Dua tahun yang lalu saya pernah meng kritik seorang teman seangkatan
yang mem promosikan kuliah di Amerika sebagai tempat pendidikan yang
baik bagi anak anak kita. Saya meng kritik karena pertimbangan usia
kuliah adalah masa yang paling pas untuk pemupukan paham kebangsaan
bagi anak2 kita, seolah saya mengatakan bahwa disana anak kita akan
menjadi bangsa lain. Saya kaget karena beberapa teman lain (bukan yang
saya kritik itu) meng kritik balik saya dan menjelaskan bagaimana
bagusnya system pendidikan dan kemasyarakatan disana...........Saya
segera sadar bahwa saya telah menjadi sempit pandang.
Belakangan teman yang saya kritik itu menjadi salah satu Direktur di
PLN.
Mudah2an pengalaman ini menjadi sharing pendapat yang bermanfaat bagi
teman2 disini.
PS : Sekalipun rasialisme masih cukup terasa di Amerika, tetapi yang
saya dengar konstitusi mereka sangat bagus. Itu yang menjadi dasar
optimisme sebagian kalangan untuk Barack Obama bisa menjadi Presiden.
Salam,BW
Nursalim Hadi wrote:
> Amerika pun yang gembar gembor
dengan
kebebasan, keterbukaan dan demokrasi sebenarnya omong >kosong. Warga
Amerika yang menyebarkan siaran Al-Manar dari Hezbollah dihukum.
Al-Jazera juga >dilarang, Presiden Ahmadinejat juga dihalang-halangi
berbicara ilmiah di Universitas di Amerika. Kasus >Monas dibilang
pelanggaran HAM, lalu bagaimana dengan pembunuhan di Iraq, Afghanistan
dll.
Mas... mungkin ada sedikit usulan kalau Anda jangan menganggap Amerika
itu "satu suara", atau lebih umumnua, sebuah bangsa atau sebuah negara
itu punya 1 suara. Anda ngga bisa menganggap adanya satu pendapat di
Amerika lalu menganggap semua orang di Amerika atau semua anggota Senat
atau semua anggota Congress atau semua anggota Supreme Court setuju
dengan pendapat itu. Rakyat disana berani berpendapat berbeda dan
menyuarakan perbedaan pendapat! Kalau ada pihak-pihak di Amerika yang
menghalang-halangi Ahmadineyat bukan berarti "Amerika" itu omong kosong
dalam soal demokrasi, berapa banyak silang pendapat dan berapa banyak
diskusi politik soal kedatangan Ahmadineyat ini, toh akhirnya beliau
nampil dan diterima dengan baik oleh sang pengundang? Berapa juta
rakyat di Amerika melihat siaran ini... pro cons tentu saja ada, ya
jangan diambil yang cons aja donk dan yang pro kagak dilihat! Mungkin
Anda perlu mengkaji sejarah atau politik soal "Amerika" atau setidaknya
memperhatikan perpolitikan di "Amerika" sebelum kasih pendapat yang
superlatif begitu soal Amerika atau sebuah negara secara umum... Soal
Monas, walau saya ngga melihat langsung... kalau orang mukul orang lain
itu bukan pelanggaran HAM ya? Siapapun yang secara fisik menyerang
duluan, dia yang salah. Kalau ini ngga dianggap salah wah saya jadi
bingung juga dengan jalan pikiran yang dibolak-balik seperti ini....
pantesan di Indonesia banyak kekerasan, wong kekerasan itu
diperbolehkan dengan segala macam alasan oleh sebagian orang :( "ELu
kalo nyindir gw, gw gebuk lo!" Bullying dari kecil sampe tuwa! sedih
dan cape deh...
On Tue, Jun 10, 2008 at 10:43 AM, ghozali .
< [EMAIL PROTECTED]>
wrote:
Amerika pun yang gembar gembor dengan
kebebasan, keterbukaan dan demokrasi sebenarnya omong kosong. Warga
Amerika yang menyebarkan siaran Al-Manar dari Hezbollah dihukum.
Al-Jazera juga dilarang, Presiden Ahmadinejat juga dihalang-halangi
berbicara ilmiah di Universitas di Amerika. Kasus Monas dibilang
pelanggaran HAM, lalu bagaimana dengan pembunuhan di Iraq, Afghanistan
dll.
