-----Original Message-----
From:                   [EMAIL PROTECTED]
Sent:                   Monday, September 06, 1999 5:55 AM
To:                     Multiple recipients of list
Cc:
Subject:                        Re: UNAMET gombal

amat:
yang saya mau katakan di sini adalah bahwa represi/dominasi/marginalisasi
itu bukan eksklusif barat [atau menurut bahasa pamflet yang anda pakai
kemarin: 'kulit putih']. hal semacam itu juga terjadi di kebun sendiri.

jadi argumen dari proposisi anda bahwa 'barat' [baca: 'kulit putih']
adalah represor, kolonial, dan dominator tidak cukup meyakinkan. [sekali
lagi: ini proposisi argumennya, bukan pada proposisinya]. however, kalau
reply saya atas argumen anda, anda anggap tidak membantah argumen anda,
it's fine with me.

Satrio:
Saya tidak melihat ada perbedaan pendapat.
amat:
maksud saya jelas bukan pertama-tama sekedar melihat 'what is caused by
keterlambatan', tetapi juga 'who is it' yang terlambat itu.

jelasnya begini, ambil contoh emberikan. 'barat' yang 'menemukan'
emberikan itu bikin red indian 'hilang' dari peredaran. kalau referensi
'barat' itu dijangkarkan [to be anchored] dalam kerangka generasi, maka
proses penghilangan itu tidak bisa ditimpakan secara merata kepada tiga
atau empat generasi, misalnya. pasti ada generasi yang lebih berperan
daripada yang lain dalam proses 'penghilangan' red indian ini. generasi
yang menyadari bahwa telah terjadi penghilangan red indian oleh generasi
pendahulunya, pada hemat saya, memang terbebani oleh apa yang dilakukan
oleh generasi pendahulunya, tetapi tidak sepantasnya disalahkan [mutlak]
atas apa apa yang dilakukan oleh generasi pendahulunya. apa yang dilakukan
oleh generasi-penemu-benua-amerika akan menjadi ingatan sosial bagi
generasi berikutnya, tanpa bisa mengubah apa yang telah terjadi. yang
melakukan 'atrocity' adalah generasi terdahulu [tapi oleh generasi
'pelaku' ini atrocity tidak dilihat sebagai atrocity], generasi yang
kemudian menyadari bahwa perbuatan generasi terdahulu adalah 'atrocity'.
apakah relevan mengatakan bahwa generasi [yang kedua] ini 'terlambat'
mengakui 'atrocity' pendahulunya?

dalam hal ini, kemudian, issue 'terlambat atau tidak' menjadi kurang, atau
malah tidak, relevan. yang tertinggal, barangkali, catatan-catatan,
pengkristalan ingatan sosial yang mudah-mudahan [nobody willl guarantee]
memberikan pelajaran kepada generasinya maupun generasi sesudahnya.

dalam konteks ini lah, barangkali, perubahan cara pandang terhadap issue
red indian [atau any issue of the past], kebijakan [policy] dan
implementasinya dalam praksis perbuatan bisa dipahami sebagai 'pertobatan'
atas 'misconduct in the past done by predecessors, but memories of which
are still with the current generation].

[sambil menulis argumen ini, saya merasa sedih karena seolah olah saya
membela 'guru-peradaban' saya].

anyway, what have we, as civil society, done to preserve our short-lived
social memory? memang telah ada monumen lubang buaya, pancasila sakti,
palagan ambarawa, yogya kembali. tapi siapa yang [paling] dilayani oleh
monumen monumen itu? tentara.

tetapi monumen apa yang kita punyai bahwa dalam sejarah, kita pernah mandi
darah saudara sendiri? kaliwedi klaten, grubug gunungkidul, grobogan
purwadadi, semanggi, trisakti, aceh, ambon and you name it akan lewat
begitu saja beserta tragedi kemanusiaannya, tanpa tetenger yang bisa
bercerita kepada anak cucu, mewasiatinya dan selalu mengingatkannya bahwa
di dalam suatu masa nenek moyangnya dengan ringannya membunuh tetangganya.

Satrio:
Saya tidak bermaksud menyalahkan si anak atas perbuatan si bapak yang si
anak tidak tersangkut paut. Saya hanya ingin menekankan, betapa suatu
KEKELIRUAN KEMANUSIAAN tidak selalu bisa diperbaiki. Suatu bangsa yang sudah
punah tak akan bisa hidup lagi, walaupun generasi-generasi berikut sangat
menyesali dan minta maaf seribu kali atas perbuatan generasi atasnya, yang
berbuat kekeliruan itu.
TNI bisa minta ampun, menyembah-nyembah, bahkan kita bisa menghukum mati
para pelaku pembunuhan di Aceh. Tapi para janda dan anak yatim di Aceh tak
bisa memperoleh suami/ayahnya lagi. Pelajaran itu memang sangat mahal,
bahkan tak ternilai harganya. Kita bisa memaafkan, tapi tak bisa membalikkan
putaran waktu.

amat:
saya memang tidak membantah fakta yang anda katakan. yang saya 'highlite'
adalah proposisi yang anda majukan dengan menggunakan fakta itu, ie.:
bahwa pendidikan itu hanya diberikan kepada kelas atas inlander untuk
melayani kepentingan kolonial; dengan demikian, tetap saja dominasi
'barat' ['okp'].

yang mau saya katakan dengan pertanyaan dan pernyataan saya sebelumnya
adalah: pendidikan yang sama, [bukan semacam perguruan tradisional jawa,
dengan guru, cantrik, manguyu, jejanggannya, misalnya], sekalipun
berorientasi pada kelas 'menak', jugalah yang berperan dalam mengantar
nederland indie menjadi indonesia.

Satrio:
Ini pula yang sudah saya katakan. Pendidikan (Belanda) inilah yang
membesarkan Soekarno, dan tokoh-tokoh kemerdekaan kita lainnya. (Mungkin
sama dengan tokoh-tokoh muda prokemerdekaan Tim-Tim yang sempat belajar di
UGM, Yogya, di Satya Wacana, dll ???)

Kirim email ke