pak emaiol kedua dan ketiga belum di Launch ya pak

2010/4/28 Moko Darjatmoko <[email protected]>

>  From: Harlizon MBAu <[email protected]>
>
> To: [email protected]
>
>
> ³MZ itu orang pintar!², kata mereka.
>
> ²Jika bisa membobol, berarti lebih pintar dari yang dibobol!
>
> Sangat jelas dia tahu kelemahan-kelemahan lembaga yang di bobolnya.
>
> ____
>
>
> Pintar? I beg to differ ... teknik mbobolnya tidak terlalu canggih, sistim
> yang lemah dan terlalu banyak "lubang"nya lah yang jadi penyebab utama
> terjadianya pembbobolan ini [say, 3 years happened right under their noses,
> them the promotors!]. Lulusan SMA (atau undergrad dari STIE :-) yang
> "determined" bisa melakukannya, seperti skenario imaginer yang aku tulis di
> milis alumni menjelang saresehan Sabtu kemarin. Read on ...
>
> ------------------------------
>
> Anatomy of a Plagiarism
>
> Membaca berita-berita di media massa dan komentar-komentar di forum alumni
> IA-ITB, bagiku masih banyak "misteri" yang belum terjawab. Apalagi
> pihak-pihak yang langsung terkait juga masih bungkam seribu basa. Memang
> sudah dibentuk "pansus" untuk melakukan investigasi dan memberi rekomendasi
> dalam sebulan -- bahkan menurut dekan STEI (Adang Suwandi Ahmad), Komisi
> Kehormatan STEI ITB sudah melakukan investigasi sejak akhir tahun lalu [
> detikNews, 4/16/2001].
>
> Entahlah, kenapa proses investigasi ini membutuhkan waktu begitu lama,
> seandainya punya akses ke disertasi MZ saya rasa tidak lebih dari 30 menit
> untuk membandingkannya dengan thesis dari Siyka Zlatanova yang bisa didapat
> di Internet. Kalau paper yang dikirim ke IEEE untuk konperensi Chengdu sudah
> jelas, carbon-copy alias jiplakan 100%.
>
> Bukannya tidak sabar menunggu hasil kerja berat tim investigasi, tetapi
> banyak pertanyaan yang harus kujawab. Misalnya yang datang dari anak muda
> pemilik toko kecil di BeMall [tipikal anak-anak muda yang "kurang
> beruntung," tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi dan harus berusaha
> mencari sesuap nasi dengan keringat sendiri]: "Kalau begitu, jadi doktor di
> ITB itu mudah sekali ya ... apa betul kesimpulan saya ini?"
>
> "Errrr ... barangkali memang begitu ... di negeri ini, paling tidak di ITB,
> seperti skandal plagiarisme MZ baru-baru ini. Tentu saja bisa jadi ini hanya
> perkecualian, tidak bisa begitu saja kita* gebyah-uyah* (generalization),
> tetapi ... mungkin ini juga hanya merupakan puncak yang kelihatan dari
> sebuah gunung es (the tips of an iceberg). Ada baiknya kita mencoba mengerti
> bagaimana perguruan tinggi yang termasuk "paling baik" di negeri ini bisa
> kecolongan. Apa yang sesungguhnya terjadi? Apa yang ada di benak si
> plagiarist ketika merencanakan dan melaksanakan kejahatannya? Apakah ada
> buku petunjuknya atau "contekannya"?
>
>
>  Dibawah ini, aku akan berusaha menulis semacm "imaginary" how-to manual,
> yang mungkin dimulai dengan kalimat: "So you want to be a doctor?" -- dari
> kampus yang paling beken di nusantara. Beginilah caranya:
>
> 1. Daftar ke perguruan tinggi, nggak usah yang paling top, cukup yang
> "kelas dua" saja (PT2). Ada baiknya PT2 ini merupakan "spin-off" dari satu
> perguruan tinggi yang beken (PT1). Alasan utama adalah persaingan di PT2
> tidak terlalu ketat, jadi besar kemungkinan diterima. Keuntungan lain adalah
> pelajaran lebih mudah, mudah lulus, dan juga lebih murah biayanya. Kuliah
> yang rajin sambil cari kontak dengan para pengajar - yang umumnya
> "diperbantukan" dari PT1.
>
> 2. Setelah lulus dari PT2, daftar ke program S2 dan selanjutnya S3 dari
> PT1. Hampir pasti anda akan diterima. Rekomendasi dari pengajar di PT2 pasti
> dipercaya oleh pengambil keputusan di PT1 -- lha wong orang-orangnya ya sama
> saja, atau paling tidak kolega di satu jurusan yang sama. Tentu saja ada
> "motivasi" lain. Duit anda sangat dibutuhkan oleh PT1, untuk "cross subsidy"
> atau apapun namanya, mengingat dana itu selalu kurang saja. Kalau mampu
