Jika orangnya memang benar bernama Prabu Jayabaya, atau memang ada Kerajaan Kediri (kok mirip Kidr ya?), ramalan tesebut dibuat sekitar tahun 1000-1200 Masehi seperti disepakati oleh banyak "ahli". Jadi bukan sekitar 1700 tahun y.l.
Sangat jelas ini sekitar 400-500 tahun setelah Islam lahir. Mengingat ramalannya banyak yang mirip dengan hadist Nabi Muhammad SAW, (sila baca Hadist-hadist dan ayat-ayat Quran tentang hari Kiamat) ada kemungkinan sang Prabu adalah *muslim*. Kecuali jika isi ramalannya juga mirip dengan isi Taurat & Injil. <http://id.wikipedia.org/wiki/Jayabaya> http://id.wikipedia.org/wiki/Jayabaya Pemerintahan *Jayabhaya* dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri<http://id.wikipedia.org/wiki/Kadiri>. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (*1135*), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta *Kakawin Bharatayuddha<http://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Bharatayuddha> * (1157). Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan *Panjalu Jayati*, yang artinya Kadiri<http://id.wikipedia.org/wiki/Kadiri>menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri<http://id.wikipedia.org/wiki/Kadiri>selama perang melawan Janggala <http://id.wikipedia.org/wiki/Janggala>. Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala <http://id.wikipedia.org/wiki/Janggala> dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri <http://id.wikipedia.org/wiki/Kadiri> . Kemenangan Jayabhaya atas Janggala <http://id.wikipedia.org/wiki/Janggala>disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa <http://id.wikipedia.org/wiki/Pandawa> atas Korawa<http://id.wikipedia.org/wiki/Korawa>dalam kakawin Bharatayuddha <http://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Bharatayuddha> yang digubah oleh Mpu Sedah<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mpu_Sedah&action=edit&redlink=1>dan Mpu Panuluh <http://id.wikipedia.org/wiki/Mpu_Panuluh> tahun *1157*. http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=3695 Menurut Lelono, berdasarkan manuskrip kuno Ramalan Prabu Jayabaya, seorang raja yang pernah tercatat memerintah kerajaan kediri pada abad ke-12 (* 1137-1159*) bahwa saat ini Indonesia sedang berada dalam masa antara akhir *zaman Kalabendu* dan sedang menanti kehadiran *zaman Kalasuba*. http://ahmadsamantho.wordpress.com/2010/02/08/prabu-jayabaya-seorang-muslim/ Ramalan Prabu Jayabaya seputar dinamika kehidupan yang akan terjadi di Pulau Jawa terutama masalah pergantian kekuasaan dari *abad 12* sampi akhir jaman telah menjadi legenda di kalangan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Bahkan beberapa pemimpin bangsa secara politis menggunakannya sebagai ‘legitimasi’ akan keberadaannya. Yang pada akhirnya membuat masyarakat Jawa memaklumkannya untuk naik tahta. Maka tak heran jika ada kandidat presiden tetapi dari suku non Jawa sebaik dan sehebat apa kualitasnya pasti akan susah naik tahta karena kendala historis ini. Lepas dari benar-tidaknya ramalan-ramalan prabu Jayabaya tersebut, ternyata ada sisi-sisi menarik dari bait-bait ramalan Prabu Jayabaya tersebut, yaitu adanya unsur pengaruh ajaran Islam. Yang mana hal ini membuktikan bahwa Islam telah datang dan berhasil mempengaruhi rajanya di pulau Jawa sebelum era Wali Sanga. http://id.wikipedia.org/wiki/Ramalan_Jayabaya Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni *Kitab Asrar* (Musarar) karangan *Sunan Giri<http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Giri> * Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = *1028 H = 1618 M*, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya *kitab Pararaton* *tentang sejarah Majapahit* dan Singosari yang *ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M*. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M). *Kitab Jangka Jayabaya* pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang * dikarangnya* pada tahun *1666-1668 Jawa* = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong. Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang <http://id.wikipedia.org/wiki/Semarang>, Gubernur<http://id.wikipedia.org/wiki/Gubernur>Jenderalnya benama *van Outhoorn* yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti *G.G van Hoorn* (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn. Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M). Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M. 2010/4/13 YADI supriadi wendy <[email protected]> > S Roestam wrote: > > Kawan2 Anggota Milis Yth, > > > > Prabu Jayabaya yang hidup sekitar 1700 tahun y.l. yang arif dan > bijaksana mempunyai visi yang jauh ke depan. Melalui syair-syair yang > universal dan abadi sifatnya, beliau memberikan tanda-tanda zaman untuk > munculnya Sang Satria Piningit dengan senjata pamungkas Trisula Weda > (benar, lurus, jujur) yang akan menjadikan tanah Jawa (sekarang: > Nusantara Indonesia) menjadi Negeri yang Aman Sentosa, Adil Makmur, > Gemah Ripah Loh Jinawi bagi segenap Bangsa Indonesia. Berikut ini > adalah potongan syair-syair itu: > > > kalau kita simak, semua fenomena yang "diramalkan" tsb sudah terjadi > (tunjukkan, mana yang belum terjadi?) > jadi, pelajaran apa yang semestinya kita peroleh? > > Rupanya kita harus jujur, berani (benar) keluar dari box, untuk melihat > siapa sebenarnya "tokoh" yang dimaksud dengan satria pininggit tsb. > Sebab ternyata penantian keluarnya tokoh satria pininggit versi Prabu > Jayabaya itu, mirip-mirip dengan penantian "tokoh" yang ditunggu-tunggu oleh > setiap agama yang ada di dunia itu melalui ajarannya. > > Berikut daftar agama dan tokoh yang dinantikannya; > Hindu - Sri Kresna/Wisnu yang turun kembali > Budha - Budha Gautama yang turun kembali > Nasrani - Jesus datang kedua kalinya > Islam - Imam Mahdi > > Fakta, kita tidak hidup pada zaman tokoh pembawa ajaran (incl Prabu > Jayabaya) tsb, sehingga kita tidak tahu persis siapa mereka itu. Tapi > mungkin cukup memadai, kalau kita berasumsi, bahwa minimal tokoh pembawa > ajaran itu adalah "orang pilihan" di zamannya, minimal menonjol dalam > kehidupan keagamaannya waktu itu. > > jadi apa selanjutnya? > > Sebutlah "prophecies" kedatangan satria pininggit yang disebutkan oleh > masing-masing ajaran tsb "benar" adanya dari satu sumber yang sama, apa yang > terjadi kelak? > Apakah masing-masing "tokoh" tsb dengan panji-panjinya akan mengklaim, > "akulah satria pininggit yang dinanti-nantikan itu"? > Dan itu akan lebih dari satu, demikiankah? > Hal yang mungkin adalah bahwa satria pininggit itu dimanifestasikan dalam > hanya dan hanya satu orang saja! > > Sepertinya secara nalar masuk ya..... > Bisa mengakomodir semua pihak, cukup demokratis, saya kira....... > Silahkan berfikir jernih > > Dan sunatullah, biasanya tokoh pengemban ini tidak serta merta diterima > oleh lingkungannya, karena BUKAN hasil pilihan manusia. > Karena biasanya tokoh ini diturunkan untuk melakukan "revolusi" - perbaikan > dengan secara menyeluruh. Dan tentu saja akan merombak tatanan nilai-nilai > yang sudah biasa/berada. Jadi bakal banyak musuh yang menentangnya. Tapi > karena memang tokoh tsb pilihan Tuhan, maka Tuhan sendirilah yang akan > "membantunya" melaksanakan tugasnya sesuai rencana. Jadi yang pasti, bukan > tokoh yan berbau politik! > > -- > > Best Regards, > > *Yadi Supriadi** Wendy* > > > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi > serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt >
