Hehe, Emir minyak dari GCC akhirnya turun gunung juga.. , peran media memang saat vital dalam mempengaruhi opini publik terlebih lagi bisa menggoyahkan keimanan teman2 muslim yg masih dalam tahap awal menggali Islam lebih dalam. Saya bisa memahami kalo Om Ghozali saking "gemas" nya dg kawan Tempo satu ni sampe bawa2 jurusan elektro yg pindah jalur jadi wartawan.
Bagaimana dengan rekan2 yg kerja di media lain (Republika, Sabili, dll?) kita tunggu nih ulasan cerdasnya utk mengcounter analisa western minded yang sarat dg warna "JIL" ala kawan Tempo. Eh anyway kejadian ngamuknya TW tempo hari tuh gara2 tulisan penuh fitnah dari Tempo kah? :) Rupanya Tempo takut sekali ya sama TW, baru dibuat benjut sekali udah mengkeret padahal luka fisik anda saat itu hanya butuh maksimal seminggu toh utk pulih?, disisi lain dg gagahnya anda berani sekali menantang TUHANnya TW dan seluruh alam semesta dg mengobok2obok kemurnian agamaNYA. Atau anda sudah belajar ilmu kebal dari siksa kubur? Naudzubillahi min Dzalik Salam Geo > > "ghozali ." <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Amerika pun yang gembar gembor dengan kebebasan, > keterbukaan dan demokrasi sebenarnya omong kosong. Warga > Amerika yang menyebarkan siaran Al-Manar dari Hezbollah > dihukum. Al-Jazera juga dilarang, Presiden Ahmadinejat juga > dihalang-halangi berbicara ilmiah di Universitas di Amerika. > Kasus Monas dibilang pelanggaran HAM, lalu bagaimana dengan > pembunuhan di Iraq, Afghanistan dll. > Kebudayaan Islam sudah maju saat kebudayaan Barat (Eropa) > masih primitip. Islam menjadi maju saat itu karena > pemimpinnya melaksanakan ajaran alquran tanpa reserve. > Islam tidak pernah anti dengan ilmu pengetahuan. Dalam > kasus Turki, yang salah bukan ajaran Islamnya tetapi > pemimpinnya yang korup , mengaku Islam tetapi tidak > mendasarkan kepada Al quran dan hadist. Terhalangnya Turki > menjadi anggota Uni Eropa karena ketakutan negara Eropa > pada Turki yang Islam dan maju secara militer dan > teknologi. > Itulah sebabnya “Barat” selalu menghalang-halangi umat > Islam untuk menjalankan kegiatannya berdasarkan Al Quran > secara murni sesuai dengan tuntunan Nabi Muhamad SAW karena > takut menjadi maju dan mengancam hegemoninya. Saatnya kita > menyadari bahwa Amerika dan ante-anteknya adalah musuh. > Ekonomi kita diacak-acak , begitu juga militer dengan > embargo dan isu-isu negatip tentang HAM. Dengan menganggap > Amerika sebagai musuh maka apa yang baik menurut Amerika > adalah buruk buat kita dan sebaliknya. Selama ini kita > menjadi lemah karena merasa tidak punya musuh sehingga > santai saja. > Amerika dan Eropa serta antek-anteknya tidak mau menerima > Negara dengan mayoritas Islam memiliki teknologi tinggi, > sehingga Iran dengan kemampuan Nuklirnya selalu > “diobok-obok”. Begitu juga niat Indonesia untuk > menguasai ilmu dirgantara dan Nuklir selalu di > halang-halangi. Tanpa sadar di masa lalu kita ikut > menghujat IPTN hingga akhirnya IPTN mengalami kemunduran > dan mengurangi kemampuan TNI angkatan udara. Pengembangan > PLTN juga selalu di halang-halangi dengan isu-isu negatip. > > Sudah jelas Tempo memutarbalikkan fakta , melakukan > fitnah, sehingga tulisan-tulisan tempo perlu kita baca > dengan teliti tanpa emosi karena tendenius dan bisa > menyesatkan. Alumni elektro jangan cuma bisa elektro saja > karena akhirnya cuma jadi budak-budak. > > --- On Tue, 6/10/08, [EMAIL PROTECTED] > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Catatan Moderator :Re: > [Fwd:Tulisan Victor Silaen di Sinar Harapan] - Pasca Monas > To: [email protected] > Cc: [email protected] > Date: Tuesday, June 10, 2008, 8:33 PM > > > Salah satu fondasi mengapa Barat sekarang lebih maju secara > teknologi > adalah karena mengembangkan budaya keterbukaan, seperti > freedom of > expression dsb. Dalam suasana itulah berbagai ide baru yang > pada awalnya > oleh mainstream dianggap "sesat" dapat tumbuh dan > berkembang menjadi > "mainstream" yang baru sebelum digantikan yang > lebih baru lagi. Dalam > teori filsafat hal ini sering disebut sebagai teori > dialetika. Jika ada > tesa selalu akan muncul reaksi anti tesa dan melalui dialog > diantara > keduanya akan muncul sintesa. > Saya ingat pengalaman berkunjung ke Turki, mengunjungi > peninggalan Sultan > Mehmet II, penguasa di zaman keemasan kesultanan Ottoman > yang sempat > menjadi super power dunia saat itu, menguasai asia dan > sebagian Eropa dan > hanya tertahan di gerbang kota Wina. > Menurut cerita teman Turki saya, saat itu Sultan mempunyai > dua penasehat > agama yang bertengkar karena yang satu konservatif dan yang > lainnya > liberal. Pertengkaran mereka adalah soal menafsirkan Islam. > Yang liberal > mengatakan Al Quran harus selalu diinterpretasi ulang > sesuai kemajuan > zaman sedangkan yang konservatif menentang hal itu dengan > alasan Ottoman > menjadi paling maju karena mengikuti kitab suci apa adanya. > Rupanya yang > konservatif menang dan yang liberal tersingkirkan. > Akibatnya begitu > penemuan mesin cetak oleh Guttenberg mulai merebak langsung > diharamkan > oleh penguasa Turki sementara di Eropa justru membuat > monopoli agamawan > dalam penerbitan buku terbongkar oleh para satrawan dan > ilmuwan yang > bergabung dengan pengusaha penerbitan baru untuk > menyebarluaskan temuan > dan gagasan mereka ke khalayak luas. Sebaliknya Turki > semakin konservatif, > Madrasah yang semula juga mengajarkan science dilarang dan > hanya boleh > mengajarkan Al Qur'an. Observatori paling modern di > dunia saat itu dibakar > karena dianggap menerbitkan ajaran sesat. Itulah awal > kemunduran Turki dan > awal kemajuan teknologi Barat. Ironis. Barat keluar dari > zaman gelap dan > menjalani rennaissance (pencerahan) dengan belajar dari > dunia Islam saat > dunia Islam malah masuk era kegelapan. Indonesia harus > belajar dari > pengalaman Turki. Mari kembangkan budaya terbuka. Toleran > pada pikiran > yang berbeda. Mengembangkan dialog untuk memunculkan > sintesa. Menyuburkan > lahan untuk tesa baru dan memupuknya dengan anti tesa yang > baru pula. > Dorongan untuk menerbitkan SKB yang melarang "ajaran > sesat" kalau > dibiarkan akan membuat Indonesia masuk ke alam kegelapan. > Mari bangun > Indonesia yang terbuka, toleran dan technology friendly. > > bhm > > > > > At 18:15 10/06/2008, Adi Indrayanto wrote: > >>Ooo ... jadi targetnya rame2 di milis itu keluar > SKB 3 Menteri itu ya > >>mas ;-) Jadi sudah tercapai ya targetnya ... > > > > SKB 3 Menteri itu sarananya...ibarat seperti keputusan > Pengadilan :-D > > sehingga perasaan tegang sekarang telah menjadi lebih > relax :-) > > > > Salam, > > Zaenal > > > > > > > >>salam, > >> > >>-ai- > >> > >> > >>On Tue, Jun 10, 2008 at 5:54 PM, Achmad Zaenal > Abidin > >><[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >> > Temans, > >> > > >> > Setelah ancaman bentrokan horizontal antar > >> ummat Islam reda dengan keluarnya > >> > SKB 3 Menteri, maka tolong posting > >> > tentang kelanjutan dan atau opini yang > berkembang setelah SKB 3 > >> Menteri > >> > tidak usah di posting di milist Indonesia. > >> > Jadi untuk posting ini mohon tidak usah > ditanggapi, apalagi kita > tidak > >> tahu > >> > latar belakang/trendensi politik penulisnya > apa. > >> > > >> > Untuk selanjutnya kita focus kembali ke missi > >> awal bagaimana Indonesia lebih > >> > banyak mandiri dalam produk dan teknologi > supaya lebih maju. > >> > > >> > Salam, > >> > Zaenal > >> > > >> > At 17:18 10/06/2008, YADI supriadi wendy > wrote: > >> > > >> > fyi............. > >> > > >> > > >> > Telah dimuat pada Harian Sinar Harapan, 9 > Juni 2008 > >> > > >> > > >> > > >> > Rizieq, Munarman, dan Negara Kalah > >> > > >> > Oleh Victor Silaen > >> > > >> > > >> > > >> > Pascainsiden Monas, Minggu siang 1 Juni > lalu, Presiden > Yudhoyono > >> > mengecam aksi kekerasan dan pelaku kekerasan > >> yang membuat jatuhnya korban di > >> > negara berlandaskan hukum ini. Karena itu, > Presiden minta hukum > >> ditegakkan > >> > dengan memberi sanksi secara tepat. > "Negara tidak boleh > kalah dengan > >> > perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan > tatanan yang berlaku > untuk > >> > kepentingan seluruh rakyat Indonesia," > ujarnya dalam jumpa > pers di > >> Kantor > >> > Presiden (2/6/2008). Untuk itu Yudhoyono juga > meminta agar dicari > >> solusi > >> > damai dengan mengedepankan aturan hukum dan > bukan dengan aksi > >> kekerasan. > >> > Presiden juga minta pihak kepolisian > meningkatkan kinerja agar > lebih > >> siap, > >> > cepat dan profesional. > >> > > >> > > >> > > >> > Sementara itu, Menteri Koordinasi > >> Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS > >> > dalam jumpa pers usai rapat koordinasi yang > dipimpin Presiden > >> mengatakan, > >> > pemerintah akan mengambil langkah tegas > terhadap siapa pun dan > >> organisasi > >> > kemasyarakatan mana pun yang dinilai terlibat > dan bertanggung > jawab > >> atas > >> > kejadian itu. Terkait kemungkinan pembubaran > ormas, pemerintah > >> beranggapan, > >> > langkah pembubaran hanya bisa dilakukan lewat > proses pengkajian > secara > >> > hukum. "Saya kira terkait konteks > pembubaran > >> ormas seperti itu akan terlebih > >> > dahulu dilakukan dengan melakukan pengkajian > oleh Departemen > Dalam > >> Negeri, > >> > terutama sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang > Ormas. Namun > dipastikan > >> tetap > >> > akan ada langkah hukum tegas bagi siapa pun > pelakunya," ujar > Widodo. > >> > > >> > > >> > > >> > Seakan meresponi pernyataan pihak > >> pemerintah, Ketua Mahkamah Konstitusi > >> > Jimly Asshiddiqie meminta agar pemerintah > bertindak tegas dan > >> menunjukkan > >> > bahwa negara mampu melindungi setiap warga > >> negaranya. Jimly mengaku prihatin > >> > dengan penyerangan oleh massa, yang sebagian > mengenakan atribut > Front > >> > Pembela Islam (FPI), terhadap anggota Aliansi > Kebangsaan untuk > >> Kebebasan > >> > Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Akan > halnya Ketua Badan > Pengurus > >> Setara > >> > Institute Hendardi mengatakan, Presiden > Yudhoyono harus bisa > >> membuktikan > >> > pernyataannya bahwa negara tidak boleh kalah > dengan perilaku > >> kekerasan. > >> > Sebab, pernyataan itu sudah beberapa kali > disampaikan, tetapi > >> kekerasan > >> > seperti yang terjadi di Monas Minggu siang > itu berulang kali > terjadi. > >> > "Jangan sampai pernyataan Presiden > menjadi rutinitas tanpa > substansi," > >> > katanya. > >> > > >> > > >> > > >> > Sore harinya, saya menyaksikan wawancara > langsung antara > TVOne > >> dengan > >> > Habib Rizieq Shihab (Ketua Umum FPI) dan > Maman Imanulhaq, anggota > >> Dewan > >> > Syuro Partai Kebangkitan Bangsa dan pengasuh > Pondok Pesantren Al > >> Mizan, > >> > Cirebon, Jawa Barat. Maman adalah salah > seorang korban > penyerangan > >> massa > >> > beratribut FPI di Monas