From: Harlizon MBAu <[email protected]>
To: [email protected]
"MZ itu orang pintar!", kata mereka.
"Jika bisa membobol, berarti lebih pintar dari yang dibobol!
Sangat jelas dia tahu kelemahan-kelemahan lembaga yang di bobolnya.
____
Pintar? I beg to differ ... teknik mbobolnya tidak terlalu canggih,
sistim yang lemah dan terlalu banyak "lubang"nya lah yang jadi
penyebab utama terjadianya pembbobolan ini [say, 3 years happened
right under their noses, them the promotors!]. Lulusan SMA (atau
undergrad dari STIE :-) yang "determined" bisa melakukannya, seperti
skenario imaginer yang aku tulis di milis alumni menjelang saresehan
Sabtu kemarin. Read on ...
Anatomy of a Plagiarism
Membaca berita-berita di media massa dan komentar-komentar di forum
alumni IA-ITB, bagiku masih banyak "misteri" yang belum terjawab.
Apalagi pihak-pihak yang langsung terkait juga masih bungkam seribu
basa. Memang sudah dibentuk "pansus" untuk melakukan investigasi dan
memberi rekomendasi dalam sebulan -- bahkan menurut dekan STEI (Adang
Suwandi Ahmad), Komisi Kehormatan STEI ITB sudah melakukan
investigasi sejak akhir tahun lalu [detikNews, 4/16/2001].
Entahlah, kenapa proses investigasi ini membutuhkan waktu begitu
lama, seandainya punya akses ke disertasi MZ saya rasa tidak lebih
dari 30 menit untuk membandingkannya dengan thesis dari Siyka
Zlatanova yang bisa didapat di Internet. Kalau paper yang dikirim ke
IEEE untuk konperensi Chengdu sudah jelas, carbon-copy alias jiplakan
100%.
Bukannya tidak sabar menunggu hasil kerja berat tim investigasi,
tetapi banyak pertanyaan yang harus kujawab. Misalnya yang datang
dari anak muda pemilik toko kecil di BeMall [tipikal anak-anak muda
yang "kurang beruntung," tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi
dan harus berusaha mencari sesuap nasi dengan keringat sendiri]:
"Kalau begitu, jadi doktor di ITB itu mudah sekali ya ... apa betul
kesimpulan saya ini?"
"Errrr ... barangkali memang begitu ... di negeri ini, paling tidak
di ITB, seperti skandal plagiarisme MZ baru-baru ini. Tentu saja bisa
jadi ini hanya perkecualian, tidak bisa begitu saja kita gebyah-uyah
(generalization), tetapi ... mungkin ini juga hanya merupakan puncak
yang kelihatan dari sebuah gunung es (the tips of an iceberg). Ada
baiknya kita mencoba mengerti bagaimana perguruan tinggi yang
termasuk "paling baik" di negeri ini bisa kecolongan. Apa yang
sesungguhnya terjadi? Apa yang ada di benak si plagiarist ketika
merencanakan dan melaksanakan kejahatannya? Apakah ada buku
petunjuknya atau "contekannya"?
Dibawah ini, aku akan berusaha menulis semacm "imaginary" how-to
manual, yang mungkin dimulai dengan kalimat: "So you want to be a
doctor?" -- dari kampus yang paling beken di nusantara. Beginilah
caranya:
1. Daftar ke perguruan tinggi, nggak usah yang paling top, cukup yang
"kelas dua" saja (PT2). Ada baiknya PT2 ini merupakan "spin-off" dari
satu perguruan tinggi yang beken (PT1). Alasan utama adalah
persaingan di PT2 tidak terlalu ketat, jadi besar kemungkinan
diterima. Keuntungan lain adalah pelajaran lebih mudah, mudah lulus,
dan juga lebih murah biayanya. Kuliah yang rajin sambil cari kontak
dengan para pengajar - yang umumnya "diperbantukan" dari PT1.
2. Setelah lulus dari PT2, daftar ke program S2 dan selanjutnya S3
dari PT1. Hampir pasti anda akan diterima. Rekomendasi dari pengajar
di PT2 pasti dipercaya oleh pengambil keputusan di PT1 -- lha wong
orang-orangnya ya sama saja, atau paling tidak kolega di satu jurusan
yang sama. Tentu saja ada "motivasi" lain. Duit anda sangat
dibutuhkan oleh PT1, untuk "cross subsidy" atau apapun namanya,
mengingat dana itu selalu kurang saja. Kalau mampu jangan pelit-pelit
amat lah, masuk sekalian ke "jalur cepat." Dijamin anda akan
bener-bener bisa lulus dengan cepat.
3. Soal riset/penelitian atau penulisan thesis. Jangan kuatir,
didepan kampus biasanya ada yang terima "pesanan" paper, essay, tugas
akhir, thesis atau disertasi. Mungkin bisa sambil pura-pura beli
software bajakan atau janjian ketemu di tempat lain yang lebih
discreet ketika membicarakan detail topik dan biayanya (siapa tahu
ada teman atau pengajar yang kebetulan lewat).
4. Alternative yang lain adalah Internet -- murah-meriah alias gratis
(kalau anda memang sudah pengalaman dengan jalur yang cheap ... you
may have done it before, may be ever since highscool days).
Ketrampilan web-surfing dan bahasa Ingrris sangat membantu.
Google-search topik yang dibutuhkan, yang kira-kira diluar expertise
para pembimbing (promotor). Ini penting sekali, karena beliau-beliau
ini sangat sibuk, jadi tidak akan punya waktu untuk belajar atau
membaca hal-hal yang baru -- apalagi hal-hal diluar bidang
spesialisasinya yang sempit itu. [Di tanahair ada pepatah "orang
berhenti belajar setelah mendapat gelar." It's sad but at least the
words rhyme nicely :-]
5. Rajin-rajinlah "berkonsultasi" ke pembimbing, kalau bisa seminggu
sekali, atau 2 kali seminggu kalau perlu. [Hey, bukankah anda berada
di "jalur cepat"]. Anda sendiri tidak perlu rajin riset, cukup
pelajari saja chapter atau bagian yang anda "konsultasikan" itu
sebelum menghadap dan menyerahkan sang pembimbing. Anda akan pegang
"upper hand" karena siapapun tidak akan bisa mencerna dalam tempo
yang singkat -- lagi pula para pembimbing ini profesor dan pejabat
yang amat sangat sibuk. Anda coba lempar satu-dua pertanyaan, (polite
question, of course ... jangan sok jago!). Mohon petunjuk. Bisa
ditebak pembimbing akan "menjaga posture akademik" (for crying
outloud, they are the advisors, and you are a mere advisee) dan
menasihati begini-begitu ... singkatnya "Lanjutkan!" (does this gives
you a déjà vu?)
6. Chapter demi chapter ... ceritanya tidak banyak berbeda. P[ada
setiap konsultasi "bimbingan" anda akan selalu kelihatan "begitu
menguasai materi dan mampu menjawab pertanyaan, tidak seperti orang
yang plagiat," (detikBandung, 19/4/2010). Lanjutkan! Nah, disini anda
memutuskan kapan anda mau lulus. [Hey, bukankah anda berada di "jalur
cepat"... dan andalah yang pegang kendali dalam proses "bimbingan"
ini]. Lengkapi semua persyaratan kredit dan segala macam kewajiban
publikasi, baik dalam maupun luar negeri. Rencanakan pesta selamatan
wisuda yang heboh ... you earn it!
[Note: Kelihatannya MZ tidak membaca atau meremehkan "disclaimer" berikut.]
7. Jangan sekali-sekali --saya ulangi-- jangan sekali-sekali
menerbitkan thesis/disertasi anda atau bagian darinya, walau
sedikitpun, di jurnal atau publikasi internasional (baca: luar
negeri), seperti misalnya jurnalnya IEEE. Bukan karena mereka ini
institusi yang "sacred" tetapi hanya karena banyak dibaca orang
(jutaan). Dalam hitungan hari akan ada seorang yang merasa déjà vu,
"Hmmm ... I think I've read it before ... somewhere." Dan hanya butuh
beberapa detik bagi Google untuk memberikan hasil pencariannya. And
kaboom ... suddenly everyone is getting on your case! And you got a
new middle name, "plagiarist" -- for the rest of your life. The rest,
as they say, is history.
[Bersambung dengan bagian kedua, "Apa yang menyebabkan orang
melakukan plagiarisme" dan bagian ketiga, "Bagaimana perguruan tinggi
menanggulangi masalah ini"]
Moko Darjatmoko
Madison, Wisconsin*
[*kini sedang melakukan riset di tanah air]