http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat
.

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!
 Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB

 Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB
  Dibaca: *61158*
Komentar<http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.#komentar>:
*551*
 :
   shutterstock ILUSTRASI: Sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para
siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih
mengutamakan pembangunan kreativitas.
1<http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.#>

*TERKAIT:*

   - Kualitas Guru, Beban Persoalan
Nasional<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/31/11001145/Kualitas.Guru.Beban.Persoalan.Nasional>
   - Ke Mana Arah Prioritas Pendidikan
Nasional?<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/31/03314232/Ke.Mana.Arah.Prioritas.Pendidikan.Nasional.>
   - Sistem Pendidikan Terus
Dikritik<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/30/10370616/Sistem.Pendidikan.Terus.Dikritik>
   - Saatnya Sarjana Alergi Jadi
Pegawai...<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/25/17141838/Saatnya.Sarjana.Alergi.Jadi.Pegawai.>
   - Belajar Tak Berbatas Ruang dan
Waktu<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/24/13403444/Belajar.Tak.Berbatas.Ruang.dan.Waktu>

 *Oleh Yudhistira ANM Massardi *

*KOMPAS.com* - *Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja
guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai*, --katakanlah
hingga dua dekade ke depan--, *yang akan dihasilkan adalah jutaan calon
penganggur*. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan
sarjana yang menganggur.

Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus
sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka
yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun.

Dalam "kalimat lain", ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak
mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Jadi, *untuk apa sebenarnya
generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi?*

Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang
menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja
yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik
diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jika
sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu *untuk
apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?*

Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris,
dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa
sekarang ini sudah terjadi *inflasi gelar akademis* sehingga ketersediaannya
melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin
merosot.

Lebih dari itu, ia menilai *sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para
siswa*. Maka, *harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan* yang lebih
mengutamakan pembangunan kreativitas.

Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya
pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi
golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai
para sarjana dan bergaji tinggi--, kini digantikan peranti lunak komputer.
Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut.
Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja
manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran
dan kebersihan, terus tumbuh.

*Kreativitas dan imajinasi *

Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para
pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial
yang mengangankan bahwa *semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah
mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!*

Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk "jadi pegawai", yang harus
difasilitasi adalah *sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan
singkat*. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual seperti
pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, ataupun
yang berbasis komputer di perkantoran.

Untuk itu, *tak perlu embel-embel (sekolah) "bertaraf internasional"*
yang *menggelikan
*itu karena komputer sudah dibuat dengan standar internasional. Akan tetapi,
kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya ditopang oleh para operator
di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para kreator yang kaya imajinasi. Oleh
karena itu, *seluruh potensi kecerdasan anak bangsa harus dibangun secara
lebih serius* yang hanya bisa dicapai jika rangsangannya diberikan sejak
usia dini.

Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan
visual-auditori-kinestetik, juga *kreativitas dan kemandirian*. Kata
kuncinya adalah "kreativitas" dan "imajinasi"; dua hal yang belum akan
tergantikan oleh komputer secerdas apa pun!

Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti
dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita
sudah memasuki era digital. Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun
berubah.

Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi,
dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari
suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat "cinta belajar"
pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas "cinta
belajar", apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa
bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya.

Membangun semangat "cinta belajar" tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini
seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses melalui
komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam. Jadi, cukup berikan
kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di
internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin
penerjemah aneka bahasa yang instan.

*Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja* (mulai dari pendidikan anak usia
dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai
tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.

*Penulis adalah Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD
Batutis Al-Ilmi Bekasi*
 *Sumber :*
Kompas Cetak
 
<http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fedukasi.kompas.com%2Fread%2F2011%2F04%2F08%2F10450289%2FBerhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.&t=Berhentilah%20Sekolah%20Sebelum%20Terlambat%21%20-%20KOMPAS.com&src=sp>

Kirim email ke