Minggu siang yang > naas itu. Sore itu, > Rizieq > >> yang > >> > berada di kantor pusat FPI di bilangan > Petamburan, Jakarta, > nyerocos > >> terus > >> > dan nampak sangat garang (sementara Maman > yang berada di sebuah > tempat > >> yang > >> > dijadikan studio TVOne nampak berupaya > menahan diri). > >> > > >> > > >> > > >> > Namun, bukan itu yang patut dipersoalkan. > Melainkan, > ucapan-ucapan > >> > Rizieq yang sangat melukai hati kita sebagai > warga negara > Indonesia. > >> Saat > >> > itu Rizieq, antara lain, mengatakan: > "Gus Dur itu tahu apa? > Dia kan > >> buta... > >> > buta matanya, buta hatinya." Lalu, di > bagian lain dia juga > berkata: > >> > "Jangankan satu Gus Dur, satu juta Gus > Dur pun akan saya > hadapi." > >> > > >> > > >> > > >> > Bukankah ucapan Rizieq tersebut > jelas-jelas sudah melecehkan > Gus > >> Dur? > >> > Relakah kita melihat seorang mantan presiden > dilecehkan seperti > itu? > >> Bahkan > >> > (almarhum) Soeharto pun, yang diduga kuat > sebagai koruptor dan > >> dianggap > >> > sebagai salah satu penyebab kebangkrutan > Indonesia, tidak pernah > >> dilecehkan > >> > seperti itu setelah ia mengundurkan diri dari > >> jabatannya sebagai presiden 21 > >> > Mei 1998. Kemungkinannya, pertama, karena > negara memang > berkewajiban > >> > melindungi setiap mantan presiden. Kedua, > inilah yang patut kita > >> syukuri, > >> > karena tidak seorang pun yang menyikapi > Soeharto secara tidak > santun. > >> > Memang, jutaan orang tak pernah henti > >> mengkritiknya, namun tak satu pun yang > >> > melecehkannya seperti Rizieq melecehkan > mantan presiden Gus Dur. > >> > > >> > > >> > > >> > Sementara Munarman, dalam tayangan di > stasiun televisi > swasta > >> MetroTV > >> > pascainsiden Monas, antara lain mengatakan: > "Kalau dalam > satu dua hari > >> ini > >> > Keppres untuk pembubaran Ahmadiyah sudah > dikeluarkan, saya akan > >> menyerahkan > >> > diri. Silakan tangkap saya, Munarman, sarjana > hukum." Apa > yang dapat > >> kita > >> > komentari dari ucapan Munarman itu? Pertama, > Munarman telah > >> memosisikan > >> > negara sebagai pihak yang harus mengikuti > >> keinginannya. Tentu saja ia salah, > >> > karena negara -- yang dalam konteks ini > diwakili oleh pemerintah > > >> hanya > >> > boleh mengeluarkan atau tidak mengeluarkan > sebuah keputusan > >> berdasarkan > >> > pertimbangan-pertimbangan konstitusional dan > rasional, dan bukan > >> karena > >> > desakan pihak-pihak tertentu. > >> > > >> > > >> > > >> > Kedua, Munarman juga salah, karena > secara tidak langsung ia > >> hendak > >> > mengatakan bahwa aksinya di Monas dapat > "dimaklumi" > karena Ahmadiyah > >> belum > >> > dibubarkan oleh pemerintah. Bagi dia, > Ahmadiyah itu > "sesat", sehingga > >> > organisasi keumatannya tidak boleh dibiarkan > hidup di Indonesia. > >> Karena > >> > pemerintah belum juga membubarkan Ahmadiyah > hingga Insiden Monas > itu, > >> maka > >> > dialah selaku Panglima Komando Laskar Islam > >> yang akan bertindak. Inilah yang > >> > patut disesalkan. Sebagai seorang mantan > >> ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum > >> > Indonesia, mestinya Munarman paham bahwa > aksinya di Monas 1 Juni > itu > >> > merupakan tindak pidana. Dan tindak pidana > tetaplah sebuah > kesalahan, > >> meski > >> > di balik itu ia memiliki alasan atau motif > tertentu. > >> > > >> > > >> > > >> > Ketiga, mestinya Munarman juga paham > bahwa pemerintah secara > >> > konstitusional tidaklah dibenarkan untuk > >> mengintervensi domain keagamaan dan > >> > keberagamaan umat manapun di negara republik > dan negara hukum > ini. Itu > >> > sebabnya, pihak-pihak yang mendesak agar > pemerintah segera > >> mengeluarkan SKB > >> > tentang Ahmadiyah sebenarnya secara tidak > langsung berkeinginan > >> > menjerumuskan negara ke jurang pelanggaran > konstitusional. > >> > > >> > > >> > > >> > Berdasarkan itulah maka Presiden > Yudhoyono bersama para > >> pembantunya di > >> > kabinet serta aparat hukum dan keamanannya > harus bersikap dan > >> bertindak > >> > tegas terhadap FPI sebagai institusi, juga > terhadap Rizieq dan > >> Munarman > >> > sebagai warga negara. Jika Yudhoyono > mengatakan negara tidak > boleh > >> kalah, > >> > itu berarti wibawa pemerintah harus > ditegakkan. Para mantan > presiden, > >> > seperti halnya (amarhum) mantan presiden > Soeharto, harus > dilindungi > >> dan > >> > dijaga kehormatannya. Karena itulah maka > orang-orang yang > bersalah > >> dalam > >> > Insiden Monas harus dihukum, termasuk juga > yang telah melecehkan > >> mantan > >> > presiden Gus Dur. > >> > > >> > > >> > > >> > Presiden Yudhoyono juga perlu > memperhatikan bahwa pelbagai > >> liputan > >> > media elektronik hari-hari ini secara > gamblang memperlihatkan > bahwa > >> jutaan > >> > rakyat Indonesia berada di kubu yang sama > dengan Jimly > Asshiddiqie dan > >> > Hendardi. Bahwa kita semua membutuhkan bukti > dan bukan sekadar > janji > >> maupun > >> > pernyataan tanpa tindak-lanjut yang konkret. > Untuk itulah ke > depan > >> Presiden > >> > Yudhoyono harus terus memantau tindak lanjut > penuntasan Insiden > Monas > >> ini. > >> > Indonesia adalah negara hukum, itu sebabnya > negara harus > menegakkan > >> semua > >> > peraturan yang berlaku secara konsisten. Jika > tidak, kita patut > >> meragukan > >> > kalau-kalau para pemimpin negara ini > cenderung mendukung > pelanggaran > >> hukum > >> > seperti halnya FPI. > >> > > >> > > >> > > >> > Kita tidak ingin Indonesia menjadi > negara kalah, yang tidak > >> berdaya > >> > ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok > massa berlabel agama > yang > >> telah > >> > berulangkali membuat negeri ini seakan > >> wilayah yang hampa-hukum (lawlessness > >> > situation). Kita tidak ingin Indonesia > menjadi negara kalah, yang > >> tidak > >> > mampu menghalau rasa cemas masyarakat di saat > kelompok-kelompok > massa > >> > berlabel agama itu beraksi. Kita tidak ingin > >> Indonesia menjadi negara kalah, > >> > yang tidak mampu melaksanakan fungsinya > melindungi dan memberi > rasa > >> aman > >> > kepada masyarakat. > >> > > >> > > >> > > >> > * Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol. > >> > > >> > > >> > > >> > > >> > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, > >> terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > >> > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, > demi kebahagiaan dunia > dan > >> > akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia > next better : > >> > > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > >> > >>-- > >>Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan > kaidah ilmu/teknologi > serta > >>kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi > kebahagiaan dunia dan > >> akhirat. > >> > >>Info pengelolaan milis Indonesia next better : > >>http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > > > > > > -- > > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi > kebahagiaan dunia dan > > akhirat. > > > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > > > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > > > > > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > dunia dan akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
