bung majalah dr:
> Sdri. Judith yang terhormat,
> 
> Maaf, kalau gaya bahasa saya menimbulkan salah pengertian (posting saya
> sebelumnya memang sengaja saya bikin dengan gaya demonstran, karena
> tampaknya gaya itu cukup populer di milis ini). Sekarang, saya pakai gaya
> bahasa yang lain:
> 
> Mempersoalkan warna kulit adalah rasialisme. Itu jelas. Tapi sengaja saya
> menggunakan sebutan �kulit putih� untuk mengungkap betapa ideologi
> dominasi terhadap manusia lain itu memang sangat kuat. Di peradaban Barat
> ada ungkapan �white men burden�.

amat:
bung majalah dr, saya setuju bahwa 'barat' mendominasi wacana tidak hanya 
politik, tapi juga sosial dan budaya. tapi dalam konteks dominasi ini, 
saya belum menjumpai ungkapan 'white burden men'. bisakah anda mencerahi 
saya, di mana saya bisa mendapatkan referensi perihal 'white burden men' 
dalam konteks dominasi 'barat'?

bung majalah dr:
> 
> Kira-kira artinya, orang kulit putihlah yang �menerima beban peradaban�
> untuk membuat bangsa-bangsa lain yang masih terbelakang (maksudnya
> biasanya adalah ras yang non-putih, seperti orang Afrika, Arab, dan Asia)
> supaya jadi manusia yang beradab.

amat:
anda pernah baca 'hikayat siti mariyah'? di sana juga dilukiskan bagaimana 
para [abdi] ningrat merasa berkewajiban untuk membudayakan perempuan 
pesisir ini.

gunawan mohamad dalam kumpulan 'menagerie' juga mengeluhkan bagaimana 
budaya pesisirannya inferior dan perlu disubordinasikan ke budaya 'negari-
gung' [istilah ini diambil dari koentjaraningrat]? 

lalu, bukankah semangat untuk memberadabkan ini juga ada dalam hubungan 
budaya lokal? mengapa musti 'kulit putih' yang di-'single out'? 

arief budiman dalam seminar kemarin mengatakan bahwa rasisme adalah 
konstruksi sosial untuk melayani kepentingan lain. menggunakan kerangka 
ini maka saya menduga bahwa kita perlu memetakan 'kulit putih' untuk bisa 
kita 'bidik' [dengan kepentingan yang lain. bukan karena deskripsi 
keputihan yang kita proposisikan]. 

ini seperti kebanyakan kita melihat cindo. kita perlu membuat deskripsi 
cindo sedemikian rupa: binatang ekonomi, tidak nasionalis, sumber petaka 
ekonomi, tukang suap, agar kejengkelan kita tersalur. [bandingkan dengan 
deskripsi jawa: malas, mata keranjang untuk yang laki-laki, murahan untuk 
perempuannya]. ketika kita ditanya apakah kita kenal dengan seorang cindo 
dan jawabannya 'iya'. dan apakah deskripsi itu tepat untuk mendeskripsikan 
teman kita itu, 'o....dia kekecualian'.

bung majalah dr:
> 
> Kedengarannya sangat mulia, bukan? Namun dalam terjemahannya kemudian, itu
> adalah kolonialisme, penjajahan, penindasan, � Lihat saja nasib orang
> Indian dan kulit hitam di Amerika, orang Aborijin di Australia, orang
> kulit hitam di Afrika Selatan� Dan itulah pula sebenarnya yang terjadi di
> Timor Timur di bawah Portugal, Indonesia di bawah Belanda, India di bawah
> Inggris, Amerika Latin di bawah Spanyol, dlll.

bung majalah dr:
yap.... setuju. tapi bukankah lalu kemudian ada usaha rekonsiliasi antara 
indian dan kulit hitam di amerika dengan kulit putihnya [meskipun memang 
tidak selalu mulus], aborijin dengan white australianya [meskipun masih 
belum juga tuntas], timur timor dengan portugalnya [yang kemudian 
memungkinkan terjadinya jajak pendapat], indonesia dengan belanda [ingat 
politik balas jasa van de venter [?], india dengan inggris [dengan payung 
commonwealthnya], amerika latin dan sepanyol [yang ini saya tidak tahu]?
bukankah juga kampiun kampiun 'barat' yang 'mengajari' kita tahu hak?

bung majalah dr:
> 
> Masuknya Indonesia ke Tim-Tim berlatar belakang Perang Dingin, ketika
> polarisasi Timur dan Barat (Uni Soviet dan AS, komunisme dan kapitalisme)
> sangat kuat. 

amat:
di mana indonesia yang dalam setatmennya mengaku berpolitik bebas dan 
aktif, dalam prakteknya berayun ke 'barat' dengan dimampuskannya [bukan 
mampus sendiri karena mati kayak sopiet] sosialisme dan komunisme di 
indonesia.

bung majalah dr:
> 
> RI khawatir Tim-Tim akan menjadi basis komunis ketika Portugal waktu itu
> keluar dengan seenaknya dari Tim-Tim, dengan menyerahkan senjata kepada
> Fretilin (yang waktu itu berideologi sosialis). Portugal waktu itu memang
> dipimpin oleh pemerintah sosialis. RI waktu itu sudah minta supaya
> Portugal tidak berbuat seenaknya, tapi gagal.

amat:
dan sebenarnya kekhawatiran ri itu juga bisa dibaca sebagai kekhawatiran 
juragan emberikan akan hegemoninya di kawasan asia sesudah dipecundangi di 
perang vietnam. kalau lebih mau sakartis, indonesia yang katanya 
berpolitik bebas dan aktif itu, musti mengikuti 'juragan' barunya.

bung majalah dr:
> 
> Bagaimana RI melihat Tim-Tim waktu itu kira-kira sama seperti Amerika
> melihat komunis Kuba di bawah Fidel Castro, yang pernah menjadi pangkalan
> rudal nuklir Soviet dan nyaris menyebabkan Perang Nuklir ketika AS di
> bawah Kennedy dan Soviet di bawah Kruschev.
> 
> Masuknya pasukan Indonesia waktu itu atas permintaan kelompok-kelompok
> Tim-Tim yang dibantai Fretilin, serta didukung Australia dan AS sendiri.
> 
> Tetapi politik memang penuh sikap munafik. Australia dan AS sekarang
> berlagak jadi pejuang HAM dan mengecam RI di Tim-Tim. Padahal dulu mereka
> (yang sangat antikomunis dan takut Asia Tenggara jatuh ke tangan komunis
> sesudah Vietnam, Kamboja, Laos) adalah yang mendukung bergabungnya Tim-Tim
> ke Indonesia.

amat:
[dulu-dulunya, seingat saya, kata atau jargon 'munafik' itu miliknya 
wacana agama yang bergiat dalam konsistensi ketaatan, karena memang 
begitulah intisari keberagamaan atau keberimanan. sementara politik adalah 
perihal kepentingan, kekuasaan yang jelas tidak menjadikan konsistensi 
sebagai acuan utamanya. logika untuk mengatakan politik 'munafik', sejalan 
dengan logika 'binatang bodoh'.] 

menurut saya, perubahan sikap oz dan emberikan bisa dibaca sebagai 
beberapa kemungkinan:

*emberikan dan oz secara tidak langsung mengakui kekeliruannya yang 
terdahulu dalam menyikapi timor loro sae.

*emberikan dan [mantan] sekutunya [dalam pakta anzus] menjadi kehilangan 
legitimasinya karena sudah tidak ada issue perang dingin lagi, dan 
akibatnya perkara timor loro sae sudah tidak relevan lagi.

*kapitalisme yang bergerak dua arah, kapitalisasi dan diversifikasi, akan 
mendapatkan momentumnya dengan melihat kembali issue timor loro sae dalam 
kerangka diversifikasi investasi.

*kemungkinan lain

bung majalah dr:
> 
> Contoh kemunafikan Australia adalah bersama RI mau mengeksplorasi minyak
> di Celah Timor. Ini �kan de facto dan de jure mengakui Tim-Tim adalah
> privinsi RI. Contoh kemunafikan Portugal adalah ketika berkaok-kaok soal
> HAM di Tim-Tim. Lho, yang mereka lakukan selama ratusan tahun di Tim-Tim
> itu apa? Itu �kan penjajahan yang jelas melanggar HAM!
amat:
bukankah lebih baik berkaok kaok tentang ham untuk membetulkan kekeliruan 
masa lalu, daripada tidak berkaok kaok sama sekali dan membiarkan diri 
selalu dihantui oleh masa lalu? untuk bertobat dan berbuat baik, 
manusia/negara tidak perlu menjadi malaikat/sorga dulu. tapi jelas tidak 
bisa dipertanggungjawabkan kalau manusia sekaligus menjadi malaikat dan 
setan.

bung majalah dr:
> 
> Inilah sekadar latar belakang yang saya tahu soal Timtim. Sayangnya,
> banyak orang hanya punya ingatan pendek tentang kasus-kasus politik.

amat:
dan masih juga ditambah dengan banyaknya orang yang menerapkan teori tidak 
'bersih lingkungannya' orde baru. kalau orde baru mem-pki-kan anak, 
tetangga, saudara, dan bahkan orang yang tidak tahu sama sekali tentang 
pki itu apa, orang yang menerapkan teori 'bersih lingkungannya' orde baru 
terpaksa sadar atau tidak menuduh 'unfair' seluruh komunitas kulit putih. 
what a successful [social] education!

> 
> Terimakasih
> Satrio A,
> 

Kirim email ke