Kebudayaan Islam sudah maju saat kebudayaan
Barat (Eropa) masih primitip. Islam menjadi maju saat itu karena
pemimpinnya melaksanakan ajaran alquran tanpa reserve. Islam tidak
pernah anti dengan ilmu pengetahuan. Dalam kasus Turki, yang salah
bukan ajaran Islamnya tetapi pemimpinnya yang korup , mengaku Islam
tetapi tidak mendasarkan kepada Al quran dan hadist. Terhalangnya Turki
menjadi anggota Uni Eropa karena ketakutan negara Eropa pada Turki yang
Islam dan maju secara militer dan teknologi.
Itulah sebabnya "Barat" selalu
menghalang-halangi umat Islam untuk menjalankan kegiatannya berdasarkan
Al Quran secara murni sesuai dengan tuntunan Nabi Muhamad SAW karena
takut menjadi maju dan mengancam hegemoninya. Saatnya kita menyadari
bahwa Amerika dan ante-anteknya adalah musuh. Ekonomi kita diacak-acak
, begitu juga militer dengan embargo dan isu-isu negatip tentang HAM.
Dengan menganggap Amerika sebagai musuh maka apa yang baik menurut
Amerika adalah buruk buat kita dan sebaliknya. Selama ini kita menjadi
lemah karena merasa tidak punya musuh sehingga santai saja.
Amerika dan Eropa serta antek-anteknya
tidak mau menerima Negara dengan mayoritas Islam memiliki teknologi
tinggi, sehingga Iran dengan kemampuan Nuklirnya selalu "diobok-obok".
Begitu juga niat Indonesia untuk menguasai ilmu dirgantara dan Nuklir
selalu di halang-halangi. Tanpa sadar di masa lalu kita ikut menghujat
IPTN hingga akhirnya IPTN mengalami kemunduran dan mengurangi kemampuan
TNI angkatan udara. Pengembangan PLTN juga selalu di halang-halangi
dengan isu-isu negatip.
Sudah jelas Tempo memutarbalikkan fakta , melakukan
fitnah, sehingga tulisan-tulisan tempo perlu kita baca dengan teliti
tanpa emosi karena tendenius dan bisa menyesatkan. Alumni elektro
jangan cuma bisa elektro saja karena akhirnya cuma jadi budak-budak.
--- On Tue, 6/10/08, [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
From:
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Re: Catatan Moderator :Re: [Fwd:Tulisan Victor
Silaen di Sinar Harapan] - Pasca Monas
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Tuesday, June 10, 2008, 8:33 PM
Salah satu fondasi mengapa Barat sekarang lebih maju secara teknologi
adalah karena mengembangkan budaya keterbukaan, seperti freedom of
_expression_ dsb. Dalam suasana itulah berbagai ide baru yang pada awalnya
oleh mainstream dianggap "sesat" dapat tumbuh dan berkembang menjadi
"mainstream" yang baru sebelum digantikan yang lebih baru lagi. Dalam
teori filsafat hal ini sering disebut sebagai teori dialetika. Jika ada
tesa selalu akan muncul reaksi anti tesa dan melalui dialog diantara
keduanya akan muncul sintesa.
Saya ingat pengalaman berkunjung ke Turki, mengunjungi peninggalan Sultan
Mehmet II, penguasa di zaman keemasan kesultanan Ottoman yang sempat
menjadi super power dunia saat itu, menguasai asia dan sebagian Eropa dan
hanya tertahan di gerbang kota Wina.
Menurut cerita teman Turki saya, saat itu Sultan mempunyai dua penasehat
agama yang bertengkar karena yang satu konservatif dan yang lainnya
liberal. Pertengkaran mereka adalah soal menafsirkan Islam. Yang liberal
mengatakan Al Quran harus selalu diinterpretasi ulang sesuai kemajuan
zaman sedangkan yang konservatif menentang hal itu dengan alasan Ottoman
menjadi paling maju karena mengikuti kitab suci apa adanya. Rupanya yang
konservatif menang dan yang liberal tersingkirkan. Akibatnya begitu
penemuan mesin cetak oleh Guttenberg mulai merebak langsung diharamkan
oleh penguasa Turki sementara di Eropa justru membuat monopoli agamawan
dalam penerbitan buku terbongkar oleh para satrawan dan ilmuwan yang
bergabung dengan pengusaha penerbitan baru untuk menyebarluaskan temuan
dan gagasan mereka ke khalayak luas. Sebaliknya Turki semakin konservatif,
Madrasah yang semula juga mengajarkan science dilarang dan hanya boleh
mengajarkan Al Qur'an. Observatori paling modern di dunia saat itu dibakar
karena dianggap menerbitkan ajaran sesat. Itulah awal kemunduran Turki dan
awal kemajuan teknologi Barat. Ironis. Barat keluar dari zaman gelap dan
menjalani rennaissance (pencerahan) dengan belajar dari dunia Islam saat
dunia Islam malah masuk era kegelapan. Indonesia harus belajar dari
pengalaman Turki. Mari kembangkan budaya terbuka. Toleran pada pikiran
yang berbeda. Mengembangkan dialog untuk memunculkan sintesa. Menyuburkan
lahan untuk tesa baru dan memupuknya dengan anti tesa yang baru pula.
Dorongan untuk menerbitkan SKB yang melarang "ajaran sesat" kalau
dibiarkan akan membuat Indonesia masuk ke alam kegelapan. Mari bangun
Indonesia yang terbuka, toleran dan technology friendly.
bhm
> At 18:15 10/06/2008, Adi Indrayanto wrote:
>>Ooo ... jadi targetnya rame2 di milis itu keluar SKB 3 Menteri itu ya
>>mas ;-) Jadi sudah tercapai ya targetnya ...
>
> SKB 3 Menteri itu sarananya...ibarat seperti keputusan Pengadilan :-D
> sehingga perasaan tegang sekarang telah menjadi lebih relax :-)
>
> Salam,
> Zaenal
>
>
>
>>salam,
>>
>>-ai-
>>
>>
>>On Tue, Jun 10, 2008 at 5:54 PM, Achmad Zaenal Abidin
>><[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> > Temans,
>> >
>> > Setelah ancaman bentrokan horizontal antar
>> ummat Islam reda dengan keluarnya
>> > SKB 3 Menteri, maka tolong posting
>> > tentang kelanjutan dan atau opini yang berkembang setelah SKB 3
>> Menteri
>> > tidak usah di posting di milist Indonesia.
>> > Jadi untuk posting ini mohon tidak usah ditanggapi, apalagi kita
tidak
>> tahu
>> > latar belakang/trendensi politik penulisnya apa.
>> >
>> > Untuk selanjutnya kita focus kembali ke missi
>> awal bagaimana Indonesia lebih
>> > banyak mandiri dalam produk dan teknologi supaya lebih maju.
>> >
>> > Salam,
>> > Zaenal
>> >
>> > At 17:18 10/06/2008, YADI supriadi wendy wrote:
>> >
>> > fyi.............
>> >
>> >
>> > Telah dimuat pada Harian Sinar Harapan, 9 Juni 2008
>> >
>> >
>> >
>> > Rizieq, Munarman, dan Negara Kalah
>> >
>> > Oleh Victor Silaen
>> >
>> >
>> >
>> > Pascainsiden Monas, Minggu siang 1 Juni lalu, Presiden
Yudhoyono
>> > mengecam aksi kekerasan dan pelaku kekerasan
>> yang membuat jatuhnya korban di
>> > negara berlandaskan hukum ini. Karena itu, Presiden minta hukum
>> ditegakkan
>> > dengan memberi sanksi secara tepat. "Negara tidak boleh
kalah dengan
>> > perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku
untuk
>> > kepentingan seluruh rakyat Indonesia," ujarnya dalam jumpa
pers di
>> Kantor
>> > Presiden (2/6/2008). Untuk itu Yudhoyono juga meminta agar dicari
>> solusi
>> > damai dengan mengedepankan aturan hukum dan bukan dengan aksi
>> kekerasan.
>> > Presiden juga minta pihak kepolisian meningkatkan kinerja agar
lebih
>> siap,
>> > cepat dan profesional.
>> >
>> >
>> >
>> > Sementara itu, Menteri Koordinasi
>> Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS
>> > dalam jumpa pers usai rapat koordinasi yang dipimpin Presiden
>> mengatakan,
>> > pemerintah akan mengambil langkah tegas terhadap siapa pun dan
>> organisasi
>> > kemasyarakatan mana pun yang dinilai terlibat dan bertanggung
jawab
>> atas
>> > kejadian itu. Terkait kemungkinan pembubaran ormas, pemerintah
>> beranggapan,
>> > langkah pembubaran hanya bisa dilakukan lewat proses pengkajian
secara
>> > hukum. "Saya kira terkait konteks pembubaran
>> ormas seperti itu akan terlebih
>> > dahulu dilakukan dengan melakukan pengkajian oleh Departemen
Dalam
>> Negeri,
>> > terutama sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Ormas. Namun
dipastikan
>> tetap
>> > akan ada langkah hukum tegas bagi siapa pun pelakunya," ujar
Widodo.
>> >
>> >
>> >
>> > Seakan meresponi pernyataan pihak
>> pemerintah, Ketua Mahkamah Konstitusi
>> > Jimly Asshiddiqie meminta agar pemerintah bertindak tegas dan
>> menunjukkan
>> > bahwa negara mampu melindungi setiap warga
>> negaranya. Jimly mengaku prihatin
>> > dengan penyerangan oleh massa, yang sebagian mengenakan atribut
Front
>> > Pembela Islam (FPI), terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk
>> Kebebasan
>> > Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Akan halnya Ketua Badan
Pengurus
>> Setara
>> > Institute Hendardi mengatakan, Presiden Yudhoyono harus bisa
>> membuktikan
>> > pernyataannya bahwa negara tidak boleh kalah dengan perilaku
>> kekerasan.
>> > Sebab, pernyataan itu sudah beberapa kali disampaikan, tetapi
>> kekerasan
>> > seperti yang terjadi di Monas Minggu siang itu berulang kali
terjadi.
>> > "Jangan sampai pernyataan Presiden menjadi rutinitas tanpa
substansi,"
>> > katanya.
>> >
>> >
>> >
>> > Sore harinya, saya menyaksikan wawancara langsung antara
TVOne
>> dengan
>> > Habib Rizieq Shihab (Ketua Umum FPI) dan Maman Imanulhaq, anggota
>> Dewan
>> > Syuro Partai Kebangkitan Bangsa dan pengasuh Pondok Pesantren Al
>> Mizan,
>> > Cirebon, Jawa Barat. Maman adalah salah seorang korban
penyerangan
>> massa
>> > beratribut FPI di Monas Minggu siang yang naas itu. Sore itu,
Rizieq
>> yang
>> > berada di kantor pusat FPI di bilangan Petamburan, Jakarta,
nyerocos
>> terus
>> > dan nampak sangat garang (sementara Maman yang berada di sebuah
tempat
>> yang
>> > dijadikan studio TVOne nampak berupaya menahan diri).
>> >
>> >
>> >
>> > Namun, bukan itu yang patut dipersoalkan. Melainkan,
ucapan-ucapan
>> > Rizieq yang sangat melukai hati kita sebagai warga negara
Indonesia.
>> Saat
>> > itu Rizieq, antara lain, mengatakan: "Gus Dur itu tahu apa?
Dia kan
>> buta...
>> > buta matanya, buta hatinya." Lalu, di bagian lain dia juga
berkata:
>> > "Jangankan satu Gus Dur, satu juta Gus Dur pun akan saya
hadapi."
>> >
>> >
>> >
>> > Bukankah ucapan Rizieq tersebut jelas-jelas sudah melecehkan
Gus
>> Dur?
>> > Relakah kita melihat seorang mantan presiden dilecehkan seperti
itu?
>> Bahkan
>> > (almarhum) Soeharto pun, yang diduga kuat sebagai koruptor dan
>> dianggap
>> > sebagai salah satu penyebab kebangkrutan Indonesia, tidak pernah
>> dilecehkan
>> > seperti itu setelah ia mengundurkan diri dari
>> jabatannya sebagai presiden 21
>> > Mei 1998. Kemungkinannya, pertama, karena negara memang
berkewajiban
>> > melindungi setiap mantan presiden. Kedua, inilah yang patut kita
>> syukuri,
>> > karena tidak seorang pun yang menyikapi Soeharto secara tidak
santun.
>> > Memang, jutaan orang tak pernah henti
>> mengkritiknya, namun tak satu pun yang
>> > melecehkannya seperti Rizieq melecehkan mantan presiden Gus Dur.
>> >
>> >
>> >
>> > Sementara Munarman, dalam tayangan di stasiun televisi
swasta
>> MetroTV
>> > pascainsiden Monas, antara lain mengatakan: "Kalau dalam
satu dua hari
>> ini
>> > Keppres untuk pembubaran Ahmadiyah sudah dikeluarkan, saya akan
>> menyerahkan
>> > diri. Silakan tangkap saya, Munarman, sarjana hukum." Apa
yang dapat
>> kita
>> > komentari dari ucapan Munarman itu? Pertama, Munarman telah
>> memosisikan
>> > negara sebagai pihak yang harus mengikuti
>> keinginannya. Tentu saja ia salah,
>> > karena negara -- yang dalam konteks ini diwakili oleh pemerintah
>> hanya
>> > boleh mengeluarkan atau tidak mengeluarkan sebuah keputusan
>> berdasarkan
>> > pertimbangan-pertimbangan konstitusional dan rasional, dan bukan
>> karena
>> > desakan pihak-pihak tertentu.
>> >
>> >
>> >
>> > Kedua, Munarman juga salah, karena secara tidak langsung ia
>> hendak
>> > mengatakan bahwa aksinya di Monas dapat "dimaklumi"
karena Ahmadiyah
>> belum
>> > dibubarkan oleh pemerintah. Bagi dia, Ahmadiyah itu
"sesat", sehingga
>> > organisasi keumatannya tidak boleh dibiarkan hidup di Indonesia.
>> Karena
>> > pemerintah belum juga membubarkan Ahmadiyah hingga Insiden Monas
itu,
>> maka
>> > dialah selaku Panglima Komando Laskar Islam
>> yang akan bertindak. Inilah yang
>> > patut disesalkan. Sebagai seorang mantan
>> ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
>> > Indonesia, mestinya Munarman paham bahwa aksinya di Monas 1 Juni
itu
>> > merupakan tindak pidana. Dan tindak pidana tetaplah sebuah
kesalahan,
>> meski
>> > di balik itu ia memiliki alasan atau motif tertentu.
>> >
>> >
>> >
>> > Ketiga, mestinya Munarman juga paham bahwa pemerintah secara
>> > konstitusional tidaklah dibenarkan untuk
>> mengintervensi domain keagamaan dan
>> > keberagamaan umat manapun di negara republik dan negara hukum
ini. Itu
>> > sebabnya, pihak-pihak yang mendesak agar pemerintah segera
>> mengeluarkan SKB
>> > tentang Ahmadiyah sebenarnya secara tidak langsung berkeinginan
>> > menjerumuskan negara ke jurang pelanggaran konstitusional.
>> >
>> >
>> >
>> > Berdasarkan itulah maka Presiden Yudhoyono bersama para
>> pembantunya di
>> > kabinet serta aparat hukum dan keamanannya harus bersikap dan
>> bertindak
>> > tegas terhadap FPI sebagai institusi, juga terhadap Rizieq dan
>> Munarman
>> > sebagai warga negara. Jika Yudhoyono mengatakan negara tidak
boleh
>> kalah,
>> > itu berarti wibawa pemerintah harus ditegakkan. Para mantan
presiden,
>> > seperti halnya (amarhum) mantan presiden Soeharto, harus
dilindungi
>> dan
>> > dijaga kehormatannya. Karena itulah maka orang-orang yang
bersalah
>> dalam
>> > Insiden Monas harus dihukum, termasuk juga yang telah melecehkan
>> mantan
>> > presiden Gus Dur.
>> >
>> >
>> >
>> > Presiden Yudhoyono juga perlu memperhatikan bahwa pelbagai
>> liputan
>> > media elektronik hari-hari ini secara gamblang memperlihatkan
bahwa
>> jutaan
>> > rakyat Indonesia berada di kubu yang sama dengan Jimly
Asshiddiqie dan
>> > Hendardi. Bahwa kita semua membutuhkan bukti dan bukan sekadar
janji
>> maupun
>> > pernyataan tanpa tindak-lanjut yang konkret. Untuk itulah ke
depan
>> Presiden
>> > Yudhoyono harus terus memantau tindak lanjut penuntasan Insiden
Monas
>> ini.
>> > Indonesia adalah negara hukum, itu sebabnya negara harus
menegakkan
>> semua
>> > peraturan yang berlaku secara konsisten. Jika tidak, kita patut
>> meragukan
>> > kalau-kalau para pemimpin negara ini cenderung mendukung
pelanggaran
>> hukum
>> > seperti halnya FPI.
>> >
>> >
>> >
>> > Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang tidak
>> berdaya
>> > ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok massa berlabel agama
yang
>> telah
>> > berulangkali membuat negeri ini seakan
>> wilayah yang hampa-hukum (lawlessness
>> > situation). Kita tidak ingin Indonesia menjadi negara kalah, yang
>> tidak
>> > mampu menghalau rasa cemas masyarakat di saat kelompok-kelompok
massa
>> > berlabel agama itu beraksi. Kita tidak ingin
>> Indonesia menjadi negara kalah,
>> > yang tidak mampu melaksanakan fungsinya melindungi dan memberi
rasa
>> aman
>> > kepada masyarakat.
>> >
>> >
>> >
>> > * Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol.
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi,
>> terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
>> > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia
dan
>> > akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better :
>> > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>>
>>--
>>Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi
serta
>>kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
>> akhirat.
>>
>>Info pengelolaan milis Indonesia next better :
>>http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>
>
> --
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> akhirat.
>
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
|
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
|