bener banget, sepertinya hampir semua pihak menyudutkan img dan alumninya, padahal mereka juga berhak untuk mendapatkan keadilan. bukannya saya tidak turut berdukacita atas meninggalnya dwiyanto. saya juga tidak bisa membayangkan kalau hal ini terjadi pada keluarga sendiri. tapi masalahnya, almarhum tidak diijinkan oleh keluarganya untuk diotopsi, jadi bagaimana caranya mencari penyebab kematian almarhum ? dan sepertinya banyak pihak harus diingatkan kembali akan adanya asas praduga tak bersalah.
--- On Sat, 2/14/09, Priyo Pribadi Soemarno <[email protected]> wrote: From: Priyo Pribadi Soemarno <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! To: [email protected] Date: Saturday, February 14, 2009, 7:45 AM Ebonk dan saudara2ku Ysh., Cukup panjang diskusi milis ini saya ikuti dan semakin melelahkan , karena se-olah2 yang dicari adalah kambing hitamnya , bukan inti persoalan sebenarnya . Tulisan Ebonk , menggugah hati saya untuk menulis , terimakasih Ebonk Yang pertama , tidak mungkin anak2 kita punya keinginan merusak masa depan apalagi membuat mati adik2nya sendiri . Pasti ada kesalahan dalam penanganan sampai ada kejadian ini . Kedua , diperlukan hati yang tenang dan pikiran jernih , untuk mendengar bagaimana saudara2ku yang menjadi panitia , senior atau semua yang hadir menceritakan secara utuh kejadian sebenarnya dengan hati yang jujur . Kejujuran akan tumbuh , kalau tidak ada ancaman apalagi tuduhan bahwa perbuatan tersebut adalah illegal . Ketiga , kita perlu mengkaji kembali kondisi kesehatan adik kita yang menjadi korban , termasuk misalnya melihat keadaannya sehari-hari ketika belum masuk ITB . Kondisi bawaan yang tidak kita ketahui , mungkin menjadi salah satu sebab , karena sebagai senior atau Panitia kita alpa dalam memeriksa latar belakang kesehatan ybs . Pemeriksaan dokter lengkap seharusnya dilakukan ketika ybs dinyatakan meninggal , sehingga diketahui sebab2 klinis yang menyebabkan kematian. Keempat , ketika semua persoalan menjadi jelas , maka sudah menjadi kewajiban pimpinan dan penanggung jawab untuk menyatakan permohonan maafnya kepada orangtua korban , kepada siapapun juga yang kehilangan adik kita tersebut yang berarti pula kehilangan masa depan yang diimpikannya . Kadangkala , kita bertindak terlalu cepat , untuk menunjukkan eksistensi dalam menangani suatu perkara . Kesalahan dalam membuat keputusan karena kurangnya pertimbangan , dapat menyebabkan persoalan melebar kemana-mana dan tidak menyelesaikan masalah . Kita harus memahami kondisi adik2 (anak2) kita saat ini , dimana tingkat kematangan , kedewasaan dan ke-samapta-annya sangat berbeda dengan waktu tahun 70'an atau bahkan sebelumnya . Anak2 kita sekarang nampak kurang memelihara kesehatannya dan mungkin kurang tidur karena bergadang , bukan karena tirakat atau bertafakur seperti jaman orangtua-orangtua kita dulu . Latihan pendahuluan sangat diperlukan sebelum anak2 kita dicemplungkan dalam kawah chandra-dimuka. Juga , pemahaman tentang loyalitas dan pelatihan kedisiplinan saat ini sudah agak berbeda , karena tidak ada lagi gerakan Pramuka atau Scout yang dulu kita alami sejak SMP-SMA . Saran saya , hentikanlah kita saling menyalahkan . Mulailah duduk bersama untuk mencari satu persatu persoalan yang ada untuk memperbaiki keputusan yang keliru . Saran ini juga berlaku bagi ITB , sebagai Perguruan Tinggi yang masih kita junjung tinggi sebagai GARBA ILMIAH , bukan lembaga Kehakiman atau Penguasa . Salam hangat penuh semangat , Priyo Pribadi -----Original Message----- From: ebonk <[email protected]> To: [email protected] Date: Sat, 14 Feb 2009 05:04:08 +0700 Subject: [indonesia] Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! > Saya membaca berita di