Terima kasih, Pak Adi, Sangat berguna penjelasannya dan membuka wawasan bagi para mahasiswa pascasarjana/calon penelit atau supervisor, yang terkadang punya "high expectatation" juga terhadap supervisornya atau mahasiswanya, padahal tidak hanya rocker, tetapi pembimbing, pembanding, dan mahasiswa, jelasnya, kita semua, adalah manusia. :-)
Salam, CA On 5/3/10, Adi Indrayanto <[email protected]> wrote: > Sebenarnya, S3 itu adalah program untuk melatih menjadi seorang > peneliti mandiri (independent researcher). Dan sering memang > pembimbing (promotor) tidak menguasai keseluruhan bidang yg sedang di > riset kandidat doktor. > > Saya pun pernah mengalami hal serupa, dimana Profesornya tidak > menguasai detail riset yg sedang saya kerjakan. Padahal itu sudah di > LN lho ;-) Jadi ya jawabannya juga sama ... carry on ... setiap kali > setelah bimbingan ;-) > > Tentu memang sangat tergantung profesornya juga. Ada yg begitu, ada yg > sebaliknya ... kandidat S3 diperlakukan tidak beda dgn kandidat S2 > atau S1. Istilahnya ... dicekoki ... . > > Memang ada 2 pendekatan dalam proses bimbingan S3. Yg satu dilepaskan > benar2 begitu saja, dimana Promotor hanya sebagai "partner diskusi" > saja. Yg satu caranya dgn memonitor every minutes kegiatan kadidat > doktor ini. > > Masing2 punya alasan. Yg pertama beralasan bahwa calon doktor itu > harus melatih diri untuk menjadi "peneliti mandiri". Jadi, harus punya > "inner motivation" to find the answer. Tipe promotor seperti ini > tidak setuju kandidat doktor itu "dicekoki". Kekurangannya adalah, > biasanya kandidat yg dapat promotor tipe ini bakal luama lulusnya ;-) > > Di lain pihak, ada promotor yg memperlakukan kandidat doktor tidak > beda jauh dgn S2 dan S1. Alasannya, dia punya target (biasanya terkait > dgn proyek penelitian), dan apa yg dikerjakan si kandidat ini > sebenarnya buah pikiran promotor ini. Untungnya, bisa lulus tepat > waktu. Buruknya, biasanya tetap harus tergantung dgn profesor lain > untuk meneliti. Artinya, jarang yg berani melakukan topik penelitian > di luar mainstream dari yg diajarkannya .... > > Yg membedakan antara Indonesia dgn LN adalah, komunitas peneliti dalam > bidang tertentu itu sangat sedikit. Biasanya, cross check itu terjadi > di dalam komunitas lokal penelitinya dulu. Plagiat akan mudah > diketahui oleh sesama peneliti bidang yg sama, yg masih aktif. > Seringnya malah sesama kandidat doktor yg lain. > > Sekedar sharing pengalaman saja ... > > salam, > > -ai- > > > 2010/4/28 Moko Darjatmoko <[email protected]>: >> From: Harlizon MBAu <[email protected]> >> >> To: [email protected] >> >> ³MZ itu orang pintar!², kata mereka. >> >> ²Jika bisa membobol, berarti lebih pintar dari yang dibobol! >> >> Sangat jelas dia tahu kelemahan-kelemahan lembaga yang di bobolnya. >> >> ____ >> >> Pintar? I beg to differ ... teknik mbobolnya tidak terlalu canggih, sistim >> yang lemah dan terlalu banyak "lubang"nya lah yang jadi penyebab utama >> terjadianya pembbobolan ini [say, 3 years happened right under their >> noses, >> them the promotors!]