bukannya pada level tertentu dan pada jumlah tertentu memang diperlukan tenaga 
yang siap pakai...? Tidak harus semua dong jadi creative dan ber-inovasi... :))

Regards,

Sjaiful Bahri

--- On Mon, 5/9/11, Harlizon MBAu <[email protected]> wrote:

From: Harlizon MBAu <[email protected]>
Subject: [indonesia] Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!
To: [email protected], [email protected]
Date: Monday, May 9, 2011, 4:12 PM

http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/08/10450289/Berhentilah.Sekolah.Sebelum.Terlambat.


Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! 
                                                                
                                                                        
    
                                         
                                                                
                                                                
                 
                                                                                
                                                                                
                                                Latief   |
                                                                                
                            Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB
                                                                         

                                                                
                 
                                                                                
                                                                                
                                                Latief   |
                                                                                
                            Jumat, 8 April 2011 | 10:45 WIB
                                                                         
                                                                        
               
                
                
                                                                         
                                                                

                                                                
                                                                
                                                                Dibaca: 61158
Komentar: 551

                                                                        
                                                                                
                                        
                                                                                
 
                 
                
                
                
                 :
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                
                                
                                                                

                                                                
                                                                
                                                                




                                                                
     
        
        shutterstock
ILUSTRASI: Sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para siswa. Maka,
harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan
pembangunan kreativitas. 
   
1
  
                        
                    
                   TERKAIT:
                                         
                                        Kualitas Guru, Beban Persoalan 
NasionalKe Mana Arah Prioritas Pendidikan Nasional?
Sistem Pendidikan Terus DikritikSaatnya Sarjana Alergi Jadi Pegawai...
Belajar Tak Berbatas Ruang dan Waktu
                                        
                    
                                        
                
                                                        
                                                                Oleh Yudhistira 
ANM Massardi   KOMPAS.com
- Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna
kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai, --katakanlah
hingga dua dekade ke depan--, yang akan dihasilkan adalah jutaan calon
penganggur. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma
dan sarjana yang menganggur.Jumlah penganggur itu akan makin
membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD
hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu
rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun.Dalam "kalimat
lain", ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan
pendidikan di jenjangnya. Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru
bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi?Jika jawabannya
agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan
orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang
sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik
diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang.
Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD,
lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?Sir Ken
Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, dalam
orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa
sekarang ini sudah terjadi inflasi gelar akademis sehingga
ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di
dunia kerja semakin merosot.Lebih dari itu, ia menilai
sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para siswa. Maka, harus
dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan
pembangunan kreativitas.Paul Krugman, kolumnis The New York
Times yang disegani, dalam tulisannya pada 6 Maret 2011, menegaskan
fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan kerah putih di
level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai para sarjana dan
bergaji tinggi--, kini digantikan peranti lunak komputer. Lowongan
kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. Sebaliknya,
lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja manual
yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran
dan kebersihan, terus tumbuh.Kreativitas dan imajinasi  Fakta
lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para
pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan
sosial yang mengangankan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan
semakin mudah mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!Namun,
jika orientasi masyarakat tetap untuk "jadi pegawai", yang harus
difasilitasi adalah sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan
singkat. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual
seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi,
pertanian, ataupun yang berbasis komputer di perkantoran.Untuk
itu, tak perlu embel-embel (sekolah) "bertaraf internasional" yang
menggelikan itu karena komputer sudah dibuat dengan standar
internasional. Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup
hanya ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan
para kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, seluruh potensi
kecerdasan anak bangsa harus dibangun secara lebih serius yang hanya
bisa dicapai jika rangsangannya diberikan sejak usia dini.Maka,
diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan
visual-auditori-kinestetik, juga kreativitas dan kemandirian. Kata
kuncinya adalah "kreativitas" dan "imajinasi"; dua hal yang belum akan
tergantikan oleh komputer secerdas apa pun!Zaman terus berubah.
Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti dengan yang baru.
Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah memasuki
era digital. Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun berubah.Hal-hal
yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, dan
banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari
suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat "cinta
belajar" pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan
mentalitas "cinta belajar", apa pun yang akan dihadapi pada masa depan,
mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan 
mengubahnya.Membangun
semangat "cinta belajar" tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini
seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses
melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam. Jadi, cukup
berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang
dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia
maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan.Anak-anak
cukup sekolah 12 tahun saja (mulai dari pendidikan anak usia dini,
PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai
tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.Penulis adalah 
Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi

                                                        
                                                 
                                                                
                                                         
                                                                Sumber :Kompas 
Cetak                                                     
                                                         
                                                         
                                 

                                                                
                                                                                
                                                                 
                                                                         
                                                                
                                                                
                                                                 

                                                                                
                                                                                
        

Kirim email ke