You've got my points Sir ...
makanya supaya tidak ada campur tangan politik ,
dijual/swasta kan saja dengan catatan :

1. yg beli orang Indonesia Asli
2. tidak ada capital fly out dan In
3. Go Public tapi prioritas ke pasal 1
4. jangan jual 'tanah dan air' atau jangan jual 'raw material'
5. utk kasus BUMN ini , mencapai angko 20 % itu harus mengorban capital berapa ? kalau tidak ada itungan jelas ,mendingan jangan pakai pareto dulu lah ,,,, ini BUMN sdh pada 'bleeding' dan 'rakyat' yg disuruh nambal 'bleeding' nya sementara para 'pejabat' di BUMN itu makmur-makmur ...gimana to ? ....apa kita mungkin termasuk dalam 'jaringan BUMN' tersebut ? sehingga kita bela habis-habisan ? heheheh ....


On Mon, 17 May 2010, Achmad Chamdani Eka P. wrote:

Kalau saya lihat, hal yang paling berpengaruh dari maju mundurnya BUMN adalah masalah mindset dan campur tangan kepentingan politik. Dua hal ini yang harus dirubah terlebih dahulu, baru menyusul perbaikan renumerasi. Renumerasi tidak terlalu berpengaruh banyak, mengingat orang dalam BUMN sendiri sudah banyak "saweran" proyek dll. yang membuat penghasilan
mereka jauh lebih besar dari gaji mereka (seperti gayus lah).

Perubahan mindset adalah hal terpenting. Kita lihat bagaimana seorang seperti Pak Hengki yang memiliki mindset lebih maju dari pegawai BUMN lain, bisa memajukan REKIND. Disamping itu, campurtangan politik harus dihapus sama sekali. Jangan sampai BUMN hanya dijadikan sapi perahan, "tambang emas" keluarga pejabat atau "buangan" pensiunan politisi saja.

Sebenarnya model yang bagus adalah go public, tetapi pemerintah masih mempunyai porsi saham sebagai pengendali. Model ini berjalan secara baik di Singapura dan Malaysia. Di Singapura misalnya, dibawah kendali GIC dan Temasek, BUMN seperti Singtel, Keppel, Singapore Technologies, DBS, SIA dll. berhasil menjadi perusahaan kelas dunia.

Seandainya perusahaan besar seperti Pertamina, PLN, PTKA dll. masuk bursa, segi positifnya bisa mengangkat market kapitalisasi BEI. Kita tidak akan banyak kesulitan mengungguli bursa
Singapore misalnya.

Hal yang sebaiknya dilakukan pemerintah dalam menentukan dipertahankan tidaknya suatu BUMN
adalah :

1) Membuat analisa pareto 20/80. Artinya tetap mempertahankan 20% perusahaan yang menjadi
  penghasil 80% revenue BUMN.

2) Melihat strategis tidaknya peran BUMN tsb. Sebagai contoh, IPTN, PAL yang walaupun merugi misalnya, harus tetap dipertahankan mengingat strategisnya peran BUMN tsb. Sedangkan perusahaan seperti Damri, tidak perlu dipertahankan karena posisinya yang tidak strategis serta sudah adanya peran swasta. Peran strategis tidaknya bisa dilihat dari berbagai segi, misalnya menguasai tidaknya hajad hidup orang banyak,
  dari segi pertahanan negara, pengembangan teknologi dll.



--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke