dsb. Dalam suasana itulah berbagai ide baru yang pada awalnya
> oleh mainstream dianggap "sesat" dapat tumbuh dan berkembang menjadi
> "mainstream" yang baru sebelum digantikan yang lebih baru lagi. Dalam
> teori filsafat hal ini sering disebut sebagai teori dialetika. Jika ada
> tesa selalu akan muncul reaksi anti tesa dan melalui dialog diantara
> keduanya akan muncul sintesa.
> Saya ingat pengalaman berkunjung ke Turki, mengunjungi peninggalan Sultan
> Mehmet II, penguasa di zaman keemasan kesultanan Ottoman yang sempat
> menjadi super power dunia saat itu, menguasai asia dan sebagian Eropa dan
> hanya tertahan di gerbang kota Wina.
> Menurut cerita teman Turki saya, saat itu Sultan mempunyai dua penasehat
> agama yang bertengkar karena yang satu konservatif dan yang lainnya
> liberal. Pertengkaran mereka adalah soal menafsirkan Islam. Yang liberal
> mengatakan Al Quran harus selalu diinterpretasi ulang sesuai kemajuan
> zaman sedangkan yang konservatif menentang hal itu dengan alasan Ottoman
> menjadi paling maju karena mengikuti kitab suci apa adanya. Rupanya yang
> konservatif menang dan yang liberal tersingkirkan. Akibatnya begitu
> penemuan mesin cetak oleh Guttenberg mulai merebak langsung diharamkan
> oleh penguasa Turki sementara di Eropa justru membuat monopoli agamawan
> dalam penerbitan buku terbongkar oleh para satrawan dan ilmuwan yang
> bergabung dengan pengusaha penerbitan baru untuk menyebarluaskan temuan
> dan gagasan mereka ke khalayak luas. Sebaliknya Turki semakin konservatif,
> Madrasah yang semula juga mengajarkan science dilarang dan hanya boleh
> mengajarkan Al Qur'an. Observatori paling modern di dunia saat itu dibakar
> karena dianggap menerbitkan ajaran sesat. Itulah awal kemunduran Turki dan
> awal kemajuan teknologi Barat. Ironis. Barat keluar dari zaman gelap dan
> menjalani rennaissance (pencerahan) dengan belajar dari dunia Islam saat
> dunia Islam malah masuk era kegelapan. Indonesia harus belajar dari
> pengalaman Turki. Mari kembangkan budaya terbuka. Toleran pada pikiran
> yang berbeda. Mengembangkan dialog untuk memunculkan sintesa. Menyuburkan
> lahan untuk tesa baru dan memupuknya dengan anti tesa yang baru pula.
> Dorongan untuk menerbitkan SKB yang melarang "ajaran sesat" kalau
> dibiarkan akan membuat Indonesia masuk ke alam kegelapan. Mari bangun
> Indonesia yang terbuka, toleran dan technology friendly.
>
> bhm
>
>
>
> > At 18:15 10/06/2008, Adi Indrayanto wrote:
> >>Ooo ... jadi targetnya rame2 di milis itu keluar SKB 3 Menteri itu ya
> >>mas ;-)  Jadi sudah tercapai ya targetnya ...
> >
> > SKB 3 Menteri itu sarananya...ibarat seperti keputusan Pengadilan :-D
> > sehingga perasaan tegang sekarang telah menjadi lebih relax :-)
> >
> > Salam,
> > Zaenal
> >
> >
> >
> >>salam,
> >>
> >>-ai-
> >>
> >>
> >>On Tue, Jun 10, 2008 at 5:54 PM, Achmad Zaenal Abidin
> >><[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >> > Temans,
> >> >
> >> > Setelah ancaman bentrokan horizontal antar
> >> ummat Islam reda dengan keluarnya
> >> > SKB 3 Menteri, maka tolong posting
> >> > tentang kelanjutan dan atau opini yang berkembang setelah SKB 3
> >> Menteri
> >> > tidak usah di posting di milist Indonesia.
