Pak Wahyudin ysh,
Seperti peribahasa, sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula, he he he.

Ada buku bacaan termasuk kategori tazkiyatun nufus atau tarbiyah ruhiyah, seperti Madarijus Salikin karangan Ibnu Qoyim Al-Jauziyah atau Ihya' 'Ulumuddin, karangan Imam Al-Ghazali.

Apa yang saya ketahui soal nafsu, bahwa kebaikannya justru bukan dengan memenuhi semua yang diinginkannya, karena dalam QS. Yusuf : 53: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sedangkan hati itu dijaga, dan termasuk perkara yang harus dijaga di hati adalah ikhlash. Dan kita mesti berharap masuk dalam golongan sebagaimana doa Nabi Ibrahin 'alaihi sallam: "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih," QS. Asy-Syu'araa': 89

Dalam islam ada kaidah tentang pertengahan, tidak kurang dan tidak lebih, karena keduanya, yaitu berlebihan dan kekurangan bisa membawa pelakunya pada kebinasaan. Dengan demikian manusia dengan ilmunya, dituntut untuk menyeimbangkan tiap komponen yang ada sehingga menjadi manusia seutuhnya (insan kamil)

subhanakallahumma wabihamdika asyhadu anlaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
salam,
andri

wahyudin munawir wrote:
Menarik Mas Andri. Seperti masing2 elemen manusia itu memerlukan/membutuhkan  
"makanan"-nya yang dapat membuat masing-masing terus hidup dan berfungsi 
optimal. Jasad butuh SPP (sandang, pangan dan papan). Kurang spp tubuh/jasad itu akan 
sperti binatang, loyo, sakit dan ringkih. Akal membutuhkan ilmu pengetahuan. Tdk berilmu, 
manusia itu akan bodoh krn tak berpengetahuan. Kalau nafsu dan hati  apa yah kebutuhannya?

Salam.
WM.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Andri Setiyoso <[email protected]>
Date: Tue, 13 Apr 2010 10:19:18 To: <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Di Masa Transisi agar kita selalu ingat dan 
waspada,jangan
 sampai terjerumus...

Ada yang mengkelopokkan manusia terdiri dari empat bagian:
pertama adalah jasad, kedua adalah akal, ketiga adalah nafsu, keempat adalah hati
Jasad adalah raga manusia yang kebaikannya dikala dia sehat
Akal atau bisa disinonimkan dengan rasio adalah pembeda antara yang benar dan yang salah, kebaikannya ketika ilmunya luas, karena akan makin banyak yang bisa dipilah-pilah Nafsu atau bisa disinonimkan dengan emosi, adalah sumber segala keinginan, kebaikannya adalah ketika dia dikendalikan dan tenang Sedangkan hati, menurut Imam Al-Ghazali adalah tempat atau singgasana Ruh, kebaikan hati ketika keadaannya bersih. Segala sesuatu yang mengotori hati bisa membuatnya sakit atau bahkan bisa mematikannya.

Di hati, iman itu tinggal, melalui ruh, cahaya Ilahi menerangi hamba-Nya.
Jika hati itu sakit atau bahkan mati (mati rasa), maka yang terjadi adalah manuasia itu putus asa atau mengumbar hawa nafsunya yang kemudian menolak akal sehatnya, yang tanpa disadarinya juga telah merusak jasadnya.

Dengan demikian kedzaliman atau kegelapan (tidak ada cahaya) adalah sumber dari segala kerusakan. Sedangkan petunjuk-Nya adalah sumber kebaikan bagi hamba-Nya.

salam,
andri

wahyudin munawir wrote:
Amalan soleh bukan berarti yg melulu serasi dg rasionalitas, tetapi serasi pula 
dengan petunjuk-Nya. Apa yg dikerjakan oleh anaknya Nabi Nuh menghindari banjir 
ia mencari puncak2 gunung. Argumen anaknya Nabi Nuh itu sesuai dg kadar 
rasionalitas. Tetapi, kenyataannya Kuasa-Nya lebih besar dari rasionalitas 
manusia.
Memang Allah SWT akan mewarisi bumi bagi mereka yang ber-iman dan ber-amal 
sholeh dalam kadar2 (ukuran2) yg telah ditentukan-Nya pula.
Hari ini, spertinya kadar iman dan amal sholeh Umat ini (di Indonesia atau pun 
di luar negeri) di bawah standar.

Salam.
Wahyudin Munawir. GM 78. Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Andri Setiyoso <[email protected]>
Date: Tue, 13 Apr 2010 09:22:11 To: <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Di Masa Transisi agar kita selalu ingat dan waspada,
 jangan sampai terjerumus...

"Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lohmahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh"
QS Al-Anbiyaa' ayat 105.

Maka bagi siapa pun yang ingin mewarisi bumi ini, maka hendaknya beramal sholeh (baik). Semua perbuatan yang tidak masuk dalam kelompok amalan sholeh, berarti tidak menjanjikan pelakunya untuk mendapatkan apa-apa yang telah dijanjikan.

salam,
andri


S Roestam wrote:
Kawan2 Anggota Milis Yth,



Prabu Jayabaya yang hidup sekitar 1700 tahun y.l. yang arif dan bijaksana mempunyai visi yang jauh ke depan. Melalui syair-syair yang universal dan abadi sifatnya, beliau memberikan tanda-tanda zaman untuk munculnya Sang Satria Piningit dengan senjata pamungkas Trisula Weda (benar, lurus, jujur) yang akan menjadikan tanah Jawa (sekarang: Nusantara Indonesia) menjadi Negeri yang Aman Sentosa, Adil Makmur, Gemah Ripah Loh Jinawi bagi segenap Bangsa Indonesia. Berikut ini adalah potongan syair-syair itu:





--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke