Ngkali yang mbeli taunya orang Indonesia hanya bisa bikin tempe ama peyeum Pak.
2011/5/11 Sumitro Roestam <[email protected]> > Pak Arifin, pak Husni dan kawan2 yth, > > Sayang sekali, kita punya pabrik Pesawat yg sdh pengalaman buat ratusan > buah pesawat kok malah dilupakan begitu saja. Padahal PTDI sdh punya > sertifikat FAA. Apa kriteria tender (kalau ada) untuk pengadaannya? > > Megapa beli dari pabrik Cina yg baru pengalaman buat 9 pesawat yg belum > punya sertifikat FAA???? > > Kita sangat concern terhadap nasib bangsa Indonesia. Order 18 buah pesawat > akan membuat PTDI maju pesat, mengapa ini tidak jadi pertimbangan? Kalau ada > kerusakan, biaya perbaikannya juga jauh lebih murah, memberi pekerjaan bagai > karyawan PTDI... > > Semoga semuanya menyadari... > Demi kemajuan bangsa dan negara yg kita cintai. > Wassalam, > S Roestam > > Sent from my BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * [email protected] > *Sender: * [email protected] > *Date: *Wed, 11 May 2011 06:58:13 +0000 > *To: *Indonesia Nextbetter<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *[indonesia] Re: Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! > > Kalau pesen di dalam negeri kan kick backnya kecil, belum lagi ada > kesempatan utk survey ke Pabrik dan diajak jl2 sama si penjual. kalau pesen > ke PTDI paling diajak jl2 ke jl Braga atau naik kuda di jl Ganesha hehe.... > > Saya kira sesederhana itulah. > > Wass. DZA > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * husni muhamad Shebubakar <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Tue, 10 May 2011 10:27:01 +0100 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *[indonesia] Re: Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! > > tanggung jawab sosial terhadap negara sangat tercemar dengan memesan 18 > pesawat dari china, sedangkan ada pabrik pesawat di Indonesia yang bis > membuat dengan kwalitas yang jauh lebih baik..... > > 2011/5/10 ferensa oemry <[email protected]> > >> Menarik sekali temanya, tapi sebaiknya kita harus selalu berhati-hati >> dalam membaca situasi pendidikan di indonesia dengan di amerika, karena >> kondisi ya berbeda. Masalah penggangguran anak muda terdidik di amerika >> disebabkan oleh terbatasnya lowongan pekerjaan yang tersedia di sana. >> Mengapa hal tersebut bisa terjadi? mayoritas karena banyak perusahaan2 yang >> mengalihkan bisnis ya ke negara lain (outsorucing) demi meraih keuntungan >> yang besar2 ya, tapi mengabaikan moral dan tanggung jawab sosial terhadap >> masyarakat amerika, yaitu memberikan pekerjaan yang layak. >> >> Kembali topik, kita sekolah itu tujuan akhirnya itu apa? menjadi cerdas >> atau pintar itu hanya sarana/fasilitas agar kita bisa lebih mudah bersaing, >> tapi sebenarnya untuk memperoleh uang bukan (secara umum)? Hanya sedikit >> yang mengatakan karena hobi atau pilihan hidup >> >> Jadi, mungkin kita harus tahu apa target pekerjaan kita dan mau gaji >> berapa? jadi kita sekolah hanya sampai jenjang dimana dengan tingkat >> pendidikan yang kita miliki, kita sudah bisa memperoleh gaji yang kita >> inginkan, tapi tentu saja itu hanya berlaku kalau kita mau jadi pegawai. >> Kalau mau jadi pengusaha, mungkin harus pakai cara lain, tidak bisa pakai >> jalur formal. >> >> Salam Hangat Semua, >> >> Ferensa Oemry >> >> --- On *Mon, 5/9/11, Sjaiful Bahri <[email protected]>* wrote: >> >> >> From: Sjaiful Bahri <[email protected]> >> Subject: [indonesia] Re: Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! >> To: [email protected] >> Date: Monday, May 9, 2011, 12:31 PM >> >> >> bukannya pada level tertentu dan pada jumlah tertentu memang diperlukan >> tenaga yang siap pakai...? Tidak harus semua dong jadi creative dan >> ber-inovasi... :)) >> >> Regards, >> Sjaiful Bahri >> >> --- On *Mon, 5/9/11, Harlizon MBAu <[email protected]>* wrote: >> >> >> From: Harlizon MBAu <[email protected]> >> Subject: [indonesia] Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! >> To: [email protected], [email protected] >> Date: Monday, May 9, 2011, 4:12 PM >> >> >> http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat >> . >> >> Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! >> Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB >> >> Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB >> Dibaca: *61158* >> >> Komentar<http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.#komentar>: >> *551* >> : >> shutterstock ILUSTRASI: Sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para >> siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih >> mengutamakan pembangunan kreativitas. >> >> 1<http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.#> >> >> *TERKAIT:* >> >> - Kualitas Guru, Beban Persoalan >> Nasional<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/31/11001145/Kualitas.Guru.Beban.Persoalan.Nasional> >> - Ke Mana Arah Prioritas Pendidikan >> Nasional?<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/31/03314232/Ke.Mana.Arah.Prioritas.Pendidikan.Nasional.> >> - Sistem Pendidikan Terus >> Dikritik<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/30/10370616/Sistem.Pendidikan.Terus.Dikritik> >> - Saatnya Sarjana Alergi Jadi >> Pegawai...<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/25/17141838/Saatnya.Sarjana.Alergi.Jadi.Pegawai.> >> - Belajar Tak Berbatas Ruang dan >> Waktu<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/24/13403444/Belajar.Tak.Berbatas.Ruang.dan.Waktu> >> >> *Oleh Yudhistira ANM Massardi * >> >> *KOMPAS.com* - *Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga >> kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai*, >> --katakanlah hingga dua dekade ke depan--, *yang akan dihasilkan adalah >> jutaan calon penganggur*. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan >> program diploma dan sarjana yang menganggur. >> >> Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa >> putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah >> mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap >> tahun. >> >> Dalam "kalimat lain", ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak >> mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Jadi, *untuk apa sebenarnya >> generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi?* >> >> Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang >> menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja >> yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik >> diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jika >> sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu *untuk >> apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan >> pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?* >> >> Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, >> dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa >> sekarang ini sudah terjadi *inflasi gelar akademis* sehingga >> ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia >> kerja semakin merosot. >> >> Lebih dari itu, ia menilai *sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas >> para siswa*. Maka, *harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan* yang >> lebih mengutamakan pembangunan kreativitas. >> >> Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya >> pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi >> golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai >> para sarjana dan bergaji tinggi--, kini digantikan peranti lunak komputer. >> Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. >> Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja >> manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran >> dan kebersihan, terus tumbuh. >> >> *Kreativitas dan imajinasi * >> >> Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh >> para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan >> sosial yang mengangankan bahwa *semakin tinggi jenjang pendidikan semakin >> mudah mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!* >> >> Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk "jadi pegawai", yang harus >> difasilitasi adalah *sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan >> singkat*. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual >> seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, >> ataupun yang berbasis komputer di perkantoran. >> >> Untuk itu, *tak perlu embel-embel (sekolah) "bertaraf internasional"*yang >> *menggelikan *itu karena komputer sudah dibuat dengan standar >> internasional. Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya >> ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para >> kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, *seluruh potensi kecerdasan >> anak bangsa harus dibangun secara lebih serius* yang hanya bisa dicapai >> jika rangsangannya diberikan sejak usia dini. >> >> Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan >> visual-auditori-kinestetik, juga *kreativitas dan kemandirian*. Kata >> kuncinya adalah "kreativitas" dan "imajinasi"; dua hal yang belum akan >> tergantikan oleh komputer secerdas apa pun! >> >> Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti >> dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita >> sudah memasuki era digital. Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun >> berubah. >> >> Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, >> dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari >> suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat "cinta belajar" >> pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas "cinta >> belajar", apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa >> bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya. >> >> Membangun semangat "cinta belajar" tak perlu harus ke perguruan tinggi. >> Kini seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses >> melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam. Jadi, cukup >> berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang >> dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya >> tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan. >> >> *Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja* (mulai dari pendidikan anak usia >> dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai >> tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada. >> >> *Penulis adalah Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD >> Batutis Al-Ilmi Bekasi* >> *Sumber :* >> Kompas Cetak >> >> <http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fedukasi.kompas.com%2Fread%2F2011%2F04%2F08%2F10450289%2FBerhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.&t=Berhentilah%20Sekolah%20Sebelum%20Terlambat%21%20-%20KOMPAS.com&src=sp> >> >> >
