-----Original Message-----
From:   Satrio
Sent:   Friday, September 03, 1999 1:52 PM
To:     Teknologi
Subject:        RE: Re: FW: Re: FW: Re: UNAMET gombal


-----Original Message-----
From:                   [EMAIL PROTECTED]
Sent:                   Friday, September 03, 1999 2:59 AM
To:                     Multiple recipients of list
Cc:
Subject:                        Re: FW: Re: FW: Re: UNAMET gombal

Amat:
mana yang lebih terlambat: indian amerika yang dipertunjukkan dalam film
bioskup dan 'cagar budaya' atau langkanya 'catatan' tentang suku kubu,
orang kalang dan orang samin di ruang publik indonesia?

Satrio:
Anda di sini TIDAK membantah argumen saya. Anda hanya menambahkan bahwa
kasus serupa bisa terjadi pada orang samin atau kubu di Indonesia. Saya sih
OK saja.

Amat:
kalau kita bicara tentang rapat atau pertemuan, kata 'terlambat' ini
referensinya jelas. tapi kalau kita bicara tentang sejarah kemanusiaan,
apakah 'terlambat' ini relevan?

Satrio:
Kalau suatu spesies sudah punah (entah spesies itu manusia, atau binatang),
kata terlambat ini SANGAT RELEVAN.

Amat:
dalam konteks amerika, paling tidak publik masih mempunyai 'memori sosial'
mengenai sejarah masa lalu yang tidak mengenakkan yang dilakukan oleh para
pendatang, yang dengan congkaknya mendeklarasikan: menemukan amerika
[seolah-olah amerika hilang, tak bertuan, dan karena itu ditemukan]. tapi
kita melihat bahwa 'monumen pemelihara ingatan sosial' itu sebagai sesuatu
yang 'terlambat'.

SAtrio:
Tak ada yang perlu saya komentari.

Amat:
pernahkah arus utama pendidikan memihak orang pinggiran? tolong sebutkan
di belahan bumi mana ada kebijakan pendidikan dan muatan resmi pendidikan
memihak kaum pinggiran? praksis pendidikan yang dilakukan oleh paulo
freire pun, bukan 'mainstream praksis pendidikan'.

Satrio:
Di sini, sekali lagi, Anda tidak membantah argumen/fakta yang saya ajukan.

Amat:
begini kira kira maksud saya:
kapitalisme kan isme tentang kapital, gimana menggelembungkan kapital. ya
kan? nah kegiatan ini digampar sebagai tidak bermoral karena sifatnya yang
ekstraktif dan eksploitatif sehingga mematikan yang kecil kecil. sungguh
gagasan kapitalisme yang kayak gini tidak bermoral. karena kritik itu,
maka kapitalisme lalu bermetamorfosa, tidak lagi menjadikan pengumpulan
kapital sebagai kegiatan utama. maka kemudian muncul gagasan
libertarianisme: kekuatan pasar dan 'kebebasan' memilih menjadi jargonnya.
[dan jargon ini, pada hemat saya, sungguh kompatibel dengan issue hak
asasi manusia. bagaimana detailnya, kita bisa membuat thread diskusi yang
baru]. tapi tetap juga semuanya itu digerakkan oleh semangat mendapatkan
keuntungan, mengembangkan kapital. imperatif libertarianisme ini adalah
keragaman. gimana jargon 'pasar' dan 'kebebasan memilih' ini bisa dijaga,
kalau yang dipilih terbatas?

nah semangat kapitalisme yang bertopeng libertarian ini lah, pada hemat
saya, berkepentingan untuk memunculkan timor timur agar pasar punya
'pemain baru', dan asas 'pilihan bebas' libertarianisme terjaga.

[bandingkan dengan schumacher: small is beautiful].

Satrio:
Setuju. Saya pernah lihat buku berjudul �kapitalisme yang manusiawi�
karangan orang Amerika.
Amat:
maksud saya, untuk bicara tentang hak asasi manusia orang tidak harus
lebih dulu suci sama sekali. yang lebih penting adalah 'pengakuan'
'apresiasi'. kemampuan untuk berbicara hak asasi manusia, yang sebelumnya
dianggap tabu atau tidak pernah ada, pengakuan dan appresiasi terhadapnya
inilah yang saya maksudkan sebagai 'pertobatan', berbuat baik,
membetulakan kekeliruan masa lalu [kalau sekiranya di masa lalu hak asasi
manusia ini dilirik pun tidak, apalagi dihargai]. apakah untuk bicara
tentang semua ini orang harus suci dulu? kan tidak. inilah yang saya
maksudkan dengan 'untuk berbuat baik, orang/negara tidak perlu menjadi
malaikat/sorga dulu'

sebaliknya, sama tidak masuk akalnya kalau orang berbusa busa bicara
tentang hak asasi manusia sementara hak bedindenya sendiri yang bejibun di
rumah diperas, ditindas dan gajinya tak dibayarkan. kita bisa ganti
'orang' dengan 'negar' dan 'bedinde' dengan 'rakyat negara itu sendiri'.
inilah yang saya maksud dengan 'tidak bisa dipertanggunjawabkan kalau
manusia sekaligus menjadi setan dan malaikat'.

Satrio:
Kalau itu yang Anda maksud, saya sih OK saja.
Amat:
makanya saya mengatakan: teori tidak 'bersih lingkungan'nya orde baru.
karena memang maksud saya bukan bicara tentang orde barunya, tapi tentang
teorinya.

maksud saya: dalam teori 'bersih lingkungan' itu, yang 'dihukum' bukan
saja yang [dicap] komunis, tapi juga anak, cucu, saudara, bahkan mantu dan
temannya berdasarkan asumsi konspiratif. bukankah ini juga sama dengan
kasus unamet yang kita bicarakan? yang mustinya dibongkar adalah
'unamet'nya tapi dengan penjelasan konspiratif, seluruh orang kulit putih
dibawa-bawa. [sekalipun membawa-bawa seluruh orang kulit putih itu cuma
karena terbawa oleh gaya bahasa pamflet dan demonstran].

Satrio:
Ini saya juga OK saja.

Amat:

[maaf, sebenarnya saya sedikit khawatir dengan alamat e-mail anda. nama
anda satrio tapi alamat e-mailnya majalah d&r. saya khawatir kalau anda
dituduh 'abuse of company trust'].

Satrio:
Ini fenomena wartawan kecil, bergaji kecil, kerja di kantor kecil, dan tak
mampu bayar provider Internet sendiri (gaji lebih diprioritaskan untuk beli
susu bayi dan beras). Tapi kalau di D&R ini tidak dipermasalahkan. Anggaplah
ini sebagai sarana peningkatan SDM. Kalau SDM makin cerdas sesudah sering
berdiskusi di milis, yang untung kan perusahaan juga. Apalagi media massa
adalah bisnis yang sangat tergantung pada kualitas SDM/wartawan. He�he�he�

Kirim email ke