tahun 1980an ada Ivan Illich yang nulis buku terkenal dan sempat diIndonesiakan 
dengan judul "Bebas dari Sekolah"
saya nikmati buku tersebut sambil terus kuliah

kadang kita lupa dan berkata
"tuh si X nggak (lulus) kuliah tapi bisa jadi direktur"
memang,
tidak sedikit orang terlambat sadar
tidak sedikit yang sadar ketika telah gagal masuk PTN
sadar setelah gak lulus kuliah
lalu ingin membuktikan bahwa dirinya juga bisa berhasil

jadi,
pengenalan diri itu yang penting
sekolah hanya jalan formal dan paling efektif
yang belakangan memang amburadul 
overload dan hanya cocok untuk para superboy
jadi sekolahnya yang harus dibenahi
tidak sekedar ditutup2i dengan prestasi olimpiade yang sama sekali tidak 
merefleksikan kualitas sekolah kita
demikian kelulusan hampir 100%  unas, juga sama sekali tidak mencerminkan 
kualitas pengajaran sekolah kita
tapi meneguhkan sifat utama bangsa kita hipokrisi sebagaimana pernah 
disampaikan 
Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia

tetaplah bersekolah
dan kenali dirimu

tabik

 Agus Purwanto
LaFTiFA ITS
http://purwanto-laftifa.blogspot.com
http://ayatayatsemesta.wordpress.com 




________________________________
From: Sjaiful Bahri <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, May 9, 2011 11:31:11 PM
Subject: [indonesia] Re: Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!


bukannya pada level tertentu dan pada jumlah tertentu memang diperlukan tenaga 
yang siap pakai...? Tidak harus semua dong jadi creative dan ber-inovasi... :))

Regards,
Sjaiful Bahri

--- On Mon, 5/9/11, Harlizon MBAu <[email protected]> wrote:


>From: Harlizon MBAu <[email protected]>
>Subject: [indonesia] Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!
>To: [email protected], [email protected]
>Date: Monday, May 9, 2011, 4:12 PM
>
>
>http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.
>
>
>
>Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! 
>Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB 
>
>Latief | Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB 
>Dibaca: 61158
>Komentar: 551
>:
> shutterstock ILUSTRASI: Sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para 
> siswa. 
>Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan 
>pembangunan kreativitas. 
>
>1
>TERKAIT:
>       * Kualitas Guru, Beban Persoalan Nasional
>       * Ke Mana Arah Prioritas Pendidikan Nasional?
>       * Sistem Pendidikan Terus Dikritik
>       * Saatnya Sarjana Alergi Jadi Pegawai...
>       * Belajar Tak Berbatas Ruang dan Waktu
>Oleh Yudhistira ANM Massardi 
>KOMPAS.com - Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna 
>kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai, --katakanlah hingga dua 
>dekade ke depan--, yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur. 
>Sekarang 
>saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur.
>Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus 
>sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang 
>putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun.
>Dalam "kalimat lain", ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan 
>layanan pendidikan di jenjangnya. Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru 
>bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi?
>Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang 
>menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang 
>sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik 
>diploma 
>hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jika sebagian 
>besar 
>lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita 
>harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang 
>lebih tinggi?
>Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, 
>dalam 
>orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa sekarang ini 
>sudah terjadi inflasi gelar akademis sehingga ketersediaannya melampaui 
>tingkat 
>kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin merosot.
>Lebih dari itu, ia menilai sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para 
>siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih 
>mengutamakan pembangunan kreativitas.
>Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya pada 
>6 
>Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan 
>kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai para 
>sarjana 
>dan bergaji tinggi--, kini digantikan peranti lunak komputer. Lowongan kerja 
>untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. Sebaliknya, lapangan kerja 
>untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja manual yang belum bisa 
>digantikan 
>komputer, seperti para petugas pengantaran dan kebersihan, terus tumbuh.
>Kreativitas dan imajinasi 
>Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para 
>pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial yang 
>mengangankan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah mendapatkan 
>pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!
>Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk "jadi pegawai", yang harus 
>difasilitasi adalah sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan singkat. 
>Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual seperti pekerjaan 
>di 
>bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, ataupun yang berbasis 
>komputer di perkantoran.
>Untuk itu, tak perlu embel-embel (sekolah) "bertaraf internasional" yang 
>menggelikan itu karena komputer sudah dibuat dengan standar internasional. 
>Akan 
>tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya ditopang oleh para 
>operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para kreator yang kaya 
>imajinasi. 
>Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan anak bangsa harus dibangun secara 
>lebih serius yang hanya bisa dicapai jika rangsangannya diberikan sejak usia 
>dini.
>Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan 
>visual-auditori-kinestetik, juga kreativitas dan kemandirian. Kata kuncinya 
>adalah "kreativitas" dan "imajinasi"; dua hal yang belum akan tergantikan oleh 
>komputer secerdas apa pun!
>Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti 
>dengan 
>yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah 
>memasuki era digital. Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun berubah.
>Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, dan 
>banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari suatu 
>sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat "cinta belajar" pada 
>semua 
>peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas "cinta belajar", apa 
>pun 
>yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa bertahan untuk 
>beradaptasi, 
>menguasai, dan mengubahnya.
>Membangun semangat "cinta belajar" tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini 
>seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses melalui 
>komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam. Jadi, cukup berikan 
>kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di 
>internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin 
>penerjemah aneka bahasa yang instan.
>Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja (mulai dari pendidikan anak usia dini, 
>PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi 
>tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.
>Penulis adalah Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis 
>Al-Ilmi Bekasi 
>
>Sumber :
>Kompas Cetak 

Kirim email ke