tanggung jawab sosial terhadap negara sangat tercemar dengan memesan 18 pesawat dari china, sedangkan ada pabrik pesawat di Indonesia yang bis membuat dengan kwalitas yang jauh lebih baik.....
2011/5/10 ferensa oemry <[email protected]> > Menarik sekali temanya, tapi sebaiknya kita harus selalu berhati-hati > dalam membaca situasi pendidikan di indonesia dengan di amerika, karena > kondisi ya berbeda. Masalah penggangguran anak muda terdidik di amerika > disebabkan oleh terbatasnya lowongan pekerjaan yang tersedia di sana. > Mengapa hal tersebut bisa terjadi? mayoritas karena banyak perusahaan2 yang > mengalihkan bisnis ya ke negara lain (outsorucing) demi meraih keuntungan > yang besar2 ya, tapi mengabaikan moral dan tanggung jawab sosial terhadap > masyarakat amerika, yaitu memberikan pekerjaan yang layak. > > Kembali topik, kita sekolah itu tujuan akhirnya itu apa? menjadi cerdas > atau pintar itu hanya sarana/fasilitas agar kita bisa lebih mudah bersaing, > tapi sebenarnya untuk memperoleh uang bukan (secara umum)? Hanya sedikit > yang mengatakan karena hobi atau pilihan hidup > > Jadi, mungkin kita harus tahu apa target pekerjaan kita dan mau gaji > berapa? jadi kita sekolah hanya sampai jenjang dimana dengan tingkat > pendidikan yang kita miliki, kita sudah bisa memperoleh gaji yang kita > inginkan, tapi tentu saja itu hanya berlaku kalau kita mau jadi pegawai. > Kalau mau jadi pengusaha, mungkin harus pakai cara lain, tidak bisa pakai > jalur formal. > > Salam Hangat Semua, > > Ferensa Oemry > > --- On *Mon, 5/9/11, Sjaiful Bahri <[email protected]>* wrote: > > > From: Sjaiful Bahri <[email protected]> > Subject: [indonesia] Re: Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! > To: [email protected] > Date: Monday, May 9, 2011, 12:31 PM > > > bukannya pada level tertentu dan pada jumlah tertentu memang diperlukan > tenaga yang siap pakai...? Tidak harus semua dong jadi creative dan > ber-inovasi... :)) > > Regards, > Sjaiful Bahri > > --- On *Mon, 5/9/11, Harlizon MBAu <[email protected]>* wrote: > > > From: Harlizon MBAu <[email protected]> > Subject: [indonesia] Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! > To: [email protected], [email protected] > Date: Monday, May 9, 2011, 4:12 PM > > > http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat > . > > Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! > Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB > > Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB > Dibaca: *61158* > > Komentar<http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.#komentar>: > *551* > : > shutterstock ILUSTRASI: Sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para > siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih > mengutamakan pembangunan kreativitas. > 1<http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.#> > > *TERKAIT:* > > - Kualitas Guru, Beban Persoalan > Nasional<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/31/11001145/Kualitas.Guru.Beban.Persoalan.Nasional> > - Ke Mana Arah Prioritas Pendidikan > Nasional?<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/31/03314232/Ke.Mana.Arah.Prioritas.Pendidikan.Nasional.> > - Sistem Pendidikan Terus > Dikritik<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/30/10370616/Sistem.Pendidikan.Terus.Dikritik> > - Saatnya Sarjana Alergi Jadi > Pegawai...<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/25/17141838/Saatnya.Sarjana.Alergi.Jadi.Pegawai.> > - Belajar Tak Berbatas Ruang dan > Waktu<http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/24/13403444/Belajar.Tak.Berbatas.Ruang.dan.Waktu> > > *Oleh Yudhistira ANM Massardi * > > *KOMPAS.com* - *Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga > kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai*, > --katakanlah hingga dua dekade ke depan--, *yang akan dihasilkan adalah > jutaan calon penganggur*. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan > program diploma dan sarjana yang menganggur. > > Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa > putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah > mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap > tahun. > > Dalam "kalimat lain", ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak > mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Jadi, *untuk apa sebenarnya > generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi?* > > Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang > menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja > yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik > diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jika > sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu *untuk > apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan > pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?* > > Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, > dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa > sekarang ini sudah terjadi *inflasi gelar akademis* sehingga > ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia > kerja semakin merosot. > > Lebih dari itu, ia menilai *sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas > para siswa*. Maka, *harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan* yang > lebih mengutamakan pembangunan kreativitas. > > Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya > pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi > golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai > para sarjana dan bergaji tinggi--, kini digantikan peranti lunak komputer. > Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. > Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja > manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran > dan kebersihan, terus tumbuh. > > *Kreativitas dan imajinasi * > > Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para > pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial > yang mengangankan bahwa *semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah > mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!* > > Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk "jadi pegawai", yang harus > difasilitasi adalah *sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan > singkat*. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual > seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, > ataupun yang berbasis komputer di perkantoran. > > Untuk itu, *tak perlu embel-embel (sekolah) "bertaraf internasional"* yang > *menggelikan *itu karena komputer sudah dibuat dengan standar > internasional. Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya > ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para > kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, *seluruh potensi kecerdasan > anak bangsa harus dibangun secara lebih serius* yang hanya bisa dicapai > jika rangsangannya diberikan sejak usia dini. > > Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan > visual-auditori-kinestetik, juga *kreativitas dan kemandirian*. Kata > kuncinya adalah "kreativitas" dan "imajinasi"; dua hal yang belum akan > tergantikan oleh komputer secerdas apa pun! > > Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti > dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita > sudah memasuki era digital. Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun > berubah. > > Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, > dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari > suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat "cinta belajar" > pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas "cinta > belajar", apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa > bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya. > > Membangun semangat "cinta belajar" tak perlu harus ke perguruan tinggi. > Kini seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses > melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam. Jadi, cukup > berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang > dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya > tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan. > > *Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja* (mulai dari pendidikan anak usia > dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai > tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada. > > *Penulis adalah Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD > Batutis Al-Ilmi Bekasi* > *Sumber :* > Kompas Cetak > > <http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fedukasi.kompas.com%2Fread%2F2011%2F04%2F08%2F10450289%2FBerhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.&t=Berhentilah%20Sekolah%20Sebelum%20Terlambat%21%20-%20KOMPAS.com&src=sp> > >