koran,media elektronik dan televisi yang > menyebutkan bahwa anak-anak IMG telah melakukan kekerasan dalam > kegiatan kaderisasi. Saya juga mendengar bahwa pihak kampus telah > menyatakan mereka bersalah dan akan dikenakan sanksi. Walaupun > demikian, dalam hati kecil saya percaya bahwa MEREKA TIDAK BERSALAH! > > Saya juga melihat WRMA, dengan kekuasaan yang dimilikinya, melakukan > character assasination dengan menyatakan bahwa anak-anak IMG mengalami > gangguan jiwa dan perlu menjalani psikotest. Saya berusaha untuk > memahami hal ini. Walaupun demikian, saya tidak mempercayai pernyataan > tersebut. Hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG waras > dan sehat akalnya! > > Pun berbagai pihak yang kebingungan, shock, atau kecewa, ikut > menghakimi dan percaya bahwa anak-anak IMG itu biang kerok, pembunuh, > maniak, suka kekerasan, dengan referensi pribadi yang belum tentu > relevan. Saya bisa memahami pendapat-pendapat tersebut. Walaupun > demikian, hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG bukan > maniak, bukan pembunuh dan bukan pelaku kekerasan! > > Belum lagi, pernyataan AMP Unpad ikut membuat posisi teman-teman IMG > semakin sulit. Dihantam dari segala arah seperti itu, banyak orang > yang makin yakin bahwa mereka memang melakukan penganiayaan. Namun > demikian, saya tidak percaya media. Hati kecil saya berkata: Mereka > tidak menganiaya orang! > > Mengapa demikian? Karena saya kenal mereka. Bahkan salah satu dari > mereka, Dilvo (salah satu korlap), saya kenal dengan dekat. Saya tahu > watak Dilvo dkk. Saya lebih percaya kepada mereka dari pada media. > > Mereka memang keras kepala, tidak mudah dipengaruhi begitu saja dan > lebih suka dengan jalan pikirannya sendiri. Namun dari pengalaman > saya, mereka adalah teman diskusi yang baik. Mudah diajak kerjasama > dan berpartisipasi, asal tahu caranya. > > Kasus ini bukan kasus STPDN yang titik beratnya adalah penganiayaan. > Apakah sodara-sodara melihat atau mengetahui adanya penganiyaan dalam > kasus ini? > > Saya bisa memahami, banyak pihak yang terusik dan tidak senang, karena > dianggap telah mencoreng nama baik almamater. Tapi sebaiknya, lebih > dulu kita tahu persis apa penyebab kematian Wisnu. Sebaiknya kita > sabar menunggu hasil penyelidikan. > > Saya sungguh menyayangkan tindakan Pak Widyo menjatuhkan sanksi, > memblacklist alumni, menyatakan mereka mengalami gangguan jiwa, > memecat ketua prodi, apalagi akan menghentikan penerimaan mahasiswa > baru. Padahal kita semua belum tahu hasil penyelidikannya. Tapi hajat > hidup dan masa depan banyak orang mau dikorbankan. Coba lihat, mengapa > Bapak bertindak gegabah seperti itu? Untuk apa semua tindakan yang > terburu-buru dan mengikuti hawa nafsu itu? Untuk siapa? > > Jika demi nama baik, atau apapun, lakukanlah dengan benar. Demi nama > baik ITB, usut tuntas sampai ketemu kebenarannya seperti apa. Demi > nama baik IMG, katakan saja apa yang benar, buatlah pernyataan yang > baik. Kita butuh kebenaran. Bukan kambing hitam! > > Jika ternyata mereka tidak bersalah, pertanyaan saya adalah, apakah > ITB (dalam hal ini Pak Widyo) mau membersihkan nama baik mereka, > mengembalikan jabatan ketua prodi, menyatakan menyesal telah menyebut > mereka mengalami gangguan jiwa? Dan tentu saja, bersedia mengundurkan > diri dari jabatannya? > > Mungkin saya sendirian, tapi saya orang yang yakin bahwa: > MEREKA TIDAK BERSALAH! > > Mohon maaf, jika ada kata-kata yang salah. Mari kita tunggu progress > hasil penyelidikan. > > -- > nenek moyangku bukan pelaut, tapi seorang rocker... > http://www.ebonk.org/blog/ > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi > serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