. Lulusan SMA (atau undergrad dari STIE :-) yang >> "determined" bisa melakukannya, seperti skenario imaginer yang aku tulis >> di >> milis alumni menjelang saresehan Sabtu kemarin. Read on ... >> ________________________________ >> Anatomy of a Plagiarism >> Membaca berita-berita di media massa dan komentar-komentar di forum alumni >> IA-ITB, bagiku masih banyak "misteri" yang belum terjawab. Apalagi >> pihak-pihak yang langsung terkait juga masih bungkam seribu basa. Memang >> sudah dibentuk "pansus" untuk melakukan investigasi dan memberi >> rekomendasi >> dalam sebulan -- bahkan menurut dekan STEI (Adang Suwandi Ahmad), Komisi >> Kehormatan STEI ITB sudah melakukan investigasi sejak akhir tahun lalu >> [detikNews, 4/16/2001]. >> Entahlah, kenapa proses investigasi ini membutuhkan waktu begitu lama, >> seandainya punya akses ke disertasi MZ saya rasa tidak lebih dari 30 menit >> untuk membandingkannya dengan thesis dari Siyka Zlatanova yang bisa >> didapat >> di Internet. Kalau paper yang dikirim ke IEEE untuk konperensi Chengdu >> sudah >> jelas, carbon-copy alias jiplakan 100%. >> Bukannya tidak sabar menunggu hasil kerja berat tim investigasi, tetapi >> banyak pertanyaan yang harus kujawab. Misalnya yang datang dari anak muda >> pemilik toko kecil di BeMall [tipikal anak-anak muda yang "kurang >> beruntung," tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi dan harus berusaha >> mencari sesuap nasi dengan keringat sendiri]: "Kalau begitu, jadi doktor >> di >> ITB itu mudah sekali ya ... apa betul kesimpulan saya ini?" >> "Errrr ... barangkali memang begitu ... di negeri ini, paling tidak di >> ITB, >> seperti skandal plagiarisme MZ baru-baru ini. Tentu saja bisa jadi ini >> hanya >> perkecualian, tidak bisa begitu saja kita gebyah-uyah (generalization), >> tetapi ... mungkin ini juga hanya merupakan puncak yang kelihatan dari >> sebuah gunung es (the tips of an iceberg). Ada baiknya kita mencoba >> mengerti >> bagaimana perguruan tinggi yang termasuk "paling baik" di negeri ini bisa >> kecolongan. Apa yang sesungguhnya terjadi? Apa yang ada di benak si >> plagiarist ketika merencanakan dan melaksanakan kejahatannya? Apakah ada >> buku petunjuknya atau "contekannya"? >> >> Dibawah ini, aku akan berusaha menulis semacm "imaginary" how-to manual, >> yang mungkin dimulai dengan kalimat: "So you want to be a doctor?" -- dari >> kampus yang paling beken di nusantara. Beginilah caranya: >> 1. Daftar ke perguruan tinggi, nggak usah yang paling top, cukup yang >> "kelas >> dua" saja (PT2). Ada baiknya PT2 ini merupakan "spin-off" dari satu >> perguruan tinggi yang beken (PT1). Alasan utama adalah persaingan di PT2 >> tidak terlalu ketat, jadi besar kemungkinan diterima. Keuntungan lain >> adalah >> pelajaran lebih mudah, mudah lulus, dan juga lebih murah biayanya. Kuliah >> yang rajin sambil cari kontak dengan para pengajar - yang umumnya >> "diperbantukan" dari PT1. >> 2. Setelah lulus dari PT2, daftar ke program S2 dan selanjutnya S3 dari >> PT1. >> Hampir pasti anda akan diterima. Rekomendasi dari pengajar di PT2 pasti >> dipercaya oleh pengambil keputusan di PT1 -- lha wong orang-orangnya ya >> sama >> saja, atau paling tidak kolega di satu jurusan yang sama. Tentu saja ada >> "motivasi" lain. Duit anda sangat dibutuhkan oleh PT1, untuk "cross >> subsidy" >> atau apapun namanya, mengingat dana itu selalu kurang saja. Kalau mampu >> jangan pelit-pelit amat lah, masuk sekalian ke "jalur cepat." Dijamin anda >> akan bener-bener bisa lulus dengan cepat. >> 3. Soal riset/penelitian atau penulisan thesis. Jangan kuatir, didepan >> kampus biasanya ada yang terima "pesanan" paper, essay, tugas akhir, >> thesis >> atau disertasi. Mungkin bisa sambil pura-pura beli software bajakan atau >> janjian ketemu di tempat lain yang lebih discreet ketika membicarakan >> detail >> topik dan biayanya (siapa tahu ada teman atau pengajar yang kebetulan >> lewat). >> 4. Alternative yang lain adalah Internet -- murah-meriah alias gratis >> (kalau >> anda memang sudah pengalaman dengan jalur yang cheap ... you may have done >> it before, may be ever since highscool days). Ketrampilan web-surfing dan >> bahasa Ingrris sangat membantu. Google-search topik yang dibutuhkan, yang >> kira-kira diluar expertise para pembimbing (promotor). Ini penting sekali, >> karena beliau-beliau ini sangat sibuk, jadi tidak akan punya waktu untuk >> belajar atau membaca hal-hal yang baru -- apalagi hal-hal diluar bidang >> spesialisasinya yang sempit itu. [Di tanahair ada pepatah "orang berhenti >> belajar setelah mendapat gelar." It's sad but at least the words rhyme >> nicely :-] >> 5. Rajin-rajinlah "berkonsultasi" ke pembimbing, kalau bisa seminggu >> sekali, >> atau 2 kali seminggu kalau perlu. [Hey, bukankah anda berada di "jalur >> cepat"]. Anda sendiri tidak perlu rajin riset, cukup pelajari saja chapter >> atau bagian yang anda "konsultasikan" itu sebelum menghadap dan >> menyerahkan >> sang pembimbing. Anda akan pegang "upper hand" karena siapapun tidak akan >> bisa mencerna dalam tempo yang singkat -- lagi pula para pembimbing ini >> profesor dan pejabat yang amat sangat sibuk. Anda coba lempar satu-dua >> pertanyaan, (polite question, of course ... jangan sok jago!). Mohon >> petunjuk. Bisa ditebak pembimbing akan "menjaga posture akademik" (for >> crying outloud, they are the advisors, and you are a mere advisee) dan >> menasihati begini-begitu ... singkatnya "Lanjutkan!" (does this gives you >> a >> déjà vu?) >> 6. Chapter demi chapter ... ceritanya tidak banyak berbeda. P[ada setiap >> konsultasi "bimbingan" anda akan selalu kelihatan "begitu menguasai materi >> dan mampu menjawab pertanyaan, tidak seperti orang yang plagiat," >> (detikBandung, 19/4/2010). Lanjutkan! Nah, disini anda memutuskan kapan >> anda >> mau lulus. [Hey, bukankah anda berada di "jalur cepat"... dan andalah yang >> pegang kendali dalam proses "bimbingan" ini]. Lengkapi semua persyaratan >> kredit dan segala macam kewajiban publikasi, baik dalam maupun luar >> negeri. >> Rencanakan pesta selamatan wisuda yang heboh ... you earn it! >> [Note: Kelihatannya MZ tidak membaca atau meremehkan "disclaimer" >> berikut.] >> 7. Jangan sekali-sekali --saya ulangi-- jangan sekali-sekali menerbitkan >> thesis/disertasi anda atau bagian darinya, walau sedikitpun, di jurnal >> atau >> publikasi internasional (baca: luar negeri), seperti misalnya jurnalnya >> IEEE. Bukan karena mereka ini institusi yang "sacred" tetapi hanya karena >> banyak dibaca orang (jutaan). Dalam hitungan hari akan ada seorang yang >> merasa déjà vu, "Hmmm ... I think I've read it before ... somewhere." Dan >> hanya butuh beberapa detik bagi Google untuk memberikan hasil >> pencariannya. >> And kaboom ... suddenly everyone is getting on your case! And you got a >> new >> middle name, "plagiarist" -- for the rest of your life. The rest, as they >> say, is history. >> [Bersambung dengan bagian kedua, "Apa yang menyebabkan orang melakukan >> plagiarisme" dan bagian ketiga, "Bagaimana perguruan tinggi menanggulangi >> masalah ini"] >> Moko Darjatmoko >> Madison, Wisconsin* >> [*kini sedang melakukan riset di tanah air] > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
