Masih "ditahan" dulu, biar sekaligus juga bisa menanggapi feedback dari artikel pertama (Anatomy of a Plagiarism) yang kebanyakan merupakan private email (japri). Menarik sekali, bahwa masalah yang sangat penting ini --dan sangat fundamental dalam dunia akademis-- orang enggan (reluctant) membicarakannya secara terbuka. Kucium ada semacam epidemi "self-censorship" [most possibly driven by fear, Fear of what? Uncertainty, the invisible hand ...], tetapi sebagian besar mencerminkan ingorance (ketidaktahuan) sebagian besar orang akan apa itu plagiarism, apa yang boleh dan apa yang tidak b oleh, atau secara umum apa yang oleh mainstream academician (sample space: the world) dianggap "academic dishonesty" ... the big NO-NOs.

Moko/
PS: Sabar ya ... bisanya ngInternet kalau lagi ke Mall (one with free wifi :-)

++++++++++

At  4/28/10, Tsulusun ArRoyan wrote:
pak emaiol kedua dan ketiga belum di Launch ya pak

2010/4/28 Moko Darjatmoko <<mailto:[email protected]>[email protected]>

From: Harlizon MBAu <<mailto:[email protected]>[email protected]>

To: <mailto:[email protected]>[email protected]


"MZ itu orang pintar!", kata mereka.

"Jika bisa membobol, berarti lebih pintar dari yang dibobol!

Sangat jelas dia tahu kelemahan-kelemahan lembaga yang di bobolnya.

____


Pintar? I beg to differ ... teknik mbobolnya tidak terlalu canggih, sistim yang lemah dan terlalu banyak "lubang"nya lah yang jadi penyebab utama terjadianya pembbobolan ini [say, 3 years happened right under their noses, them the promotors!]. Lulusan SMA (atau undergrad dari STIE :-) yang "determined" bisa melakukannya, seperti skenario imaginer yang aku tulis di milis alumni menjelang saresehan Sabtu kemarin. Read on ...



Anatomy of a Plagiarism
.....

Kirim email ke