Kalau pesen di dalam negeri kan kick backnya kecil, belum lagi ada kesempatan utk survey ke Pabrik dan diajak jl2 sama si penjual. kalau pesen ke PTDI paling diajak jl2 ke jl Braga atau naik kuda di jl Ganesha hehe....
Saya kira sesederhana itulah. Wass. DZA Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: husni muhamad Shebubakar <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 10 May 2011 10:27:01 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! tanggung jawab sosial terhadap negara sangat tercemar dengan memesan 18 pesawat dari china, sedangkan ada pabrik pesawat di Indonesia yang bis membuat dengan kwalitas yang jauh lebih baik..... 2011/5/10 ferensa oemry <[email protected]> > Menarik sekali temanya, tapi sebaiknya kita harus selalu berhati-hati > dalam membaca situasi pendidikan di indonesia dengan di amerika, karena > kondisi ya berbeda. Masalah penggangguran anak muda terdidik di amerika > disebabkan oleh terbatasnya lowongan pekerjaan yang tersedia di sana. > Mengapa hal tersebut bisa terjadi? mayoritas karena banyak perusahaan2 yang > mengalihkan bisnis ya ke negara lain (outsorucing) demi meraih keuntungan > yang besar2 ya, tapi mengabaikan moral dan tanggung jawab sosial terhadap > masyarakat amerika, yaitu memberikan pekerjaan yang layak. > > Kembali topik, kita sekolah itu tujuan akhirnya itu apa? menjadi cerdas > atau pintar itu hanya sarana/fasilitas agar kita bisa lebih mudah bersaing, > tapi sebenarnya untuk memperoleh uang bukan (secara umum)? Hanya sedikit > yang mengatakan karena hobi atau pilihan hidup > > Jadi, mungkin kita harus tahu apa target pekerjaan kita dan mau gaji > berapa? jadi kita sekolah hanya sampai jenjang dimana dengan tingkat > pendidikan yang kita miliki, kita sudah bisa memperoleh gaji yang kita > inginkan, tapi tentu saja itu hanya berlaku kalau kita mau jadi pegawai. > Kalau mau jadi pengusaha, mungkin harus pakai cara lain, tidak bisa pakai > jalur formal. > > Salam Hangat Semua, > > Ferensa Oemry > > --- On *Mon, 5/9/11, Sjaiful Bahri <[email protected]>* wrote: > > > From: Sjaiful Bahri <[email protected]> > Subject: [indonesia] Re: Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! > To: [email protected] > Date: Monday, May 9, 2011, 12:31 PM > > > bukannya pada level tertentu dan pada jumlah tertentu memang diperlukan > tenaga yang siap pakai...? Tidak harus semua dong jadi creative dan > ber-inovasi... :)) > > Regards, > Sjaiful Bahri > > --- On *Mon, 5/9/11, Harlizon MBAu <[email protected]>* wrote: > > > From: Harlizon MBAu <[email protected]> > Subject: [indonesia] Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! > To: [email protected], [email protected] > Date: Monday, May 9, 2011, 4:12 PM > > > http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat > . > > Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! > Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB > > Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB > Dibaca: *61158* > > Komentar<http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.#komentar>: > *551* > : > shutterstock ILUSTRASI: Sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para > siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih > mengutamakan pembangunan kreativitas. > 1<http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.#> > > *TERKAIT:* > > - Kualitas Guru, Beban Persoalan > Nasional<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/31/11001145/Kualitas.Guru.Beban.Persoalan.Nasional> > - Ke Mana Arah Prioritas Pendidikan > Nasional?<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/31/03314232/Ke.Mana.Arah.Prioritas.Pendidikan.Nasional.> > - Sistem Pendidikan Terus > Dikritik<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/30/10370616/Sistem.Pendidikan.Terus.Dikritik> > - Saatnya Sarjana Alergi Jadi > Pegawai...<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/25/17141838/Saatnya.Sarjana.Alergi.Jadi.Pegawai.> > - Belajar Tak Berbatas Ruang dan > Waktu<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/24/13403444/Belajar.Tak.Berbatas.Ruang.dan.Waktu> > > *Oleh Yudhistira ANM Massardi * > > *KOMPAS.com* - *Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga > kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai*, > --katakanlah hingga dua dekade ke depan--, *yang akan dihasilkan adalah > jutaan calon penganggur*. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan > program diploma dan sarjana yang menganggur. > > Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa > putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah > mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap > tahun. > > Dalam "kalimat lain", ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak > mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Jadi, *untuk apa sebenarnya > generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi?* > > Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang > menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja > yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik > diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jika > sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu *untuk > apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan > pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?* > > Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, > dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa > sekarang ini sudah terjadi *inflasi gelar akademis* sehingga > ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia > kerja semakin merosot. > > Lebih dari itu, ia menilai *sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas > para siswa*. Maka, *harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan* yang > lebih mengutamakan pembangunan kreativitas. > > Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya > pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi > golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai > para sarjana dan bergaji tinggi--, kini digantikan peranti lunak komputer. > Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. > Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja > manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran > dan kebersihan, terus tumbuh. > > *Kreativitas dan imajinasi * > > Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para > pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial > yang mengangankan bahwa *semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah > mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!* > > Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk "jadi pegawai", yang harus > difasilitasi adalah *sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan > singkat*. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual > seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, > ataupun yang berbasis komputer di perkantoran. > > Untuk itu, *tak perlu embel-embel (sekolah) "bertaraf internasional"* yang > *menggelikan *itu karena komputer sudah dibuat dengan standar > internasional. Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya > ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para > kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, *seluruh potensi kecerdasan > anak bangsa harus dibangun secara lebih serius* yang hanya bisa dicapai > jika rangsangannya diberikan sejak usia dini. > > Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan > visual-auditori-kinestetik, juga *kreativitas dan kemandirian*. Kata > kuncinya adalah "kreativitas" dan "imajinasi"; dua hal yang belum akan > tergantikan oleh komputer secerdas apa pun! > > Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti > dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita > sudah memasuki era digital. Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun > berubah. > > Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, > dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari > suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat "cinta belajar" > pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas "cinta > belajar", apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa > bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya. > > Membangun semangat "cinta belajar" tak perlu harus ke perguruan tinggi. > Kini seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses > melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam. Jadi, cukup > berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang > dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya > tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan. > > *Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja* (mulai dari pendidikan anak usia > dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai > tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada. > > *Penulis adalah Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD > Batutis Al-Ilmi Bekasi* > *Sumber :* > Kompas Cetak > > <http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fedukasi.kompas.com%2Fread%2F2011%2F04%2F08%2F10450289%2FBerhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.&t=Berhentilah%20Sekolah%20Sebelum%20Terlambat%21%20-%20KOMPAS.com&src=sp> > >
