Sebenarnya, S3 itu adalah program untuk melatih menjadi seorang peneliti mandiri (independent researcher). Dan sering memang pembimbing (promotor) tidak menguasai keseluruhan bidang yg sedang di riset kandidat doktor.
Saya pun pernah mengalami hal serupa, dimana Profesornya tidak menguasai detail riset yg sedang saya kerjakan. Padahal itu sudah di LN lho ;-) Jadi ya jawabannya juga sama ... carry on ... setiap kali setelah bimbingan ;-) Tentu memang sangat tergantung profesornya juga. Ada yg begitu, ada yg sebaliknya ... kandidat S3 diperlakukan tidak beda dgn kandidat S2 atau S1. Istilahnya ... dicekoki ... . Memang ada 2 pendekatan dalam proses bimbingan S3. Yg satu dilepaskan benar2 begitu saja, dimana Promotor hanya sebagai "partner diskusi" saja. Yg satu caranya dgn memonitor every minutes kegiatan kadidat doktor ini. Masing2 punya alasan. Yg pertama beralasan bahwa calon doktor itu harus melatih diri untuk menjadi "peneliti mandiri". Jadi, harus punya "inner motivation" to find the answer. Tipe promotor seperti ini tidak setuju kandidat doktor itu "dicekoki". Kekurangannya adalah, biasanya kandidat yg dapat promotor tipe ini bakal luama lulusnya ;-) Di lain pihak, ada promotor yg memperlakukan kandidat doktor tidak beda jauh dgn S2 dan S1. Alasannya, dia punya target (biasanya terkait dgn proyek penelitian), dan apa yg dikerjakan si kandidat ini sebenarnya buah pikiran promotor ini. Untungnya, bisa lulus tepat waktu. Buruknya, biasanya tetap harus tergantung dgn profesor lain untuk meneliti. Artinya, jarang yg berani melakukan topik penelitian di luar mainstream dari yg diajarkannya .... Yg membedakan antara Indonesia dgn LN adalah, komunitas peneliti dalam bidang tertentu itu sangat sedikit. Biasanya, cross check itu terjadi di dalam komunitas lokal penelitinya dulu. Plagiat akan mudah diketahui oleh sesama peneliti bidang yg sama, yg masih aktif. Seringnya malah sesama kandidat doktor yg lain. Sekedar sharing pengalaman saja ... salam, -ai- 2010/4/28 Moko Darjatmoko <[email protected]>: > From: Harlizon MBAu <[email protected]> > > To: [email protected] > > ³MZ itu orang pintar!², kata mereka. > > ²Jika bisa membobol, berarti lebih pintar dari yang dibobol! > > Sangat jelas dia tahu kelemahan-kelemahan lembaga yang di bobolnya. > > ____ > > Pintar? I beg to differ ... teknik mbobolnya tidak terlalu canggih, sistim > yang lemah dan terlalu banyak "lubang"nya lah yang jadi penyebab utama > terjadianya pembbobolan ini [say, 3 years happened right under their noses, > them the promotors!]. Lulusan SMA (atau undergrad dari STIE :-) yang > "determined" bisa melakukannya, seperti skenario imaginer yang aku tulis di > milis alumni menjelang saresehan Sabtu kemarin. Read on ... > ________________________________ > Anatomy of a Plagiarism > Membaca berita-berita di media massa dan komentar-komentar di forum alumni > IA-ITB, bagiku masih banyak "misteri" yang belum terjawab. Apalagi > pihak-pihak yang langsung terkait juga masih bungkam seribu basa. Memang > sudah dibentuk "pansus" untuk melakukan investigasi dan memberi rekomendasi > dalam sebulan -- bahkan menurut dekan STEI (Adang Suwandi Ahmad), Komisi > Kehormatan STEI ITB sudah melakukan investigasi sejak akhir tahun lalu > [detikNews, 4/16/2001]. > Entahlah, kenapa proses investigasi ini membutuhkan waktu begitu lama, > seandainya punya akses ke disertasi MZ saya rasa tidak lebih dari 30 menit > untuk membandingkannya dengan thesis dari Siyka Zlatanova yang bisa didapat > di Internet. Kalau paper yang dikirim ke IEEE untuk konperensi Chengdu sudah > jelas, carbon-copy alias jiplakan 100%. > Bukannya tidak sabar menunggu hasil kerja berat tim investigasi, tetapi > banyak pertanyaan yang harus kujawab. Misalnya yang datang dari anak muda > pemilik toko kecil di BeMall [tipikal anak-anak muda yang "kurang > beruntung," tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi dan harus berusaha > mencari sesuap nasi dengan keringat sendiri]: "Kalau begitu, jadi doktor di > ITB itu mudah sekali ya ... apa betul kesimpulan saya ini?" > "Errrr ... barangkali memang begitu ... di negeri ini, paling tidak di ITB, > seperti skandal plagiarisme MZ baru-baru ini. Tentu saja bisa jadi ini hanya > perkecualian, tidak bisa begitu saja kita gebyah-uyah (generalization), > tetapi ... mungkin ini juga hanya merupakan puncak yang kelihatan dari > sebuah gunung es (the tips of an iceberg). Ada baiknya kita mencoba mengerti > bagaimana perguruan tinggi yang termasuk "paling baik" di negeri ini bisa > kecolongan. Apa yang sesungguhnya terjadi? Apa yang ada di benak si > plagiarist ketika merencanakan dan melaksanakan kejahatannya? Apakah ada > buku petunjuknya atau "contekannya"? > > Dibawah ini, aku akan berusaha menulis semacm "imaginary" how-to manual, > yang mungkin dimulai dengan kalimat: "So you want to be a doctor?" -- dari > kampus yang paling beken di nusantara. Beginilah caranya: > 1. Daftar ke perguruan tinggi, nggak usah yang paling top, cukup yang "kelas > dua" saja (PT2). Ada baiknya PT2 ini merupakan "spin-off" dari satu > perguruan tinggi yang beken (PT1). Alasan utama adalah persaingan di PT2 > tidak terlalu ketat, jadi besar kemungkinan diterima. Keuntungan lain adalah > pelajaran lebih mudah, mudah lulus, dan juga lebih murah biayanya. Kuliah > yang rajin sambil cari kontak dengan para pengajar - yang umumnya > "diperbantukan" dari PT1. > 2. Setelah lulus dari PT2, daftar ke program S2 dan selanjutnya S3 dari PT1. > Hampir pasti anda akan diterima. Rekomendasi dari pengajar di PT2 pasti > dipercaya oleh pengambil keputusan di PT1 -- lha wong orang-orangnya ya sama > saja, atau paling tidak kolega di satu jurusan yang sama. Tentu saja ada > "motivasi" lain. Duit anda sangat dibutuhkan oleh PT1, untuk "cross subsidy" > atau apapun namanya, mengingat dana itu selalu kurang saja. Kalau mampu > jangan pelit-pelit amat lah, masuk sekalian ke "jalur cepat." Dijamin anda > akan bener-bener bisa lulus dengan cepat. > 3. Soal riset/penelitian atau penulisan thesis. Jangan kuatir, didepan > kampus biasanya ada yang terima "pesanan" paper, essay, tugas akhir, thesis > atau disertasi. Mungkin bisa sambil pura-pura beli software bajakan atau > janjian ketemu di tempat lain yang lebih discreet ketika membicarakan detail > topik dan biayanya (siapa tahu ada teman atau pengajar yang kebetulan > lewat). > 4. Alternative yang lain adalah Internet -- murah-meriah alias gratis (kalau > anda memang sudah pengalaman dengan jalur yang cheap ... you may have done > it before, may be ever since highscool days). Ketrampilan web-surfing dan > bahasa Ingrris sangat membantu. Google-search topik yang dibutuhkan, yang > kira-kira diluar expertise para pembimbing (promotor). Ini penting sekali, > karena beliau-beliau ini sangat sibuk, jadi tidak akan punya waktu untuk > belajar atau membaca hal-hal yang baru -- apalagi hal-hal diluar bidang > spesialisasinya yang sempit itu. [Di tanahair ada pepatah "orang berhenti > belajar setelah mendapat gelar." It's sad but at least the words rhyme > nicely :-] > 5. Rajin-rajinlah "berkonsultasi" ke pembimbing, kalau bisa seminggu sekali, > atau 2 kali seminggu kalau perlu. [Hey, bukankah anda berada di "jalur > cepat"]. Anda sendiri tidak perlu rajin riset, cukup pelajari saja chapter > atau bagian yang anda "konsultasikan" itu sebelum menghadap dan menyerahkan > sang pembimbing. Anda akan pegang "upper hand" karena siapapun tidak akan > bisa mencerna dalam tempo yang singkat -- lagi pula para pembimbing ini > profesor dan pejabat yang amat sangat sibuk. Anda coba lempar satu-dua > pertanyaan, (polite question, of course ... jangan sok jago!). Mohon > petunjuk. Bisa ditebak pembimbing akan "menjaga posture akademik" (for > crying outloud, they are the advisors, and you are a mere advisee) dan > menasihati begini-begitu ... singkatnya "Lanjutkan!" (does this gives you a > déjà vu?) > 6. Chapter demi chapter ... ceritanya tidak banyak berbeda. P[ada setiap > konsultasi "bimbingan" anda akan selalu kelihatan "begitu menguasai materi > dan mampu menjawab pertanyaan, tidak seperti orang yang plagiat," > (detikBandung, 19/4/2010). Lanjutkan! Nah, disini anda memutuskan kapan anda > mau lulus. [Hey, bukankah anda berada di "jalur cepat"... dan andalah yang > pegang kendali dalam proses "bimbingan" ini]. Lengkapi semua persyaratan > kredit dan segala macam kewajiban publikasi, baik dalam maupun luar negeri. > Rencanakan pesta selamatan wisuda yang heboh ... you earn it! > [Note: Kelihatannya MZ tidak membaca atau meremehkan "disclaimer" berikut.] > 7. Jangan sekali-sekali --saya ulangi-- jangan sekali-sekali menerbitkan > thesis/disertasi anda atau bagian darinya, walau sedikitpun, di jurnal atau > publikasi internasional (baca: luar negeri), seperti misalnya jurnalnya > IEEE. Bukan karena mereka ini institusi yang "sacred" tetapi hanya karena > banyak dibaca orang (jutaan). Dalam hitungan hari akan ada seorang yang > merasa déjà vu, "Hmmm ... I think I've read it before ... somewhere." Dan > hanya butuh beberapa detik bagi Google untuk memberikan hasil pencariannya. > And kaboom ... suddenly everyone is getting on your case! And you got a new > middle name, "plagiarist" -- for the rest of your life. The rest, as they > say, is history. > [Bersambung dengan bagian kedua, "Apa yang menyebabkan orang melakukan > plagiarisme" dan bagian ketiga, "Bagaimana perguruan tinggi menanggulangi > masalah ini"] > Moko Darjatmoko > Madison, Wisconsin* > [*kini sedang melakukan riset di tanah air] -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