> >> > Jadi untuk posting ini mohon tidak usah ditanggapi, apalagi kita tidak
> >> tahu
> >> > latar belakang/trendensi politik penulisnya apa.
> >> >
> >> > Untuk selanjutnya kita focus kembali ke missi
> >> awal bagaimana Indonesia lebih
> >> > banyak mandiri dalam produk dan teknologi supaya lebih maju.
> >> >
> >> > Salam,
> >> > Zaenal
> >> >
> >> > At 17:18 10/06/2008, YADI supriadi wendy wrote:
> >> >
> >> > fyi.............
> >> >
> >> >
> >> > Telah dimuat pada Harian Sinar Harapan, 9 Juni 2008
> >> >
> >> >
> >> >
> >> > Rizieq, Munarman, dan Negara Kalah
> >> >
> >> > Oleh Victor Silaen
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Pascainsiden Monas, Minggu siang 1 Juni lalu, Presiden Yudhoyono
> >> > mengecam aksi kekerasan dan pelaku kekerasan
> >> yang membuat jatuhnya korban di
> >> > negara berlandaskan hukum ini. Karena itu, Presiden minta hukum
> >> ditegakkan
> >> > dengan memberi sanksi secara tepat. "Negara tidak boleh kalah dengan
> >> > perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku untuk
> >> > kepentingan seluruh rakyat Indonesia," ujarnya dalam jumpa pers di
> >> Kantor
> >> > Presiden (2/6/2008). Untuk itu Yudhoyono juga meminta agar dicari
> >> solusi
> >> > damai dengan mengedepankan aturan hukum dan bukan dengan aksi
> >> kekerasan.
> >> > Presiden juga minta pihak kepolisian meningkatkan kinerja agar lebih
> >> siap,
> >> > cepat dan profesional.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Sementara itu, Menteri Koordinasi
> >> Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS
> >> > dalam jumpa pers usai rapat koordinasi yang dipimpin Presiden
> >> mengatakan,
> >> > pemerintah akan mengambil langkah tegas terhadap siapa pun dan
> >> organisasi
> >> > kemasyarakatan mana pun yang dinilai terlibat dan bertanggung jawab
> >> atas
> >> > kejadian itu. Terkait kemungkinan pembubaran ormas, pemerintah
> >> beranggapan,
> >> > langkah pembubaran hanya bisa dilakukan lewat proses pengkajian secara
> >> > hukum. "Saya kira terkait konteks pembubaran
> >> ormas seperti itu akan terlebih
> >> > dahulu dilakukan dengan melakukan pengkajian oleh Departemen Dalam
> >> Negeri,
> >> > terutama sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Ormas. Namun dipastikan
> >> tetap
> >> > akan ada langkah hukum tegas bagi siapa pun pelakunya," ujar Widodo.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Seakan meresponi pernyataan pihak
> >> pemerintah, Ketua Mahkamah Konstitusi
> >> > Jimly Asshiddiqie meminta agar pemerintah bertindak tegas dan
> >> menunjukkan
> >> > bahwa negara mampu melindungi setiap warga
> >> negaranya. Jimly mengaku prihatin
> >> > dengan penyerangan oleh massa, yang sebagian mengenakan atribut Front
> >> > Pembela Islam (FPI), terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk
> >> Kebebasan
> >> > Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Akan halnya Ketua Badan Pengurus
> >> Setara
> >> > Institute Hendardi mengatakan, Presiden Yudhoyono harus bisa
> >> membuktikan
> >> > pernyataannya bahwa negara tidak boleh kalah dengan perilaku
> >> kekerasan.
> >> > Sebab, pernyataan itu sudah beberapa kali disampaikan, tetapi
> >> kekerasan
> >> > seperti yang terjadi di Monas Minggu siang itu berulang kali terjadi.
> >> > "Jangan sampai pernyataan Presiden menjadi rutinitas tanpa substansi,"
> >> > katanya.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Sore harinya, saya menyaksikan wawancara langsung antara TVOne
> >> dengan
> >> > Habib Rizieq Shihab (Ketua Umum FPI) dan Maman Imanulhaq, anggota
> >> Dewan
> >> > Syuro Partai Kebangkitan Bangsa dan pengasuh Pondok Pesantren Al
> >> Mizan,
> >> > Cirebon, Jawa Barat. Maman adalah salah seorang korban penyerangan
> >> massa
> >> > beratribut FPI di Monas Minggu siang yang naas itu. Sore itu, Rizieq
> >> yang
> >> > berada di kantor pusat FPI di bilangan Petamburan, Jakarta, nyerocos
> >> terus
> >> > dan nampak sangat garang (sementara Maman yang berada di sebuah tempat
> >> yang
> >> > dijadikan studio TVOne nampak berupaya menahan diri).
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >     Namun, bukan itu yang patut dipersoalkan. Melainkan, ucapan-ucapan
> >> > Rizieq yang sangat melukai hati kita sebagai warga negara Indonesia.
> >> Saat
> >> > itu Rizieq, antara lain, mengatakan: "Gus Dur itu tahu apa? Dia kan
> >> buta...
> >> > buta matanya, buta hatinya." Lalu, di bagian lain dia juga berkata:
> >> > "Jangankan satu Gus Dur, satu juta Gus Dur pun akan saya hadapi."
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Bukankah ucapan Rizieq tersebut jelas-jelas sudah melecehkan Gus
> >> Dur?
> >> > Relakah kita melihat seorang mantan presiden dilecehkan seperti itu?
> >> Bahkan
> >> > (almarhum) Soeharto pun, yang diduga kuat sebagai koruptor dan
> >> dianggap
> >> > sebagai salah satu penyebab kebangkrutan Indonesia, tidak pernah
> >> dilecehkan
> >> > seperti itu setelah ia mengundurkan diri dari
> >> jabatannya sebagai presiden 21
> >> > Mei 1998. Kemungkinannya, pertama, karena negara memang berkewajiban
> >> > melindungi setiap mantan presiden. Kedua, inilah yang patut kita
> >> syukuri,
> >> > karena tidak seorang pun yang menyikapi Soeharto secara tidak santun.
> >> > Memang, jutaan orang tak pernah henti
> >> mengkritiknya, namun tak satu pun yang
> >> > melecehkannya  seperti Rizieq melecehkan mantan presiden Gus Dur.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Sementara Munarman, dalam tayangan di stasiun televisi swasta
> >> MetroTV
> >> > pascainsiden Monas, antara lain mengatakan: "Kalau dalam satu dua hari
> >> ini
> >> > Keppres untuk pembubaran Ahmadiyah sudah dikeluarkan, saya akan
> >> menyerahkan
> >> > diri. Silakan tangkap saya, Munarman, sarjana hukum." Apa yang dapat
> >> kita
> >> > komentari dari ucapan Munarman itu? Pertama, Munarman telah
> >> memosisikan
> >> > negara sebagai pihak yang harus mengikuti
> >> keinginannya. Tentu saja ia salah,
> >> > karena negara -- yang dalam konteks ini diwakili oleh pemerintah ­
> >> hanya
> >> > boleh mengeluarkan atau tidak mengeluarkan sebuah keputusan
> >> berdasarkan
> >> > pertimbangan-pertimbangan konstitusional dan rasional, dan bukan
> >> karena
> >> > desakan pihak-pihak tertentu.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Kedua, Munarman juga salah, karena secara tidak langsung ia
> >> hendak
> >> > mengatakan bahwa aksinya di Monas dapat "dimaklumi" karena Ahmadiyah
> >> belum
> >> > dibubarkan oleh pemerintah. Bagi dia, Ahmadiyah itu "sesat", sehingga
> >> > organisasi keumatannya tidak boleh dibiarkan hidup di Indonesia.
> >> Karena
> >> > pemerintah belum juga membubarkan Ahmadiyah hingga Insiden Monas itu,
> >> maka
> >> > dialah selaku Panglima Komando Laskar Islam
> >> yang akan bertindak. Inilah yang
> >> > patut disesalkan. Sebagai seorang mantan
> >> ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
> >> > Indonesia, mestinya Munarman paham bahwa aksinya di Monas 1 Juni itu
> >> > merupakan tindak pidana. Dan tindak pidana tetaplah sebuah kesalahan,
> >> meski
> >> > di balik itu ia memiliki alasan atau motif tertentu.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Ketiga, mestinya Munarman juga paham bahwa pemerintah secara
> >> > konstitusional tidaklah dibenarkan untuk
> >> mengintervensi domain keagamaan dan
> >> > keberagamaan umat manapun di negara republik dan negara hukum ini. Itu
> >> > sebabnya, pihak-pihak yang mendesak agar pemerintah segera
> >> mengeluarkan SKB
> >> > tentang Ahmadiyah sebenarnya secara tidak langsung berkeinginan
> >> > menjerumuskan negara ke jurang pelanggaran konstitusional.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Berdasarkan itulah maka Presiden Yudhoyono bersama para
> >> pembantunya di
> >> > kabinet serta aparat hukum dan keamanannya harus bersikap dan
> >> bertindak
> >> > tegas terhadap FPI sebagai institusi, juga terhadap Rizieq dan
> >> Munarman
> >> > sebagai warga negara. Jika Yudhoyono mengatakan negara tidak boleh
> >> kalah,
> >> > itu berarti wibawa pemerintah harus ditegakkan. Para mantan presiden,
> >> > seperti halnya (amarhum) mantan presiden Soeharto, harus dilindungi
> >> dan
> >> > dijaga kehormatannya. Karena itulah maka orang-orang yang bersalah
> >> dalam
> >> > Insiden Monas harus dihukum, termasuk juga yang telah melecehkan
> >> mantan
> >> > presiden Gus Dur.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Presiden Yudhoyono juga perlu memperhatikan bahwa pelbagai
> >> liputan
> >> > media elektronik hari-hari ini secara gamblang memperlihatkan bahwa
> >> jutaan
> >> > rakyat Indonesia berada di kubu yang sama dengan Jimly Asshiddiqie dan
> >> > Hendardi. Bahwa kita semua membutuhkan bukti dan bukan sekadar janji
> >> maupun
> >> > pernyataan tanpa tindak-lanjut yang konkret. Untuk itulah ke depan
> >> Presiden
> >> > Yudhoyono harus terus memantau tindak lanjut penuntasan Insiden Monas
> >> ini.
> >> > Indonesia adalah negara hukum, itu sebabnya negara harus menegakkan
> >> semua
> >> > peraturan yang berlaku secara konsisten. Jika tidak, kita patut
> >> meragukan
> >> > kalau-kalau para pemimpin negara ini cenderung mendukung pelanggaran
> >> hukum
> >> > seperti halnya FPI.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >      Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang tidak
> >> berdaya
> >> > ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok massa berlabel agama yang
> >> telah
> >> > berulangkali membuat negeri ini seakan
> >> wilayah yang hampa-hukum (lawlessness
> >> > situation). Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang
> >> tidak
> >> > mampu menghalau rasa cemas masyarakat di saat kelompok-kelompok massa
> >> > berlabel agama itu beraksi. Kita tidak ingin
> >> Indonesia menjadi negara kalah,
> >> > yang tidak mampu melaksanakan fungsinya melindungi dan memberi rasa
> >> aman
> >> > kepada masyarakat.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> > * Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol.
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi,
> >> terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> >> > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> >> > akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> >> > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
> >>
> >>--
> >>Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> >>kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> >> akhirat.
> >>
> >>Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> >>http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
> >
> >
> > --
> > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> > akhirat.
> >
> > Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
> >
>
>
>
> --
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> akhirat.
>
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>



-- 
IS on Mozilla Firefox

Kirim email ke