Saya membaca berita di koran,media elektronik dan televisi yang menyebutkan bahwa anak-anak IMG telah melakukan kekerasan dalam kegiatan kaderisasi. Saya juga mendengar bahwa pihak kampus telah menyatakan mereka bersalah dan akan dikenakan sanksi. Walaupun demikian, dalam hati kecil saya percaya bahwa MEREKA TIDAK BERSALAH!
Saya juga melihat WRMA, dengan kekuasaan yang dimilikinya, melakukan character assasination dengan menyatakan bahwa anak-anak IMG mengalami gangguan jiwa dan perlu menjalani psikotest. Saya berusaha untuk memahami hal ini. Walaupun demikian, saya tidak mempercayai pernyataan tersebut. Hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG waras dan sehat akalnya! Pun berbagai pihak yang kebingungan, shock, atau kecewa, ikut menghakimi dan percaya bahwa anak-anak IMG itu biang kerok, pembunuh, maniak, suka kekerasan, dengan referensi pribadi yang belum tentu relevan. Saya bisa memahami pendapat-pendapat tersebut. Walaupun demikian, hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG bukan maniak, bukan pembunuh dan bukan pelaku kekerasan! Belum lagi, pernyataan AMP Unpad ikut membuat posisi teman-teman IMG semakin sulit. Dihantam dari segala arah seperti itu, banyak orang yang makin yakin bahwa mereka memang melakukan penganiayaan. Namun demikian, saya tidak percaya media. Hati kecil saya berkata: Mereka tidak menganiaya orang! Mengapa demikian? Karena saya kenal mereka. Bahkan salah satu dari mereka, Dilvo (salah satu korlap), saya kenal dengan dekat. Saya tahu watak Dilvo dkk. Saya lebih percaya kepada mereka dari pada media. Mereka memang keras kepala, tidak mudah dipengaruhi begitu saja dan lebih suka dengan jalan pikirannya sendiri. Namun dari pengalaman saya, mereka adalah teman diskusi yang baik. Mudah diajak kerjasama dan berpartisipasi, asal tahu caranya. Kasus ini bukan kasus STPDN yang titik beratnya adalah penganiayaan. Apakah sodara-sodara melihat atau mengetahui adanya penganiyaan dalam kasus ini? Saya bisa memahami, banyak pihak yang terusik dan tidak senang, karena dianggap telah mencoreng nama baik almamater. Tapi sebaiknya, lebih dulu kita tahu persis apa penyebab kematian Wisnu. Sebaiknya kita sabar menunggu hasil penyelidikan. Saya sungguh menyayangkan tindakan Pak Widyo menjatuhkan sanksi, memblacklist alumni, menyatakan mereka mengalami gangguan jiwa, memecat ketua prodi, apalagi akan menghentikan penerimaan mahasiswa baru. Padahal kita semua belum tahu hasil penyelidikannya. Tapi hajat hidup dan masa depan banyak orang mau dikorbankan. Coba lihat, mengapa Bapak bertindak gegabah seperti itu? Untuk apa semua tindakan yang terburu-buru dan mengikuti hawa nafsu itu? Untuk siapa? Jika demi nama baik, atau apapun, lakukanlah dengan benar. Demi nama baik ITB, usut tuntas sampai ketemu kebenarannya seperti apa. Demi nama baik IMG, katakan saja apa yang benar, buatlah pernyataan yang baik. Kita butuh kebenaran. Bukan kambing hitam! Jika ternyata mereka tidak bersalah, pertanyaan saya adalah, apakah ITB (dalam hal ini Pak Widyo) mau membersihkan nama baik mereka, mengembalikan jabatan ketua prodi, menyatakan menyesal telah menyebut mereka mengalami gangguan jiwa? Dan tentu saja, bersedia mengundurkan diri dari jabatannya? Mungkin saya sendirian, tapi saya orang yang yakin bahwa: MEREKA TIDAK BERSALAH! Mohon maaf, jika ada kata-kata yang salah. Mari kita tunggu progress hasil penyelidikan. -- nenek moyangku bukan pelaut, tapi seorang rocker... http://www.ebonk.org/blog/ -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