> jangan pelit-pelit amat lah, masuk sekalian ke "jalur cepat." Dijamin anda
> akan bener-bener bisa lulus dengan cepat.
>
> 3. Soal riset/penelitian atau penulisan thesis. Jangan kuatir, didepan
> kampus biasanya ada yang terima "pesanan" paper, essay, tugas akhir, thesis
> atau disertasi. Mungkin bisa sambil pura-pura beli software bajakan atau
> janjian ketemu di tempat lain yang lebih* discreet* ketika membicarakan
> detail topik dan biayanya (siapa tahu ada teman atau pengajar yang kebetulan
> lewat).
>
> 4. Alternative yang lain adalah Internet -- murah-meriah alias gratis
> (kalau anda memang sudah pengalaman dengan jalur yang* cheap* ... you may
> have done it before, may be ever since highscool days). Ketrampilan
> web-surfing dan bahasa Ingrris sangat membantu. Google-search topik yang
> dibutuhkan, yang kira-kira* diluar* expertise para pembimbing (promotor).
> Ini penting sekali, karena beliau-beliau ini sangat sibuk, jadi tidak akan
> punya waktu untuk belajar atau membaca hal-hal yang baru -- apalagi hal-hal
> diluar bidang spesialisasinya yang sempit itu. [Di tanahair ada pepatah
> "orang berhenti* belajar* setelah mendapat* gelar*." It's sad but at least
> the words rhyme nicely :-]
>
> 5. Rajin-rajinlah "berkonsultasi" ke pembimbing, kalau bisa seminggu
> sekali, atau 2 kali seminggu kalau perlu. [Hey, bukankah anda berada di
> "jalur cepat"]. Anda sendiri tidak perlu rajin riset, cukup pelajari saja
> chapter atau bagian yang anda "konsultasikan" itu sebelum menghadap dan
> menyerahkan sang pembimbing. Anda akan pegang "upper hand" karena siapapun
> tidak akan bisa mencerna dalam tempo yang singkat -- lagi pula para
> pembimbing ini profesor dan pejabat yang amat sangat sibuk. Anda coba lempar
> satu-dua pertanyaan, (polite question, of course ... jangan sok jago!).
> Mohon petunjuk. Bisa ditebak pembimbing akan "menjaga posture akademik" (for
> crying outloud, they* are* the advisors, and you are a mere advisee) dan
> menasihati begini-begitu ... singkatnya "Lanjutkan!" (does this gives you a
> * déjà vu*?)
>
> 6. Chapter demi chapter ... ceritanya tidak banyak berbeda. P[ada setiap
> konsultasi "bimbingan" anda akan selalu kelihatan "begitu menguasai materi
> dan mampu menjawab pertanyaan, tidak seperti orang yang plagiat,"
> (detikBandung, 19/4/2010). Lanjutkan! Nah, disini anda memutuskan* kapan*anda 
> mau lulus. [Hey, bukankah anda berada di "jalur cepat"... dan andalah
> yang pegang kendali dalam proses "bimbingan" ini]. Lengkapi semua
> persyaratan kredit dan segala macam kewajiban publikasi, baik dalam maupun
> luar negeri. Rencanakan pesta selamatan wisuda yang heboh ... you earn it!
>
> [Note: Kelihatannya MZ tidak membaca atau meremehkan "disclaimer" berikut.]
>
> 7. Jangan sekali-sekali --saya ulangi--* jangan sekali-sekali* menerbitkan
> thesis/disertasi anda atau bagian darinya, walau sedikitpun, di jurnal atau
> publikasi internasional (baca: luar negeri), seperti misalnya jurnalnya
> IEEE. Bukan karena mereka ini institusi yang "sacred" tetapi hanya karena
> banyak dibaca orang (jutaan). Dalam hitungan hari akan ada seorang yang
> merasa* déjà vu*, "Hmmm ... I think I've read it before ... somewhere."
> Dan hanya butuh beberapa detik bagi Google untuk memberikan hasil
> pencariannya. And* kaboom* ... suddenly everyone is getting on your case!
> And you got a new middle name, "plagiarist" -- for the rest of your life.
> The rest, as they say, is history.
>
> [Bersambung dengan bagian kedua, "Apa yang menyebabkan orang melakukan
> plagiarisme" dan bagian ketiga, "Bagaimana perguruan tinggi menanggulangi
> masalah ini"]
>
> Moko Darjatmoko
> Madison, Wisconsin*
>
> [*kini sedang melakukan riset di tanah air]
>



-- 
Best Regards
Tsulusun Ar Royan
Be kind, for whenever kindness becomes part of something, it beautifies it.
Whenever it is taken from something, it leaves it tarnished.

Kirim email ke