-----Original Message-----
From:   Satrio
Sent:   Wednesday, September 01, 1999 1:52 PM
To:     Teknologi
Subject:        RE: Re: UNAMET gombal

Sdri. Judith yang terhormat,

Maaf, kalau gaya bahasa saya menimbulkan salah pengertian (posting saya
sebelumnya memang sengaja saya bikin dengan gaya demonstran, karena
tampaknya gaya itu cukup populer di milis ini). Sekarang, saya pakai gaya
bahasa yang lain:

Mempersoalkan warna kulit adalah rasialisme. Itu jelas. Tapi sengaja saya
menggunakan sebutan �kulit putih� untuk mengungkap betapa ideologi dominasi
terhadap manusia lain itu memang sangat kuat. Di peradaban Barat ada
ungkapan �white men burden�.

Kira-kira artinya, orang kulit putihlah yang �menerima beban peradaban�
untuk membuat bangsa-bangsa lain yang masih terbelakang (maksudnya biasanya
adalah ras yang non-putih, seperti orang Afrika, Arab, dan Asia) supaya jadi
manusia yang beradab.

Kedengarannya sangat mulia, bukan? Namun dalam terjemahannya kemudian, itu
adalah kolonialisme, penjajahan, penindasan, � Lihat saja nasib orang Indian
dan kulit hitam di Amerika, orang Aborijin di Australia, orang kulit hitam
di Afrika Selatan� Dan itulah pula sebenarnya yang terjadi di Timor Timur di
bawah Portugal, Indonesia di bawah Belanda, India di bawah Inggris, Amerika
Latin di bawah Spanyol, dlll.

Masuknya Indonesia ke Tim-Tim berlatar belakang Perang Dingin, ketika
polarisasi Timur dan Barat (Uni Soviet dan AS, komunisme dan kapitalisme)
sangat kuat.

RI khawatir Tim-Tim akan menjadi basis komunis ketika Portugal waktu itu
keluar dengan seenaknya dari Tim-Tim, dengan menyerahkan senjata kepada
Fretilin (yang waktu itu berideologi sosialis). Portugal waktu itu memang
dipimpin oleh pemerintah sosialis. RI waktu itu sudah minta supaya Portugal
tidak berbuat seenaknya, tapi gagal.

Bagaimana RI melihat Tim-Tim waktu itu kira-kira sama seperti Amerika
melihat komunis Kuba di bawah Fidel Castro, yang pernah menjadi pangkalan
rudal nuklir Soviet dan nyaris menyebabkan Perang Nuklir ketika AS di bawah
Kennedy dan Soviet di bawah Kruschev.

Masuknya pasukan Indonesia waktu itu atas permintaan kelompok-kelompok
Tim-Tim yang dibantai Fretilin, serta didukung Australia dan AS sendiri.

Tetapi politik memang penuh sikap munafik. Australia dan AS sekarang
berlagak jadi pejuang HAM dan mengecam RI di Tim-Tim. Padahal dulu mereka
(yang sangat antikomunis dan takut Asia Tenggara jatuh ke tangan komunis
sesudah Vietnam, Kamboja, Laos) adalah yang mendukung bergabungnya Tim-Tim
ke Indonesia.

Contoh kemunafikan Australia adalah bersama RI mau mengeksplorasi minyak di
Celah Timor. Ini �kan de facto dan de jure mengakui Tim-Tim adalah privinsi
RI. Contoh kemunafikan Portugal adalah ketika berkaok-kaok soal HAM di
Tim-Tim. Lho, yang mereka lakukan selama ratusan tahun di Tim-Tim itu apa?
Itu �kan penjajahan yang jelas melanggar HAM!

Inilah sekadar latar belakang yang saya tahu soal Timtim. Sayangnya, banyak
orang hanya punya ingatan pendek tentang kasus-kasus politik.

Terimakasih
Satrio A,

��������������
Kepada orang yang terus bicarakan hal - "orang kulit putih" - saya hanya mau
bilang katamu itu memang rascist - bagaimana perasaanmu kalau saya bicara
"orang kulit cokolat" begini dan begitu - pasti anda tidak senang- memang
ada billion2 orang putih dan billion2 orang cokolat dan sudah jelas sifatnya
dan pikirannya macam2 dan lain2.
Setiap manusai punya otak sendiri dan di bawah warna kulit kita semua punya
jiwa yang sebenarnya sama- di bawah tuhan.
Salam dari Judith

Kirim email ke